AI dan Ancamannya bagi Pekerja : Chatbot Mulai Gantikan Customer Service, Mahasiswa Diminta Siap Hadapi Perubahan
Techno - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin nyata dirasakan di berbagai sektor pekerjaan. Dalam sesi kuliah Multimedia Bisnis, pembicara Mung Pujanarko membahas bagaimana AI mulai mengambil alih pekerjaan entry level yang selama ini banyak dikerjakan manusia, khususnya pada bidang customer service.
Dalam pemaparannya, Mung menjelaskan bahwa chatbot menjadi salah satu bentuk implementasi AI yang paling cepat berkembang di dunia industri. Chatbot merupakan program berbasis AI yang dirancang untuk berinteraksi dengan manusia melalui teks maupun suara. Teknologi ini mampu menjawab pertanyaan pelanggan, memberikan panduan layanan, hingga menangani keluhan sederhana secara otomatis.
“Banyak perusahaan besar sekarang menggunakan chatbot untuk meningkatkan kecepatan layanan dan mengurangi biaya operasional,” jelas Mung di hadapan mahasiswa.
Menurutnya, kehadiran chatbot telah mengubah cara perusahaan melayani pelanggan. Jika sebelumnya customer service dilakukan sepenuhnya oleh manusia, kini sebagian besar pekerjaan dasar dapat diselesaikan secara otomatis oleh sistem AI. Bahkan, beberapa chatbot canggih sudah mampu menyelesaikan kebutuhan pelanggan secara mandiri tanpa bantuan agen manusia.
Namun, di balik kemudahan tersebut, Mung menyoroti ancaman yang mulai muncul bagi tenaga kerja, terutama pekerja pemula atau entry level.
“AI atau Artificial Intelligence itu apakah telah mulai mengambil peran entry level? Jadi apakah urusan baru semakin sulit mencari kerja?” ungkapnya dalam sesi diskusi.
Ia menegaskan bahwa pekerjaan yang bersifat repetitif menjadi target utama penggantian oleh AI. Salah satu contohnya adalah customer service. Menurutnya, pekerjaan customer service memiliki pola kerja yang berulang, seperti menjawab pertanyaan yang sama setiap hari, sehingga lebih mudah digantikan oleh chatbot.
“Pekerjaan customer service itu akan digantikan oleh AI. Dengan apa? Dengan chatbot. Karena pekerjaan customer service atau CS itu akan menjadi sangat repetitive,” jelasnya.
Fenomena ini, kata Mung, sebenarnya sudah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak perusahaan kini lebih memilih menggunakan chatbot karena dianggap lebih cepat, efisien, dan dapat bekerja selama 24 jam tanpa henti.
Menariknya, Mung juga membagikan pengalamannya beberapa tahun lalu saat menjadi juri dalam kompetisi customer service. Pada masa itu, profesi customer service masih dianggap sangat penting dan memiliki peluang besar. Namun kini, posisi tersebut mulai terancam oleh perkembangan teknologi AI yang semakin canggih.
“Padahal belum lama, beberapa tahun yang lalu saya menjadi juri di kompetisi customer service,” ujarnya.
Meski demikian, Mung menekankan bahwa AI bukan sepenuhnya ancaman jika manusia mampu beradaptasi. Ia mengajak mahasiswa untuk mulai meningkatkan kemampuan yang tidak mudah digantikan mesin, seperti kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah.
Kuliah ini menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. AI memang membuka peluang besar bagi dunia industri, tetapi di sisi lain juga menuntut manusia untuk terus belajar dan berkembang agar tetap relevan di dunia kerja masa depan. ( Tulisan oleh : Matthew Richard Cyrus Mamoto, mahasiswa FASILKOM Jayabaya)
2:51 PM
mung pujanarko




0 komentar:
Posting Komentar