cari kata

Rabu, 26 Desember 2012

Beras Desember 2012

Minggu terakhir Desember 2012 ini, saya pergi ke warung di desa saya di Desa Kemang Kab Bogor untuk membeli beras. "Berapa bu berasnya? " tanya saya pada Bu Mimin pemilik warung. Dia menjawab "Seliter ada yang Rp.6000 ada yang Rp.7500," ujarnya. Oh literan ya,  jawab saya. Oke deh saya beli.

Kemudian saya mencoba lagi membeli beras di sebuah toko swalayan ternyata yang jenisnya  lumayan bagus dijual dengan harga Rp 10.000,- per kilo jenisnya delanggu super.

Beras mahal mungkin bukanlah topik yang mengherankan, karena mahal bagi orang adalah relatif seberapa kuat kantong seseorang maka dari situlah diukur mahal dan tidaknya. Jika mungkin dari kacamata seorang buruh yang gajinya di pabrik mencapai Rp 2 juta per-bulan maka jika dia menghidupi sekeluarga dengan istri dan dua orang anak maka, tentu saja harga beras yang Rp 10.000,-/kg bisa dibilang mahal.

Juga bagi kebanyakan warga desa di tempat saya tinggal di area Bogor Barat, sudah menggumam bahwa beras sekarang kian mahal. Saya berpikir karena lahan kita untuk tanam padi kan sudah menyempit, impor juga tergantung cuaca negara penghasil beras seperti India, Thailand, Filipina dll jika ada badai di negara tetangga pasti pasokan juga mengalami kenaikan harga.

Bicara tentang beras, beras kini bukan hanya bahan pangan namun juga sumber bahan baku etanol untuk bio fuel.  Subsidi besar-besaran pemerintah AS untuk industri biofuel berbasis dan mandat pemerintah EU untuk memproduksi biofuel mengakibatkan produsen dan kekuatan industri raksasa tergiur keuntungan besar untuk menanam tanaman pangan termasuk beras untuk jadi biofuel/bioethanol/biomethanol. Atau jika repot menanam biji-bijian untuk biofuel, ya tinggal borong dari lantai bursa komoditas pangan internasional, bereslah. Negara  miskin tak makan, ya kan tidak ada yang mengurus juga.

Kepentingan bahan bakar dari karbohidrat (zat pati) ini mereduksi tajam tujuan konsumsi manusia. Tanaman karbo untuk pangan jadi menurun drastis, pindah ke menanam untuk biofuel. Beras untuk makan akan segera beras untuk menjadi biofuel.

Dalam persaingan memproduksi biofuel ini, di berbagai situs sudah sering diberitakan bahwa Saudi Arabia berniat menyewa jutaan hektar tanah di Papua untuk ditanami padi secara modern dengan traktor, irrigasi, bibit unggul, pupuk. beritanya ada di  http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/message/136703.

Beras dan tanaman karbo lain yang kini dihasilkan dunia saat ini bisa untuk pangan dan lebih untung digunakan untuk sumber bio etanol/bio fuel. Hal ini mengakibatkan negara tropis Dunia Ketiga merupakan negara yang harus dijaga benar oleh negara Dunia Kesatu, karena jika minyak makin mahal, maka negara tropis dapat memproduksi bio etanol/bio fuel.

Dan ada artikel yang menarik bahwa harga pangan makin mahal karena dibuat biofuel di situs ini :


Menariknya, entah karena kurangnya bacaan atau memang tak peduli, para anak muda mahasiswa, saya tanya tentang harga beras, juga ternyata cuek-cuek aja dengan kenaikan beras, "Wah, harga beras bukan urusan saya pak " jawab mahasiswa kompak. Yah karena mungkin nasi matang selalu tersedia di rumah.

Setelah berbincang dengan para mahasiswa di berbagai kampus, dan jawaban adalah seragam bahwa kenaikan harga beras dianggap wajar oleh para mahasiswa. Sayapun membatin, mungkin juga adalah kebangetan kalau ada orang yang mengeluh tentang beras yang perkilonya Rp.9.000,- s/d Rp 10.000,- adanya orang takut dibilang miskin. Atau takut dibilang pesimistis. Padahal di dunia sekarang ini pilihan beras untuk biofuel lebih 'seksi' dan 'hot' ketimbang beras untuk makan orang miskin (*)




Sabtu, 08 Desember 2012

Kebanyakan Pria gagal Melihat Inner Beauty, Wanita sering Berhasil Melihat Inner Strength

"Jika kebanyakan Pria gagal melihat Inner Beauty, maka kebalikannya dari Pria, kebanyakan Wanita berhasil Melihat Inner Strength" - Mung Pujanarko

Saya pernah menulis tentang BWS atau Beautiful Women Syndrome yakni sindrome yang dialami oleh para wanita berwajah cantik, yang kemudian karena mereka cantik secara fisik lahiriah, maka mereka 'minta diistimewakan' dan mengistimewakan diri sadar atau tidak sadar.

Artikel saya tentang BWS dapat dilihat di http://mung-pujanarko.blogspot.com/2012/06/sindrom-kecantikan.html

Tapi  kebanyakan lelaki memang mengejar kecantikan wanita, maka norma BWS ini menjadi wajar-wajar saja. Karena ada pepatah : "one fox failed, then ten fox will jump in to chase the beauty one".

Kini yang saya bahas adalah tentang inner beauty seorang  wanita.

Wanita sebagai makhluk Venus awalnya berusaha mengasah inner beauty-nya, namun ternyata makhluk Mars atau pria ini terbukti tumpul terhadap kepekaan mendeteksi inner beauty wanita.

Kegagalan konsep inner beauty ini bukanlah pada sosok wanitanya, namun pada sosok pria yang kebanyakan gagal melihat inner beauty wanita.

Umumnya pria gagal total melihat inner beauty wanita, karena pria adalah murni mahluk visual yang hanya melihat kesiapan reproduksi  seorang wanita alias dari sisi fisiknya saja. Secara insting reproduksi spesies, lelaki sangat mempertimbangkan bentuk tubuh dan wajah. Kaitan wajah wanita dan daya tarik reproduksi seksual bagi lelaki adalah :  Wajah cantik melambangkan  kesiapan wanita untuk melakukan reproduksi bagi kelangsungan spesies.

 Ketika lelaki dengan indera sensoriknya men-scan wajah wanita, maka wajah yang cantik melambangkan  bersinarnya wajah wanita itu. Cantik adalah relatif absolut, artinya konsep cantik adalah mutlak dari perasaan percaya diri wanita tersebut.

Jika wanita itu tampil percaya diri dan meyakini bahwa dirinya menarik secara keseluruhan tanpa ragu-ragu, maka wajah menjadi cerah, maka bersinarlah daya tarik wanita itu di mata pria. Ini umum, karena kecantikan itu sifatnya ada dalam keyakinan diri seorang wanita. Sekali wanita itu merasa dirinya tak cantik, maka reduplah sinar itu.

Kini jika kita berbicara mengenai seorang pria. Maka wanita kebalikan dengan pria. Jika kebanyakan pria gagal dalam mengapresiasi inner beauty pada wanita, namun wanita kebalikannya, seringkali berhasil melihat inner strength dari seorang pria.

Inner strength pria ini tercermin dalam banyak kisah rakyat seperti film “Beauty and the Beast" dan film "Beastly" yang belum lama ini diluncurkan oleh Hollywood.

 Dalam film "Beastly" dikisahkan sorang pria bernama  Kyle Kingson,  yang tadinya si tampan rupawan  dan kaya juga terkenal, menjadi si buruk rupa yang dikucilkan. Ini adalah metafora, bahwa lelaki kadang kala terjebak dalam image sukses yang berarti unsur lahiriah.

  Dan memang ada benarnya yang digambarkan dalam film itu, bahwa kebanyakan wanita ternyata tidak hanya melihat lelaki dari wajah saja. Atau ada pepatah : 'lelaki bukan dari wajah'. Wanita sering dan kebanyakan berhasil melihat inner strength dari pria-pria pilihan hatinya. Lihatlah film "Beastly" yang disutradarai oleh Daniel Branz ini.

Jika inner beauty seorang wanita adalah meliputi : nilai-nilai virtue atau kebaikan watak perempuan.

Namun jika dalam  inner strength, mendorong pria dalam perbaikan sikap mental, sikap percaya diri, keteguhan hati, dan sikap mental positif pria yang kerap dan seringkali menjadi pertimbangan wanita memilih lelakinya, di samping juga faktor lahiriah.

Di sisi lain, seperti dua sisi mata uang adalah : tak kalah menjadi faktor natural spesies, adalah faktor kesiapan sisi material pria. Kemapanan pria secara natural spesies dipandang sebagai kesiapan pria untuk bereproduksi. Di mata wanita, rasa percaya diri dan kemapanan sosial ekonomi pria menjadi daya tarik keberlangsungan reproduksi spesies, yang secara naluriah spesies, dirasa menjamin berlangsungnya kehidupan dalam keluarga. (*)

Selasa, 13 November 2012

Sandi Sebagai Lambang Komunikasi


 
Dalam ilmu komunikasi dikenal adanya komunikasi verbal dan non verbal. Dalam komunikasi verbal ada pula cara berkomunikasi yang menggunakan lambang-lambang / simbol-simbol istilah bahasa tertentu yang hanya dimengerti oleh satu komunitas. Maksud penggunaan simbol-simbol bahasa ini adalah:
1.    Mempercepat alur komunikasi yang sangat urgent.
2.    Membatasi (limitasi) komunikan/ receiver/decoder. Karena sender/ komunikator/encoder tidak menghendaki simbol-simbol intern diurai oleh pihak komunikan eksternal.
3.    Encoder dan decoder sama-sama ingin agar pesan sampai se-efektif mungkin, tanpa ada bias kata-kata.

Sandi juga berfungsi sebagai identitas komunitas. Bahasa sandi sudah dikenal manusia sejak manusia dapat berkomunikasi antara satu dengan yang lain 20.000 tahun yang lalu. Bahasa pertama manusia adalah sandi-sandi yang telah disepakati umumnya istilah jari jemari untuk menandakan buruan.
Sandi sebagai bagian ilmu komunikasi, juga menunjukkan adanya prosedur dalam pengiriman pesan. Prosedur-prosedur ini telah disepakati oleh sebuah komunitas untuk saling berkomunikasi

Contoh : Sandi ini yang sudah umum merupakan sandi yang lazim digunakan oleh POLRI non satuan khusus :



SANDI ANGKA
-1-1 : Hubungi per telepon
- 1-4 : Ingin bicara diudara (langsung)
- 3-3 : Penerimaan sangat jelek/orang gila
- 3-3L : Kecelakaan korban luka
- 3-3M : Kecelakaan korban material
- 3-3K : Kecelakaan korban meninggal
- 3-3KA : Kecelakaan kereta api
- 3-4-K : Kecelakaan, korban meninggal, pelaku melarikandiri
- 4-4 : Penerimaan kurang jelas
- 5-5 : Penerimaan baik/sehat
- 8-4 : Tes pesawat/penerimaannya
- 8-6 : Dimengerti
- 8-7 : Disampaikan
- 8-8 : Ingin berjumpa langsung
- 10-2 : Posisi/keberadaan
- 10-8 : Menuju
- 2-8-5 : Pemerkosaan
- 3-0-3 : Perjudian
- 3-0-1: lagi kimpoi <- killerinhouse
- 3-3-8 : Pembunuhan
- 3-6-3 : Pencurian
- 3-6-5 : Perampokan
- 8-1-0 : Pembunuhan
- 8-1-1 : Hidup
- 8-1-2 : Berita agar diulangi (kurang jelas)
- 8-1-3 : Selamat bertugas
- 8-1-4 : Laporan/pembicaraan terlalu cepat
- 8-1-5 : Cuaca
- 8-1-6 : Jam/waktu
- 8-1-9 : Situasi

SANDI HURUF  - Taruna : Berita
- Gelombang : Jam/waktu
- Semut : Pelajar
- Lalat : Mahasiswa
- Pangkalan : Rumah/kediaman
- Cangkulan : Kantor/tempat kerja
- Gajah : Derek
- Komando : Kantor polisi
- Tikar : Surat
- Buntut tikus : Antena pendek (HT)
- Belalai gajah : Antena atas
- Laka : Kecelakaan
- Jaya 65 : Kebakaran
- Timor Kupang Pati : Tempat Kejadian Perkara
- Timor Lombok Pati : Telepon
- Timor Kupang Ambon : TerKendali Aman
- Halong Timur : Handy Talky (HT)
- Halong Pati : Hand Phone (HP)
- Kupang Rembang : KendaRaan
- Kupang Ambon : Kereta Api
- Wilis Kendal : Walikota
- Kendal Cepu : KeCamatan
- Kendal Lombok : KeLurahan
- Rembang Wilis : RW
- Rembang Timur : RT
- Rembang Rembang : Serse
- Rembang Solo : Rumah Sakit
- Rembang Pati : Rupiah
- Anak Kijang : Pencuri/Tersangka
- Ambon Demak : Angkatan Darat
- Ambon Lombok : Angkatan Laut
- Ambon Ungaran : Angkatan Udara
- Pati Medan : Polisi Militer
- Timor Medan : Tamu/Teman
- Lombok-Lombok : Lalu Lintas
- Timor Lombok : Lampu Lalu Lintas/Traffic Light
- Sepi : Senjata Api
- Sajam : Senjata Tajam
- Curat : Pencurian Dengan Pemberatan
- Curas : Pencurian Dengan Kekerasan
- Curanmor : Pencurian Kendaraan Bermotor
- Bandung Umar Solo : BUS
- Medan-Medan : Metro Mini
- Pati Demak Irian : Jam/Waktu
- Solo Medan Pati : Pelajar
- Solo Medan Ungaran : Mahasiswa
- Solo Timur Medan : Rumah/Kediaman
- Opak Kendal Jepara : Kantor/Tempat Kerja
- Opak Pati Solo : Derek
- Lombok Pati : Kantor Polisi
- Lombok Irian : Surat
- Lombok Demak : Antena Pendek (HT)
- Bandung-Bandung : Barang Bukti (BB)
- Bandung2 Padat : Makan
- Bandung2 Medan : Bahan Bakar Minyak
- Lampiran/Ambon : Istri
- Monik : Anak
- Solo Bandung : Stand By
- Solo Garut : SiaGa
- Medan Demak : Meninggal Dunia
- Pati Ambon Medan : Pengamanan
- Ambon Pati-Pati : Apel
- Palang Hitam : Mobil Jenazah
- Demak Pati Kendal : Dinas Pemadam Kebakaran

Sandi Pangkat Kesatuan
 - Kresna : Presiden
- Bima : Wakil Presiden
- Timor Bandung I : Kapolri
- Metro I  : Kapolda
- Timor I : Kapolres
- Jajaran 1 : Kapolsek
- Jajaran 2 : Wakapolsek
- Jajaran 3 : Serse
- Jajaran 4 : Sabhara
- Jajaran 5 : Bimas/Babinkamtibmas
- Jajaran 6 : Lantas/Lalu Lintas

- bandung bandung padat = makan
3-0-1: lagi kawin
anggota polisi d jogja...
75.x(x=1-10)
itu istilah untuk adanya cewek, 1-10 adalah skor untuk cewek

Ada lagi yang umum diucapin di penjara lapas/polsuspas
Posko=komandan regu
Posko 2=wadanru
01=pas 1= kalapas
02=pas 2=ka kplp
Palkam = Kepala Kamar
Bebek = pendatang baru
Istilah umum di penjara ‘88' itu sedang sibuk/jangan diganggu api 88 kadang diartikan : napi lagi intim sama pembesuk mungkin istri atau pacar. Yah saya pikir ini manusiawi. Yang tidak manusiawi adalah adanya pemaksaan/pemerkosaan antar napi karena adanya bahaya AIDS. (*)

Selasa, 23 Oktober 2012

Profesi Dosen





Pekerjaan sebagai Dosen tentu banyak suka dan dukanya, seperti halnya profesi yang lain. Saya kebetulan menjalani dua profesi, sebagai dewan editor pada susunan redaksi (editor) https://pewarta-indonesia.com
dan juga saya menjadi dosen. Untuk profesi dosen sendiri, sebenarnya syaratnya juga sudah tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
Dalam Pasal 1 ayat 2 UU No 14 th 2005 Tentang Guru dan Dosen sudah dijelaskan definisi dosen. Yakni ayat (2) : Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Jadi jelas bagi khalayak umum bahwa Dosen adalah sebuah profesi yang diatur oleh undang-undang, termasuk juga kualifikasi Dosen itu sendiri. Kemudian siapa yang bisa menjadi dosen ? maka diterangkan dalam Bab V UU No 14 th 2005 tentang Dosen.
Kualifikasi, Kompetensi, Sertifikasi, dan Jabatan Akademik diatur dalam Pasal 45 yang berbunyi :
Dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Dijelaskan pula dalam Pasal 46 ayat (1) Kualifikasi akademik dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 diperoleh melalui pendidikan tinggi program pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang keahlian.
Pada ayat (2) Dosen memiliki kualifikasi akademik minimum:
a. lulusan program magister untuk program diploma atau program sarjana; dan
b. lulusan program doktor untuk program pascasarjana.
ayat (3)  Setiap orang yang memiliki keahlian dengan prestasi luar biasa dapat diangkat menjadi dosen. 
Ayat (4) Ketentuan lain mengenai kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dan keahlian dengan prestasi luar biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditentukan oleh masing-masing senat akademik satuan pendidikan tinggi.
Ditambah lagi aturan tentang Dosen yang dimuat dalam UU no 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (Dikti) dimana pada ayat (3) berbunyi : Program sarjana wajib memiliki Dosen yang berkualifikasi akademik minimum lulusan program magister atau sederajat.
Untuk itu sebaiknya pemerintah melalui Kemendiknas, tidak hanya tinggal diam menunggu dalam hal sertifikasi Dosen. Kemendiknas harus mendorong, membantu, dan mempercepat proses para Dosen yang belum mendapat sertifikasi agar segera dapat memperoleh sertifikasinya. (*)
(oleh : Mung Pujanarko, S.Sos, M.I.Kom Dewan Editor di https://pewarta-indonesia.com)

Sabtu, 20 Oktober 2012

Profesi Wartawan


Saya sependapat dengan tulisan saudara Syahreddy yang sehari-hari merupakan Kepala Biro Jambi pada sebuah Situs Berita.

Dalam tulisannya, Syahreddy membahas tentang fenomena wartawan yang hanya berbekal kartu pers namun rajin ‘keliling’ instansi baik birokrasi mapun swasta untuk mencari ‘sesuatu' yang jelas 'sesuatu' itu bukanlah berita.

Dalam tulisan saudara Syahreddy yang dimuat itu bisa dibaca bersama bahwa temuan Syahreddy menyatakan bahwa masih ada wartawan yang tidak bisa membuat karya jurnalistik, bahkan tidak punya media, namun selalu gentayangan dan meresahkan kalangan pemerintah serta kalangan swasta.

Kenapa meresahkan ?
Karena wartawan abal-abal itu memaksa meminta mulai dari kelurahan, sekolah. Wartawan abal-abal itu tak mencari berita, karena banyak dari mereka yang nulis berita saja tak bisa.

Apalagi ilmu jurnalistik. Aduh...jauh. Wartawan abal-abal tak paham dalam ilmu jurnalistik.

Menurut hemat saya, kini wartawan bukanlah era wartawan jaman dulu. Era kini adalah era konvergensi media. Wartawan, siapapun dia, hendaknya membuat karya jurnalistik yang sesuai dengan standar keilmuan jurnalistik.

Adapun menurut ketentuan Undang-undang Pers no: 40 tahun 1999, dijelaskan pada Pasal 1 ayat (1) : Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.
Kemudian pada Pasal 1 ayat (4) : Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.
  Dijelaskan pula pada Pasal 7 ayat (1) : Wartawan bebas memilih organisasi wartawan. Dan pada ayat (2) Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik.

Ilmu jurnalistik berjenjang, ada S1, S2 bahkan sampai S3 Jurnalistik, baik itu ilmu jurnalistik di dalam negeri maupun di luar negeri. Di Amerika, lulusan ilmu jurnalistik sangat dihargai, karena kapasitas keilmuannya yang menjangkau ranah komersial dan ranah penelitian akademis.
Di Indonesia, era kebebasan pers barulah lebih kurang dua dasawarsa, dan ilmu jurnalistik kini haruslah menjadi tuan rumah di negeri dunia media massa nasional.

Di luar negeri, media massa sudah lebih menghargai lulusan ilmu jurnalistik untuk menduduki posisi-posisi penting dan strategis, karena memang kompetensi keilmuan jurnalistik yang tidak sekadar '5W dan 1H' saja, namun lebih dari itu adalah analisa mendalam kerhadap konstruksi karya jurnalistik baik melalui discourse analysis maupun reality construction base on journalism.

Ilmu jurnalistik hendanya tidak dipelajari secara main-main. Karena jika mahasiswa Ilmu Jurnalistik benar-benar membaca semua buku Jurnalistik pegangannya, serta menerapkan semua metodologinya, maka dia akan mudah diterima dalam masyarakat kapitalisme media.
Pun, jika lulusan jurnalistik ingin berdiri sendiri sebagai Solo Journalist maka kemungkinan itu selalu ada bagi para wartawan yang memang memiliki disiplin ilmunya.

Jadi segala disiplin ilmu apapun ilmu itu, patutlah dihormati dan dihargai. Dari segi mana dihargainya ? yakni dari segi kompetensi lulusannya, dari kompetensi sarjana keilmuan itu sendiri. (*)

(Oleh : Mung Pujanarko,S.Sos, M.I.Kom alumnus magister ilmu komunikasi kekhususan bidang jurnalistik IISIP,  Dewan Redaksi https://pewarta-indonesia.com/)

Kamis, 18 Oktober 2012

WISUDA SARJANA IISIP TAHUN 2012 & WISUDA SARJANA STMT TRISAKTI 2012


Berfoto bersama setelah Wisuda Magister Jurnalistik IISIP 7-10-2012 ki-ka : Mung Pujanarko, Iwan Siregar, Dr Udi Rusadi (Ketua PascaSarjana), Kiayati Yusria, dan Agus Wiyantio

Mung Pujanarko memperoleh ucapan selamat dari Rektor IISIP (Periode 2008-2013) Dr. Ir. Maslina W. Hutasuhut, MM saat wisuda Sarjana dan Magister di Aula Kampus IISIP Tercinta 7 Oktober 2012.


IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) mengadakan prosesi wisuda para sarjana, dan magister di Kampus IISIP Jl Lenteng Agung, Jakarta,  pada tanggal 7 Oktober 2012.

Sejumlah 190 orang sarjana Strata 1 dan 4 orang Magister (S2) berhasil menyelesaikan studinya di Kampus Tercinta IISIP Jakarta.

IISIP beralamat di Jl.Raya Lenteng Agung 32 Jakarta Selatan (12610), berdiri di Jakarta 5 Desember 1953,  dulu bernama Sekolah Tinggi Publisistik (STP). Luas Area Kampus 20.000 m2 , sejak awal berdiri IISIP telah terkenal sebagai Kampus para profesional bidang Media Massa, Humas dan Ilmu Sosial.

Para alumni IISIP juga telah tersebar luas di berbagai level instansi dan perusahaan swasta dan perusahaan media massa tanah Air, belum lagi yang berwiraswasta dan sukses menekuni bisnisnya,

IISIP dikenal oleh para mahasiswanya serta masyarakat umum sebagai kampus yang amat ketat dalam menjaga mutu lulusan. Berdasarkan surat Ditjen Dikti Kemendiknas tanggal 2 Maret 2011 IISIP berhasil memperoleh peringkat ke-24  sebagai Perguruan Tinggi Terbaik dari 357 perguruan Tinggi yang telah dievaluasi dalam rangka mengimplementasikan Sistem Penjaminan Mutu Internal tahun 2010.

Pada hari yang cerah pada tanggal 7 Oktober 2012 itu, para Wisudawan yang hadir tampak sangat berbahagia karena telah berhasil lulus setelah berjuang sekian tahun menggeluti disiplin ilmu masing-masing dan gelar akademis yang diperjuangkan akhirnya tercapai.

Khusus untuk wisuda Magister Ilmu Komunikasi kekhususan Ilmu Jurnalistik IISIP mewisuda 4 orang Magister yakni

1. Kiayati Yusria, MM.M.I.Kom dengan IPK 3,81 masa stidi 2,5 tahun (cumlaude)
2. Mung Pujanarko, M.I.Kom dengan IPK 3,66 masa studi 2,5tahun
3. Agus Wiyanto, M.I.Kom dengan IPK 3,62
4. Irwan Siregar, M.I.Kom dengan IPK 3,54.

Wisuda dilaksanakan secara tertib dan penuh khidmat bertempat di Aula Kampus IISIP. Para wisudawan tampak didampingi pula oleh kerabat, orang tua, dan sanak saudara untuk menyaksikan proses wisuda. Di sana-sini nampak raut muka kebahagiaan dari para orang tua yang anaknya telah diwisuda.

Program magister IISIP juga telah memperoleh akreditasi dari Kemendiknas, dan diminati terutama bagi kalangan profesional yang ingin meningkatka kualifikasinya. Program Magister IISIP berkonsentrasi pada pengembangan Ilmu Jurnalistik dan ilmu seputar Media Massa.

Studi lanjut tentang ilmu tentang Media Massa amat diminati kini terutama karena Indonesia memasuki MEA (masyarakat Ekonomi Asean) dimana konvergensi media dan perkemangan new media menjadi semakin signifikan.

Rektor IISIP (Periode 2008-2013) Dr. Ir. Maslina W. Hutasuhut, MM berpesan bahwa para wisudawan harus tetap menjaga nama baik almamater dimanapun dia bekerja. "Jagalah nama baik diri kalian pribadi, dan nama baik almamater tercinta, dimanapun saudara berkarya dan mengaktualisasi diri" pesannya.

Mung Pujanarko sebagai salah satu Alumni Magister IISIP, menyatakan bangga akan almamaternya.
"Saya pribadi berasal dari Surabaya, mulai dari SD hingga SMA tamat di Surabaya dan strata satu saya selesaikan di Kampus Universitas Negeri Jember (UNEJ), Jawa Timur. Saya amat bersyukur  karena diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk melanjutkan kuliah di IISIP, karena IISIP telah terkenal sebagai kampusnya para profesional di bidang media. Para alumni IISIP saya lihat sangat loyal pada almamaternya, hingga terjadi jalinan antara alumni dan lulusan yang baru mencari pekerjaan.Para yunior acapkali dibantu oleh para seniornya untuk memasuki lapangan kerja dunia media massa. Hal ini membuktikan jika para alumni IISIP memilki loyalitas, dan rasa persatuan jiwa korsa" papar Mung Pujanarko yang akrab dipanggil Imung ini di aula Kampus IISIP tanggal 7 Oktober 2012. (*)




Berita ke II

                                 Wisuda Sarjana STMT Trisakti Jakarta





Keterangan Foto-foto di atas : Eko Yuni Susanti, S.Sos, M.Mtr diwisuda menjadi magister manajemen transportasi STMT Trisakti, di JCC 27 November 2012


Jakarta-Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti (STMT) Trisakti mewisuda sebanyak 721 orang sarjana, pada tanggal 27 November 2012.

Wisuda dilaksanakan di gedung Jakarta Convention Center (JCC) Senayan Jakarta. Dalam sambutannya, Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Dr.H.Husni Hasan, AMTru, S.Sos, MM menyatakan bahwa STMT Trisakti pada tanggal 27 November 2012 mewisuda sebanyak 721 orang sarjana terdiri dari 48 orang wisudawan Pascasarjana Strata Dua (S2), kemudian 568 orang wisudawan sarjana Strata Satu (S1), 64 orang wisudawan Diploma III Manajemen Transpor Udara, 13 orang wisudawan Diploma III Manajemen Transpor Laut, dan 28 orang wisudawan Diploma III Manajemen Logistik dan Material.

“Peristiwa yang bersejarah ini tentu punya arti penting, tidak hanya bagi wisudawan, tapi bagi STMT Trisakti yang untuk ke-tigapuluh enam kalinya berhasil menghasilkan lulusan untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” papar Ketua STMT, Dr. Husni Hasan, AMTru, S.Sos, MM dalam sambutannya yang dibacakan di depan para wisudawan dan orang tua wisudawan STMT Trisakti.

Ada yang menarik pada salah seorang wisudawan program Pascasarjana Strata 2 (S2) STMT Trisakti, bernama Eko Yuni Susanti, yang juga adalah merupakan Pegawai Negeri Sipil pada kantor Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Aparatur Kementerian Perhubungan, yang telah berhasil meraih gelar Magister Manajemen Transportasi (MM.Tr). “Alhamdulillah, dengan bekerja keras, saya dapat menyelesaikan program Pascasarjana pada STMT Trisakti, yang tadinya hanya merupakan mimpi saja bisa berkuliah di Pascasarjana STMT Trisakti, Alhamdulillah, setelah berkuliah secara reguler, kini saya telah meraih gelar Magister Transportasi,” tutur Eko Yuni Susanti, PNS pada PPSDM Kementerian Perhubungan kepada SRI.COM (27/11/2012) dengan raut wajah berseri-seri.

Menurut Eko Yuni Susanti, S.Sos,MM.Tr, dirinya menempuh konsentrasi studi Manajemen Transpor Darat pada STMT Trisakti, “Saya bersyukur dapat berkuliah dan lulus pada STMT Trisakti, karena mutu dan kualitas STMT Trisakti telah terkenal secara luas dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia,” ujar Eko Yuni Susanti yang akrab dipanggil Yuni ini.

Eko Yuni Susanti, S.Sos,MM.Tr, menambahkan, ilmu yang didapatnya dari Pascasarjana STMT Trisakti dapat segera dia aplikasikan dalam pekerjaannya sehari-hari sebagai aparatur Kementerian Perhubungan di kantornya di PPSDM Aparatur Perhubungan, Semplak, Bogor. (*)

(imung)

Selasa, 11 September 2012

Pencitraan (Imaging)


Pencitraan sendiri adalah sebuah kata kerja. Kata kerja ini berarti dalam upaya menciptakan sebuah pencitraan terdapat upaya-upaya untuk merekayasa. Rekayasa di dalam bahasa Indonesia adalah bukanlah bentuk negatif. Karena rekayasa adalah sinonim dari : ‘membuat’, ‘menciptakan’. Tidak ada pengertian negatif dalam kata rekayasa, reka adalah mengira dan yasa adalah berbuat, jadi menyangkut planning dan actuating.
Dalam bentuk pencitraan yang ditampilkan oleh orang-orang yang tampil/ menampilkan dirinya dalam media, saya melihat dalam alur garis membentuk sebuah imaging.
Dalam dunia fotografi, imaging saya amati ada 3 garis besar.
  • Bright imaging
  • Grey imaging
  • Dark imaging
Bright imaging apabila seorang menampilkan dirinya dalam keadaan terang benderang, dan apa adanya.
Grey imaging adalah imaging sayup-sayup di mana dalam sebuah pencitraan foto dalam sebuah media seseorang menampilkan dirinya dalam keadaan foto yang di-retouch dengan sentuhan blur, sentuhan soft skin dan sentuhan lainnya utuk berkesan tidak terlalu memperjelas image.
Dan yang ketiga adalah dark imaging bisa berarti siluet, atau dalam sebuah gambaran tentang foto dirinya seorang menampilkan foto orang lain, foto benda, atau foto-foto tanda simbol di mana menurut ajaran semiotika Ferdinand de Sausurre, imaging ini berarti seorang berusaha menutupi jati diri gambaran wajahnya.
Wajah dalam ilmu Tiongkok kuno sudah dipolakan ada beberapa ragam wajah yang memiliki kecenderungan-kecenderungan alamiah yang berhubungan dengan sifat dan watak secara empiris. Ingat, secara empiris.
Kadang kala orang bingung akan menampilkan fotonya pada  media jejaring sosial, media massa atau pada gambar poster kampanye politik untuk menampilkan foto dirinya agar memiliki cira atau image yang positif di masyarakat. Saya baru membahas pencitraan secara fotografi saja, belum membahasnya secara upaya pencitraan yang menyangkut semiotika secara luas seperti gaya bicara, gesture dan simbol.  
Ini barulah dalam segi penayangan gambar foto sesorang saja.
Orang cenderung ingin menampilkan sisi baik dalam dirinya, dan meminimalisir sifat tidak baik termasuk kesan pamer yang keterlaluan, karena untuk menarik simpati dari publik atau rekan jejaring sosial. Yang ingin ditampilkan biasanya dalah citra sukses, citra good person atau orang baik-baik dan citra yang positif lainnya seperti : fun, ceria. Untuk menarik lebih banyak simpati.
Saran saya untuk mereka yang ingin membuat foto dirinya terkesan true image.
Bahwa  komunikan bukanlah cermin bagi komunikator. Komunikan adalah receiver yang aktif secara mental, afektif, kognitif dan psikomotorik. Dalam imaging yang berbentuk still image atau foto diam, maka wajah tersenyum adalah membantu membentuk citra yang baik karena senyum adalah sebuah bahasa tubuh yang berarti penerimaan diri.
 Pada makhluk selain manusia, misalkan dunia satwa tak dapat tersenyum dan tak perlu senyuman, karena peneriman diri hewani adalah dengan lewat adu fisik, adu cakar dan adu taring untuk saling berinteraksi satu sama lain. Satwa memiliki komponen fisik untuk mengajak hewan lain menerima dirinya, karena itu hewan tak perlu tersenyum.
Senyuman yang berkesan adalah ketika senyum itu adalah menilai lawan bicara kita dengan respek. Ini agak susah bagi sebagian orang mungkin, karena tidak semua orang mampu merespeki atau menghormati manusia lain. Akhirnya ada orang yang dalam foto, senyumnya terkesan senyumnya kaku dan malah ada yang menyunggingkan senyuman yang terkesan meremehkan orang lain. Maka itu senyum adalah natural, kalau orang itu jiwanya baik sudah barang tentu senyumannya tulus. Tapi kalau orang itu sudah mengakar sifat kelicikannya dan ketidak-mampuannya untuk menghormati sesama manusia, tentu saja dia sulit tersenyum secara tulus, senyumannya malah kadang terkesan tidak adanya self acceptance terhadap another human beeing.
Politisi yang telah banyak korupsi kita lihat senyumannya selalu aneh, dan dalam batin kita sudah curiga jika politisi ini banyak ngurusin perutnya sendiri daripada perut pemilihnya. Untungnya para pemilih hanya perlu melihat fotonya setiap 5 tahun sekali saja, kalau dipilih lagi yang memang hebat benar atau belum pintar benar yang memilihnya.
Maka itu untuk tersenyum dalam poster kampanye politik saja, harus disertai jiwa yang baik di luar poster politiknya.

  Fisiognomi

Adapun bentuk wajah seseorang dan rahasianya menurut ilmu fisiognomi (fisiognomi : ilmu empiris membaca wajah, empiris atrtinya nisbi dan tidak mutlak kebenarannya :

1. Bentuk wajah bulat telur (oval)

Orang Cina Kuno percaya bahwa bentuk wajah ini menunjukkan watak, aktivitas mental yang sangat kuat,  tahan terhadap penyakit dan rasa percaya diri yang tinggi. Hampir semua Kaisar Cina memiliki wajah bulat. Pemilik wajah ini  pada umumnya cerdas dan dapat beradaptasi dengan situasi macam apapun. Mereka dikaruniai otak jempolan. Meski cenderung  sedikit malas, tapi orang dengan bentuk wajah bulat umumnya panjang umur. Orang Timur mengatakan mereka seakan tidak terburu -buru untuk mati. Wajah bulat dengan leher panjang memiliki daya tahan terhadap penyakit. Dalam bercinta mereka jujur meski  terkadang keinginan erotik menjebloskan mereka dalam ketidaksetiaan.

2. Bentuk wajah Berlian (segitiga berlian)

Orang Cina Kuno percaya bahwa wajah berlian yang memiliki dahi yang sempit, tulang pipi yang menonjol dan berdagu lancip, artinya mereka hangat dan  diberkahi kemauan kuat serta keberuntungan dalam karir. Sayangnya orang tipe ini cenderung egois dan kurang peduli pada  moral. Wajah berlian banyak dimiliki banyak artis panggung wanita terkenal dan prajurit pemberani.

Orang Cina merasa sangat beruntung jika meninggalkan rumah untuk keperluan bisnis, bertemu dengan wanita atau pria yang  memiliki wajah berlian. Jika wanita, mereka ditafsirkan bisnis akan sukses tapi nanti, dan pria, ditafsirkan bisnis akan  sukses tapi segera. Orang dengan bentuk wajah seperti ini umumnya juga beruntung dalam cinta. Dikenal mempunyai daya tahan  tubuh yang menakjubkan terhadap penyakit. Mereka juga ambisius tapi juga memiliki rasa humor yang baik.

Menurut wawancara dengan beberapa responden pemilik wajah berlian, sehingga  secara empirisnya banyak pemilik wajah berlian tidak puas dengan masa kanak-kanak dan remajanya, dan hanya menemukan  kebahagiaan pada paruh kedua usia mereka. Sampai akhir hayat, mereka selalu ingat kesulitan-kesulitan yang pernah dihadapi  dan diatasi.

3, Bentuk wajah persegi panjang

Orang Cina Kuno percaya bahwa wajah ini menunjukkan kreativitas, kepandaian dan penguasaan diri, tapi juga menunjukkan ketidaksetiaan. Orang Cina menyebut  bentuk wajah ini seperti pohon, karena mirip dengan batang pohon. Pemiliknya umumnya orang yang suka pada introspeksi diri  yang menakjubkan dan dapat mengendalikan perasaan untuk mengatasi hal atau masalah. Mereka juga kreatif dan beruntung dalam  hidup. Menurut imajinasi Cina, hal ini secara simbolik diwakili oleh pohon yang pada musim semi berdaun kembali. Banyak orang dari kalangan ini mencapai sukses namun sangat terikat pada pekerjaan yang dianggap nomor satu dalam hidup,  sehingga terkadang menjadi masalah di dalam kehidupan rumah tangga mereka.


4. Bentuk wajah persegi

Pemilik wajah ini umumnya punya karakter stabil, jujur dan seimbang. Mereka adalah orang-orang yang biasa membuat kepuasan.  Bisa menikah lebih dari sekali dan pecinta yang berapi-api. Wajah persegi menandakan pribadi yang peka pada persoalan umum, rasa implusif dan terkadang keras kepala. Kalau pria, biasanya kukuh pada pendirian, mereka juga dikenal sebagai orang yang bergairah, hanya repotnya tidak setia dalam bercinta  karena mudah dirayu. Murah hati juga ciri yang paling nyata. Mereka selalu menjadi teman yang baik dan setia. Mereka selalu  menempatkan teman-temannya nomor satu dalam hidup, imbalannya meminta dari mereka kejujuran dan kepatuhan.


5. Bentuk wajah rahang sempit berdahi lebar

Orang Cina menghubungkan wajah ini dengan unsur bumi, karena bentuknya yang bagus dan hanya berubah sedikit oleh usia. Mereka  cenderung agresif dan keras kepala. Kalau memutuskan mereka harus melihat hasilnya secepat mungkin. Mereka pun siap bertempur  sampai titik darah penghabisan demi tercapainya kehendak, terutama untuk kehidupan emosional mereka.  Kalau pria, sulit menjadi ayah yang sempurna karena tidak mampu bergaul dengan anak-anaknya dan cenderung  tidak mengikuti pertumbuhan anaknya.


6. Bentuk wajah segitiga sama sisi

Wajah ini mengungkapkan semangat yang tak kenal lelah, ditambah meluap, otak cerdas dan sensual. Mereka biasanya ambisius dan  cenderung menonjolkan diri. Banyak penggoda hebat dalam sejarah seperti Mary Tudor dan Elizabeth dari Austria termasuk  golongan ini, juga artis Merlene Dietrich, Pier Angeli dan Elizabeth Taylor. Umumnya tipe ini sering tidak bahagia dalam  kehidupan cinta.

Bentuk segotiga sama-sisi  jika di tepat-tepatkan, cenderung meninggalkan keluarga untuk menuruti dorongan hati. Dalam beberapa kasus, konflik jiwa kerap mempengaruhi  perilaku mereka. Saat tertarik pada pengalaman baru dan terpesona oleh hubungan mesra pada lawan jenis, mereka dapat  menentang keputusan mereka untuk melakukan perjalanan, pindah kerja atau lari dari rutinitas keseharian yang dianggap sebagai pengganggu.

7. Bentuk wajah dahi lebar dengan dagu persegi

Mereka umumnya memiliki daya hidup yang kuat, gigih, tapi sulit berpikir positif. Suka mencari perhatian dan meraih  keuntungan dari setiap kesempatan yang diberikan oleh hidup. Hidup mereka dipenuhi kegiatan dan penantian. Ramah, tapi sulit  dijadikan teman. Selalu tegang dan kurang spontanitas. Sangat hebat dalam bercinta, tapi mau enak sendiri. Karena itu mereka  tidak ragu-ragu memutuskan hubungan, jika dianggap mengganggu karir atau posisi sosial.

Punya perhatian besar pada prestasi fisik. Banyak penerjun dan pembalap punya wajah tipe ini. Karena tidak suka buang waktu  untuk tujuan sepele, akibatnya mereka sering tampak tidak tertarik pada sesuatu.
Mereka umumnya dikaruniai umur panjang, seakan-akan mereka menjaga energi untuk tujuan-tujuan penting. Mereka pandai  berbicara, tenang namun bisa berubah keras kepala.

8. Bentuk wajah dengan tonjolan tulang pipi

Mutu utama pemilik wajah dengan tulang pipi menonjol adalah watak yang kuat, tekun, energi mental serta kemampuan bangkit dari kejatuhan. Kesalahan mereka biasanya berasal dari diri sendiri. Orang dengan tipe wajah ini sering menjadi pemimpin,  namun kerap juga muncul di kalangan petualang-petualang yang kurang baik atau seperti penjahat dan mata-mata.

Mereka dikenal tidak stabil dan gelisah. Jika pria punya bentuk wajah seperti ini biasanya tidak mampu menjadi suami yang  setia dan dipercaya. Wanita pun begitu, tidak stabil dalam kehidupan cintanya, cenderung menguasai pasangan dan sangat senang  dirayu. Untuk hidup bahagia dengan mereka diperlukan kemampuan untuk mendukung kecenderungan mereka dan memberikan  pertimbangan.

Tapi ingat, sekali lagi ilmu membaca wajah ini (fisiognomi) adalah  ilmu niteni (Jawa : mengamati) karena ukuran membaca karakter pada jaman dahulu bisanya ya hanya niteni saja. Bagi ilmu politik, wajah politisi yang penting adalah wajah politisi yang berulangkali keluar dalam televisi akibat banyak diantara politisi ini terlibat korupsi, atau terindikasi korupsi. Kita melihat wajah para politisi apapun bentuknya mau oval, kotak, segitiga, ada yang maaf mirip punakawan Bagong, lihat saja aneka wajah milik para politisi ini ya tetap saja korup, karena korupsi di Indonesia adalah budaya, gratifikasi, upeti, adalah budaya yang mengakar kental sejak dulu kala.

Kalau ada kisah seorang pemimpin yang memadamkan penerangan karena menerima anaknya yang bukan bertamu untuk keperluan negara, kisah itu seingat saya bukan terjadi di Indonesia, melainkan di kawasan yang jauh letaknya nun di padang pasir sana.

Kisah yang ada di Indonesia adalah umumnya kepala desa yang akan mencalonkan diri terlebih dahulu bagi-bagi sarung dan sembako, dan kisah ini saya tahu sudah ada semenjak jaman Mataram tahun 1600-an, setelah jadi kepala desa maka sang kepala desa balik modal dari hasil  tanah ganjaran (bengkok), atau sekalian saja menjual tanah ganjaran itu, pusing amat. Jadi gratifikasi amat membudaya di Nusantara, gratifikasi seks yang baru sekarang heboh juga kisahnya sudah ada sejak jaman Belanda, dimana Penguasa Belanda terlebih dahulu ditemui oleh selir-selir kiriman, agar bangsawan lokal mendapat akses bantuan militer. Inipun sudah membudaya sejak Belanda pertama mendarat di Banten tahun 1600-an. Jadi yah tanpa harapan (hopeless), apalagi susahlah kalau disamakan dengan bangsa padang pasir yang memang keras dan tegas.(*)

Selasa, 21 Agustus 2012

Hubungan Antara Citizen Journalism dengan Situs Jaringan Berita


ABSTRAK
Masa sekarang ini adalah era kebebasan informasi. Dimulai sejak rezim orde baru tumbang, dunia pers dan jurnalistik makin maju.  Era kebebasan pers ini kemudian melahirkan banyak media baru baik cetak maupun elektronik. Dan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah media berita dot.com . Munculnya situs berita dotcom ini kemudian bertemu dengan munculnya fenomena berupa Citizen Journalism (Jurnalisme Warga) dengan aktivisnya para CJ (Citizen Journalist) atau pewarta warga.

BAB I
PENDAHULUAN

      Apa itu pewarta warga atau Citizen Journalist ? Menurut Wilson Lalengkey, Ketua Umum PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) dalam, makalahnya ;“Beberapa Pemikiran Tentang Pewarta Warga”,  2006 mengatakan bahwa pewarta warga adalah : “Warga masyarakat yang turut aktif menuliskan berita, opini, dan  artikel ke dalam situs berita atau jejaring sosial yang berfungsi memberikan informasi kepada khalayak”. Sedangkan Citizen Journalism adalah Jurnalisme Warga, yakni kegiatan jurnalistik oleh dari warga oleh warga dan untuk warga.
Selanjutnya menurut Ali Imron Hamid selaku Redaktur Pelaksana situs www.koran-jakarta.com dalam tulisan “Asyiknya Menjadi Pewarta Warga” yang dimuat dalam situs  www. newsflashjakarta.com (12 Januari 2010) menyatakan bahwa  Pewarta Warga adalah orang yang membuat laporan berita baik cetak dan elektronik dalam bentuk tulisan, suara dan visual yang dibuat oleh warga dan untuk warga tanpa  terpengaruh oleh trend berita”.
 Fenomena Citizen Journalism sendiri adalah termasuk dari bagian ilmu komunikasi. Secara umum komunikasi dapat diartikan sebagai proses mengirimkan dan menyampaikan pesan untuk mencapai pemahaman bersama.
Dalam “The Elements of Journalism” (April 2001) karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, menyatakan semua aliran jurnalisme, tugas pokoknya dalah “memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas.” Praktiknya sinonim dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi.
  Dengan munculnya fenomena Citizen Journalism (Jurnalisme Warga) dalam ranah ilmu jurnalistik, maka menarik untuk dikaji apakah ada hubungan antara aktivitas pewarta warga (citizen journalist) dengan tumbuhnya situs-situs berita independen  di dunia internet yang ada di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Apa itu Citizen Journalism? Bagi kebanyakan masyarakat istilah ini sama sulitnya dengan memahami ilmu jurnalistik itu sendiri. Sebenarnya melalui  aktivitas Citizen Journalism (Jurnalisme Warga), maka seorang Citizen Journalist (pewarta warga) selaku warga negara bisa dengan mudah menyalurkan aspirasi dan  tulisan-tulisan yang merupakan bentuk berita (news), atau  features (artikel minat insani) dan opini masyarakat, demi tercapainya amanat konstitusi Republik Indonesia terutama pasal 28F UUD 1945,  yang menjamin kebebasan berserikat dan berpendapat, karena ini adalah amanat konstitusi kita.
Menurut Konsep Ilmu Jurnalistik, Citizen Journalism (Jurnalisme Warga) dapat membimbing Warga Negara agar mudah menyalurkan pendapat, baik lisan dan tulisan guna melaporkan atau membuat berita (news), Feature (Artikel Minat insani), dan Opini agar tercapainya masyarakat  madani (Civil Society) yang demokratis.
 Citizen Journalist atau Pewarta Warga adalah : Warga Negara yang  melakukan kegiatan berkomunikasi  guna menyalurkan aspirasinya, baik berupa berita (news) dan feature (Artikel Minat insani), yang berdasarkan fakta yang ada dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, serta opini  warga  yang menyangkut hajat hidup orang banyak yang ditampung  dan disalurkan  melaui media massa baik cetak dan elektronik. Karena kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat dijamin oleh pasal 28 F, UUD 1945 yang merupakan Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka semua warga negara tanpa ada diskriminasi SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) dapat  bebas tanpa rasa takut untuk mengeluarkan pendapatnya (Pujanarko, 2010).
Sementara, Citizen Journalism adalah sebuah konsep pemikiran ilmu, dengan etimologis kata berakhiran ‘isme’ atau ‘ism’ yang berarti merupakan sebuah cabang pemikiran atau aliran intelektual. Tentu saja warga yang berkiprah dalam Citizen Journalism (Jurnalisme Warga) haruslah terlebih dahulu memahami dengan baik dan benar konsep Citizen Journalism. Citizen Journalism merupakan bentuk ‘way’ bahkan ‘ high way’ atau jalan besar -yang seharusnya bebas hambatan- agar rakyat dapat menyalurkan semua bentuk komunikasi, baik lisan dan tulisan pada media massa baik, cetak dan elektronik agar tercapai Indonesia yang Demokratis (Pujanarko, 2010).
Sedangkan landasan Demokrasi mutlak  bagi syarat tumbuh dan berkembangnya Citizen Journalism. Demokrasi sendiri dipahami sebagai  konsep hidup bangsa yang sadar bahwa aspirasi warga haruslah mendapat perhatian karena ada pepatah Vox Populi, Vox Dei  artinya suara publik adalah suara Tuhan (pengertian Demokrasi: Wikipedia:2010). Contohnya; apabila publik menuntut keadilan, maka Tuhan telah terlebih dahulu berkehendak  keadilan Universal. Jika publik mengecam korupsi, maka Tuhan telah terlebih dahulu melarang manusia untuk korupsi dan mencuri. Jadi suara rakyat banyak akan sebuah nilai-nilai yang mulia (divine virtue) datang dari Tuhan.
Namun  yang perlu dipahami, pengertian suara publik di sini benar-benar merupakan suara hati nurani publik, bukanlah rekayasa dan diatur oleh kehendak ambisi pribadi-pribadi yang mampu menggerakkan massa. Kalau sudah terjadi rekayasa, maka istilah Vox Populi-Vox Dei menjadi buram dan  mudah diplesetkan. Contohnya jika penguasa yang memiliki ambisi pribadi menggerakkan massa rakyatnya agar bersuara, maka hal itu bukanlah kehendak masyarakat secara natural. Namun jika masyarakat menginginkan sesuatu yang bersifat natural serupa keadilan dan kemakmuran, maka jelas hal tersebut datang secara natural dari hati nurani masyarakat.
Rumusan Masalah adalah  :
1.    Munculnya fenomena citizen journalism.
2.    Munculnya kesadaran masyarakat untuk menyuarakan pendapatnya melalui berbagai media, baik lisan maupun tulisan apakah itu bersifat opini, berita dan feature (artikel), juga audio visual.
3.    Munculnya banyak situs berita dotcom di internet yang kini siap menampung semua aspirasi warga dari  kegiatan citizen journalism, situs berita ini diantaranya adalah www.pewarta-indonesia.com, dan beragam situs lainnya.
4.    Munculnya kebiasaan menulis berita oleh warga dalam blog, dan situs jejaring sosial.

C. Tujuan Penelitian
Penulis menggali ada atau tidaknya  hubungan antara  aktivitas pewarta warga (Citizen Journalist) dan eksistensi situs berita di internet -yang selama ini bisa disaksikan sendiri melalui internet-, berbagai situs berita dotcom  itu  mengakomodasi  tulisan pewarta warga.  Ada atau tidaknya hubungan antara variabel aktivitas pewarta warga  dengan kata lain kegiatan citizen journalism dengan variabel  situs berita dotcom di internet perlu diteliti, karena  di masyarakat  terjadi  minat untuk membat tulisan yang bersifat informatif dan berguna bagi orang lain melalui aneka situs internet.

D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian yang pertama bisa dipakai sebagai alat ukur bagi bisnis media dotcom untuk mengevaluasi dan memahami aspirasi masyarakat yang memanfaatkan dunia internet terutama melalui  situs- situs di internet.  Dunia bisnis dotcom saat ini berkembang pesat di tanah air, untuk itu pelaku bisnis perlu  dapat menilai apakah fenomena pewarta warga (Citizen Journalist) ini menguntungkan atau tidak bagi perkembangan bisnis media dotcom di tanah air.  Kegunaan yang kedua adalah bagi pelaku jurnalisme warga sendiri, adalah untuk bisa mengetahui ada tidaknya  kesempatan untuk mengirimkan hasil karya jurnalistiknya kepada beragam media yang ada di internet. Kemudian tujuan penelitian yang terakhir yang diharapkan dari peneliti adalah menjaring minat sebanyak-banyaknya dari pewarta warga karena, demi berkembangnya wawasan akan kekayaan intelektual Warga Negara Indonesia sendiri.
E. Sistematika
Sistematika penelitian menggunakan metode analisa kualitatif dari wawancara mendalam dengan sumber- sumber yang terdiri dari :
1.   Informan utama : yakni orang-orang yang melakukan aktivitas kegiatan Citizen Journalism  yakni para Citizen Journalist (Pewarta Warga), anggota dari PPWI  (Persatuan Pewarta Warga Indonesia).
2.   Informan Internal : yakni pemimpin redaksi  sejumlah media dot com yang mengakomodasi citizen journalism.

BAB II
Kerangka Teori
 Peneliti memakai landasan Teori : Teori  Media dan Teori Masyarakat yang dikemukakan oleh Dennis McQuail dalam Bukunya "Mass Communications Theory" (2005). McQuail menekankan bahwa antara Media, Masyarakat dan Kebudayaan berkaitan erat baik dalam hubungan bahkan konflik di antara ketiga aspek ini. Untuk lebih menjelaskan hubungan antara ketiganya McQuail mengutip pendapat Rosengrem (1981) tentang tipologi sederhana untuk mendefinisikan apakah media berkaitan dengan asas : "struktur sosial mempengaruhi kebudayaan”  atau kebalikannya  yakni “ kebudayaan mempengaruhi struktur sosial".

  Jad bila kita pikir bahwa media massa adaah aspek dari masyarakat, maka pilihan dari materialisme dapat dihadirkan di sini. Dengan kata lain barang siapa yang mengendalikan media maka dapat memilih atau membatasi apa yang bisa mereka perbuat. Ini adalah esensi dari posisi Marxisme yang kemudian diambil pula oleh asas kapitalisme. Baik Marxisme maupun kapitalisme pada pokoknya kedua pemeluk ideology ini  saling berebut pengaruh melalui media massa.
Bila kita pikir bahwa media adalah menerangkan segala sesuatu lebih dari kebudayaan ini berarti adalah mengindikasikan asas idealisme, kebalikanya  dengan otonomi.
Dari sini dikatakan oleh McQuail bahwa media dapat menjadi sarana pengekangan namun  juga dapat menjadi sarana pembebas, bisa menyatukan juga bisa memecah belah masyarakat (McQuail,81;2005).
Menurut McQuail dalam teori media dan teori Masyarakat, Komunikasi Masa Sebagai Proses Sosial, Perantara dari Hubungan Social dan Pengalaman
Mediasi (perantara) adalah bentuk dari relationship atau hubungan. Hubungan yang diperantarai lewat media massa biasanya adalah berjarak, lebih bersifat tidak pribadi dan lebih lemah daripada ikatan pribadi. Media massa seharusnya tidak memonopoli arus informasi yang kita terima dari semua hubungan sosial kita yang luas. McQuail mengutip Thompson (1993;1995) tentang dua type interaksi lewat media. Yang pertama ;Interaksi melalui perantara media dan yang kedua “mediated quasi  interaction” yakni media menciptakan atmosfer baru bagi hubungan sosial kemasyarakatan.
Media dotcom juga berfungsi sebagai:
1.    Sebagai jendela dari peristiwa dan pengalaman, yang memperluas cakrawala dan membuat kita mampu untuk melihat kita, tanpa campur tangan orang lain.
2.  Sebagai cermin dari peristiwa yang terjadi di masyarakat, meskipun sudut dan posisi cermin itu dikendalikan oleh orang lain.
3.  Sebagai filter atau gate keeper atau dengan kata lain sebagai penyaring dan penjaga gerbang. Penjelasannya media pada hakekatnya juga menyaring dan membatasi informasi untuk masyarakat.
4.    Sebagai disseminator atau penyampai pesan.
 Perspektif  Teori Media dan Teori Masyarakat berbeda di beberapa aspek,  tergantung dari tipe dan perubahan di masa depan. Kesemuanya tidak bisa direkonsiliasi karena perspektif dan metode yang berbeda.  Yang kedua terdapat perbedaan antara pandangan sosio sentris dan pandangan  media sentries.

Kerangka Berpikir
Peneliti sadar bahwa munculnya beberapa type media baru telah memperluas serta merubah spektrum atau  cara pandang kita secara keseluruhan. Maka itu peneliti memakai kerangka berpikir dengan bantuan pemahaman atasa media internet sebagai media baru (new media).
•  Adanya media baru (new media) seperti internet  adalah bentuk perubahan fundamental; dari bentuk sosial organisasi teknologi media,  yang diakibatkan oleh hubungan sosial atau dalam Carey (1998) yang menyebutkan ‘struktur dominat dari selera dan rasa’.
• Yang lebih penting lagi munculnya jenis masyarakat baru yang memiliki jejaring hubungan  yang kompleks membuat kita  sadar bahwa era internet ternyata tidak bisa dilepaskan dari keseharian masyarakat terutama yang butuh berinteraksi secara sosial.
• Yang dimaksud ‘media baru’ yang kita diskusikan di sini adalah fakta yang ditimbulkan dari teknologi komunikasi yang dimungkinkan terjadi akibat  digitalisasi personal yang dipakai dalam alat komunikasi.
• Contohnya  Media Baru dalam McQuail (2005;136) dalah penggunaan internet, iklan, aplikasi peyebaran media digital termasuk download music, forum dan diskusi dalama World Wide Web (www).
•  Yang paling fundamental dari teknologi komunikasi adalah : digitalisasi, di mana proses pengiriman symbol  dapat disingkat melalui  kode-kode binner kemudian dibagikan serta disimpan.
• Misalnya yang terjadi dalam ‘media elektronik baru’; dapat disaksikan oleh pemirsa  karena  adanya spektrum ketimbang hanya pemindahan barang seperti yang berlaku dalam media lama.
• Karena munculnya media baru semacam internet ini seorang ahli komunikasi massa yang dikutip McQuail yakni Livingstone (1999;65) mengatakan bahwa  “Hal yang baru dari internet adalah kombinasi dari hubungan interakltif dimana  isi media  sangat innovative untuk komunikasi massa” (McQuail 2005;138) 
• Fungsi Media baru bagi para citizen journalist berarti pula meningkatnya kesempatan utuk mengirimkan tulisannya pada media internet, semacam dotcom, blog, dan jenis- jenis publikasi dalam internet.
• Sementara bagi penerbit media baru seperti  internet peranan lama tatap berlanjut yakni menerbitkan tulisan atau materi  baik secara profit dan non profit  selain itu  penerbitan memiliki peran baru sebagai gate keeper, serta penerbit lebih leluasa intervensi pada editorial.
• Sejatinya kerangka berpikir yang sesuai dengan teori komunikasi massa terutama teori media dan teori masyarakat adalah media massa memiliki pertimbangan pada 4 hal Yakni : 1. Kekuasaan dan ketidak setaraan, 2.Integrasi  social dan pribadi, 3. Perubahan dan perkembangan social, serta 4. Waktu dan ruang. Dari empat point diatas maka perpektif dari media baru bisa di-diskusikan. Karena  dalam waktu yang tidak terlalu lama seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi massa menjadi jelas bahwa teori yang lama atau teori terdahulu tidak bisa cocok bagi  situasi media baru. Karena situasi nya sudah berubah, komunikasi tidak hanya mengalir secara vertical dari atas kebawah atau hanya  memiliki pola yang terpusat dari ‘puncak masyarakat’’ saja atau pusat masyarakat  saja.  Dalam McQuail (2005;140) McQuail mencontohkan di Amerika pemerintah dan hukum tidak bisa lagi mengontrol dan mengatur Internet seperti halnya mereka mengatur pada ‘media  lama’.
• Karena itu diharapkan terjadi fungsi sebaliknya bahwa media baru bisa memberikan kontribusi  untuk mengontrol kekuasaan dan kebijakan terpusat, terutama melalui  pengamatan dan keterlibatan suara  publik  via internet (media baru).
• Dalam Media baru terbetuk pula apa yang dinakaman Virtual Community. McQuail menjelaskan bahwa CMC (Computer Mediated Communication) memiliki ide dasar virtual community atau masyarakat virtual yang terbangun melalui dunia maya. Lindloff dan Schatzer (1998) dalam Mc Quail (2005;149) menyatakan : “Masyarakat virtual dibangun oleh masyarakat yang secara bersama-sama menyalurkan kepentingan mereka, secara sering membicarakan topik sehari-hari melalui  CMC, menjadi bagian dari gaya hidup cosmopolitan yang cair”.
Nilai-nilai dasar seperti liberalisme, demokrasi, pekerjaan, hak asasi manusia, juga etika komunikasi mengalami evolusi dan bukan mengalami kemandegan di era ekarang in meskipun itu di Negara seperti Indonesia, bahkan kesadaran masyarakat dewasa ini semakin meningkat, dan meningkatnya kesadaran warga akan hak-haknya ini kemudian disalurkan  melalui kebebasan mengeluarkan suara dan pendapat melaui saluran media,  termasuk dalam kegiatan Citizen Journalism.
 Di Negara maju bahkan  kini ada wacana baru munculnya ‘personal news paper’ atau Koran-koran pribadi melalui internet yang  disebut sebagai fenomena ‘daily me’ hal ini sudah bisa terlihat pula di Indonesia dalam content blog bahkan content situs jejaring social. 

  Pertanyaan Penelitian                                                                                 
Dalam meneliti apakah ada hubungan antara munculnya aktivitas citizen journalism dengan eksistensi media berita dotcom yang mengakomodasi kegiatan CJ di dunia internet, muncul beberapa pertanyaan dasar dari peneliti berupa:
1. Apakah media dot com itu  di bawah control tertentu ?
2. Apakah fenomena Citizen Journalism ini  muncul karena kebebasan  pers termasuk munculnya ratusan  situs DotCom serta  kemudahan membuat blog?
3. Siapa yang memiliki kepentingan ?
4. Versi  oleh siapa yang ditampilkan?
5.  Seberapa effective media DotCom  dalam mencapai tujuan kepentingan itu ?
6.  Apakah media mendukung kesetaraan dalam  masyarakat ?
7.  Apakah akses kepada media itu diatur, terutam apakah warg masyarakat yang ingin menyalurkan aspirasi melalui media DotCom itu diatur ?
8.  Bagaimana media menggunakan kekuatannya itu untuk mempengaruhi ?
Dalam tinjauan pustaka mengenai kekuasaan media lazim, dipakai 2 model yakni model Media yang Dominan dan lawannya adalah Model media yang Pluralis. Dalam media yang dominan, masyarakat menerima media itu sebagai pengetahuan atas sebuah dunia dengan sedikit respon balik. Media yang dominan oleh Mc Quail (2005:223) juga disebutkan sebagai alat dari propaganda kebudayaan, dan  produk dari kebudayaan yang imperialistis.  Namun bila masyarakat menerima  sebuah model media yang pluralistis yang terjadi adalah adanya kebebasan masyarakat dalam  memandang sebuah dunia serta timbulnya  pemahaman yang beragam dan tanggapan masyarakat atau respon yang di luar dugaan akibat adanya pendapat yang  bebas dikeluarkan.

 Tinjauan Jurnalistik terhadap Masalah
Menurut Mung Pujanarko pendiri www. suararakyatindonesia.com dalam seminar tentang Citizen Journalism yang pernah diadakan oleh PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) dalam uraiannya, Pujanarko membagi Dunia Pers menjadi 2 secara tegas, yakni : Yang pertama Dunia Pers Professional dan yang kedua adalah Dunia Pers Amatir. Dunia pers professional adalah wartawan professional-pengertian professional di sini bukan seperti dalam benak banyak orang yakni professional sama dengan arti hebat dan jagoan-, namun professional artinya adalah : Dibayar. Sementara Amatir di sini bukan pula seperti mindset banyak orang yakni Amatir sama dengan rendah, hina dan tidak ahli, namun dalam pengertian: Amatir adalah tidak dibayar, alias nir-upah. Jika kategori antara pro dan amatir mewakili skill maka siapapun juga bisa jika mendapatkan  pelatihan dan berpengalaman pasti skill-nya akan meningkat (analogi unia tinju amatir dan pro). Nah, di ranah pers amatir inilah Citizen Journalism berkembang.
Mung Pujanarko juga concern jika konsep citizen journalism (jurnalisme warga) yang telah sesuai dengan konstitusi kita berupa kebebasan berpendapat ini (pasal 28F UUD ’45),  ini tidak disiram oleh semangat Warga Negara Indonesia untuk mengembangkannya, maka konsep Citizen Journalism ini bisa pelan-pelan layu dan mati oleh kemunculan  UU ITE. Jika ini mati, maka era Suharto jelas kembali, yakni era rezim yang tidak membuka kebebasan bersuara bagi warganya
Dalam seminar itu pula Mung Pujanarko berpendapat ketakutan pewarta warga tidak perlu berlebihan dalam memilih topic jurnalistik, jika warga memiliki topik yang menarik. Dan apalagi jika citizen journalist memiliki topik berita setingkat skandal yang serius melibatkan orang-orang yang penting pula, maka Pujanarko berpesan harus bersikap amatir yang berjiwa professional. Dalam arti biarpun tidak dibayar oleh siapapun juga asal  memiliki bukti cukup, wawancara dan dokumen (bukti dalam pers ada dua yakni : hasil wawancara dan dokumen), dan bukanlah hanya sekedar asumsi belaka, apalagi fitnah, kemudian jika memiliki bukti rekaman, baik audio maupun video yang valid, plus juga meminta pendapat sejumlah ahli tentang kasus yang ditulis, maka berita itu bisa ditayangkan dengan prinsip covering of both side atau meliput dari kedua sisi.
Ini berarti citizen Journalist telah siap apabila nantinya dijerat oleh UU ITE, karena bukti bukti yang dimiliki oleh pewarta warga ini sudah sedemikian lengkapnya. “Saya berpikir jika bukti sudah menancap sampai pada inti (core) dan rantai (link) yang melibatkan pelaku (person) secara kuat (significant), maka semua pihak yang terlibatpun akan siap bila sampai kasus ini dibuka di pengadilan secara umum melalui pintu UU- ITE” ungkap pendiri www.suararakyatindonesia.com, Mung Pujanarko.
Sedangkan dalam melakukan liputan (covering) dalam  ilmu jurnalistik adalah saat yang paling menentukan dalam tugas Jurnalis. Bisa dikatakan lebih terasa excitement atau menegangkan dari pada ketika jurnalis sedang mengetik berita untuk menurunkan hasil liputannya. Namun agar kegiatan citizen jurnalis dapat berlangsung dengan baik dalam meliput berita, maka ada hal-hal yang sebaiknya diperhatikan, diantaranya :

1.    Schedulling/ Timing : Ada waktu-waktu tertentu yang tepat untuk menjalankan peliputan. Seringkali timbul pertanyaan di benak masyarakat. Saat kapankah untuk jurnalis meliput berita ? Mengapa bisa mendapatkan berita dalam waktu yang tepat ? Citizen Jurnalis yang telah berpengalaman menjalankan tugasnya sehari-hari dengan irama tertentu. Secara garis besar untuk memperoleh waktu (timing) yang tepat dalam menangkap moment ada beberapa jalan. Yang pertama adalah : Stand By  dalam meliput berita citizen journalist dapat, berkoordinasi dengan humas terkait, terutama mengenai schedule event, dan tinggalkanlah kartu nama serta nomer telpon anda yang bisa dihubungi sewaktu waktu. Peran Humas bisa menjadi mitra citizen jurnalis bila ada event tertentu semisal launching product, pres conference, press gathering, dan lainnya.
 Di dalam kondisi yang dikategorikan perkecualian yakni kondisi dan situasi genting/emergency, waktu tidak bisa diperkirakan. Dalam kondisi peristiwa genting/emergency citizen journalist atau solo journalist dapat berkoordinasi dengan sesama rekan wartawan dari berbagai media. Untuk itu membangun link diantara wartawan adalah penting karena bisa mendukung kelancaran  kegiatan sebagai citizen jurnalis atau bahkan solo jurnalis.
 Misalnya, dalam kondisi genting/bahaya seperti demo mahasiswa besar-besaran di depan gedung MPR/ DPR di Senayan, atau di depan Istana Negara, para citizen jurnalis bisa langsung saling kontak untuk mengabarkan situasi. Koordinasi antara sesama jurnalis bisa pula untuk langkah keamanan dalam mendekati lokasi titik terdekat dari peristiwa bahaya, dengan tetap memperhitungkan keselamatan diri pribadi. Seringkali jurnalis baik reguler maupun CJ dapat maju meliput ketika polisi belum bergerak dari barisan. Karakteristik kerawanan dikenal dengan  type step CRRRC (C triple RC ). Berikut ulasan singkat tentang CRRRC : CRRRC sendiri yakni singkatan dari Crowd (kerumunan), dalam kerumunan segerombolan orang berkumpul membentuk massa, dari gesekan di dalam massa terjadi perkembangan emosional, maka dari Crowd bisa berkembang menjadi situasi Rage (kemarahan). Massa yang marah mulai berteriak “ Bakar !”, “ Serbu!”, Serang !” dan aneka ragam cacian, makian, umpatan dan limpahan kekesalan. Kemudian dari kemarahan massa jika tidak diantisipasi bisa berkembang lagi menjadi Raid (penyerangan). Penyerangan oleh massa pada umumnya mencakup lemparan batu, benda- benda keras, dan massa mulai merangsek mendekati ke arah barisan aparat keamanan. Dalam kondisi ini bisa terjadi kontak antara aparat dan massa. Sampai pada titik ini jurnalis masih bisa melanjutkan liputan. Untuk selanjutnya situasi Raid bisa berkembang lagi menjadi Riot (kerusuhan). Dalam situasi kerusuhan ini, sudah terjadi benturan antara aparat dan massa. Kerusuhan apabila bisa diredam oleh aparat yang terampil maka kondisi bisa dikendalikan. Namun apabila para provokator penyusup lebih “terampil” dengan terus gigih untuk melancarkan agitasi dan taktik hit and run, Riot bisa berkembang menjadi situasi Chaos (anarki dan kerusuhan dalam major scale atau skala besar). Saudara, Chaos yang bersejarah dapat kita saksikan dalam kerusuhan Mei 1998, kemudian Malari 1974, pasca Gestapu 1965, dan mundur lagi pada 10 Nopember 1945, di mana seorang Brigjen Inggris (Mallaby) terbunuh di dalam situasi chaos.
 Untuk itu ada baiknya sebagai citizen jurnalis mengerti sedikit saja tentang karakteristik pasukan aparat kemanan. Pada umumnya aparat keamanan dibagi menjadi 2 jenis karakter, yakni pasukan TNI, dan Polri di lain sisi. Untuk demo yang melibatkan mahasiswa, biasanya Polri yang maju terlebih dahulu untuk meredam massa. Polri di sini biasanya diwakili oleh Brigade Mobile yang memang memiliki jiwa dan doktrin tempur. Sepengetahuan penulis, satuan Brigade Mobile (Pelopor, Gegana dan bahkan pula Densus 88) bukanlah musuh wartawan, tidak sama sekali. Namun wajib dingat sekali lagi bahwa kesatuan khusus itu memiliki doktrin yang berbeda sama sekali dengan kesatuan polisi lainnya, semisal Sat Sabhara atau Sat Serse. Satuan Brimob baik dari Gegana, satuan Pelopor, dan Densus 88 adalah taktis satuan tempur lapangan. Jadi hampir sama dengan TNI pada umumnya yang memiliki jiwa tempur. Untuk itu biasanya wartawan akan mencari tempat yang paling aman jika Brimob sudah mulai maju menyerang massa demonstran anarkis. Bukan apa-apa, dalam rule of combat, hanya ada dua kategori : peluru tajam atau peluru tumpul, yang termasuk di dalamnya gas air mata. Peluru bisa memantul (ricochet) dan dalam hal ini wartawan tetap bisa meliput dalam jarak yang aman, jarak dekatpun tidak ada yang melarang, dengan beragam resiko yang ditanggung sendiri, tentunya dengan memperhitungkan asuransi anda dan jaminan perusahaan.
     Kembali kepada persiapan meliput berikutnya adalah :
 2. Question List. Persiapan daftar pertanyaan, amatlah penting agar jangan sampai CJ hanya pasif menunggu lontaran komentar dari nara sumber, terutama saat melakukan wawancara door step atau mencegat nara sumber yang tengah menjadi sorotan. Wawancara door step amat bergantung pada situasi yang telah lebih dulu berkembang, maka galilah pertanyaan yang merupkan follow up dari situasi yang telah berkembang sebelumnya. Di lain sisi ada wawancara by appointment atau dengan janji terlebih dahulu. Hal ini memerlukan rincian pertanyaan yang lebih mendetail. Dan jangan sampai pula sebagai CJ dianggap tidak tahu akan materi awal, saat melakukan wawancara.
3.  Positive thinking atau berpikir positif adalah sangat penting ketika melakukan liputan. Contohnya ketika di antara rekan wartawan lainnya mulai lelah dan menyerah menanti ketidak-pastian dari sebuah situasi yang sedang berkembang di lapangan, ada baiknya wartawan tetap positive thinking dan wait and see hingga titik yang paling nadir ketika menanti ketidak- pastian sebuah berita. Maka dengan ketabahan, seorang citizen jurnalis bisa mendapatkan berita yang bermutu, di tingkat nasional mapun lokal.
4. Tenggang Rasa (Tolerance) : Sikap tenggang rasa diperlukan oleh CJ agar semua wartawan baik CJ maupun reguler dalam satu lokasi dan waktu yang sama saat menjalankan tugas, bisa merasa senasib dan sepenanggungan. Memang ada sejumlah provokator dan wartawan gadungan yang kadang menyusup dalam sebuah situasi di lapangan. Langkah yang paling baik adalah abaikan provokasi, dan tetap fokus pada beritanya. 
Sementara di sisi lain, adakalanya pula, persaingan sesama jurnalis untuk mendapatkan angle berita yang paling baik, kerap terjadi di lapangan. Hal tersebut sah saja. Tapi ada baiknya wartawan mengerti pula bahwa dalam kondisi tertentu di lapangan bisa berubah sewaktu-waktu, terutama saat meliput situasi yang memanas dan genting. Kembangkan sikap professional untuk mencari angle yang terbaik, dan di sisi lain untuk menolong sesama rekan bila dalam keadaan bahaya. Biarpun menurut hukum kapitalis menyatakan bahwa rekan wartawan lain adalah competitor di pasar media, namun solidarity among citizen journalist is beyond capitalist thing.
Bab III
A.    Metode Pengambilan Sampel
Berdasarkan  latar belakang permasalahan, maka harus dicari upaya pengambilan sampel yang valid serta kepada orang-orang atau nara sumber serta para informan yang relevan. Dalam hal ini upaya pengambilan sampel melalui dua cara
1. Yang pertama wawancara langsung di lapangan kepada informan utama, informan internal dan informan eksternal.
2. Kedua  wawancara secara tidak langsung yakni melalui email kepada para informan agar waktu mengisi  pertanyaan bisa lebih panjang.
B.    Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data secara teknik selektif yakini  wawancara hanya kepada para aktivis pewarta warga, atau orang-orang yang memang melakukan kegiatan Citizen Journalism, dengan bukti- bukti contoh karya jurnalistik yang telah di muat di media dotcom. Pengumpulan data secara selektif ini berlaku pula untuk semua informan baik informan Utama, Informan Internal dan Informan Eksternal.
Kegiatan Dokumentasi dilakukan dalam bentuk mengumpulkan contoh karya asli dari citizen journalist yang dilakukan oleh para informan, agar memang valid bahwa informan-informan Utama merupakan orang yang berkegiatan dalam bidang citizen journalism.(*)

(oleh Mung Pujanarko, anggota PPWI : Artikel berbasis studi literatur ini saya susun untuk membantu kawan-kawan semua baik mahasiswa, dan teman-teman semua dalam menyusun data bagi penelitian lanjutan (heurisme) yang berbasis pada topik tentang citizen journalism).


Senin, 20 Agustus 2012

DIKPIM dan BELA NEGARA PPWI Wujud Cinta Tanah Air



Prakata : Diklat PIM dan Bela Negara bagi anggota PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) ini telah dilangsungkan setahun yang lalu yakni pada bulan November 2011, namun kenangannya masih membekas jelas di hati sanubari para pesertanya. Diklat PIM dan Bela Negara PPWI ini digelar dengan satu tujuan  yakni : agar anggota PPWI semakin memiliki rasa cinta tanah air dan menebalkan sense of diversity atau keberagaman. PPWI sebagai organisasi pewarta warga nasional memiliki anggota di berbagai propinsi di Indonesia. PPWI ingin agar setiap anggotanya memiliki rasa cinta pada tanah air Indonesia, untuk itu dengan bimbingan Kopassus yang bersedia memberikan program training bela negara pada PPWI, maka Kopassus telah menjalankan amanat konstitusi RI yakni "Setiap warga negara berhak ikut serta dalam usaha pembelaan negara".
Mung Pujanarko sedang persiapan rapelling dari lantai 5 gedung Kopassus

Mung Pujanarko (ke-empat dari kanan) beserta kawan PPWI lain sedang menyimak survival training Kopassus

Mung Pujanarko (duduk di belakang) saat di kelas bersama rekan2 PPWI

Mung Pujanarko (paling kiri) sejenak sebelum memasang LCR

Mung Pujanarko (pojok kanan belakang) bersama rekan PPWI saat apel pagi di markas Grup 3 Kopassus

(Mung Pujanarko pojok kanan depan, memperhatikan penjelasan dari Instruktur dari Grup 3 Sandi Yudha)

(pagi push up, siang juga,..)


Rangkaian acara pertemuan nasional dan Diklat Kepemimpinan serta Bela Negara yang dihelat PPWI bekerjasama dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD, yang dihelat Markas Komando Kopassus, Cijantung berjalan dengan sangat baik. Acara tersebut dihelat selama 1 minggu sejak tanggal 20-26 November 2011. Di mata warga sipil, Diklat Kepemimpinan dan Bela Negara yang dipusatkan di Markas Grup 3, Komando Pasukan Khusus menjadi kesempatan langka dan menarik.
    Sejumlah 25 anggota dan pengurus PPWI se-Indonesia telah tamat mengikuti Diklat Kepempimpinan dan Bela Negara yang di Mako Kopassus Cijantung, Jakarta. Dengan berbagai aturan dan tata cara yang sangat ketat, puluhan anggota PPWI mengikuti perintah dan panduan dari para instruktur profesional dari Kopassus. Menurut Mung Pujanarko, pimred/pendiri situs berita www.suararakyatindonesia.com sekaligus juga merupakan Wakil Ketua Dewan Pengurus Nasional PPWI yang juga menjadi salah satu peserta diklat, pelatihan ini diharapkan dapat membentuk karakter dan mental kedisiplinan setiap anggota PPWI. 
  Mung Pujanarko menjelaskan bahwa karakter setiap orang pada hakekatnya harus dibangun. Karakter yang bagaimana ? Yakni karakter orang Indonesia yang cinta terhadap bendera merah putihnya, bukan cinta pada bendera lain. Karakter orang Indonesia yang cinta pada bangsa dan negaranya. Rasa cinta terhadap bendera merah putih dan tanah air bangsanya inilah yang dikhawatirkan semakin luntur. Menurut Mung Pujanarko yang juga sebagai pewarta warga sekaligus Dosen jurnalistik di Universitas Jayabaya- Jakarta, dan Universitas Djuanda Bogor, juga Universitas Bung Karno (UBK) Cikini, ini mengatakan bahwa Diklat PIM dan bela negara ini bukan untuk menjadi militer, namun untuk menghayati perjuangan para TKR '45 (Tentara Keamanan Rakyat) para pejuang rakyat di tahun awal kemerdekaan. "Tidak dapat dibantah, bahwa rakyat dulu langsung turun berjuang untuk melakukan kontak senjata dengan penjajah, terlatih atau tidak rakyat berjuang dengan senjata seadanya,  secepat itu rakyat bangkit untuk melawan penjajahan, kini kita sebagai elemen bangsa ingin menghormati spirit perjuangan rakyat itu di tahun 1945 dulu," urai Mung Pujanarko alias Imung Pujanarko ini.
Salah satu peserta lainnya, Fenly Sigar, Ketua DPD PPWI Sulawesi Utara memiliki kesan menarik terhadap acara yang dihelat PPWI Nasional tersebut.
"Pertama kali, saya merasa seram mengikuti acara ini, karena kitakan pewarta warga. Ingat tidak, kita sewaktu zaman Soeharto, wartawan dihilangkan atau diraibkan. Kalau sampai memuat berita-berita yang menyudutkan rezim Soeharto apalagi pemerintahannya, para wartawan akan diraibkan," urai dia dengan penuh kesungguhan.
Tapi, lanjut Sigar, ternyata sekarang setelah menit-menit awal beradaptasi, terlebih setelah disuruh jalan 2-3 kilometer dengan menyanyikan lagi-lagu nasional, ternyata di sini kita merasa seperti keluarga besar Kopassus ini. Sementara anggota  PPWI dari Sulawesi Utara lainnya yakni Maykel Tielung mengatakan bahwasannya Kopassus dan PPWI memiliki kesamaan visi dan misi, yakni mempertahankan NKRI, negara yang sangat kita cintai bersama. 
Maka Rabu, 22 November 2011 lalu itu, seluruh peserta Diklat Kepemimpinan mengikuti berbagai program acara yang telah diskenariokan khusus oleh para komandan dan instruktur Kopassus. Antara lain Pengetahuan Bongkar Pasang LCR, Pengetahuan dasar mengenai Senjata Laras Panjang (SS1, M 16), Pistol (FN 45, Glock), kemudian di-drill  dengan PBB (peraturan baris berbaris) yang ketat, ditambah mengikuti Orientasi Wawasan Kebangsaan dan pengetahuan lainnya terutama jungle survival, land survival
Menurut Mung Pujanarko selaku anggota PPWI, sekali lagi PPWI apalagi dirinya ingin mengenal senjata sebagai sarana bela negara bukan untuk menjadi militer, bukan sama sekali, tapi menurutnya rakyat Indonesia pada tahun 1945 dulu juga berjuang dengan pengetahuan senjata seadanya, ada senjata rampasan tentara Belanda, dan pada pertempuran 10 November 1945 rakyat merampas bedil Jepang dan langsung berhadapan dengan NICA belanda. "Pengenalan senjata ini bukan untuk jadi militer, contohnya di negara lain misal di sebagian negara bagian di Amerika beberapa remaja sudah lebih mahir pegang semi otomatis dari pada remaja di negara lain, karena ada semangat membela tanah air, meskipun ada ekses negatif bila senjata dibebaskan yakni peristiwa-peristiwa penembakan di Amerika misalnya"
  Sedangkan komentar dari Anhar Rosal, Sekretaris DPD PPWI Riau mengaku, penerimaan dari Kopassus sangat baik. "Ini sebuah kebanggaan bagi kita bahwasannya pelatihannya bisa memberikan ilmu bagi kita baik di lapangan terutama dalam menanamkan rasa kebersamaan dalam keberagaman," ujar dia. Harapannya, selepas dari sini karakter masing-masing anggota PPWI bisa lebih baik dan bisa menambah ilmu. Pada kesempatan Diklat tersebut, DPD Riau mengirimkan 2 orang dan DPC Siak 2 orang. "Rencananya Riau akan mengirimkan 8 orang tapi karena kendala biaya, jadi yang berangkat hanya 4 orang. Sepertinya para instruktur melayani kita dengan baik, kita harus menerima setiap keputusan mereka. Cara mendidik mereka sangat bagus," jelasnya yang kali itu memakai seragam "dinas harian" yang sangat gagah dan menarik.
Peserta belajar teknik survival
Espede Ainun Nadjib, yang notabene-nya seorang kolumnis di berbagai media massa cetak lokal dan nasional yang sekaligus menjadi Ketua DPD PPWI DIY dalam kesempatan tersebut juga mengaku bangga bisa mengikuti acara Diklat Kepemimpinan dan Bela Negara di Kopasus yang umumnya hanya bisa diikuti oleh anggota militer saja.
  Menurut Mung Pujanarko sebagai wakil ketua DPN PPWI Nasional, PPWI dapat memetik berbagai macam ilmu dari TNI, terutama kesadaran pewarta warga atas pentingnya hidup harmonis dengan diversity (keberagaman) suku bangsa dan agama, juga mengasah wawasan ketahanan nasional. (*)

Sumber berita diolah lagi  dari : http://www.pewarta-indonesia.com/special-event/warta-ppwi/7136-dikpim-dan-bela-negara-bentuk-karakter-mental-anggota-ppwi.html 

Mung Pujanarko (tengah) sedang bersiap turun rapelling

Pemandangan dari atas gedung setinggi +- 30 meter

Malam juga di drill, melintasi medan sejauh 10 km tanpa lampu, dan ada ujian fisik mental pada setiap pos, peserta sedang persiapan cross night -lintas malam, terlihat Mung Pujanarko menyimak petunjuk agar tak tersesat di malam hari




 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons