Saya menggambarkan aquarium atau kolam, lumut, dan ganggang.
Ganggang bisa mengapung terkena sinar matahari dan florish. Lumut tidak bisa mengapung, dan tetap menempel di pinggir dan dasar aquarium atau kolam.
Masyarakat dalam nation ada yang bisa berhasil mengapung ke atas dengan social mobilitas, atau memang dari keluarga turun temurun yang sudah ada di atas permukaan.
Sisanya mengendap seperti lumut di dalam kolam atau aquarium.
Segala ekonom, politisi, pemikir membicarakan ihsg, inflasi, deflasi, stagfasi, kurs valuta, defisit dan mikro dan makro, plus politik, policy, dan aspek legal, ekopolsosbud dlsb. Hanya ganggang saja yang paham dan mengikuti itu semua. Lumut boro-boro paham, tercerahkan sinar penerangan saja tidak. Bagi lumut dibawah yang tidak paham, maka berpikir seperti ganggang itu melelahkan, membuang energi dan waktu lumut.
Ini sudah ribuan tahun masyarakat dunia ya begini ini, lumut dan ganggang.
Benar bahwa lumut di bawah selama ratusan tahun ini ya tidak peduli kurs valas. Tidak sampai boro-boro nyampai pokok bahasan dollar.
Sejak itu maka benar ujaran : "rakyat desa tidak pakai dollar". Benar dalam arti benar dikatakan untuk meng -address rakyat desa lumut karena memang ora gadhuk leh do mikir.
Karena yang mikirnya dollar hanya ganggang. Polemik atas ujaran tersebut ya bahkan tidak digagas blas oleh rakyat. Oleh para lumut di bawah permukaaan. Jauh di bawah, tanpa ada penerangan. Ada yang lumut sengaaja sembunyi di bawah batu karena muak dan emoh akan penerangan.
Penerangan itu biasanya oleh orang pintar, nah biasanya orang pintar itu biasanya minteri. ( bahasa jawa belajar apa itu arti minteri) cari kamus jawa belajar apa itu arti minteri.
Banyak bicara equal minteri kata lumut maka no good to trust. Trust issue.
Di desa lumut orang banyak bicara malah dicurigai sebagai berusaha minteri.
Praktis ilmu dollar hanya digagas dan dinalar saja oleh para ganggang di atas. Ribut antar ganggang yang jumlah populasinya tidak seberapa di lapisan atas. Saling Ribut sok iyes saling bahas saling komen sok paham saling mikir.
Eco chamber ganggang
Saya kerap-saking kerap- sering menyimak ulasan2 pakar2 ekopolsosbud dlsb
Ulasan2 pintar itu hanya eco chamber di kalangan ganggang, sama sekali tidak menggerakkan mind lumut blas.
Lumut udah terlanjur mengendap mengerak di bawah secara sistemik turun temurun. Bahkan ada para lumut yang sudah sembunyi di balik batu.
Lumut kaga pengaruh blas, bro. Boro-boro mikir apa valas -ekonomi- mikro -makro, hedeuuh.
Nanti pun pemilu ya yang penting ada sembako udah gitu ajalah.
Giniloh lumut di bawah yang mengerak mengendap ratusan tahun ribuan tahun ini terbukti survive dengan kondisi apapun, mau itu jaman malaise kelaparan, jaman tanam paksa jaman dulu, mau itu lewat jaman penjajahan susah berbagai sistem penjajahan => jaman kelaparan apapun penjajahannya tetap banyak mayoritas lumut yang survive. Sudah terbukti tahan malang-> ketahan malangan, tahan banting dan tahan sakit krisis model apapun juga.
Jadi mau itu kaum ganggang seminar diskusi ndakik di menara-menara gading tentang ekopoleksosbud dlsb. Ya tetap yang resah gelisah adalah yang kaum berpikir saja. Makin mikir makin ruwet resahnya- spiralling.
Kaum ganggang yang melek (wake/woke) kemudian Demo di menara-menara gading. Bawa spanduk keresahan. Teriak-teriak kasar antar mereka sendiri di menara-menara gading. Lumut tetap adem ayem menghayati kondisi apapun juga yang menghimpit. Lumut tidak pengaruh blas. Lumut hanya diam tak paham.
Bagi lumut mikir itu beban pikiran. Ngapain mikir. Mikir itu bahasa istilah populernya : "menjadi beban pikiran". Jadi bagi para lumut mikir itu beban bos. lebih baik menjauhi beban pikiran atau joget senang gembira saja jauhi beban pikiran yang rumit mikir dollar- inflasi -deflasi - stagflasi dan aneka flasi -flasi yang flash hanya berkilau gemerlap di pikiran. Bawah sadar lumut tidak mikir yang berat. Bisa karena ada pameo takut stress karena banyak mikir atau memang ada sugesti turun temurun kalau mikir itu bikin stres dan ngleng-leng.
Wakakakak.
Ini bukan AI
AI ga senalar se satire gini amat.
Wkwkwk
AI juga ga pakai wkwkwkw
1 usd = 17840, 45 rupiah
Kalau 17845 kita Indonesia merdeka 🇲🇨🇮🇩
Sy screen shoot dulu krn ini bagian dari sejarah.
Kita sudah tahu semua rara-rata IQ di Indonesia kan bisa googling.
Data mengenai kebiasaan membaca di Indonesia sangat bervariasi tergantung metriknya. Survei BPS mencatat hanya sekitar 10% penduduk yang rajin membaca buku. Berikut rincian kebiasaan membaca di Indonesia:1 dari 1.000: Menurut data World's Most Literate Nations dari CCSU, indeks minat baca Indonesia berada di angka 0,001%, yang berarti hanya 1 dari 1.000 orang yang rajin membaca buku.
Ok itu data orang yg suka baca berarti suka pengetahuan. Sisanya tak terlalu suka mikir pengetahuan. Sisanya hidup jalan terus tanpa beban pikiran.
Bagi orang kita pikiran atau mikir adalah beban. Oleh sebab itu orang ga milih orang pinter. Tapi milih orang yang bisa ngayomi memberi rasa aman. Orang rakyat lihat orang mikir dan pintar itu mencemaskan, tidak menenangkan, dan mau minteri rakyat.
Silent majority itu silent karena tidak banyak mikir ekopoleksosbud etc. Lumut adem ayem gelap di bawah. Ganggang karena banyak penerangan jadi pada ribut sendiri masalah ekopoleksosbud etc.
Aksi aksi demo oleh para ganggang ditanggapi adem oleh para lumut. Sejak berabad-abad lumut tidak pernah menganggap demo sebagai sebuah jalan solusi atau bisa memperbaiki keadaan. Demo oleh para ganggang yang kadang anarkis justru dianggap makin menyusahkan keadaan bagi para lumut yang berabad-abad mengerak di bawah kolam. Tidak ada ripple effect demo ganggang di atas kolam dengan kondisi gelap lumut di bawah.
Lumut tidak pakai dollar. Lumut juga sudah menghayati penderitaan dari jaman ke jaman sampai ke tulang. Sifat tahan menderita lumut di bawah ini oleh para elite ganggang di paling atas diketahui benar. Sekacau ekopol apapun pasti lumut tahan menderita. Mau buat kebijakan policy apapun, lumut sudah pasti tahan menderita dan diam karena tak paham. Hanya ganggang yang mikir di lapisan tengah yang gelisah. Sudah terbukti mau jaman se -malaise apapun juga di kolam pertiwi ini, lumut tetap tahan derita. Jadi ya tetap ditekan kondisi model susah kayak apa sudah terbukti ketahan malangan para lumut.
(Pov pikiran saya saja ini)
![]() |
| Tadinya tahun 2018 kelas ganggang menengah sempat pada 22,5 % |
![]() |
| Tahun 2024 banyak ganggang tenggelam menjadi lumut. Jumlah ganggang tinggal 17,3%. Sisanya tenggelam jadi lumut. Lumut di bawah makin miskin makin mengerak. |
6:37 AM
mung pujanarko







0 komentar:
Posting Komentar