cari kata

Senin, 27 Juli 2026

Role Playing Cards, Inovasi Pembelajaran untuk Menumbuhkan Kepekaan Sosial Siswa

 


Oleh: Tim Peneliti (Fajar Wahyudi Utomo, M. Ilman Naafi’a, Achmad Siswanto)

KOPI, Jakarta - Perkembangan teknologi telah membuka banyak kesempatan belajar bagi peserta didik. Namun, intensitas interaksi digital juga menghadirkan tantangan baru dalam pendidikan karakter. Peserta didik dapat terhubung dengan banyak orang melalui layar, tetapi belum tentu memiliki kemampuan memahami kesulitan yang dialami orang lain dalam kehidupan nyata.


Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup berfokus pada penguasaan pengetahuan. Sekolah juga perlu membangun empati, kepedulian, toleransi, solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut penting agar peserta didik mampu hidup bersama dalam masyarakat yang memiliki latar belakang sosial dan ekonomi beragam.

Berangkat dari persoalan itu, tim peneliti Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta mengembangkan model pembelajaran Role Playing Cards atau RPC. Model ini dirancang dengan memasukkan nilai-nilai sosial yang ditemukan dalam kehidupan masyarakat marginal, seperti ketangguhan, solidaritas, gotong royong, kepedulian, dan kemampuan bertahan menghadapi keterbatasan.

Belajar Memahami Kehidupan Orang Lain



Dalam pembelajaran konvensional, masyarakat marginal sering diperkenalkan melalui definisi, angka kemiskinan, atau kategori masalah sosial. Cara tersebut membantu peserta didik memahami konsep, tetapi belum tentu membuat mereka mampu melihat masyarakat marginal sebagai manusia yang memiliki pengalaman, pilihan, kekuatan, dan martabat.

Role Playing Cards menawarkan pendekatan berbeda. Peserta didik tidak sekadar membaca materi, tetapi memperoleh kartu yang berisi karakter, latar belakang sosial, persoalan, serta dilema moral tertentu. Mereka kemudian memainkan peran, berdiskusi, mengambil keputusan, dan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap pilihan.

Misalnya, seorang peserta didik dapat memperoleh peran sebagai anak dari keluarga berpenghasilan tidak tetap, pekerja informal, atau anggota komunitas yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan. Melalui simulasi tersebut, peserta didik diajak melihat persoalan dari sudut pandang orang lain.

Pengalaman bermain peran tidak dimaksudkan untuk meniru penderitaan kelompok marginal secara sederhana. Kegiatan tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun percakapan yang lebih reflektif mengenai ketimpangan, prasangka, diskriminasi, kesempatan hidup, dan tanggung jawab sosial.

Bukan Sekadar Permainan

RPC tidak dirancang sebagai permainan kompetitif yang hanya menentukan siapa yang menang dan kalah. Setiap kartu memuat situasi sosial dan dilema yang mengharuskan peserta didik mendengarkan pendapat, melakukan negosiasi, bekerja sama, serta mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Pembelajaran dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu pengenalan masalah sosial, pembagian dan pendalaman peran, simulasi, diskusi reflektif, serta penarikan nilai. Guru bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan peserta didik untuk menghubungkan pengalaman selama permainan dengan kehidupan di sekolah dan masyarakat.

Melalui proses tersebut, kepekaan sosial tidak berhenti sebagai konsep yang harus dihafalkan. Peserta didik memperoleh kesempatan untuk merasakan kompleksitas suatu persoalan, memahami alasan di balik tindakan seseorang, dan menyadari bahwa tidak semua orang memiliki sumber daya serta pilihan hidup yang sama.

Media kartu juga memiliki keunggulan karena bersifat sederhana dan mudah digunakan. Di tengah kejenuhan terhadap layar digital, kartu fisik dapat mendorong kontak mata, percakapan langsung, kerja kelompok, dan interaksi antarpeserta didik. Penggunaannya tidak membutuhkan perangkat teknologi yang rumit sehingga berpotensi diterapkan pada sekolah dengan fasilitas yang beragam.

Dikembangkan dan Diuji secara Bertahap



Pengembangan RPC menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan dengan tahapan analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Pada tahap awal, tim akan mengidentifikasi kebutuhan peserta didik dan menggali nilai sosial dari kehidupan masyarakat marginal.

Temuan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi rancangan karakter, skenario, aturan permainan, dan kartu dilema moral. Produk yang dihasilkan akan melalui validasi ahli sebelum diuji secara terbatas pada peserta didik SMP. Uji coba tersebut ditujukan untuk melihat keterlaksanaan pembelajaran, respons peserta didik, serta perubahan tingkat kepekaan sosial sebelum dan setelah penggunaan media.

Karena masih berada pada tahap pengembangan, efektivitas RPC perlu dibuktikan melalui proses penelitian yang sistematis. Penilaian tidak cukup berdasarkan kesenangan peserta didik selama bermain. Model ini harus menunjukkan bahwa pembelajaran mampu meningkatkan empati, kepedulian, toleransi, dan tanggung jawab sosial secara terukur.

Menghadirkan Ruang Kemanusiaan di Kelas



Inovasi pendidikan tidak selalu harus berbentuk aplikasi yang kompleks. Sebuah media sederhana dapat memberikan dampak besar apabila disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik dan digunakan melalui proses pembelajaran yang tepat.

Role Playing Cards diharapkan dapat mengubah kelas menjadi ruang perjumpaan antarpengalaman sosial. Peserta didik belajar bahwa masyarakat marginal bukan sekadar objek pembahasan dalam buku pelajaran. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang memiliki pengetahuan, kekuatan, solidaritas, dan perjuangan hidup.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan peserta didik yang mampu menjawab soal. Pendidikan juga perlu membentuk manusia yang mampu mendengarkan, memahami perbedaan, menolak stigma, serta bertindak ketika melihat ketidakadilan. Melalui permainan peran yang kontekstual dan reflektif, kepekaan sosial dapat dipelajari sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar materi di dalam kelas. (Oleh: Tim Peneliti (Fajar Wahyudi Utomo, M. Ilman Naafi’a, Achmad Siswanto)

Lakukan Penguatan SDM Desa Wisata, Dosen Prodi Usaha Perjalanan Wisata Laksanakan program Pengabdian Kepada Masyarakat di Desa Wisata Sukamandi Masagi - Kabupaten Subang, Jawa Barat


Subang, IMC
– Tim dosen Program Studi Sarjana Terapan Usaha Perjalanan Wisata, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta (Produ UPW FISH UNJ) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada Jumat, 22 Mei di Desa Sukamandi Masagi, Kab Subang, Jawa Barat.

Mengusung tema “Penguatan SDM Desa Wisata Sukamandi”, kegiatan ini dihadiri berbagai macam unsur penggerak kegiatan wisata di Desa Wisata Sukamandi seperti Kepala Desa Sukamandi, POKDARWIS, pengelola homestay, karang taruna, bumdes hingga Kelompok Wanita pegiat UMKM Desa.

Acara berlangsung lancar dan penuh antusias, diawali dari sambutan pembukaan oleh Bapak Agus Setiawan selaku Kepala Desa Sukmandi. 

Beliau menyampaikan rasa syukurnya karena Universitas Negeri Jakarta khususnya Prodi Usaha Perjalanan Wisata selalu menaruh perhatian penuh kepada Desa Wisata Sukamandi dalam dalam Upaya mendapmpingi Desa Wisata Sukamandi sedari awal berdiri hingga terus mengembangkan berbagai potensi daya Tarik wisata yang dimiliki demi kemajuan kegiatan di Desa Wisata Sukamandi. 

Beliau berharap kolaborasi antara Universitas Negeri Jakarta dan Desa Sukmandi akan terus terjalin.


Dosen yang terlibat  pada kegiatan ini yaitu Jenal Abidin, Lala Siti Sahara dan Candra Karismawan. Dalam penyampaiannya, Jenal Abidin menyampaikan bahwa peran vital pemilik homestay sebagai ruh pada kegaitan wisata khusunya program wisata edukasi yang menjadi salah satu keunggulan paket wisata yang diselenggarakan di Desa Wisata Masagi.

Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini, Universitas Negeri Jakarta berharap akan terus dapat memperkuat sinergitas antara perguruan tinggi dan Masyarakat sehingga akan tercipta dampak positif terhadap pengembangan kegiatan pariwisata yang berbasis Masyarakat. (Liputan by : Candra Karismawan,Jenal Abidin, Lala Siti Sahara )

Senin (27/7/2026) => Perawatan dan Kebersihan







Mencuci mobil bukan hanya untuk membuatnya terlihat bersih, tetapi juga memiliki beberapa manfaat penting, antara lain:
Menjaga cat mobil agar tidak cepat kusam akibat debu, lumpur, kotoran burung, getah pohon, atau garam yang dapat merusak lapisan cat.
Mencegah karat, terutama pada bagian bawah mobil yang sering terkena air, lumpur, atau bahan kimia dari jalan.


Menjaga visibilitas dengan membersihkan kaca, lampu, dan spion sehingga lebih aman saat berkendara.
Mempertahankan nilai value mobil yang terawat umumnya memiliki value yang lebih baik.
Membuat berkendara lebih nyaman, baik bagi pengemudi maupun penumpang, karena kendaraan tampak bersih dan terawat.
Memudahkan pemeriksaan kondisi mobil, misalnya lebih mudah menemukan goresan, retak, atau kebocoran jika permukaan mobil bersih.
Idealnya, mobil dicuci setiap 1–2 minggu sekali, atau lebih sering jika sering digunakan saat hujan, melewati jalan berlumpur, atau terkena debu tebal. Dengan perawatan rutin, tampilan dan kondisi mobil dapat tetap prima dalam jangka panjang. (*)

Minggu, 26 Juli 2026

Hari Minggu (26/7/2026)

 








اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أنْتَ كَسَوْتَنِيهِ أسألُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ ما صُنِعَ لَهُ وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرّ ما صُنِعَ لَهُ 

Latin: Allahumma lakal hamdu anta kasautanihi, as-aluka khairahu wa khaira ma shuni'a lah, wa a'udzu bika min syarrihi wa syarri ma shuni'a lah.

Artinya: "Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Engkaulah yang memakaikan pakaian ini kepadaku. Aku memohon kepada-Mu kebaikan pakaian ini dan kebaikan apa yang diciptakan untuknya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pakaian ini dan keburukan apa yang diciptakan untuknya." 

Semanggi berdaun 4 (empat ) 🍀

 Semanggi berdaun 4 (empat )🍀


Semanggi berdaun 4 (empat) adalah simbol Keberuntungan: Helai keempat melambangkan nasib baik.

Fakta Unik=>Sangat Langka: Kemungkinan menemukan satu daun semanggi berdaun empat di antara semanggi biasa adalah sekitar 1 dari 5.000 daun.

Bukan Jenis Lain: Berbeda dari semanggi air (Marsilea) yang memang memiliki empat lembar daun secara alami, semanggi berdaun empat yang membawa mitos keberuntungan berasal dari tanaman semanggi putih (Trifolium repens).




Diantara semua tiga helai daun muncul satu semanggi berdaun 4.🍀




  • Semanggi (Marsilea), jenis paku air yang sering ditemukan di area lembap.
  • Daun semanggi memiliki bentuk khas seperti payung yang biasanya terdiri dari tiga anak daun.
  • Empat anak daun tergolong langka dan jarang
  • Disebut clover luck karena semanggi berdaun 4 simbol keberuntungan
  • Di Indonesia, tanaman ini populer sebagai kuliner khas, salah satunya pecel semanggi dari Surabaya.
  • semanggi (Marsilea), jenis paku air yang sering ditemukan di area lembap.
  • Daun semanggi memiliki bentuk khas seperti payung yang biasanya terdiri dari tiga helai saja anak daunnya
  • Kemungkinan menemukan satu daun semanggi berdaun empat di antara semanggi biasa adalah sekitar 1 dari 5.000 daun.
  • Daun semanggi berdaun empat adalah bentuk mutasi langka dari tanaman semanggi berdaun tiga yang umum, simbol keberuntungan, dan memiliki makna filosofis tiap helainya.
    Kemungkinan menemukan satu daun semanggi berdaun empat di antara semanggi biasa yang jenis sama berdaun tiga adalah sekitar 1 dari 5.000 daun.


  • Arti dan Makna: Helai pertama melambangkan kepercayaan .Harapan: 
  • Helai kedua melambangkan doa dan asa.Cinta: 
  • Helai ketiga melambangkan kasih sayang.
  • Keberuntungan: Helai keempat melambangkan nasib bai




  • Semanggi daun 4
    A four-leaf clover is a rare, mutated variation of the common three-leaf white clover plant (Trifolium repens) that symbolizes good luck, faith, and hope. Finding one in nature is uncommon, with odds estimated between 1 in 5,000 and 1 in 10,000.
    Science and Rarity
    The Extra Leaf: Botanically, clover parts are leaflets, not leaves. The fourth leaflet comes from a rare recessive genetic trait or local environmental stress.
    Odds: Statistical estimates show that roughly 1 out of every 10,000 clover leaves features this fourth addition.
    Patch Effect: Because the trait is genetic, if you find one four-leaf clover in a patch, the same root system is likely to produce more.
    Meaning and FolkloreTraditional Symbolism: Each leaf stands for a distinct virtue: the first is faith, the second is hope, the third is love, and the fourth represents luck.
    Ancient Lore: Old European folklore says carrying a four-leaf clover lets people spot fairies and wards off bad spirits.

    Sabtu, 25 Juli 2026

    THM Tempat Hiburan Malam

     Ini malam minggu (25/7/2026) saya membaca berita mengenai tewasnya seseorang apkam di pelataran tempat hiburan malam di tangerang. Googling saja beritanya dengan kata kunci : "tewas gegara rebutan antrian sate taichan di pelataran tempat hiburan malam".

    Prihatin dan turut berduka tentunya.

    Saya berpikir tentunya karena saya suka mikir, mengapa tempat hiburan malam justru rawan kekerasan ? Identik dengan kerawanan sosial ?

    Banyak berita seputar kekerasan keributan di tempat hiburan malam. Iya kan ? Googling saja.

    Ya kita semua sama-sama tahu di tempat hiburan malam sudah banyak kejadian orang hilang nyawa, ada yang gegara perkelahian, mungkin mabuk kemudian berkelahi. Ada yang kehilangan nyawa karena sebab overdosis, googling saja semua kata kunci : "tewas akibat overdosis di tempat hiburan malam" . Saya sudah googling dan beritanya berderet. Ada yang entah mengapa di tempat-tempat hiburan malam adalah ajang untuk sok jago, untuk sok kaya, dan sok berkuasa, juga sok cool dan sok tipsy agar keren.

    Tempat hiburan malam ini mungkin untuk orang-orang yang pada hakekatnya tidak happy, jadi ingin happy-happy di thm tempat hiburan malam.

    Tempat hiburan malam ini mungkin untuk orang-orang yang ingin have a good time karena sedikit have a good time dalam hidupnya.

    Ya wajar dong orang ingin senang di tempat hiburan malam mungkin gitu kan ?

    Lha iya senang-senang kan mungkin itu tujuan hidup ya ?

    Daripada susah-susah atau pepatah bersusah susah dahulu malah mati kemudian ? Senang tak kunjung datang mungkin?

    Iya namanya ini juga pikiran saya yang selama 50 tahun hidup saya hanya sekali dua kali datang ke tempat hiburan malam ituoun karena tugas liputan jurnalistik tahun awal tahun 2000an dulu.

    Ingatan saya dulu itu jika mau senang di tempat hiburan malam itu kudu orang yang datang ke thm harus berkantong tebal.

     Lha iyalah berkantong tebal untuk bisa datang ke tempat hiburan malam.

    Berkantong tipis mah dirumah aja ya kan?

    Di thm ya pastinya puskesmas lah pusat kesenangan mas-mas yang berbahagia. Ada para Sirens disitu siap menemani, ada para Mara yang bahaya disitu.

    Sirens seperti kisah Odyssey dan Mara-Bahaya seperti Mara. Siapa Sirens ? siapa Mara ? Dan kenapa Mara berbahaya sehingga diabadikan dalam bahasa marabahaya ? Googling saja.

    Mara dan para Mara adalah bahaya.

    Di THM juga bisa Minum - mabuk atau tipsy lalu sifat primal primata keluar bebas karena ada otak primal dan otak reptil di otak kita akibat evolusi. Jadi semua hawa nafs bisa dibebasin tanpa beban disonansi kognitif 

    THM tempat hiburan malam selalu dibanjiri bahkan uniknya ada istilah 'dui' driving under influence berkendara -> mabuk kemudian kecelakaan bikin orang korban tak berdosa mati. Udah sering ini sih.

    Sepulang dugem thm mabuk mengemudi kemudian tabrak korban, mati atau cacat seumur hidup. Lalu kasusnya menguap begitu saja.

    Begitulah thm yang saya ketahui di dunia ini.





    Bunglon taman (Calotes versicolor)

    Makhluk dalam gambar adalah Bunglon taman (Calotes versicolor), reptil dari keluarga Agamidae.Bunglon ini sering ditemukan di semak-semak atau batang pohon dan aktif pada siang hari.Spesies ini mampu mengubah warnanya untuk beradaptasi dengan lingkungan








     

     
    Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons