cari kata

Selasa, 16 Juni 2026

FIKOM Jayabaya bersama Fasilkom dan MKn akan adakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat : "Guru bukan Teman Nongki" (Batasan Etika Komunikasi Siswa di Sekolah

FIKOM Jayabaya bersama Fasilkom dan MKn akan adakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat  : "Guru bukan Teman Nongki" (Batasan Etika Komunikasi Siswa di Sekolah)




 Jakarta - Setelah sukses mengadakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema Sosialisasi Pemilihan Sampah di Kelurahan Ujung Menteng, Jakarta Timur, Minggu (14/6/2026) lalu, FIKOM Jayabaya kini bersiap untuk mengadakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat selanjutnya bertema : "Guru bukan Teman Nongki" (Batasan Etika Komunikasi Siswa di Sekolah).

Pengabdian kepada Masyarakat yang mengangkat tema Guru bukan Teman Nongki" (Batasan Etika Komunikasi Siswa di Sekolah) ini akan digelar di SMAN 73 DKI Jakarta pada hari Senin, 22 Juni 2026.

Dekan FIKOM Jayabaya Dra. Winarni, M.Si., memaparkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ( PkM) ini FIKOM Jayabaya akan berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Jayabaya, dan Program Magister Kenotariatan Jayabaya.

Tema Kekinian

Tema : "Guru bukan Teman Nongki" (Batasan Etika Komunikasi Siswa di Sekolah) ini dipilih oleh Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Jayabaya bersana Fasilkom dan Magister Kenotariatan karena perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial telah mengubah pola interaksi antara siswa dan guru. Kemudahan berkomunikasi melalui aplikasi pesan instan, media sosial, dan berbagai platform digital sering kali membuat batas antara hubungan profesional guru dan siswa menjadi semakin kabur.

Dalam praktiknya, tidak sedikit siswa yang berkomunikasi dengan guru menggunakan bahasa yang terlalu santai, mengabaikan tata krama, atau memperlakukan guru layaknya teman sebaya. Kondisi ini berpotensi menurunkan penghormatan terhadap guru sebagai pendidik serta mengurangi efektivitas proses belajar-mengajar di lingkungan sekolah.

Melalui tema ini, FIKOM Universitas Jayabaya ingin memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya etika komunikasi, kesantunan berbahasa, dan batasan yang sehat dalam berinteraksi dengan guru. Siswa perlu memahami bahwa hubungan yang akrab dengan guru tetap harus dilandasi rasa hormat, sopan santun, dan kesadaran akan peran masing-masing.

Selain itu, tema ini juga relevan dengan bidang ilmu komunikasi yang menekankan pentingnya komunikasi yang efektif, beretika, dan sesuai konteks sosial. Dengan meningkatnya pemahaman siswa tentang etika komunikasi, diharapkan tercipta lingkungan pendidikan yang lebih harmonis, saling menghargai, dan mendukung pembentukan karakter generasi muda yang beradab.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menjadi salah satu kontribusi FIKOM Universitas Jayabaya dalam membangun budaya komunikasi yang sehat di lingkungan sekolah, sekaligus memperkuat nilai-nilai kesopanan dan penghormatan terhadap profesi guru sebagai pilar utama pendidikan bangsa. ( Win/ Red)

Mahasiswa FIKOM Jayabaya Soroti Persoalan Pengelolaan Sampah Saat Program Pengabdian Masyarakat di Komplek Pertamina Ujung Menteng

  


Jakarta Timur || MTV.CO – Program Pengabdian Masyarakat yang dilaksanakan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya di Komplek Pertamina, Kelurahan Ujung Menteng, Jakarta Timur, Minggu (14/6/2026), tidak hanya menjadi ajang sosialisasi pemilahan sampah, tetapi juga mengungkap persoalan nyata dalam pengelolaan sampah di lingkungan permukiman.



Kegiatan yang merupakan bagian dari program Universitas Jayabaya tersebut bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk berinteraksi dengan masyarakat sekaligus memahami berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi di lapangan.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa turut mendampingi warga mengikuti sosialisasi pemilahan sampah organik dan anorganik. Antusiasme warga terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Warga dari berbagai RT sekitar hadir dan menyimak materi yang disampaikan sebagai upaya meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga.

Namun, di balik tingginya kesadaran masyarakat, mahasiswa menemukan kondisi yang memprihatinkan di Tempat Penampungan Sementara (TPS) lingkungan Komplek Pertamina. Sampah terlihat menumpuk dan belum diangkut selama kurang lebih dua minggu.

"Mahasiswa Jayabaya terlihat langsung membantu masyarakat, terutama warga Komplek Pertamina. Mereka juga melihat langsung kondisi TPS di lingkungan ini yang sudah dua minggu belum diangkat oleh pihak terkait," ujar Ade, petugas kebersihan sekaligus pengawas TPS di lokasi tersebut.






Temuan tersebut menjadi catatan penting bagi mahasiswa. Pasalnya, keberhasilan program pemilahan sampah tidak hanya ditentukan oleh kesadaran warga, tetapi juga oleh dukungan sistem pengelolaan sampah yang berjalan dengan baik. Ketika masyarakat sudah mulai memilah sampah, tetapi pengangkutan tidak dilakukan secara rutin, maka tujuan pengurangan dan pengelolaan sampah menjadi kurang optimal.

Dosen pendamping dan mahasiswa menilai persoalan sampah harus dilihat secara menyeluruh. Edukasi kepada masyarakat memang penting, namun perlu dibarengi dengan pelayanan publik yang memadai, mulai dari penyediaan sarana pemilahan hingga kepastian jadwal pengangkutan sampah.

Secara kritis, kondisi TPS yang tidak terangkut selama dua minggu menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya masalah perilaku masyarakat, melainkan juga menyangkut tata kelola dan koordinasi antar pemangku kepentingan.



Jika kondisi tersebut terus berlanjut, dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak lingkungan, gangguan kesehatan, hingga menurunkan motivasi warga yang telah berupaya melakukan pemilahan sampah.



Melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat ini, mahasiswa Universitas Jayabaya tidak hanya belajar mengenai komunikasi dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana kebijakan dan pelayanan publik berpengaruh terhadap keberhasilan program lingkungan.



Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, pengelola lingkungan, dan institusi pendidikan dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, berkelanjutan, dan berpihak pada kebutuhan warga.

Dengan demikian, gerakan pemilahan sampah tidak berhenti pada tataran sosialisasi, tetapi benar-benar menjadi solusi bagi persoalan sampah di lingkungan perkotaan.

(Oleh : Tim Mahasiswa Jurnalistik FIKOM Universitas Jayabaya)

Senin, 15 Juni 2026

Warga Komplek Pertamina Ujung Menteng Edukasi Pemilahan Sampah di Tengah Pembatasan Kuota TPSP Bantar Gebang

 Warga Komplek Pertamina Ujung Menteng terima Edukasi Pemilahan Sampah di Tengah Pembatasan Kuota TPSP Bantar Gebang







CAKUNG, JAKARTA TIMUR, IMC – Warga RW 04 Komplek Pertamina, Kelurahan Ujung Menteng, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, mulai mendapatkan edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini digerakkan melalui kolaborasi antara Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Jayabaya dengan warga setempat pada Minggu, 14 Juni 2026, mulai pukul 08.00 WIB. 

Program sosialisasi ini dilaksanakan sebagai langkah awal untuk mematuhi Instruksi Gubernur No. 5 Tahun 2026 yang mewajibkan seluruh warga DKI Jakarta memilah sampah dari rumah. Langkah ini dinilai semakin mendesak mengingat kondisi tempat penampungan sampah (TPS) di lingkungan tersebut yang sempat menggunung akibat adanya pembatasan kuota pembuangan ke TPSP Bantar Gebang. 

Menurut Pak Syarif selaku pihak LMK, sosialisasi ini akan berjalan intensif hingga 1 Agustus mendatang sebelum program pemilahan benar-benar direalisasikan secara penuh ke tingkat RT yang terhubung dengan Dinas Lingkungan Hidup (LH). "Sampah organik nantinya akan diambil dan dikelola oleh Dinas LH untuk dijadikan pupuk kompos atau pakan, sampah non-organik masuk ke bank sampah RW, sedangkan sampah residu baru dibuang ke Bantar Gebang," jelas Pak Syarif mengenai mekanisme penyaluran sampah yang telah dipilah.







Kendati demikian, realisasi di lapangan masih menghadapi tantangan. Ibu Tety, pengurus Bank Sampah setempat, mengakui bahwa belum semua warga paham cara memilah secara spesifik. Pengurus bank sampah masih harus bekerja ekstra memisahkan kembali kategori sampah anorganik yang bernilai jual, seperti memisahkan botol plastik dari tutup dan labelnya, serta mengelompokkan kardus berdasarkan ukurannya. "Saat ini baru berjalan di beberapa RT saja, belum meluas satu RW. Namun dengan program pemerintah ini diharapkan kesadaran masyarakat bisa meningkat," ungkap Ibu Tety. 



Tantangan terbesar saat ini justru datang dari penumpukan sampah di TPS lokal yang sudah berlangsung selama kurang lebih dua minggu. Pak Adi, petugas pengangkut sampah komplek, mengeluhkan keterlambatan armada pengangkutan yang biasanya datang setiap hari menggunakan kontainer. Keterlambatan ini terjadi setelah adanya insiden longsor yang memakan korban jiwa di TPSP Bantar Gebang, sehingga pihak pengelola membatasi kuota truk sampah yang masuk dari seluruh wilayah DKI Jakarta. Pembatasan tersebut dilaporkan memotong kapasitas pembuangan secara drastis. 






Menanggapi tumpukan sampah yang mulai menimbulkan bau dan belatung tersebut, Ketua RW 04, Pak Alis Naini, menyatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Kasatgas LH di tingkat kelurahan dan kecamatan. "Penyelesaiannya harus bertahap karena keterbatasan kuota dan armada. Sembari menunggu armada LH, kami juga berupaya mencari solusi mandiri di lingkungan, seperti mengolah sampah menjadi pupuk bersama pengurus PKK guna mengurangi volume sampah di TPS," kata Pak Alis Naini. 



Meskipun dihadapkan pada masalah pengangkutan, warga menyambut positif edukasi ini. Pak Gufron Darianto, salah seorang warga senior, menyatakan bahwa sosialisasi ini memberikan kemajuan dan edukasi yang sangat baik bagi masyarakat yang terbiasa langsung membuang sampah tanpa dipilah. Beliau yang pernah tinggal di luar negeri berharap sistem pemilahan sampah menggunakan plastik yang berbeda warna antara organik dan anorganik dapat segera diterapkan secara konsisten demi menjaga kesehatan warga Komplek Pertamina yang mayoritas diisi oleh lansia. (Jafia dan Tim FIKOM Jayabaya)


Minggu, 14 Juni 2026

Capung Ciwet (Pantala flavescens)

 




Serangga dalam foto saya tersebut kemungkinan adalah Capung Ciwet (Pantala flavescens), spesies capung yang sangat umum ditemukan.

Capung ini memiliki tubuh berwarna kuning keemasan dengan panjang sekitar 4,5 cm dan bentang sayap antara 7,2 hingga 8,4 cm.Pantala flavescens dikenal sebagai serangga migran dengan penyebaran yang sangat luas di berbagai belahan dunia.

Ikut dan Finished Event Flungo Virtual Run 2026

 













Saya mengikuti event Flungo Virtual Run 2026.

Tanggal Penting:

Pendaftaran: 25 April – 13 Mei 2026

Periode Lari: 7 – 14 Mei 2026

Saya ikut kategori lari 10K.

Alhamdulillah finisher event Flungo Virtual Run 2026 dan dapat medalifinisher🏅



Sabtu, 13 Juni 2026

Dragonfly in the Dark

 

Foto by : mung pujanarko
Capung Merah dalam Gelap.
Capung Merah dalam Hitam.

Klik gambar unt memperjelas di gadget
"Dragonfly in the Dark"
Capung Merah dalam Gelap.
Capung Merah dalam Hitam.

Capung Merah dalam Gelap.
Capung Merah dalam Hitam.

"Dragonfly in the Dark" by mung pujanarko

"Dragonfly in the Dark"

Capung = dragonfly

Capung Merah dalam Gelap.

Capung Merah dalam latar Hitam.

Ini adalah capung jantan dari spesies Neurothemis terminata, yang juga dikenal sebagai capung sayap merah.

Spesies ini umum ditemukan di daerah perkotaan dan perdesaan di Indonesia.

Capung ini berfungsi sebagai predator alami bagi serangga kecil seperti nyamuk.

Warna merah cerah pada sayapnya berperan penting dalam komunikasi dan dominasi wilayah. 

Foto oleh : mung pujanarko




Dragonfly in the Dark".


Memotret Capung: Menangkap Keindahan Sang Predator di Udara

Capung merah merupakan salah satu serangga yang menarik untuk dijadikan objek fotografi. 
Foto ini saya beri title " Dragonfly in the Dark".

Dengan warna tubuh merah yang indah, sayap transparan gradasi warna merah, dan gerakannya yang lincah, capung mampu menghadirkan foto-foto alam yang memukau.

Foto ini saya beri title " Dragonfly in the Dark".

Untuk mendapatkan hasil terbaik, pemotretan sebaiknya dilakukan pada pagi hari saat capung masih relatif tenang dan sering hinggap di rerumputan atau ranting. 

Gunakan mode makro pada kamera atau ponsel untuk menangkap detail tubuh dan sayapnya. Fokuskan pada bagian mata dan sayap capung karena mata atau sayap merah yang tajam akan membuat foto terlihat lebih hidup.

Pencahayaan alami dari sinar matahari pagi juga membantu menghasilkan warna merah yang lebih cerah dan detail yang lebih jelas. 

Kesabaran menjadi kunci utama karena capung dapat terbang sewaktu-waktu. Bergeraklah perlahan agar tidak mengganggu objek. Memotret capung hampir sulit ketika capung selalu terbang menghindar.

Memotret capung bukan hanya melatih keterampilan fotografi, tetapi juga mengajak kita lebih dekat dengan alam serta menghargai keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kita. 

Setiap foto capung yang berhasil diabadikan menjadi bukti keindahan alam yang sering luput dari perhatian sehari-hari. (*)






Capung Orthetrum sabina

 


Foto saya ini menampilkan seekor capung dari spesies Orthetrum sabina, yang juga dikenal sebagai capung badak.
Serangga ini tergolong dalam famili Libellulidae dan merupakan predator alami bagi serangga kecil seperti nyamuk dan wereng.Capung ini memiliki ciri khas tubuh ramping dengan warna dominan hijau dan hitam, sering ditemukan bertengger di batang tanaman tipis



Foto karya : mung pujanarko

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons