Public Discussion #2 HIMAHI Universitas Jayabaya Bahas Rivalitas Ekonomi Global Dalam Sistem Internasional
_(Oleh: Kanaya Raisha Ramadhya)_
Jakarta, 15 Juli 2026 – Di tengah meningkatnya persaingan antarnegara besar dalam memperebutkan pengaruh di bidang ekonomi, teknologi, dan energi. pemahaman terhadap dinamika ekonomi global menjadi hal yang penting bagi seluruh generasi. Persaingan tersebut tidak hanya berdampak pada hubungan antarnegara, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi, kebijakan luar negeri, serta arah perkembangan sistem internasional. Sebagai upaya meningkatkan wawasan dan daya pikir kritis mahasiswa terhadap isu-isu global tersebut, Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Universitas Jayabaya menyelenggarakan Public Discussion #2 bertajuk "Persaingan Ekonomi Global: Rivalitas Antara Negara-Negara Besar dalam Sistem Internasional Kontemporer" pada Rabu, 15 Juli 2026, bertempat di Ruang Seminar I Prof. Hj. Yuyun Moeslim Taher, S.H., M.H., Lantai V Gedung Rektorat Kampus A Universitas Jayabaya. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Ichsanuddin Noorsy, B.Sc., S.H., M.Si. sebagai narasumber utama dengan Alfian Handerson sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Dr. Ichsanuddin Noorsy menjelaskan bahwa persaingan ekonomi global tidak lagi hanya ditentukan oleh aktivitas perdagangan semata, tetapi juga dipengaruhi oleh sejarah sistem ekonomi dunia. Salah satu yang dibahas adalah Sistem Bretton Woods, yang menjadi fondasi tatanan ekonomi internasional setelah Perang Dunia II. Beliau menjelaskan bahwa Amerika Serikat pada awalnya menjadikan dolar sebagai mata uang yang ditopang oleh emas. Namun, seiring berjalannya waktu, dolar tidak lagi bergantung pada cadangan emas, melainkan pada kepercayaan masyarakat internasional terhadap Amerika Serikat sebagai negara yang memiliki kekuatan ekonomi, kepemimpinan global, dan kemampuan militer yang besar.
Selain itu, narasumber juga mengangkat konsep energy war, yaitu persaingan yang memanfaatkan sektor energi sebagai instrumen geopolitik. Salah satu contohnya adalah kenaikan harga minyak pada 14 Juli 2008, yang memberikan dampak besar bagi negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi. Menurutnya, penguasaan terhadap energi, sistem pembayaran internasional (payment system), hingga kekuatan militer merupakan instrumen penting dalam mempertahankan dominasi suatu negara di tingkat global.
Perkembangan bentuk persaingan antarnegara juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Jika sebelumnya dunia dihadapkan pada persaingan energi (energy war), kemudian berkembang menjadi perang dagang (trade war), saat ini rivalitas semakin bergeser ke bidang Information and Communication Technology (ICT). Penguasaan teknologi informasi menjadi salah satu faktor utama yang menentukan posisi suatu negara dalam percaturan ekonomi dan politik internasional.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ichsanuddin Noorsy juga mengutip pemikiran serta menjelaskan konsep competitive coexistence, yaitu kondisi ketika negara-negara besar tetap bersaing dalam berbagai sektor, tetapi pada saat yang sama masih menjalin kerja sama untuk menjaga stabilitas internasional. Narasumber turut menyinggung pandemi COVID-19 yang sempat memunculkan berbagai tuduhan terhadap China sebagai asal mula penyebaran virus, sehingga memperlihatkan bagaimana isu kesehatan global dapat berkembang menjadi bagian dari persaingan geopolitik antarnegara.
Tidak hanya membahas ekonomi dan politik, diskusi juga menyinggung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu arena persaingan global.
Menurut Dr. Ichsanuddin Noorsy, persaingan antarnegara saat ini tidak lagi terbatas pada sektor ekonomi dan perdagangan, tetapi juga mencakup penguasaan teknologi, inovasi, serta kemampuan riset yang menjadi penentu daya saing suatu negara. Oleh karena itu, pembangunan dignified society atau masyarakat yang bermartabat dinilai penting agar suatu bangsa mampu menghadapi perkembangan global tanpa kehilangan identitas, nilai-nilai kebangsaan, dan kualitas sumber daya manusianya.
Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta menanyakan mengenai penerapan paham neoliberalisme di Indonesia yang dinilai bertentangan dengan amanat konstitusi. Menanggapi hal tersebut, Dr. Ichsanuddin Noorsy menjelaskan bahwa persoalan utama suatu bangsa sering kali terletak pada lemahnya kepemimpinan dalam menegakkan keadilan dan kecendekiawanan.
Beliau juga menyoroti perubahan kondisi Indonesia yang dahulu dikenal sebagai negara pengekspor menjadi lebih bergantung pada impor di berbagai sektor, serta adanya perbedaan antara pernyataan para pemimpin sebelum dan ketika menjabat. Pertanyaan lain disampaikan oleh Yansen, yang meminta rekomendasi strategi untuk menghadapi berbagai konflik ekonomi yang dihadapi Indonesia.
Selain itu, peserta juga mempertanyakan mengapa persaingan ekonomi global yang pada dasarnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan justru berkembang menjadi perang dagang antarnegara. Menanggapi hal tersebut, narasumber menekankan bahwa tujuan utama pembangunan bangsa seharusnya tetap berlandaskan cita-cita untuk membebaskan masyarakat dari ketertindasan, kebodohan, kemiskinan, ketimpangan, dan kehinaan, sehingga kepentingan nasional tetap menjadi prioritas di tengah dinamika persaingan global.
Sebagai penutup, Alfian Handerson selaku moderator menyimpulkan bahwa persaingan ekonomi global telah berkembang dari sekadar kompetisi perdagangan menjadi persaingan yang melibatkan penguasaan energi, teknologi, sistem pembayaran, hingga kekuatan geopolitik.
Ia juga menyampaikan bahwa seluruh elemen masyarakat diharapkan mampu meningkatkan wawasan, berpikir kritis, dan berkontribusi dalam membangun bangsa yang lebih mandiri dan berdaya saing tanpa memandang latar belakang maupun perbedaan.
Sebelum acara resmi ditutup, Dr. Ichsanuddin Noorsy, menyerahkan buku kepada tiga peserta terbaik yang aktif mengajukan pertanyaan selama sesi diskusi. Pemberian buku tersebut menjadi bentuk apresiasi atas antusiasme peserta sekaligus sebagai upaya untuk mendorong budaya diskusi, berpikir kritis, dan meningkatkan literasi di kalangan mahasiswa. (*)