Pages

Kamis, 28 Mei 2026

Kisah Sepatu "shoes story"


Sepatu kulit Pakalolo

Ok ini sebuah memorandum pribadi.

Memorandum tentang sepatu kulit Pakalolo, dan juga memory dari sepatu- sepatu saya lainnya yang saya gunakan harian selama bertahun-tahun lamanya.

Saya ini punya story kenangan.

Dulu di tahun 2007-2008 saat awal saya jadi Dosen saya pernah ditugaskan ke sebuah sekolah menengah atas untuk mengawas ujian nasional.

Saat di sekolah itu seseorang entah siapa di sekolah tsb menyapa saya dan seolah tidak percaya kalau saya dosen. Karena dilihat dari sepatu saya dulu. Dulu itu tahun 2006-2009 saya pakai sepatu kasual kets mungkin kanvas, model lama dan sudah worn out, belel banget (dulu-past tense) karena banyak aktivitas saya luar ruang daripada di dalam kelas.

Sepatu itu saya dulu itu lupa merknya- yg jelas bukan Pakalolo kulit bukan. Tapi sudah usang memang sepatu saya dulu itu karena saya pakai motoran terus. Berdebu dan belel terkena elemen alam.

Dulu itu sepatu belel wornout saya itu saya pakai ke mana-mana karena saya pikir kerja lebih utama pakai otak daripada pakai sepatu๐Ÿ˜„.

Karena sy kan kerja lapangan dan juga mengajar di kampus.

Terus orang tsb -jelas saya lupa nama karena sudah 20 tahun yang lalu momennya-, berkata pada saya "Lho lah anda dosen masa sepatunya gitu, pakai dong Pakalolo gitu" ujarnya.

Wak...saya bingung, baru pertama ini ada seseorang beri masukan komen soal sepatu yang saya pakai. Memang dulu soal sepatu saya tidak hiraukan benar. Sesuai bujet saja pilih yang murah jaman tahun 2007 itu harga.

Saya saat itu baru ngeh juga kalau Dosen itu dilihat sepatunya juga.๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Jujur saya saat kuliah muda usia dulu  saya tidak pernah lihat sepatu dosen-dosen saya.

Ngapain iseng banget lihat outfit dosen? bagi saya saat tahunan saya kuliah tahun 1992 bodo amat dengan fashion dosen saya ๐Ÿ˜„

 Saya iya ingat nama-nama dosen saya pasti lah, dan saya ingat apa yang diajarkan. Namun bukan sama sekali ingat sepatunya apa ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Benar, saya benar-benar no reken dont care about sepatu dosen saya๐Ÿ˜„

Bagi saya kuliah saya di tahun 1990-an sepatu dosen saya apa, baju dosen saya apa, saya tidak perhatikan. Saya hanya ingat buku-buku apa dan diktat apa dosen yang mengajar. Bodo amat dengan outfit dosen-dosen saya.

Eeh Ndilallah kersaning Allah tahun 2006 saya jadi dosen ๐Ÿ˜„ dan dikomen lah soal sepatu kets kanvas saya yang saya pakai motoran sampai belel. Baru kali itu sepatu dikomen orang๐Ÿ˜‚

Kemudian Ndilallah kersaning Allah saya bertahun kemudian mungkin antara tahun 2014 - 2015, setelah momen itu beli lah saya sepatu kulit Pakalolo ini. 

Pada waktu beli saya beli bukan karena ikut saran orang itu bukan. Namun lebih karena pilih cari yang kulit aseli bukan kalep. Saya lihat boots ini kulit sapi 100%.

Sepatu saya ini jelas model lama sekali. Bukan model tali kekinian. Lupa saya sekira tahun berapa ini sepatu kulit Pakalolo. Tapi seingat saya lebih 10 tahun lah ini sepatu. Mungkin sekira tahun 2014 saya belinya.

Lama sekali sudah.

Untuk model sepatu ankle boots kasual berbahan kulit dengan model slip-on tanpa tali seperti foto saya di atas, seri dan siluet kasual sejenis ini mulai gencar diproduksi dan menjadi tren di pasar Indonesia pada rentang waktu akhir era 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Model ini merupakan salah satu desain klasik legendaris dari Pakalolo yang terkenal sangat awet karena menggunakan kulit sapi pilihan dan sol yang kokoh. 

Pakalolo (sering dikenal dengan Pakalolo Boots) adalah merek sepatu dan sandal pria yang berasal dari Indonesia. Diproduksi oleh pabrik di Tangerang, merek ini terkenal sejak tahun 1960 dengan spesialisasi penggunaan material kulit asli untuk alas kaki kasual hingga formal (sumber : google)

Model spesifik sepatu bot slip-on kasual legendaris dari Pakalolo Boots seperti pada gambar  sudah tidak diproduksi lagi (discontinue) untuk lini reguler terbarunya.

Jadi meski sudah puluhan tahun saya pakai, masih awet saja sepatu ini hingga kini. Patina kulit juga sudah terbentuk alami di sepatu saya.

Kanky

Selang beberapa waktu berselang baru-baru ini saya coba beli sepatu kulit lokal Indonesia merk Kanky.

Mengapa ? Karena sepatu kulit lokal Indonesia adalah trend yang mendunia.








Mung Pujanarko usia 52 tahun lahir tahun 1974


Sepatu Kanky 

Sepatu Kanky adalah merek alas kaki dan sneakers asli Indonesia yang didirikan pada tahun 2019. Merek ini berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat, dan memiliki pabrik perakitan yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur.

Yah demikian memorandum saya pribadi.

Buatan Indonesia yang penting Ya kan. Yang penting adalah pakai sepatu buatan Indonesia, merk lokal Indonesia. Bukan merk luar yang dibuat di Indonesia. Tapi memang ๐Ÿ’ฏ% buatan Indonesia. Awet luar biasa ๐Ÿ‘๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‘

Kita cinta buatan Indonesia ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

Ok nb ya

Tulisan ini tidak ditulis AI 100%

Sy pelajari bahwa pengalaman pribadi yang random tidak bisa serta merta ditulis pakai AI 100%. Mengapa ? Karena ingatan pribadi spesifik milik kita pribadi tidak mudah dijangkau AI setidaknya belum. 

Ini contoh sederhana pengalaman atau memorandum pribadi yang random tapi saya tidak bisa minta bantu AI total menulisnya.

Lagian ya ngapain nulis ginian pakai AI gitu looo

Wong ini cuma ingin menulis bahwa saya bersyukur beli sepatu dalam negeri yang awet banget atau Buy-It-For-Life : Items That Are Built To Last. Gitulah kira-kira inggrisnya.

Anatomi Sepatu


Bahwa sepatu buatan ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ itu awet kebetulan yang kulit ya. Bahkan jika kita rajin nonton tayangan ada yang pengrajin sepatu kulit lokal Indonesia tapi produknya justru sudah go internasional.

Sepatu Lainnya yang saya pakai harian daily

Oke sekarang saya mau bahas sepatu lain yang juga saya pakai.

Meski sepatu-sepatu saya yang lain berikut ini bukan buatan lokal Indonesia saja, melainkan beberapa jenis sepatu saya buatan negara lain.

Karena jujur saja saya juga pakai buatan negara lain (terutama kini mayoritas semua sepatu saya kini rata-rata buatan China๐Ÿ‡จ๐Ÿ‡ณ). 

Mengapa ?

Merek-merek besar cenderung memproduksi barang aslinya di banyak negara sekaligus, seperti China, Indonesia, dan Vietnam.

Label pada lidah atau kotak sepatu biasanya mencantumkan informasi akurat mengenai tempat pembuatan asli (Made in Indonesia, Made in Vietnam, dll.).

China sebagai raksasa manufaktur tentu bisa memproduksi bahan2 dasar pembuatan sepatu dengan harga jauh lebih murah.

China menguasai pasar manufaktur karena mereka memiliki ekosistem industri yang sangat terintegrasi. Hal ini membuat biaya produksi bahan dasar sepatu di sana menjadi jauh lebih murah dibanding negara lain.

Berikut adalah beberapa faktor utama mengapa China bisa memproduksi bahan dasar sepatu dengan harga yang sangat kompetitif:

➡️ Faktor Keunggulan Manufaktur China

Rantai Pasok Terintegrasi: Pabrik bahan kimia, tekstil, karet, dan pencetakan sol sering kali berada di satu kawasan industri yang sama.

Skala Ekonomi Raksasa: Produksi dalam jumlah massal secara otomatis memangkas biaya per unit barang.

Infrastruktur Logistik Canggih: Pelabuhan, jalan tol, dan jaringan kereta kargo yang efisien meminimalkan biaya transportasi domestik.

Subsidi Pemerintah: Adanya insentif pajak dan bantuan infrastruktur dari pemerintah setempat untuk industri berorientasi ekspor.

Teknologi Otomatisasi: Penggunaan mesin modern yang masif meningkatkan kecepatan produksi sekaligus menekan biaya tenaga kerja.

๐Ÿ“Š Dampaknya terhadap Negara Produsen Lain (Termasuk Indonesia)Meskipun perakitan akhir (assembling) sepatu dilakukan di Indonesia atau Vietnam, banyak pabrik di negara-negara tersebut yang masih mengimpor bahan baku dari China seperti:

Pelet plastik dan karet untuk sol (outsole)

Kain sintetis khusus, mesh, dan benang premium

Aksesori sepatu seperti lubang tali (eyelet) dan ritsleting

Hal ini menciptakan strategi hibrida: merek global memanfaatkan bahan baku murah dari China, lalu merakitnya di Indonesia atau Vietnam untuk mendapatkan biaya tenaga kerja perakitan yang lebih kompetitif.

Sepatu Harian Biasa

Ok ini sy juga pakai beberapa sepatu yang sudah belasan tahun puluhan tahun saya pakai kerja harian.

Sepatu sandal saya yang paling lama bertahan dan masih tetap berbentuk, meski sudah wornout sekali karena pemakaian 10 tahun lamanya => Sepatu Outdoor Eiger Tropic Dry type Eiger Salvage : 


Eiger Salvage ini pertama kali dirilis dan populer di pasaran sekitar tahun 2016 hingga 2018. Sepatu Eiger juga sepatu kuat merk Indonesia๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ, dan kemungkinan dibuat manufaktur di China๐Ÿ‡จ๐Ÿ‡ณ
Ini adalah sepatu sandal gunung Eiger Salvage berwarna hitam/abu-abu dengan detail jaring dan aksen merah, yang dirancang untuk kegiatan luar ruangan dan petualangan di berbagai medan. Sepatu sandal (toe sandals) EIGER yang dilengkapi dengan teknologi Tropic Dry. Model alas kaki dengan desain closed-toe (pelindung jari kaki depan) dan sistem tali serut (quick lace) seperti ini secara masif diproduksi dan sangat populer oleh EIGER sekitar tahun 2014 hingga 2018.




Sepatu Eiger Tropic type Eiger Salvage berwarna hitam dengan aksen abu-abu dan detail tali merah ini setidaknya sudah berjasa menemani saya sejak sekira tahun 2016.
Sepatu Eiger ini full kenangan. Terlihat patina dan gurat usia yang wajar karena umur pemakaian.

Oke lanjut ke sepatu-sepatu saya lainnya yang masih ada, tersisa, dan bertahan :





Sepatu Black Yak, merk asal Korea


Kantukan :-> Sepatu berwarna biru tua ini adalah Kantukan De Base 2 yang menampilkan sistem tali serut elastis dan aksen warna hijau terang pada bagian sol serta detail samping.



Merek: Kantukan
Kode/model: KQGP74
Ukuran: US 9.5 / UK 8 / EUR 42.5 / 27,5 cm
Material: Korea
Upper: Made in China
Assembly: Assemble in Korea
Jadi, sepatu ini bukan sepenuhnya buatan China dan bukan pula sepenuhnya Made in Korea. Konstruksinya menunjukkan model produksi Korea–China: material berasal dari Korea, bagian upper dibuat di China, kemudian perakitan akhirnya dilakukan di Korea.
Dari desain dan labelnya, saya akan mengidentifikasinya sebagai Kantukan KQGP74, sepatu outdoor/trekking ringan dengan teknologi “Aqua Trekking”.
Menariknya, kombinasi “Upper Made in China – Assemble in Korea” menunjukkan bahwa sepatu ini kemungkinan berasal dari periode ketika merek outdoor Korea mulai menggunakan manufaktur China tetapi tetap melakukan final assembly di Korea. 

Dibawah ini Sepatu asal Korea juga : Black Yak


Dari foto, bisa mengidentifikasi 5 kelompok/pasangan sepatu. Yang paling jelas adalah dua pasang BLACKYAK di bagian depan.

Posisi
Merek
Jenis/model yang terlihat
Asal merek

Depan kiri
Merk : BLACKYAK

Sepatu outdoor/trail warna navy–hitam
Buatan : Korea Selatan, material Vietnam, assembly Korea Selatan

Depan tengah
Merk: BLACKYAK




Sepatu outdoor/tracking warna cokelat bahan mix suede nubuck dan gore tex, tali kuning prusik nylon.
Merk asal : Korea Selatan, dibuat di : China

Belakang kiri
Sneaker Kanky type oswald warna cokelat dengan sol putih tebal.

Bahan kulit lokal buatan Indonesia ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Belakang tengah/kanan
Sneakers abu-abu Skechers. 
Sepatu ini adalah Skechers Slip-Ins Glide-Step Sole - Glover Peak berwarna taupe yang menampilkan sol berongga khas Glide-Step.
Sepatu Skechers mereknya dari Amerika, meskipun sepatu fisiknya bisa dibuat di negara lain seperti Vietnam, China, atau negara manufaktur lainnya. Ini kebetulan di buat di: Vietnam, terlihat pada label sepatu Skechers punya saya ini. Ini adalah Skechers Slip-Ins Glide-Step Sole Men's Sneaker berwarna taupe dengan sol berongga yang khas.


Kanan

Sepatu outdoor/boot Pakalolo
Boot kulit cokelat. Buatan Indonesia ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉkuat dan awet bukan main. Jahitan sungguh kuat.

1. BLACKYAK depan kiri
Ini sangat jelas BLACKYAK. Logo yak dalam kotak dan tulisan BLACKYAK pada bagian belakang merupakan ciri khasnya. Label pada foto ketiga juga menunjukkan “MATERIAL OF KOREA / UPPER MADE…”, sehingga ini merupakan produk dari merek Korea. BLACKYAK memang merupakan merek outdoor asal Korea yang berdiri dari perusahaan yang berkembang sejak 1973. 
2. BLACKYAK depan tengah
Ini juga BLACKYAK, tetapi desainnya berbeda. Ciri yang sangat kuat:
logo yak warna kuning/emas,
bagian upper navy,
aksen kuning,
tali kuning-hitam,
heel counter berbahan suede/cokelat,
tulisan BLACKYAK pada midsole.
Keduanya  merupakan sepatu outdoor/tracking generasi lama, bukan model sneakers BLACKYAK modern. BLACKYAK memang memproduksi berbagai kategori sepatu, termasuk hiking/tracking shoes. 
3–4. Dua pasang di belakang
 sneakers merk Kanky dan satu sneakers Skecher dengan sol tebal. 
5. Boot cokelat kanan
Pakalolo boot outdoor berbahan kulit, dengan konstruksi cukup kokoh dan sol hitam. 


Ok lanjut

Untuk foto ini detailnya lebih jelas.  Kalau yang saya foto di atas ini ada => 9 pasang sepatu, sebenarnya saya miliki 12 pasang sepatu, yang sepasang sedang saya pakai yaitu merk Kantukan ( fotonya terpisah dari deretan). Sepasang lagi Eiger Salvage sedang saya cuci, tapi saya sudah foto secara terpisah. Dan sepasang lagi merknya Columbia, saya foto di bawah ini bersama Kucing saya guna melengkapi Shoes Story saya di weblog saya ini. 


Sepatu merk Columbia.

Kucing saya minta makan, karena tahu sy sudah pakai Sepatu Columbia, berarti mau pergi olahraga ๐Ÿ˜



Sepatu merk Columbia.
Merk asal Amerika
Dibuat di : China
 Sepatu Columbia

Sepatu lari dan outdoor activity => Columbia Drainmaker III berwarna biru dongker (navy) ini memiliki upper mesh yang sirkulasi udaranya baik serta sol luar Techlite dengan lubang drainase air.

Sepatu Kantukan

(Tapi Ga bikin kantuk/ ngantuk)

Sepatu Kantukan, kode KQGP74, dan ukuran EUR 42,5 / 27,5 cm. Jadi identifikasi modelnya cukup kuat.
Secara karakter, ini adalah sepatu outdoor/travel ringan, bukan sepatu hiking berat. Ciri khasnya:
model low-cut
upper mesh yang cukup terbuka untuk sirkulasi udara
Aqua Trekking
toe cap karet besar
quick-lacing dengan stopper
sol relatif ringan
desain khas sepatu outdoor Korea era lama.
Dan ada satu detail yang menarik: pada foto keseluruhan, tulisan Kantukan memang terlihat kecil pada bagian toe cap.

Sepatu merk : Kantukan

Sepatu Kantukan

Dari foto yg ada di atas Saya Coba urutkan dari belakang/atas lalu ke depan/bawah.

No.

Posisi

Merek

Jenis/tipe

1. Paling atas kiri, di bawah meja :

Sneaker Kanky type Oswald warna cokelat dengan sol putih tebal. Buatan lokal Indonesia ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ. Saya Pakai sejak tahun awal tahun 2026.

2. Atas tengah, abu-abu/olive

Sepatu dalam gambar ini adalah Skechers Slip-Ins Glide-Step Sole - Glover Peak berwarna taupe yang menampilkan sol berongga khas Glide-Step. 

Sneakers abu-abu Skechers, slip on. Saya Pakai sejak tahun 2025.

Merek asal Amerika, Buatan : Vietnam.

3. Atas kanan, hitam - dark krem.

Ini sepatu lari saya merk lokal dalam negeri Specs 'Ignition' saya pakai sejak tahun 2023.

Buatan aseli Indonesia๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Sepatu Specs yang sejak tahun 2023 saya pakai lari ini adalah sepatu lari lokal Specs Ignition SV Subs1 (warna Black/Bronze Mist/Pearl City) dengan sol tebal berteknologi Substance 1 yang empuk dan responsif.

Upper: Menggunakan material mesh transparan yang ringan dan breathable.

Midsole: Berbentuk tebal (max-cushion) dari EVA foam dengan pantulan (bouncy) yang nyaman untuk lari harian (daily training).

Sepatu Specs Ignition SV Subs1 ini adalah produk asli buatan Indonesia. Merek Specs sendiri merupakan salah satu produsen perlengkapan olahraga lokal terbesar yang didirikan pada tahun 1994 di Jakarta, dengan basis produksi utamanya berada di daerah Tangerang, Banten. Jadi, baik merek maupun proses manufaktur sepatunya 100% dilakukan di dalam negeri. (Sepatu : milik pribadi, Sumber keterangan : google)

4. Baris tengah paling kiri, hitam

Sneakers merk Skechers hitam, sudah saya pakai sejak 2017, type Sepatu running/casual.

Merek asal Amerika, Buatan : China

5. Baris tengah, biru tua Sepatu merk BLACKYAK.


Sepatu hiking/trail outdoor/ kerja luar ruang



Pas enak dipakai. Kuat juga ini BlackYak

Merk ; Korea, Buatan bahan China, assembly : Korea.

6. Baris tengah, cokelat dengan tali kuning Sepatu merk BLACKYAK. Bahan Gore Tex.

Sepatu hiking/trail outdoor / kerja luar ruang

Merek ; Korea, bahan dan manufaktur China

7. Baris tengah kanan, boots cokelat


Sepatu outdoor/boot Pakalolo aseli merk Indonesia ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉsudah saya pakai sejak 2014.

Type : Boot kulit cokelat

Hiking/work boots

8. Depan tengah, hitam formal


Sepatu Watchout, mereknya berasal dan dipasarkan dari Indonesia. Sumber menyebut Watchout sebagai merek yang diproduksi oleh PT Binacitra, dan ada pula listing produk Watchout yang secara eksplisit mencantumkan Made in Indonesia
Sepatu merk Watchout merek dalam negeri Indonesia๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ bahan kulit sapi aseli. Ini sepatu full kenangan, saya pakai sejak tahun 2015. Kebanyakan dipakai di ocassion resmi : wisuda, nikahan dll. Kalau di acara-acara resmi macam nikahan, perhatian saya hanya tertuju ke hidangan makanan bukan liat sepatu orang lain. Bodo amat dengan sepatu orang lain.๐Ÿ˜

Type : Pantofel/formal.

9. Depan kanan, biru Sneaker SKECHERS

Running/walking shoes. Ini.juga lama saya pakai sejak tahun 2018. Logo sudah wornout pecah-pecah. Ini sepatu akrab banget dengan cuaca hujan dan panas. Karena saya pakai motoran bertahun-tahun terkena elemen hujan - panas -  dan debu jalanan. Saya ingat benar memory bersama sepatu biru ini : seringkali kehujanan ๐ŸŒง๐ŸŒง tiap naik motor. Sepatu Skechers ini juga saya pakai trail run. 

Merek asal Amerika, Buatan : China

Yang paling menarik :

① BLACKYAK biru tua

Logo BLACKYAK terlihat pada bagian belakang dan tulisan BLACKYAK juga tampak pada sisi sepatu. Bentuknya merupakan sepatu outdoor/trail-hiking, bukan sepatu casual biasa.

② BLACKYAK cokelat–kuning

Ini paling jelas. Pada bagian belakang terlihat tulisan BLACKYAK, dengan logo kepala yak. Modelnya juga khas sepatu hiking/trail. Kombinasi bahan mesh + overlay sintetis dan sol yang cukup agresif menunjukkan penggunaan outdoor.

③ SKECHERS biru di depan kanan

Tulisan SKECHERS terlihat pada bagian depan/upper dan tumit. Ini sepatu running/walking, kemungkinan dari lini Skechers Performance, tetapi model spesifiknya belum bisa ditentukan dari foto ini.

④ Sepatu hitam–kuning dark krem Merk lokal Indonesia Specs di belakang kanan

Type dari foto-foto semua di atas :

๐Ÿ‘Ÿ EIGER SALVAGE _ 1 Pasang type Outdoor

๐Ÿฅพ BLACKYAK — 2 pasang type outdoor

๐Ÿ‘Ÿ SKECHERS — 3 pasang Sneaker

๐Ÿ‘ž WATCHOUT — 1 pasang pantofel

๐Ÿฅพ Boots kulit PAKALOLO —  1 pasang

๐ŸฅพKANKY -  Sneakers type Oswald 1 pasang

๐Ÿ‘Ÿ SPECS - Running, sepatu lari 1 pasang

๐Ÿ‘Ÿ KANTUKAN - type Outdoor 1 pasang

๐Ÿ‘Ÿ COLUMBIA - Type outdoor 1 pasang


Sepatu lari jejak berwarna biru tua ini adalah Kantukan De Base 2 yang menampilkan sistem tali serut elastis dan aksen warna hijau terang pada bagian sol serta detail samping. Merek: Kantukan
Kode/model: KQGP74
Ukuran: US 9.5 / UK 8 / EUR 42.5 / 27,5 cm
Material: Korea
Upper: Made in China
Assembly: Assemble in Korea

Enak dipakai sejuk karena bahan adem.

Merek: Kantukan
Jenis: sepatu outdoor/trekking ringan
Tulisan model/teknologi: AQUA TREKKING
Sistem tali: quick-lace dengan stopper
Bahan: kombinasi mesh dan material sintetis
Warna: biru dengan aksen hijau lime
Sol: karet dengan pelindung toe cap.


Demikian tulisan ini membantu ingatan saya. Itu sangat wajar. Sepatu bukan hanya benda yang kita pakai; sering kali sepatu menjadi “penanda perjalanan” dalam hidup kita.

Ketika melihat sepatu-sepatu lama seperti pada foto, otak bisa menghubungkan kembali beberapa hal sekaligus:

Memori pengalaman — ke mana Anda pergi dengan sepatu itu, siapa yang bersama Anda, kegiatan apa yang dilakukan.

Sensasi tubuh — rasa ketika pertama kali memakai sepatu, berat-ringannya, kenyamanan, bahkan cara berjalan dengannya.

Periode kehidupan tertentu — satu pasang sepatu bisa mewakili suatu masa: masa aktif berolahraga, bepergian, bekerja, mendaki, lari, atau kegiatan tertentu.

Emosi yang menyertai pengalaman — rasa senang, bangga, bebas, bersemangat, atau bahkan nostalgia.

Perubahan diri — ketika melihat sepatu yang dulu sering dipakai, kita secara tidak langsung melihat kembali diri kita pada masa itu.

Ada sesuatu yang menarik dari sepatu dibandingkan benda koleksi lain: sepatu benar-benar ikut berjalan bersama pemiliknya. Solnya menyentuh jalan yang pernah kita lewati. Karena itu, melihat sepatu lama bisa terasa seperti melihat kembali potongan perjalanan hidup sendiri.

Dari kisah sepatu saya ini, saya juga melihat ada beberapa sepatu yang jelas memiliki karakter berbeda—sepatu outdoor, running, pantofel, dan sebagainya. Masing-masing kemungkinan memiliki “cerita” sendiri.

Jadi mungkin yang Anda rindukan sebenarnya bukan sepatu-sepatunya.

Anda sedang mengenang diri Anda yang pernah memakai sepatu itu.


Kucing lapar udah dikasih makan๐Ÿฑ

Dan itu bisa menjadi alasan mengapa koleksi sepatu lama terasa memiliki nilai emosional yang jauh lebih besar daripada harga bendanya. 


Total 12 pasang Sepatu aneka type yang sudah bertahun-tahun lamanya dipakai. Ya tetap saya pakai langsung begitu saja sesuai sikon. Simpel. Tidak ribet.


Analisa buying new shoes in this economy ( Jika Harganya sekira Rp. 2 jutaan)

Tanya : Bagaimana rata-rata kelas menengah Indonesia ingin beli sepatu Rp. 2 jutaan apakah mampu ?

Jawab : Ya, sebagian kelas menengah Indonesia mampu membeli sepatu sekitar Rp2 juta, tetapi belum tentu terasa sebagai pembelian yang ringan.

Gambaran sederhananya:

Kelas menengah Indonesia cukup beragam. BPS mencatat kelompok kelas menengah sekitar 17,13% penduduk pada 2024, sedangkan kelompok menuju kelas menengah atau aspiring middle class jauh lebih besar, sekitar 49,22%. 

Survei KedaiKOPI 2025 menemukan 46% responden kelas menengah menghabiskan Rp500 ribu–Rp1,5 juta per bulan untuk lifestyle, sementara 23,3% menghabiskan Rp1,5–3 juta. 

Tekanan pengeluaran juga cukup besar: survei KIC 2026 menunjukkan 40,5% responden kelas menengah mengalokasikan pendapatan terutama untuk kebutuhan sehari-hari. 

Jadi, sepatu Rp2 juta lebih tepat disebut barang konsumsi menengah-premium, bukan barang yang otomatis terjangkau semua kelas menengah.

Kalau dilihat dari psikologi pembelian

Misalnya seseorang mempunyai penghasilan rumah tangga Rp10 juta/bulan:

Rp2 juta = 20% dari penghasilan satu bulan.

Itu cukup besar kalau dibayar sekaligus. Tetapi kalau sepatu tersebut dipakai selama 2–3 tahun, misalnya untuk kerja, jalan, hiking, atau koleksi, orang tersebut bisa menganggapnya "worth it".

Yang menarik, untuk kelas menengah, keputusan membeli sepatu Rp2 juta sering bukan semata-mata soal mampu atau tidak, tetapi:

"Saya mau mengalokasikan uang saya untuk sepatu ini atau untuk kebutuhan lain?"

Dan pada barang seperti sepatu bermerek, ada unsur kualitas, kenyamanan, nostalgia, identitas, hobi, dan status sosial.

Jadi menurut saya, kelas menengah Indonesia mampu membeli sepatu Rp2 jutaan, tetapi pembelian tersebut biasanya merupakan discretionary spending—sesuatu yang dipilih, bukan kebutuhan pokok. 

Kalau Anda mau, saya juga bisa menghitung sepatu Rp2 juta itu sebenarnya masuk kategori murah, sedang, atau mahal untuk gaji Rp5 juta, Rp10 juta, Rp15 juta, dan Rp20 juta per bulan ?

Tanya : Ok tanya lagi. Apakah sepatu Rp2 juta itu sebenarnya masuk kategori murah, sedang, atau mahal untuk gaji Rp5 juta, Rp10 juta, Rp15 juta, dan Rp20 juta per bulan.

Jawab : Bisa kita ukur secara sederhana dari proporsi harga sepatu terhadap penghasilan bulanan. Ini bukan batas resmi, tetapi cukup bagus untuk melihat apakah Rp2 juta terasa murah, sedang, atau mahal.
Gaji per bulan
Harga sepatu Rp2 juta
Penilaian saya
Rp5 juta
40% gaji
๐Ÿ”ด Mahal
Rp10 juta
20% gaji
๐ŸŸ  Cukup mahal / premium
Rp15 juta
13,3% gaji
๐ŸŸก Sedang
Rp20 juta
10% gaji
๐ŸŸข Relatif terjangkau

Namun ada hal penting: gaji bukan satu-satunya ukuran kemampuan membeli. Kalau seseorang bergaji Rp10 juta tetapi mempunyai cicilan besar, tanggungan keluarga, dan biaya hidup tinggi, maka harga sepasang sepatu Rp2 juta bisa terasa mahal. Sebaliknya, orang bergaji Rp10 juta tanpa banyak tanggungan dan sudah mempunyai tabungan bisa menganggapnya wajar.
Kondisi kelas menengah Indonesia memang menunjukkan ruang belanja non-kebutuhan pokok masih terbatas. Survei KIC 2025 menemukan sekitar 41% pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari dan 18,1% untuk cicilan. 
IMF juga mencatat makanan masih menyerap sekitar 35–40% pengeluaran kelas menengah pada 2024. 
Sumber :Katadata &
IMF

Jadi, bagaimana posisi sepatu Rp2 juta?
Menurut saya:
Gaji Rp5 juta:
Rp2 juta adalah pembelian besar. Biasanya harus direncanakan, bukan pembelian spontan.
Gaji Rp10 juta:
Masih terasa mahal, tetapi sudah realistis sebagai pembelian sesekali. Misalnya membeli satu pasang berkualitas setiap beberapa bulan.
Gaji Rp15 juta:
Rp2 juta mulai masuk kategori harga menengah-premium yang cukup wajar, terutama kalau sepatu memang digunakan lama.
Gaji Rp20 juta:
Rp2 juta relatif ringan, meskipun tentu belum bisa disebut murah dalam arti absolut.
Yang menarik, sepatu Rp2 juta bukan lagi sekadar kebutuhan kaki bagi konsumen kelas menengah atas. Bisa menjadi barang lifestyle: kualitas, merek, desain, kenyamanan, nostalgia, hobi, bahkan identitas pribadi.
Jadi kalau pertanyaannya "Apakah orang bergaji Rp10 juta mampu membeli sepatu Rp2 juta?", jawabannya: mampu, tetapi belum tentu merasa murah. Sedangkan pada gaji Rp15–20 juta, pembelian Rp2 juta jauh lebih mudah masuk kategori konsumsi yang normal.

Demikian setidaknya gambaran umum kisah sepatu Shoes Story dari kacamata saya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar