Iya jadi ceritanya begini ini mungkin bisa jadi masukan buat kenang2 an buat saya sendiri.
Karena ini weblog pribadi saya tentunya. Maka ya buat apa saya ngarang ya kan.
Kalau pembaca mau bikin weblog sendiri untuk nulis-nulis sendiri kan monggo saja iya kan.
Mau nulis pakai AI boleh.
Mau nulis ala kadarnya dengan banyak typo seperti sy ini ya monggo saja.
Suatu waktu saat Saya waktu masih jadi wartawan lapangan tentu saat itu sy belum usia 50an spt sekarang. Sy saat itu di tahunan 2005 masih usia 30an awal. Dalam sebuah kesempatan saya pernah ngobrol dengan seorang have - old money, udah have old money pula, yang dengan bijak mengatakan " "jika pendapatanmu 10 hiduplah dengan 1". Saya hanya manggut manggut saja saat itu mendengar petuah bijak tersebut.
Dibantah nanti dibilang punya mental kalah punya mental menyerah kan, tidak dibantah ya karena saya bertamu kan jadi masak berbantah dengan tuan rumah.
Gesture nya bijak, duduk nyaman sambil tersenyum bahagia.
Saya tidak ingin merusak suasana ngobrol karena saya sebagai tamu. Bagi saya jika bertamu maka saya pantang mendebat atau mengajak debat frontal tuan rumah.
Hanya saja pepatah motivasi Kalimat ini menggunakan metafora angka ekstrem (1 banding 10 atau menyisakan 90%) untuk menekankan betapa pentingnya berhemat secara radikal di masa muda atau di awal karier, demi mengamankan kenyamanan dan kebebasan mutlak di masa depan.
Sebagai pekerja yang gajian perbulan yang minimum regional, maka tentu saya tidak mendebat bijaknya nasehat itu apalagi dikatakan oleh orang have yang old money punya. Oh alangkah mulia sangat dan bijaknya pendapat yang lengkapnya adalah "Jika pendapatanmu 10 rupiah, hiduplah dengan 1 rupiah. Sembilan bagian lainnya adalah ketahananmu: simpan untuk badai, investasikan untuk kapasitas diri, dan beri ruang pada napas yang tenang agar kamu tidak diperbudak oleh angka hari ini."
Uwoooaoow banget bingits kan ya kedengarannya.
Lha ini lah bikin saya ingin menuliskannya
Nasihat “jika pendapatanmu 10 rupiah, hiduplah dengan 1 rupiah” mengandung nilai positif jika dimaksudkan sebagai ajakan untuk tidak boros. Namun, ia menjadi rancu ketika menyamakan penghematan dengan kecukupan, paradoksal ketika penghematan merusak kesejahteraan, dan sesat secara logis ketika dianggap berlaku bagi setiap orang tanpa pengecualian.
karena gini : itu keluar dari mulut orang have dimana skala perbandingan bisa dibayangkan anrara ferari dan angkot dari skala pendapatan.
Kritik paling tajamnya adalah ini:
Nasihat tersebut mengajarkan cara membatasi pengeluaran, tetapi tidak menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pendapatan seseorang memang cukup untuk hidup layak?
In this economy, man
Ini udah tahun 2026 kan ya dan kemarin tahunan 2025 penuh dengan influencer yang mengatakan "kemiskinan adalah kegoblogan pribadi". Googling saja banyak influencer yang mengatakan : Pernyataan "miskin adalah goblok".
Ya jelas kata2 jumawa nan pongah punya ini merupakan stereotip keliru yang menyederhanakan masalah sosial yang kompleks. Kondisi ekonomi seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh tingkat kecerdasan, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural seperti akses pendidikan, lapangan kerja, sistem sosial, dan jebakan kemiskinan (poverty trap).
Mengapa Anggapan Tersebut Keliru?
Faktor Struktural: Banyak orang bekerja sangat keras dengan jam kerja panjang namun tetap berada dalam garis kemiskinan karena upah rendah atau sistem ekonomi yang tidak merata.
Jebakan Kemiskinan (Poverty Trap): Keterbatasan modal dan akses membuat orang miskin sulit berinvestasi pada kesehatan, pendidikan, atau usaha, sehingga sulit memutus rantai kemiskinan meskipun mereka cerdas.
Keberuntungan dan Hak Istimewa (Privilege): Faktor latar belakang keluarga, jaringan sosial (relasi), serta stabilitas politik dan ekonomi daerah sangat besar peranannya dalam kesuksesan finansial seseorang.
Untungnya ada influencer yang bilang "kemiskinan adalah privilege" udah keluar masuk penjara, sempat keluar tapi karena pas ketepatan ada fenomena penjara mewah, si influencer itu masuk lagi. Ini beda-beda influencer ya.
Dua orang influencer pongah parah itu kan. Yang satu ngomong miskin adalah goblog, yang satu lagi ngomong miskin adalah privilege. Pongah parah. Pongah yang hakiki.
Ada lagi bocil influencer dulu yang viral ngomong soal "perintis" saat itu seorang bocil berusia 9 tahun asal Jakarta yang juga dikenal sebagai pembuat konten YouTube dan pengusaha cilik.
Siapa bocil influencer itu
Pernyataan Viral: Dalam video yang beredar, ia menyatakan lebih memilih hidup sebagai "perintis" daripada "pewaris" karena merasa merintis itu seru dan menantang.
Latar Belakang: Pernyataan tersebut menuai kritik karena ia sebenarnya berasal dari keluarga berada; ayahnya adalah CEO.
Influencer motivator memecut publik ada di mana-mana dan jika dibantah berkelit bahwa yang bantah mereka adalah orang bermental lemah dan kalah.
Tetep pongah parah sih para influencer itu menurut saya.
Itu sama saja saya ngomong ke tokoh dongeng Mbok Rondo Dadapan tentang pentingnya kerja keras dan menabung. Dan ketika Mbok Rondo Dadapan bilang dia miskin secara struktural saya hanya simply bilang :"Mbok Rondo Dadapan miskin karena malas dan bodoh".
Gini, nyatanya :
Banyak Orang Pintar Tidak Kaya: Kecerdasan akademis atau keahlian tinggi di bidang tertentu (seperti guru, peneliti, atau pekerja sosial) tidak selalu berbanding lurus dengan akumulasi kekayaan materi.
Ini pun orang pintar yang tidak kaya inipun diserang habispula oleh influencer yang mengejek masak pinter tapi kok nda bisa kaya ?
nah, pernyataan kalimat "miskin adalah goblog" atau "miskin karena goblog" bukan berasal dari kutipan resmi tokoh akademik, pahlawan, atau ilmuwan ekonomi dunia.
Kalimat kasar dan provokatif ini umumnya muncul dan ramai dari sumber berikut:
Slogan Influencer / Content Creator Finansial: Kalimat "miskin karena bodoh/goblok" sering digunakan oleh influencer bisnis atau konten edukasi keuangan ekstrem—salah satunya gaya penyampaian kreator sejenisnya. Mereka kerap menggunakan bahasa "tamparan realitas" (brutal marketing) untuk memicu algoritma (trigger content), dengan menyamakan kemiskinan materi akibat malas belajar dengan "bodoh" atau "goblok".
Hal ini kata kata tentang misqueen akut ini jelas membuat ada gap berpikir karena ada proses introspeksi bagi para pemirsanya.
ada perasaan bersalah udah punya ijazah SMA dan S1 asli tapi kok ngga kaya-kaya. Tapi yang ga punya ijazah sma lha kok malah....ah ya sudahlah.
Ada juga barusan saja ini di bulan Oktober 2026 ada lagi influencer si bunda siapa gitu juga mengatakan :
"Melihat burung liar makan, berpikir bahwa semua mahluk rejeki nya ditanggung Allah itu benar, tapi burung juga kalau males terbang juga gak bakal dapet makanan... artinya kalau kita hidupnya kurang banyak uang, artinya kudu lebih ikhtiar lagi bekerja seperti burung yang terbang sana sini mencari makanan... kita males, ya rejeki kita seret, akan seret lagi kalo gak pernah bersedekah (dengan uang atau tenaga),"
Ini pun kalimat motivasi sangar akut yang menohok sungguh menohok piramida sosial ini mendapat umpan balik dari netizen semuanya.
Karena permaklumatan publik si influencer ini udah menyentuh core rasio gini. Rasio Gini Nasional (Maret 2026): Gini rasio tercatat sebesar 0,368.
Apakah ini pongah ?
Kalau dia katakan demikian ke publik yang sudah terengah-engah parah dalam kondisi in this economy yang begah dan gerah nan parah bagi para pejuang rupiah, maka perkataan itu bukan cambuk, tapi sebuah frasa pongah karena ibarat dikatakan dari langit ke bumi.
Tapi argumen bantahan yang pro influencer sih pasti ya belain habis dengan sejuta argumen.
Argumen yang pro influencer biasanya balik menyerang para netizen: "ah yang protes-protes itu kan para missqueen punya".
Duh Gusti...
Hidup hemat memang penting. Kerja keras iya keras lah, semua juga udah paham kan.
Namun, hemat dan kerja keras tidak dapat menggantikan atau equal dengan pendapatan yang memadai, upah yang layak, dan sistem ekonomi yang memberi manusia kesempatan untuk hidup bermartabat.
Di sini kita juga tidak bisa memasukkan dimensi sedekah, karena dimensi sedekah ini syir pribadi yang sebaiknya sangat tersembunyi dari publik dan lebih baik amnesia setelah sedekah.
Oke balik lagi ke Kerancuannya: setelah kerja keras dengan penghasilan minimum regional, maka pengeluaran seolah-olah sepenuhnya dapat ditentukan oleh kemauan pribadi, padahal harga dan kebutuhan dasar membatasi pilihan.
Menganggap semua orang memiliki kondisi yang sama.
Orang lajang yang tinggal di rumah sendiri tentu memiliki beban berbeda dengan pekerja yang membayar kontrakan, membiayai anak, merawat orang tua, atau menanggung biaya pengobatan.
Kerancuannya: satu resep pengelolaan uang, resep nasehat influencer keuangan moncer diberlakukan untuk semua orang, padahal kondisi, sejarah, situasi, kebutuhan dan tanggung jawab mereka semua orang berbeda.
Apa paradoksnya?
Ok nah balik lagi kalimat motivasi "Jika pendapatan 10 hiduplah dengan 1"
ini in this economy in this inflation dan kebutuhan minimum dalam analogi benar-benar pendapatan 10 rupiah, hidup dengan 1 rupiah bukanlah penghematan yang realistis. Sebaliknya, membelanjakan 7 rupiah dan menyimpan 3 rupiah mungkin jauh lebih masuk akal. Tapi ini upah minimum regional kan absurd mutlak. Jadi perumpamaan 10 dan 1 di kondisi nyata udah ga cukup man. Bahkan perumpamaan 7 dan 3 di atas juga tidak membumi. Bumi hangus iya.
Masalahnya iya struktural akut. Nominal minimal regional akut.
Paradoksnya adalah:
Seseorang disuruh menghemat demi keamanan finansial.
Dulu waktu saya masih SD di jaman orde baru ada slogan yang lebih sangar lagi dari pemerintah Orba : "ayo kita kencangkan ikat pinggang".
Konteks Sejarah (Awal 1980-an) ucapan "kencangkan ikat pinggang" : Salah satu momen krusial seruan ini diulang-ulang terus secara tegas adalah menjelang pelaksanaan Repelita IV (1984). Saat itu, harga minyak bumi dunia melemah, padahal ekspor migas merupakan penopang utama APBN Indonesia. Pemerintah terpaksa melakukan pengetatan anggaran dan meminta masyarakat ikut berhemat.
Seruan "kencangkan ikat pinggang" (atau kadang disebut "eratkan ikat pinggang") adalah slogan ikonik era Orde Baru yang sering diucapkan oleh para pejabat dengan senyum lebar serta perut lebar pula. Seruan "kencangkan ikat pinggang" ini tentu ditujukan pada rakyat kecil yang memang sudah kissmint punya. Jadi pinggang rakyat yang udah kurus masih suruh kencangkan sabuk pengaman lagi sementara perut pejabat-pejabat melebar penuh gizi.
Mbok...sangar punya ini sudah. Rakyat waktu orba orde baru disuruh kencangkan ikat pinggang. Sementara pejabat makmur punya dan ikat pinggang longgar punya seiring lingkar perut pejabat melar.
Metafora hemat.
Karena gini, jika penghematan dilakukan secara ekstrem, kesehatan dan produktivitasnya bisa menurun.
Penurunan kesehatan atau produktivitas justru dapat mengganggu kemampuannya memperoleh pendapatan.
Dengan kata lain, penghematan yang dimaksudkan untuk melindungi kehidupan bisa merusak kehidupan itu sendiri jika diterapkan tanpa batas rasional.
Menganggap semua orang bisa hidup dengan sepersepuluh pendapatannya misalkan atau hidup dengan sisa gaji 30% setelah cicilan misalkan. Kan absurd kalau dilihat dari sisi upah minimum regional.
Kalimat-kalimat motivasi finansial yang bertebaran dan banyak dikutip influencer untuk memecut mental maayarakat biasanya kebanyakan adalah penyederhanaan berlebihan. Menganggap masalah keuangan hanya soal kebiasaan belanja, bukan juga upah minimum yang memang minim, harga, utang, dan tanggungan.
Ingatan saya mampir dengan anekdote jaman Revolusi Perancis 1790-an ketika sang ratu have dikeluhkan bahwa rakyat Perancis sudah tak punya roti, anekdote itu menyatakan "Qu'ils mangent de la brioche", atau biasa diterjemahkan menjadi "Let them eat cake" yang konon diucapkannya saat mendengar rakyat Prancis kelaparan karena kehabisan roti namun disuruh makan kue. Namun, para sejarawan modern sepakat bahwa anekdot ini adalah mitos dan propaganda palsu untuk menjatuhkan reputasi sang ratu menjelang Revolusi Prancis.
Pokoknya miskin goblog aja menurut influencer.
Ini sungguh kekeliruan proporsi. Menganggap kebutuhan hidup selalu mengikuti persentase pendapatan, padahal kebutuhan dasar tidak selalu turun ketika pendapatan turun.
Menyalahkan individu. Berisiko menyimpulkan bahwa orang yang tidak mampu menabung pasti boros atau tidak disiplin, meskipun pendapatannya memang tidak mencukupi. Orang miskin itu bodoh.
Heii...ingat : ada orang-orang sakral terdahulu yang punya satu baju tapi dia tidak merasa miskin loh.
Kekeliruan paling mendasar adalah mengubah nasihat yang mungkin berguna bagi sebagian orang menjadi hukum ekonomi yang seolah berlaku bagi semua orang.
Namun, bagi pekerja berupah rendah, persoalannya bisa berbeda. Jika sebagian besar pendapatannya sudah habis untuk makanan, kontrakan, transportasi, dan kebutuhan keluarga, penghematan ekstrem tidak otomatis menghasilkan tabungan yang berarti.
Bahkan, apabila nasihat itu digunakan untuk mengatakan bahwa kemiskinan semata-mata akibat gaya hidup boros, nasihat tersebut dapat berubah menjadi alat pembenaran ketimpangan.
Ada perbedaan mendasar antara dua pernyataan berikut:
Nasihat yang sehat: jangan menaikkan gaya hidup lebih cepat daripada kenaikan pendapatan. Kalau ini natural lah , burung liar aja tahu. Kalau masih pinjol krn gaya hidup ya tentu masih pinter burung liar tadi.
Burung liar yang terbang mencari nafkah, burung tidak ngutang kan. Burung burung apa yang ngutang ? Burung aja gajian tapi numpang lewat > baru aja gajian tapi numpang lewat.
Nasihat - nasihat yang bermasalah. Entah masalahnya mungkin di kondisi yang dinasehati kalik ya.
Misal berapa pun pendapatanmu, kamu seharusnya bisa hidup dengan hanya sepersepuluhnya. Omg. Atau aturan finansial 20 30 - 50. Mewah banget aturan untuk orang have ini.
Pernyataan pertama berbicara tentang pengendalian gaya hidup. Pernyataan kedua mengabaikan kenyataan bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan dasar.
Menganggap masalah keuangan hanya soal kebiasaan belanja, bukan juga upah, harga, utang, dan tanggungan.
Ini kompleks dan struktural juga massif ditimpa kondisi krisis kini in this economy. Makanya sy tulis di blog saya ini sebagai penanda kini ini krisis yang kritis.
Apakah dalam krisis ini yang kita dengerin adalah para influencer pongah dengan kalimat-kalimat motivasi usang ?
ini kan kayak komidi putar merry go round ya kan. Dibaca-baca lagi di media2 kita lihat di berita-berita di standar standar tiktok udah surreal banget.
Karena hidup kita kini jika kita lihat salam tigajari ala hunger games saat demo mahasiswa kemarin laksana hidup di Panem-Konoha. Udah panem konoha pula.
Demo kini udah penuh semiotika ada yang kemarin pakai bendera one piece, kini pakai Salam tiga jari (three-finger salute) yang memiliki arti yang berbeda-beda tergantung pada konteks penggunaannya, mulai dari simbol perlawanan terhadap rezim tirani, bentuk solidaritas politik, atau ya karena keren seperti film holywood. Katnis lah.
Rakyat di desa ya mungkin harus nontonin film hollywood bukan hanya bollywood agar paham simbol-simbol demo rakyat di kota.
Untungnya rakyat desa udah pada lihat tiktok semua. Paling tidak literasi tiktok bisa penetrasi ke rakyat. (Mung P)
2:50 PM
mung pujanarko


































