cari kata

Jumat, 14 Agustus 2026

Clutter and Decluttering



Clutter dan decluttering berkaitan dengan kondisi barang dan cara kita mengelolanya.

Clutter = barang-barang yang menumpuk, berlebihan, tidak tertata, atau tidak lagi jelas kegunaannya, sehingga membuat ruang terasa penuh dan sulit digunakan.

Contoh: lemari penuh topi, tas, sepatu, pakaian, atau barang koleksi sampai sulit mencari barang yang dibutuhkan.

Decluttering = proses memilah dan mengurangi barang yang tidak diperlukan, kemudian menata kembali barang yang memang ingin disimpan.

Yang menarik, clutter tidak selalu berarti barangnya banyak. Koleksi yang banyak tetapi tertata, memiliki kategori, dan memang sengaja dikoleksi belum tentu clutter.

Bedanya dengan hoarding

Kolektor:

"Saya menyimpan barang karena saya menghargai, memahami, dan menikmati koleksi tersebut."

Clutter:

"Barang sudah terlalu banyak atau tidak tertata sehingga mengganggu fungsi ruang."

Hoarding oleh Hoarder:

"Sulit sekali melepaskan barang, bahkan ketika barang tersebut sudah tidak berguna atau menimbulkan masalah."

Jadi, misalnya koleksi topi BlackYak, Mammut, tas, sepatu outdoor, kalau Anda mengetahui modelnya, menyusunnya dengan baik, dan menikmati sejarah serta desainnya, itu lebih tepat disebut koleksi, bukan otomatis clutter.

Bahkan decluttering untuk seorang kolektor tidak harus berarti membuang koleksi. Bisa berupa mengelompokkan, mendokumentasikan, memberi label, dan menentukan mana koleksi utama dan mana barang duplikat.

Oke 🙏👍🇮🇩

Jadi gini :

Setelah saya melakukan journalling di weblog saya ini tentang back pack, tentang caps /topi, saya belajar untuk mengkategorisasi barang.

Sata kategorikan 2 (dua) biar simpel buat saya.

1.  Barang yang melekat sehari-hari pada saya .

2. Barang yang tidak melekat sehari-hari pada saya.

Barang yang melekat sehari-hari pada saya :

Berarti barang yang memang saya pakai untuk keperluan hidup sehari-hari dalam keseharian hidup dan pekerjaan saya : baju-celana, sepatu, topi, tumbler, tas dan jaket. Plus asesories dan utilities juga gears yang melekat sehari-hari pada keseharian saya: smartphone, jam tangan, folding knives, pisau lipat,  dompet, payung, laptop, aneka kamera, tablet, segala cable dan charge. Ini esensial buat keseharian saya atau edc => everyday carry.

Barang yang tidak melekat sehari-hari pada saya. 

Nah ini barang-barang yang tidak melekat pada saya tergolong semua barang milik saya yang diluar sphere yang melekat erat pada diri saya. Contoh perkakas pertukangan. Ini barang-barang yang saya butuhkan untuk pekerjaan rumah/ kebun. Kemudian Alat-alat pendukung kerja : printer, tv, buku-buku, majalah, segala jenis atk, utilities dll.

Prinsip saya declutter mulai dari : Barang-barang yang tidak melekat sehari-hari pada saya. Contoh yang saya buang karena rusak : koper-koper yang sudah rusak rodanya, pecah body kopernya. Ini koper-koper yang terbuat dari bahan plastik ini saya buang semua karena sudah pecah tidak mungkin dipakai lagi. Beli baru lebih simpel daripada perbaiki barang plastik seperti koper travel. 

Iya Alhamdulillah kedua anak saya sudah mentas semua sudah kerja dan memiliki domisili di luar rumah karena sudah berumah tangga sendiri dan juga yang bungsu sudah kerja sendiri dengan tempat tinggal sendiri.

Karena Melakukan declutter bagi rumah tangga dengan anak, jauh lebih  susah lagi daripada sekedar lihat tayangan decluttering dengan prinsip Marie Kondo misalnya.

Prinsip KonMari dari Marie Kondo

Prinsip decluttering atau berbenah ala Marie Kondo dikenal sebagai Metode KonMari. Inti dari metode ini adalah memilih untuk menyimpan barang-barang yang "spark joy" (membangkitkan kebahagiaan/kegembiraan) dan menyingkirkan sisanya dengan penuh rasa terima kasih.

Anda dapat mempelajari lebih mendalam mengenai konsep dasar merapikan rumah dan hidup tenang ala Marie Kondo melalui buku populernya yang tersedia di The Life-Changing Magic of Tidying Up di online shop.

Prinsip Utama Metode KonMari

Komitmen Sekali Selesai: Lakukan proses berbenah secara tuntas dalam satu waktu, bukan dicicil sedikit-sedikit atau ruangan demi ruangan, agar hasilnya permanen.

Bayangkan Gaya Hidup Ideal: Tentukan dulu tujuan dan seperti apa bentuk ruangan atau suasana rumah impian yang Anda inginkan sebelum mulai memilah.

Pilih Berdasarkan Kategori, Bukan Lokasi: Kumpulkan semua barang sejenis dari seluruh penjuru rumah ke satu tempat, jangan merapikan berdasarkan ruangan.

Uji dengan Pertanyaan "Spark Joy": Pegang setiap barang di tangan Anda dan tanyakan pada diri sendiri apakah benda tersebut benar-benar membawa kebahagiaan atau kegembiraan.

Ucapkan Terima Kasih: Sebelum membuang atau mendonasikan barang yang sudah tidak dipakai, ucapkan terima kasih atas fungsi dan jasa yang telah diberikannya pada Anda.

Urutan Kategori Berbenah

Marie Kondo menyarankan urutan kategori yang tepat saat melakukan decluttering agar tingkat kesulitan emosionalnya naik secara bertahap: 

Pakaian: Kategori paling mudah untuk melatih kepekaan rasa.

Buku: Buku yang belum dibaca atau tidak dibaca ulang sebaiknya dilepaskan.

Kertas: Dokumen, catatan, atau brosur yang tidak penting.

Komono (Barang Serbaguna): Elektronik, kosmetik, perkakas, hingga barang dapur.

Barang Sentimental: Foto lama, kenang-kenangan, atau hadiah dari orang terdekat (kategori paling sulit).

Decluttering bagi rumah tangga dengan anak, jauh lebih susah lagi.

Decluttering rumah tangga dengan anak memang jauh lebih sulit dibanding rumah tangga tanpa anak. Bukan hanya karena jumlah barang lebih banyak, tetapi karena banyak barang mempunyai nilai emosional dan fungsi yang berubah-ubah.

Misalnya:

Mainan yang sekarang tidak dipakai, tetapi mungkin akan dipakai lagi.

Buku dan perlengkapan sekolah dari tahun-tahun sebelumnya.

Pakaian yang sudah kekecilan tetapi masih bagus.

Barang pemberian keluarga yang sayang dibuang.

Peralatan hobi anak.

Barang yang sebenarnya sudah tidak diperlukan, tetapi anak merasa masih membutuhkannya.

Kuncinya: jangan mulai dengan "apa yang harus dibuang?"

Lebih mudah mulai dengan:

"Apa yang benar-benar ingin kita pertahankan?"

Kemudian buat 4 kelompok:

- Tetap disimpan — sering dipakai atau memang penting.

- Disimpan sebagai kenangan — jumlahnya dibatasi.

- Diberikan/didonasikan — masih bagus tetapi tidak digunakan.

- Dibuang/didaur ulang — rusak atau sudah tidak layak.

Untuk keluarga dengan anak, saya justru menyarankan decluttering bertahap, misalnya satu laci atau satu rak setiap kali. Jangan langsung satu kamar penuh.

Dan ada satu prinsip penting:

Decluttering bukan membuat rumah kosong, tetapi membuat rumah lebih mudah dihuni.

Apalagi kalau seseorang memang kolektor—seperti koleksi topi, tas, sepatu, batu, dan sebagainya—tujuannya bukan menghilangkan koleksi, tetapi memisahkan koleksi yang bernilai dari barang yang sekadar menumpuk. 

Organisasi kategori barang

Kalau Anda punya banyak barang koleksi, mengorganisasi penyimpanan sebenarnya lebih tepat daripada sekadar decluttering. Tujuannya bukan mengurangi koleksi, tetapi membuat koleksi teratur, mudah dicari, terlindungi, dan tetap menyenangkan untuk dilihat.

Untuk koleksi seperti topi, tas, sepatu, batu/akik, saya sarankan sistem seperti ini:

1. Kelompokkan berdasarkan jenis

Contohnya:

🧢 Topi → berdasarkan merek atau jenis

🎒 Tas → berdasarkan merek/ukuran/fungsi

👟 Sepatu → berdasarkan merek/tahun/model

💎 Batu hobby → berdasarkan jenis, warna, atau asal

2. Buat kategori "koleksi utama"

Tidak semua barang harus diperlakukan sama.

A — Koleksi inti: paling bernilai secara sejarah, desain, atau sentimental.

B — Koleksi pendukung: menarik tetapi bukan yang utama.

C — Duplikat/kurang penting: bisa disimpan terpisah atau dipertimbangkan untuk dilepas.

3. Beri kode dan dokumentasi

Misalnya:

BYK-001 → BlackYak cap

MAM-001 → Mammut cap

EIG-BAG-001 → Eiger backpack

Kemudian catat:

- Merek

- Model

- Perkiraan tahun

- Negara produksi

- Kondisi

- Harga beli jika diketahui

- Dari mana diperoleh

- Foto

Ini membuat koleksi berubah dari sekadar tumpukan barang menjadi arsip koleksi.

4. Gunakan tempat penyimpanan yang sesuai

Untuk topi, misalnya, jangan ditumpuk terlalu berat karena bentuk crown bisa berubah. Tas sebaiknya tidak dijejali sampai bentuknya berubah. Sepatu perlu ruang agar tidak lembap.

Untuk barang yang bernilai sentimental atau vintage, kelembapan, panas, debu, dan sinar matahari langsung justru perlu menjadi perhatian utama.

5. Prinsip penting bagi kolektor

Saya kira konsep yang cocok adalah:

> "Kurasi, bukan sekadar membuang."

Seorang kolektor tidak harus memiliki rumah yang minimalis. Rumah boleh berisi banyak benda, asalkan setiap benda mempunyai tempat dan alasan keberadaannya.

Dengan begitu, koleksi Anda tetap banyak, tetapi tidak berubah menjadi clutter apalagi hoarder yang mana 'hoarding' atau 'nyusuh' dalam bahasa Jawa adalah sebuah mental disorder problem.

(*)



Sabtu, 08 Agustus 2026

Selfie Plain, No Filter




 


- Mengapa lelaki setua saya kakek 1 cucu ini (umur 52 tahun) masih aja selfie plain tanpa filter kayak anak jaman now yang suka pakai filter ?
 
+ Bisa jadi karena memang lebih menghargai tampilan yang natural dan autentik. Dari dua foto yang tanpa filter pun wajah tetap terlihat jelas dan memiliki karakter, jadi mungkin saya merasa tidak perlu “mengubah” wajah lewat aplikasi.
Beberapa kemungkinan alasannya:
Suka keaslian — foto tanpa filter terasa lebih mewakili diri  yang sebenarnya.
Percaya diri dengan penampilan alami — tidak merasa harus menghaluskan kulit atau mengubah bentuk wajah.
Tidak suka hasil yang terlalu artifisial — filter kadang membuat wajah terlihat berbeda dari kondisi nyata.
Ingin menyimpan kenangan apa adanya — foto menjadi dokumentasi diri pada waktu tertentu, bukan versi yang sudah banyak diedit.
Gaya yang lebih dewasa dan sederhana — terutama dengan penampilana yang berkacamata dan berpakaian rapi, foto natural justru cocok dengan kesan tersebut.
Dan menurut saya, tidak memakai filter bukan berarti tidak peduli penampilan. Justru bisa berarti nyaman menunjukkan diri apa adanya. 🙂






 

Jumat, 07 Agustus 2026

Jayabaya Magazine

 




Edisi VI Link.: https://heyzine.com/flip-book/05ca60d24d.html


Edisi V



Link : https://heyzine.com/flip-book/984c16be18.html


Edisi II Maret 2026


Link : https://bit.ly/BuletinJayabayaMaret2026


Edisi 3



Link : https://heyzine.com/flip-book/e1d88e4e5d.html

Edisi 1 Januari 2026


Edisi Pertama Januari 2026


Kamis, 06 Agustus 2026

Dosen dan Mahasiswa FISIP Universitas Jayabaya Hadiri The Iconomics 7th Indonesia Public Relations Summit 2026

 

Foto : Delegasi FISIP Universitas Jayabaya bersama para peserta berkesempatan berfoto bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, (klik foto).

Dosen dan Mahasiswa FISIP Universitas Jayabaya Hadiri The Iconomics 7th Indonesia Public Relations Summit 2026

Jakarta, MTV.CO.ID– Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jayabaya, Dr. Ngudi Astuti, M.Si dan Dra. Ida Zubaedah, M.A., bersama 14 mahasiswa Program Studi Administrasi Negara dan Program Studi Hubungan Internasional, menghadiri The Iconomics 7th Indonesia Public Relations Summit 2026 yang mengusung tema "Komunikasi Empati: Narasi dan Strategi". Kegiatan berlangsung pada Kamis (6/8/2026) mulai pukul 09.00 WIB di Auditorium Dhanapala, Kementerian Keuangan RI, Jalan Senen Raya No. 1, Sawah Besar, Jakarta Pusat.



Keikutsertaan delegasi FISIP Universitas Jayabaya dalam forum nasional tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas wawasan akademik mahasiswa mengenai perkembangan dunia kehumasan, komunikasi publik, serta strategi membangun reputasi organisasi melalui pendekatan komunikasi yang empatik.

Acara yang diselenggarakan oleh The Iconomics Media ini menghadirkan berbagai praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan di bidang hubungan masyarakat untuk berdiskusi mengenai pentingnya narasi dan strategi komunikasi yang mampu membangun kepercayaan publik di tengah dinamika informasi yang semakin kompleks.

Sebelumnya, panitia menginformasikan adanya perubahan lokasi penyelenggaraan dari Kementerian Pariwisata RI ke Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan RI. Perubahan tersebut dilakukan untuk memberikan kapasitas yang lebih besar, fasilitas yang lebih memadai, serta kenyamanan bagi seluruh peserta yang hadir.

Selain mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, kontingen FISIP Universitas Jayabaya juga berkesempatan berfoto bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, yang menjadi salah satu momen berharga dalam keikutsertaan mereka pada forum nasional tersebut.

Melalui partisipasi dalam The Iconomics 7th Indonesia Public Relations Summit 2026, diharapkan mahasiswa memperoleh pengalaman, wawasan, dan jejaring profesional yang dapat memperkuat kompetensi mereka di bidang administrasi publik, hubungan internasional, dan komunikasi strategis, sekaligus mendorong lahirnya insan akademik yang siap menghadapi tantangan dunia profesional di era komunikasi modern. (Ida Z/ Red)

Selasa, 04 Agustus 2026

Bawaslu Campus Connect Hadir di Universitas Jayabaya, Dorong Generasi Digital Turut Wujudkan Demokrasi Transparan


Bawaslu Campus Connect Hadir di Universitas Jayabaya, Dorong Generasi Digital Turut Wujudkan Demokrasi Transparan


Video part 1
Video part 2


Jakarta, IMC -  Universitas Jayabaya menjadi tuan rumah kegiatan Bawaslu Campus Connect yang mengusung tema "Generasi Digital, Demokrasi Transparan". 

Event ini digelar di ruang Auditorium Pascasarjana Universitas Jayabaya lantai 5 Gedung Universitas Jayabaya Hari Selasa, 4 Agustus 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) ini bertujuan meningkatkan literasi demokrasi serta mendorong partisipasi aktif mahasiswa dalam mengawal penyelenggaraan pemilu yang jujur, adil, dan berintegritas. 


Dekan FISIP Jayabaya Drs. Denny Ramdhani, M.Si dalam sambutannya menyampaikan "Peserta pemilih itu adalah generasi Gen Z dan Generasi Millennial.  Nah tugas sekarang dari Bawaslu itu bagaimana menggerakkan para generasi-generasi ini untuk bisa lebih aktif, berpartisipasi, tidak menjadi orang apatis, ataupun menjadi golongan putih, atau tidak memilih karena alasan administrasi, ataupun alasan politik. Jadi tugas dari Bawasu adalah menjadi wasit," papar Dekan FISIP Drs. Denny Ramdhani, M.Si.

Rektor Universitas Jayabaya Prof. Dr. H. Fauzie Yusuf Hasibuan, S.H., M.Hum.


Selanjutnya dalam sambutannya, Rektor Universitas Jayabaya Prof. Dr. H. Fauzie Yusuf Hasibuan, S.H., M.Hum., menyampaikan pentingnya penguatan Bawaslu sebagai lembaga,  "Diharapkan Bawaslu ini sebagai sebuah penguatan lembaga di dalam sistem ketatanegaraan kita, karena dia harus bisa kuat, bisa independen, dalam menghadapi berbagai macam tantangan di dalam rangka menghasilkan sebuah pemilu yang bermutu, "tutur Prof. Dr. H. Fauzie Yusuf Hasibuan, S.H., M.Hum.

Dr. H. Puadi, S.Pd., M.M.


Kemudian sambutan dari Dr. H. Puadi, S.Pd., M.M., selaku Koordinator Divisi Pelanggaran dan Data Informasi Bawaslu RI yang menyampaikan pentingnya partisipasi generasi muda dalam pemilu. 

"Tema yang kita angkat pada hari ini, generasi digital, demokrasi transparan, merupakan tema yang sangat relevan sekali dengan perkembangan teknologi,  perkembangan demokrasi yang berkembang pada saat ini.  Jadi kita hidup ini di era teknologi digital, bagaimana seluruh aspek itu mengubah sebuah kehidupan.  Termasuk bagaimana cara memperoleh informasi, bagaimana cara bisa berinteraksi, menyampaikan pendapat, menyampaikan aspirasi, hingga berpartisipasi dalam proses demokrasi.  Nah ini perkembangan ini menghadirkan berbagai apa yang dimaksud dengan peluang dan apa yang dimaksud dengan tantangan. Jadi ternyata peluangnya juga luar biasa, tantangannya juga luar biasa.
Kalau kita bisa lihat, di satu sisi teknologi ini memungkinkan mengakses sebuah informasi.  Nah, kemudian juga semakin cepat tentunya, bagaimana kita bisa memperluas ruang partisipasi publik, peningkatan transparansi pemilu dan sebagainya. Tapi juga di sisi lain, ini banyak berbagai ancaman dan tantangannya, " papar Dr. H. Puadi, S.Pd., M.M., dari Bawaslu.

Panel Diskusi



Sesi berikutnya adalah pemaparan Materi-materi dari para Narasumber

Dr. Ngudi Astuti, M.Si.sedang memberikan pemaparan.

Paparan pertama bertema : "Sinergi Kampus dan Bawaslu dalam  Penguatan Demokrasi Partisipatif" oleh Dr. Ngudi Astuti, M.Si., selaku Wakil Dekan FISIP Jayabaya, yang pada intinya menyampaikan pentingnya integritas, akuntabilitas, partisipasi, transparansi dan kesetaraan sebagai fondasi demokrasi yang berkualitas.


Heroik Pratama, dari Perludem sedang memberikan pemaparannya.


- Paparan berikutnya adalah "Etika Digital dalam Kontestasi Politik: Menjaga Ruang Siber dari Ujaran Kebencian" oleh Heroik Pratama, dari Perludem yang intinya menyampaikan mengenai post truth society dan problem etik AI dalam kampanye.

- Kemudian paparan selanjutnya adalah : "Komitmen penyelenggara pemilu dalam  keterbukaan informasi publik melalui  akses pusdatin Bawaslu RI" oleh Dr. Heri Herdiawanto, M.Si. yang pada intinya menyampsikan tantangan dalam era Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan.



- Selanjutnya adalah tema materi "Menelaah Integritas Pemilu di Era Siber:  Tantangan, Ancaman, dan Mitigasi" oleh Brahma Aryana S.H., dari KIPP -  Komite Independen Pemantau Pemilu, yang menyampaikan pergeseran menuju dunia maya yaitu disrupsi siber, batas demokrasi yang tak lagi terlihat. Terdapat mutasi ancaman yang nyata di era siber ini.

Saksikan paparan-paparan penting dalam acara ini di youtube :



- Dan paparan "Pusat Data dan Informasi Bawaslu:  Membuka Akses, Menjamin Transparansi" oleh Dr. Endang Sulastri.

- Panel Diskusi ini dimoderatori oleh : Dr. Ambarwati, M.Si selaku Dosen Universitas Jayabaya.

Acara ini dihadiri pula oleh Dr. Bachtiar dan Moh. Sitoh Anang, selaku Tenaga Ahli Bawaslu RI, kemudian Henry Dwi Prastowo, selaku Kepala Pusat Data dan Informasi Bawaslu RI, serta Munandar Nugraha, selaku Ketua Bawaslu Provinsi DKI Jakarta. Acara ini juga turut dihadiri oleh para Wakil Rektor Jayabaya yaitu Dr. H. Syahid Suhandi Aziz, M.M., dan Dr. Hendra Dinata, S.H, M.H.

Melalui program ini, Bawaslu mengajak kalangan akademisi, khususnya mahasiswa, untuk menjadi bagian dari pengawasan partisipatif di era digital. Dengan semangat "Ayo Awasi Bersama, Sukseskan Pemilu yang Berintegritas!", peserta diajak memahami pentingnya peran masyarakat dalam mengawasi setiap tahapan pemilu, sekaligus menangkal penyebaran hoaks, disinformasi, dan pelanggaran yang dapat mengganggu kualitas demokrasi.

Kegiatan tersebut menghadirkan materi mengenai literasi digital, pengawasan pemilu, partisipasi masyarakat, serta penguatan nilai-nilai demokrasi. 

Mahasiswa diberikan pemahaman bahwa generasi muda memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung proses demokrasi yang transparan dan akuntabel.

Selain menjadi ajang edukasi, Bawaslu Campus Connect di Universitas Jayabaya bertema "Generasi Digital, Demokrasi Transparan, Ayo Awasi Bersama, Sukseskan pemilu yang berintegritas" ini  juga menjadi wadah dialog antara penyelenggara pemilu dengan sivitas akademika. Melalui diskusi interaktif, peserta dapat menyampaikan pandangan, gagasan, maupun kritik konstruktif mengenai pelaksanaan pengawasan pemilu di Indonesia.




Mung Pujanarko Dosen FIKOM Jayabaya turut hadir dalam acara ini


Penyelenggaraan kegiatan ini di Universitas Jayabaya diharapkan semakin memperkuat sinergi antara Bawaslu dan perguruan tinggi dalam membangun budaya demokrasi yang sehat. Kolaborasi tersebut menjadi langkah penting untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya melek politik dan digital, tetapi juga memiliki komitmen tinggi dalam menjaga integritas serta kualitas demokrasi Indonesia. 


Hadir pula dalam avara ini dari kiri ke kanan : Vera, S.T (Fasilkom Jayabaya) , Dr. Lia Marthalia, MM (Fasilkom Jayabaya), Ines Sheraton, S.M (LMH Jayabaya), Mung Pujanarko, M.I.Kom (FIKOM) Jayabaya. (*)

Senin, 03 Agustus 2026

Gunung ⛰️

 Gunung 🏔⛰️🌋🗻

Gunung tidak pernah ingin dipuji.

Atau kebalikannya Gunung juga tidak mau diremehkan. 

Gunung tahu manusia bersedia memanage Bumi Alloh ini.

Ketika Tuhan YME berfirman :

"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh." QS Al-Ahzab · Ayat 72

Gunung tahu Alloh yang Maha Rahman dan Maha Rahiim _ Maha Pengasih Maha Penyayang ingin agar memanage Bumi Alloh alam Alloh dengan penuh rasa kasih sayang terhadap kehidupan.

Lha Bumi suka goyang dan selalu aktif, dan Gunung juga suka muntahkan lava& lahar, Langit juga suka petir. Kasih sayang bagi mereka mungkin sulit karena sudah pasti makan korban jiwa makhluk hidup lainnya. Nah manusia Adam-Hawa sanggup manage bumi_alam dengan kasih sayang. Meskipun & Masihpun berusaha dan belajar agar tidak bodoh kasih sayang, belajar terus kita semua manusia sampai kiamat.

Imi contoh Sikap kasih sayang dari manusia ke makhluk lain di bumi ini. Ini adalah monumen perunggu “Unity” di Almaty, Kazakhstan.
Patung ini menggambarkan sekelompok orang yang membentuk rantai manusia untuk menyelamatkan seekor anjing dari tepi waduk Sairan. Peristiwa aslinya terjadi pada 2016, ketika beberapa orang secara spontan saling berpegangan untuk menjangkau anjing yang terjebak.
Yang menarik, patung ini bukan sekadar monumen. Pesan utamanya adalah:
satu orang mungkin tidak cukup kuat, tetapi ketika orang-orang saling membantu, mereka dapat melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan sendirian.
Patung karya Erbosyn Meldibekov ini diresmikan pada Maret 2026, sekitar sepuluh tahun setelah kejadian tersebut. Komposisinya dibuat sangat dinamis, mengikuti kemiringan tepian waduk sehingga seolah-olah kita sedang melihat peristiwa penyelamatan itu secara langsung.
Bahkan ada unsur interaktif: tangan figur paling atas sengaja dijulurkan ke arah orang yang lewat, sehingga pengunjung dapat memegangnya dan secara simbolis "menjadi bagian dari rantai penyelamatan." 
Menurut saya, ini salah satu contoh menarik bagaimana kejadian sehari-hari diabadikan karena masih adanya rasih kasih sayang di bumi ini  yang memiliki pesan sosial universal: kasih-sayang, solidaritas, empati, dan saling menolong. Ini yang menjadikan kita manusia selalu ingat bahwa kita telah ditiupkan ruh, bukan hanya punya jiwa nyawa, tapi punya ruhani.**


Filosofi Jawa Ojo Gunggungan Nang Gunung

Kalau saya pikir lagi Gunung itu semua Gunung itu sakral -suci.

Gunung jelas tidak suka orang naik Gunung hanya untuk (orang itu) hanya ingin dipuji, hanya ingin sekali dapat pujian, atau hanya untuk gagah-gagahan semata, dan untuk jumawa dan untuk cari validasi semata.

Jika rasa ingin dipuji ini ada di dada ketika di Gunung maka cepat hilangkan rasa itu, atau resiko hilang diri dan kehilangan diri.

Paling fatal bisa-bisa gugur di gunung jika semata hanya haus validasi ingin dipuji semata. 

Sudah banyak contohnya semoga kita ( saya) terutama bisa ambil hikmahnya .Ojo Gunggungan Nang Gunung.

Sudah banyak peristiwa tragedi di Gunung yang berawal dari rasa ingin dipuji. Hal ini berlaku secara global bumi. Berlaku ini disemua Gunung di dunia ini. 

contoh contoh yang saya masih ingat

Ada pendaki berbikini => gugur, googling saja ; bikini climber. Untuk apa berpose pakai bikini di gunung? Ya untuk validasi lah tentunya.

Ada pendaki pemula malah balapan lari di gunung karena ingin iseng dan dipuji => hilang.

Ada pelari trail gunung sengaja ingin cari rute baru untuk mendahului secara mengejutkan agar teman-temannya kaget dan memuji => hilang dan gugur.

Ada pelari gunung sudah berumur tapi lupa sadar usia dipaksakan mungkin ya kalau di medsos posting kan bisa title : sudah tua tapi masih bisa siksa raga sambil pegang medali => gugur.

Ada pendaki nenek2 maksa naik Gunung Pyramid Bondowoso padahal sudah ditutup jalurnya, akhirnya ? Googling saja. Ini nenek2 apa ingin dokumentasi medsos nan epic lan eksis di G. Piramid Bondowoso ?

Berduka cita kita semua ya jelas.

Di Gunung- Gunung lain, Ada juga pendaki yang justru ingin berpose menantang epic dekat kawah ada juga ingin berpose estetik dekat latar belakang letusan kepulan asap pyrlolastic  yang epic, semua mungkin demi postingan yang epic dan estetik di medsos = > gugur/ luka.

Senua ini kita turut berduka cita tentunya.

Tragedi-tragedi ini menjadi pengingat (bagi saya) bahwa meskipun gunung-gunung populer bagi pendaki maupun pelari trail, kawasan Gunung-gunung rata-rata memiliki risiko tinggi. Sikap mental ingin mendaki dengan luruskan niat ingin mendaki bukan untuk dipuji. 

Naik gunung dalam Islam itu mubah. Jika niat mendaki hendaknya ditujukan untuk ibadah, merenungkan keagungan ciptaan Allah SWT, serta menjaga dan melatih kesehatan dan ketahanan fisik dan mental. Jangan maksain jika kondisi tidak fit. Jangan maksain ketika kondisi cuaca tidak kondusif. Jangan maksain ketika sudah ada larangan dan jalur pendakian ditutup.

 Naik gunung bukan sekadar rekreasi, melainkan sarana tadabur alam guna mempertebal iman dan rasa syukur.

Berikut adalah panduan menata niat, doa, serta adab penting saat mendaki gunung:

Niat & Adab Utama Menurut Islam

Luruskan Niat: Hindari mendaki demi kesombongan, pamer (riya), atau sekadar menaklukkan puncak demi validasi haus pujian. Bisa-bisa saling berkelahi di puncak gunung karena rebutan spot foto. Googling saja : berkelahi di puncak gunung gegara rebutan spot foto estetik.

Izin Orang Tua: Pastikan mengantongi restu keluarga sebelum memulai perjalanan safar. Jangan ijin kemana mendakinya kemana. Sebaiknya jangan.

Jaga Sholat: Tetap tunaikan sholat lima waktu di gunung dengan memanfaatkan kemudahan jamak dan qasar jika memenuhi syarat safar.

Jaga Perilaku: Dilarang merusak alam, membuang sampah sembarangan, berkata kasar emosi pada kawan, atau bertindak tidak sopan. Jangan gunggungan sok-sokan berkata sombong.

Zikir & Doa Perjalanan GunungSaat mendaki, Rasulullah ﷺ dan para sahabat mencontohkan zikir berdasarkan medan perjalanan: Saat Tanjakan: Membaca takbir (Allahu Akbar) ketika melewati jalur menanjak. Saat Turunan: Membaca tasbih (Subhanallah) ketika melewati jalur menurun.

Doa Memohon Perlindungan di Tempat Baru (Pos/Tenda):أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ A’udzu bi kalimatillahit tammati min syarri ma khalaq. Artinya: "Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya."

Persiapan Fisik & Logistik Wajib

Latihan Fisik: Lakukan olahraga kardio seperti jogging atau bersepeda minimal 1–2 minggu sebelum mendaki untuk melatih jantung dan otot.

Perlengkapan Keamanan: Bawa jaket waterproof, pakaian hangat, tenda standar pendakian, sleeping bag, matras, dan senter/headlamp.

Kakau tek tok ya harus berpengalaman dan bertahap sampai bisa mahir tektok. Jangan sampai nyusahin orang banyak.

Logistik Cukup: Hitung kebutuhan air bersih dan makanan kalori tinggi sesuai dengan durasi pendakian.

Kotak P3K: Siapkan obat-obatan pribadi, obat diare, obat flu, pembalut luka, dan oksigen portabel jika diperlukan.

Jangan sok-sokan di gunung. Sok-sokan di gunung bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Persiapan yang matang, taat aturan ijin pengelola berwenang, pemberitahuan rute kepada keluarga atau pengelola, membawa perlengkapan keselamatan, serta sedapat mungkin tidak beraktivitas sendirian merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko saat beraktivitas di alam terbuka.

Ojo Gunggungan Nang Gunung. 

Gunung itu malah bikin humble bukan bikin jumawa. 

(Sebuah pesan untuk diri sendiri di blog pribadi sendiri)


Foto kenangan : Saya dan kawan2 FISIP Unsrat angkatan 1992, mendaki Gunung Manado Tua tahun di 1992.

Guru Besar Teknik Kimia Universitas Jayabaya Prof. Dr. Flora Elvistia Firdaus, M.Si., bawakan Hasil Riset di Kongres Polimer Dunia IUPAC ke-51, Konvensi Internasional IUPAC MACRO 2026 di Malaysia

Guru Besar Teknik Kimia Universitas Jayabaya Prof. Dr. Flora Elvistia Firdaus, M.Si, bawakan Hasil Riset di Kongres Polimer Dunia IUPAC ke-51, Konvensi Internasional IUPAC MACRO 2026 di Malaysia

Kuching, Malaysia, IMC  – Guru Besar Teknik Kimia Universitas Jayabaya, Prof. Dr. Flora Elvistia Firdaus, M.Si, menghadiri IUPAC MACRO 2026 (51st IUPAC World Polymer Congress) yang berlangsung pada 28–31 Juli 2026 di Borneo Convention Centre Kuching (BCCK), Sarawak, Malaysia. Konvensi ilmiah bergengsi ini mengangkat tema “New Polymers and Innovative Materials for a Sustainable Future.” 

 International Union of Pure and Applied Chemistry (Persatuan Internasional Kimia Murni dan Terapan) - IUPAC, sebuah organisasi dunia yang berdiri sejak tahun 1919 untuk mengatur standar resmi, nama senyawa, dan istilah dalam ilmu kimia.

Guru Besar Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Jayabaya, Prof. Dr. Flora Elvistia Firdaus, M.Si, tampil membawakan hasil riset mandiri : "Structure- performance relationships of chitosan-baglog-derivedmushroom biochar bio-composites for ion binding and microplastic retention in saline systems".


Keikutsertaan Prof. Dr. Flora Elvistia Firdaus, M.Si., sebagai pemateri di ajang ini dari Indonesia, menjadi bagian dari komitmen Universitas Jayabaya dalam memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus mengikuti perkembangan terbaru di bidang teknik kimia, ilmu polimer, dan material inovatif yang berorientasi pada keberlanjutan.

IUPAC MACRO merupakan salah satu forum ilmiah terbesar di dunia di bidang polimer yang mempertemukan para ilmuwan, akademisi, peneliti, serta praktisi industri dari berbagai negara. Dalam forum ini, para peserta berbagi hasil riset terkini, berdiskusi mengenai inovasi teknologi material, serta membangun kolaborasi internasional untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan.

Partisipasi Prof. Dr. Flora Elvistia Firdaus, M.Si,  dari Indonesia diharapkan dapat membuka peluang kerja sama riset dan publikasi internasional, sekaligus memperkaya pengembangan pendidikan dan penelitian di Program Studi Teknik Kimia Universitas Jayabaya. Berbagai pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari konvensi ini juga diharapkan dapat diimplementasikan dalam kegiatan akademik, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Keikutsertaan Guru Besar FTI Universitas Jayabaya dalam ajang internasional tersebut mencerminkan upaya universitas untuk terus meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi melalui kolaborasi global, inovasi ilmiah, dan pengembangan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat internasional. (Syahid Suhandi Aziz/ Red)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons