Malam ini, gelap.
Segelap pendapat.
Mulai dari pendapat bahwa ada yang mengatakan jika tidak lahir maka tiada penderitaan.
Meleset jauh.
Meleset jauhnya pendapat di atas dengan ruhani, keruhanian.
Jauhnya antara barat dan timur.
Manusia ada ruhani.
Roh, ruh yang bukan badani.
Ruhani tetap menyertai badani.
Setiap badani insan yang lahir pasti ada ruhani menyertai.
Sudah ketentuan dari Sang Maha Pencipta yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Mumpung masih malam. Malam ini saya hendak membantah adagium : " tidak dilahirkan adalah hadiah terbesar"
Jadi pikiran saya jalurnya gini : saya mikir dari awal dulu. Dari alam ruh dulu. Manusia sebagai makhluk itu telah ditiupkan ruh oleh Tuhan YME. Jadi prinsipnya manusia itu punya ruh yang menyertai manusia. Intinya sejak janin ditiupkan ruh dan kemudian lahir pun manusia sudah berbeda dari makhluk lainnya. Yaitu punya ruh.
Jadi urusan ruh ini adalah misi suci yang menyertai manusia. Jadi saat lahir sebenarnya manusia sudah punya misi beribadah dan sadar kepada penciptanya yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Lama-kelamaan dalam hidupnya manusia bisa sadar bahwa ada misi suci dalam hidup sebagai manusia yang ber-ruhani yakni hanya ibadah kepada Tuhan YME. Jadi kondisi saat lahir itupun sudah mengemban misi ruhani. Jadi semua manusia berarti secara ruhani - secara ruh memiliki arti untuk melaksanakan ibadah kepada Tuhan Sang Maha Pencipta.
Ini merupakan sebuah keniscayaan sebuah ketetapan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar