Dialetika Materialisme. Istilah keren ini sebenarnya bukan suatu yang hebat atau asing, juga bukan ajaran kaum kafir, bahkan sejatinya bukan ajaran kaum komunis pula. Melainkan suatu pemikiran mengenai kejadian sehari hari, yang menyangkut dalil paling mendasar dari kejadian-kejadian alam.
Alam benda – dari sini lahir istilah materialisme, yang artinya adalah alam benda. Oleh karena itu sangat erat hubungannya dengan Ilmu Alam yakni : Fisika, Kimia, Matematika, dan Biologi.
Malahan kebanyakan Hukum-hukum Existensi Benda ini sudah ditemukan ribuan tahun yang lalu oleh Kebudayaan Kuno yang yang berkembang di anak Benua India. Pada 7000 tahun yang lalu berkembang pula di wilayah subur lembah sungai Huang Ho dan Yang Tze. Kemudian juga dimilki oleh para pemikir awal di lembah Euphrat dan Tigris – Mesopotamia dan kemudian dihimpun kembali oleh Pemikir-pemikir Yunani pada jaman Aristoteles. Kemudian baru di renungkan oleh Para Pemikir Eropa pada zaman Reinassance hingga era Revolusi Industri.
Salah satu Aksioma Dialektika Materialisme yang ditemukan oleh para Pemikir India ribuan tahun yang lalu pada zaman kemasan Hinduisme adalah
• Hukum Sebab dan Akibat - Berkembang menjadi Hukum Karmapala yang universal. Zaman sekarang siapa yang meragukan bahwa sebab lebih dulu dari akibat, jadi semua kejadian selalu ada sebabnya.
• Yang ditemukan oleh pemikir dari Cina kuno adalah bahwa segala sesuatu di Alam ini pasti berpasangan dan tak terpisahkan yaitu dilambangkan dengan ‘Im’ dan ‘Yang’. Pendalaman mengenai aksioma ini telah banyak sekali memberi manfaat kepada para Pemikir untuk menelusuri kebenaran.
• Kebudayaan Hindu yang sudah ribuan tahun telah mengenal roda perubahan, bahwa ada yang baru pasti berasal dari yang ditinggalkan, ini aksioma ketiga, dari sini para ahli hitung Alzjeber (Al-Jabar) dari Mesopotamia atau Jazirah Arab mungkin mememukan bahwa negative dikalikan dengan negative adalah positive, positive dikalikan positive tetap positive.
• Aksioma ke empat bahwa penumpukan, himpunan, penjumlahan yang berarti secara kuantitative terus menerus bertambah akhirnya akan secara mendadak merubah sifat obyek secara kualitative. Seperti tumpukan batu pasir dan tanah yang terus menerus ditambah satu saat namanya gunung dengan sifat dan penampilan yang sama sekali baru, perubahan kuantitative akan diikuti oleh perubahan kualitative dan ini merupakan lompatan anak tangga. Ahli Matematika menggunakan gejala ini untuk mendasari perhitungan Integral dan Diferensial. Misalnya satu kurva yang lengkung menurut para Pemikir Matematika adalah anak tangga yang jumlahnya tak terhingga menjadi seperti kurva melengkung. Orang Jawa biasa mengungkapkan kejadian mengenai Pencari ikan dan bilah penusuk ingsang untuk merangkai tangkapannya supaya mudah dibawa pasti satu saat penuh, dia pasti harus jadi tukang masak atau penjual ikan, bukan penangkap ikan lagi. Ahli Biologi mengunakan aksioma ini untuk mengerti tentang pertumbuhan dan perkembangan, yang persis sama dengan perubahan kuantita mejadi perubahan kualita. Di pucuk tumbuhan sel sel selalu membelah diri terus-menerus membentuk organ daun dan ranting, pada suatu saat sel-sel pucuk tumbuhan itu tidak membentuk daun lagi tapi mendadak membentuk bakal bunga dan bakal buah dan biji di dalamnya – dari pertumbuhan vegetatip menjadi perkembangan generatip, yang merupakan lompatan anak tangga dan harus mencapai kuantita tertentu dalam semua persyaratannya, bila tidak (secara kuantitative semua terpenuhi) pucuk tumbuhan tidak akan membentuk bakal bunga buah dan biji.
• Para Pemikir Matematika terutama Statistika ratusan tahun yang lalu sudah meraba adanya kepastian hubungan antara ‘Keharusan’atau ‘keniscayaan’ dan’kebetulan’ pada setiap kejadian alami. Ternyata ini merupakan aksioma Dialektika Alam yang selanjutnya. Contoh : Satu Kota Metropolitan yang penduduknya puluhan juta, akan tetapi ratusan ribu kendaraan bermotornya berlalu lintas sembrono dan semrawut, secara hitungan Statistik pasti ada kecelakaan seratus orang setiap hari – ini menjadi dasar penyediaan Ambulans dan UGD dengan peralatannya, untuk itu Si Penggede atau Si Pemulung, ‘Si Sembrono’ atau ‘Si Hati-hati’ mempunyai kemungkinan yang sama mengalami kecelakaan – ‘hampir pasti’ seratus orang rata-rata setiap hari. Akan tetapi siapa pada hari itu yang menjadi korban kecelakaan lalau lintas di Kota Metropolitan yang semrawut itu adalah ‘kebetulan’ bagi manusia, tapi hanya Allah SWT yang tahu. Mau zero accident ? Ya atur sarana dan masyarakatnya untuk berlau lintas secara aman, karena Allah telah mengangkatnya menjadi Khalifah di Dunia ini Seperti juga Kiamat itu adalah kepastian tapi kapan hanya Allah yang tahu.
Aksioma-aksioma Alami yang Dialektis ini tidak memusuhi siapa-siapa, dan bisa dipakai sebagai alat menganalisa kejadian Alami apa saja di Dimensi kita ini. Seperti apa yang pernah dicetuskan oleh Founder Bangsa ini Almarhum Ir. Soekarno: Metoda Dialektika Alam (Materialisme) adalah pisau tajam untuk membedah dan menganalisa fenomena-fenomena apa saja di Alam ini.
• Ada lagi satu aksioma yang baru diformulasikan dalam Hukum Dialektika Materialisme, ratusan tahun yang lalu, yaitu mengenai apa unsur penentu terjadinya perubahan dalam existensi benda-benda atau yang dianggap benda. Ternyata perubahan itu hanya bisa terjadi bila didukung oleh kondisi antar hubungan faktor-faktor internal, sedangkan antar hubungan faktor-faktor external tidak menentukan, melainkan asesori saja.
Misalnya satu buah durian pasti jatuh lepas dari tangkainya apabila di dalam buah tersebut terjadi perubahan kimiawi akibat fungsi fisiologis buah itu sendiri, sedangkan angin topan pun belum pasti merontokkan buah itu. Di sini yang harus secara teliti ditetapkan adalah faktor-faktor existensi itu sendiri, misalnya existensi satu Negara yang exist berkat hubungan Patron–Client dengan satu Negara Super Power, kenyataanya faktor internalnya adalah antar hubungan dengan Negara Patronnya, sedangkan antar hubungan para Tokoh Politik dalam negerinya, atau hubungan Pemerintah dan Rakyatnya malah bukan faktor internal yang penting dan menentukan, apalagi antar hubungan dengan Negara lain yang bukan sang Patron, itu semua adalah faktor external, tidak ada pengaruhnya terhadap existensi Negara itu. Jadi andaikata existensi Negara Client ini tidak nyaman untuk rakyatnya, ya hubungan Patron- Client harus di tinjau, ndak perlu berantem sendiri antar tokoh politik atau antar Partai. Andaikata memang harus ada perubahan, maka kondisi hubungan Patron-Client ini yang harus berubah menjadi hubungan setara terlebih dahulu.
Malah bila direnungkan orang akan lebih mengerti Ayat-ayat Allah SWT yang merupakan seluruh Alam ini, dan akan bisa diresapi lebih baik dengan mengenal Aksioma-aksioma Dialektika Alam.
Lha kenapa ada stigma negatif yang kuat dari sisi Agama terhadap penghayatan Dialektika Materialisme, atau Dialektika Alam? pasti ada sebabnya.
Jadi begini, kalau saya analisa, Para Pembaharu Masyarakat mencoba mengetrapkan dalil-dalil Dialektika Alam atau Dialektika Materialisme ke dalam Sejarah Perkembangan Manusia, yang ujung-ujungnya merugikan Kelas Penguasa Modal – yang telah mentahbiskan dirinya sendiri sebagai penerima yang syah dari pemberian Allah yaitu Modal hak milik Pribadinya. Sedangkan para Ahli Ilmu Sosial- Ekonomi yang pro Rakyat menganggap Modal yang dikumpulkan kapitalis adalah hasil dari ‘tipuan’ terhadap kelas Pekerja atau Kelas Karyawan, dengan ‘mengingkari’ membayar sebagian besar tenaga karyawan yang sebenarnya sudah tercurah dalam hasil kerjanya. Para pemikir ilmu sosial ini menganggap modal para Konglomerat ini bukan pahala dari Allah saja, tapi ada sebagian harta konglomerat adalah titipan, yaitu haknya orang orang Dhuafa juga.
Nah entah mengapa banyak diantara pemuka Agama ini juga- terutama jaman dulu- menguasai banyak modal terutama tanah pertanian. Inilah sumber pertentangannya.
Kini, Zaman sekarang ini semua dapat diteliti dengan jelas. Hal inilah yang membuat para kapitalis se-Dunia tidak terima. Bagi kaum Kapitalis, dengan kekuasaan uangnya yang besar, lebih baik menteror dan membunuhi ahli - ahli Ilmu Sosial, dan Ilmu Sosial Ekonomi yang pro Rakyat, serta para karyawan yang sudah sadar (contoh : Marsinah). Daripada membiarkan adanya pertentangan diantara kedua kutub ini. Semua demi stabilitas pemilik modal. Saya ingat tragedi Marsinah, seorang buruh yang sudah sadar, tapi mati mengenaskan. Saya ingat Wiji Thukul, seorang seniman yang sadar, namun hilang juga eksistensinya. Di Negara ini banyak pihak yang tidak suka melihat orang sadar, tidak suka melihat orang berpikir. Yang penting laksanakan saja, jangan berpikir. Bagi pihak ini : “ Kalau mau berpikir pergilah ke Amerika. Bebas berpikir dan berpendapat di sana, karena Amerika adalah Negara Kapitalis yang sudah 200 tahun, sudah tua, jadi sudah tidak membunuhi orang berpikir lagi.”
Para penguasa yang berakumulasi dengan para pemilik modal, kebanyakan tidak suka pada orang-orang yang banyak berpikir, dan sok sosialis. Kenapa?, karena para pemikir ini kemudian ‘iseng’ menghitung berapa dari Kekayaan kaum kapitalis yang seharusnya menjadi hak kaum miskin dan berapa hak dari buruhnya yang mereka enthit (tidak diberikan). Para kapitalis dan penguasa kemudian memberi cap pada para pemikir tukang hitung ini sebagai anti Agama dan anti Tuhan, bahkan sebagai Komunis,(Oh My God!) di mana cap ini berarti hukuman mati secara karakter dan fisik. Namun untungnya Tuhan tidak anti pada Orang-orang yang Berpikir. Even, pada orang yang berpikir soal Dia. Cuma Dia kasih warning :kalau kamu berpikir tentang Aku Yang Ahad, maka otakmu yang nota bene CiptaanKu tidak akan sampai. Allah Hu Ahad.
Sekarang semua sudah jelas, menyambung hidup bukan hal yang sepele, orang harus bekerja tanpa melanggar Hukum. Nafkah yang didapat berdasarkan kontrak yang jangkanya sepuluh juta tarikan nafas, habis itu ya jangan bernafas.
Karena sesudah berhenti bernafas apa artinya Dialektika Materialisme dan pengetrapannya di fenomena Sosial ? – sudah tidak relevan lagi soal peng-enthitan/ pengurangan nilai lebih dari upah Buruh, karena saat ini secara lambat laun yang disebut Buruh pun sudah tidak ada lagi, yang ada adalah pekerja Kontrak & Kontraktornya. Saya meramalkan dunia tenaga kerja Indonesia nantinya hanya ada sistem kerja kontrak dan Out Sourcing saja. Out Sourcing adalah sebuah system yang menyewa tenaga manusia dari pihak ketiga. Dalam out source sini sudah tipis sekali hak manusia bekerja pada sebuah system. (*)
(Tulisan ini adalah cuplikan diskusi antara Mung Pujanarko, S.Sos, M.I.Kom (anak) dan Ir. Subagyo,M.Sc (sang ayahanda)
11:44 AM
mung pujanarko




