cari kata

Minggu, 01 Mei 2022

Reminderku

 


Blog jurnal pribadi ini sifatnya adalah menangkap lintasan-lintasan pikiran saya sendiri. Bukan untuk woro-woro atau pula bukan untuk menceramahi orang lain.

Saya ingat nasihat orang bijak yang sempat saya baca sekilas hanya judulnya saja di sebuah guntingan koran yang dipajang di sebuah rumah makan, yang berbunyi “ jangan kesetanan melawan setan”.

Orang pasti senyum-senyum, kok aneh nasihat orang dalam potongan guntingan kliping koran itu. Jangan kesetanan melawan setan. Kalimat itu terus saya renungkan.

Kemudian hari ini pagi ini saya berpikir pula, jangan mengundang setan pula dan jangan menggoda setan untuk tertarik menggoda kita dengan perbuatan-perbuatan kita yang sifatnya ‘ menggoda setan’, untuk tertarik terundang menggoda kita. Perbuatan –perbuatan itu adalah perbuatan sendiri yang memicu memantik dan membangkitkan gairah nafsu-nafsu rendah-hewaniah, hawa nafsu darah-daging membara yang ada tersisa dalam diri seiring sisa proses evolusi menjadi manusia. 

Perbuatan seperti memikirkan, melihat, dan membayangkan perbuatan-perbuatan pemuasan hawa nafsu sesat-sesaat yang dilarang Tuhan YME. Kategorinya banyak, mulai dari hawa nafsu rendah-hewaniah nafsu syahwat yang di luar hukum, hingga sampai pada sifat serakah, loba dan boros. Melihat tayangan di aneka situs tentang pameran kekayaan, pameran barang mewah yang mungkin orang banyak belum tentu bisa mendapati. Pikiran akan keinginan ingin memiliki itu meraja dalam pikiran sedemikian dalam sehingga sinyalnya memancing setan untuk menggoda dengan mengambil jalan korupsi umpamanya (untuk instan memperoleh kemewahan barang yang didamba). Ini kan umpamanya ya.

Hawa nafsu keinginan yang berlebihan terkadang menggoda setan untuk menggoda. 

Setan lagi kok yang disalahin ya ☺

Mungkin kata setan "salah elu sendiri yang menggoda saya untuk menggoda anda".☺ 

Atau Gadgdet yang senantiasa digenggam yang instan menawarkan semua pemandangan arousal yang justru memancing dan menggoda setan untuk masuk menggoda manusia dengan membisikkan-memasukkan ide-ide gila absurd pemuasan hawa nafsu rendah nan hewaniah.

Misal, ini misal lho, seorang bujang nestapa yang asyik menonton film biru, ini sama saja melakukan perbuatan menggoda setan. Setan jelas tergoda untuk masuk menggoda sang bujang nestapa. 

Atau si orang lemah mental yang tiap hari melihat iming-iming gadget barang mewah mahal. Jelas ini sih menggoda untuk berhutang alias pay later😂

Lama-lama berutang untuk lifestyle dari kecil hingga menggunung miliaran, bahkan konon gaji 60 juta pun tak cukup karena berutang miliaran dan setan pun bisiki untuk merampok bank 😅

Ini berbahaya.

Saya kembali lagi teringat akan nasihat orang bijak yang saya baca di guntingan kertas koran : "jangan kesetanan melawan setan".

Jangan kesetanan emosi terburu tak terkendali ketika emosi amarah memuncak ke ubun-ubun. Duduk, tarik nafas dan redakan tensi. Sabar lebih baik. Meski sabar itu memindahkan gunung berapi emosi panas ke padang salju yang dingin  Banyak orang emosi main hakim sendiri justru berujung perkara. Ya, pasti lain halnya ketika orang itu dibegal, dia melawan untuk melindungi jiwa dari ancaman marabahaya dibegal. Ini melindungi diri, ini lain lagi perkaranya. Membela diri ketika disabet sajam oleh pembegal, pasti nilainya adalah nilai luhur membela jiwa diri dari ancaman kejahatan.

Intinya saya masih merenungkan benar nasihat orang bijak yang saya baca di guntingan koran : jangan kesetanan melawan setan.

Terimakasih atas nasihat yang baik, dan terimakasih pada wartawan yang menuliskan nasihat itu dan menerbitkannya di korannya. (*)


Nb self reminder soal Ego

Dalam psikologi, “ego” bisa punya beberapa makna. Yang paling umum berasal dari teori Sigmund Freud. Menurut Freud, kepribadian manusia terdiri dari:

Id → dorongan naluriah dan keinginan instan.

Ego → bagian yang berpikir realistis dan menengahi.

Superego → suara moral, nilai, dan hati nurani.

Jadi sebenarnya ego tidak selalu buruk. Ego membantu seseorang:

mengambil keputusan,

menyesuaikan diri dengan kenyataan,

mengendalikan emosi dan dorongan.

Namun dalam percakapan sehari-hari, “ego” sering dipakai untuk menggambarkan sifat yang terlalu mementingkan diri sendiri atau gengsi. Contohnya:

merasa paling benar,

sulit meminta maaf,

gengsi mengakui kesalahan,

ingin selalu dipuji,

mudah tersinggung saat dikritik,

meremehkan orang lain,

ingin menang sendiri,

haus pengakuan atau status,

tidak mau kalah dalam debat,

memaksakan pendapat.

Ego juga bisa muncul secara halus, misalnya:

diam karena gengsi,

enggan meminta bantuan,

sulit menerima saran,

terlalu menjaga citra diri.

Tetapi memiliki ego dalam kadar sehat juga penting, misalnya:

punya harga diri,

percaya diri,

menjaga martabat,

mampu berkata “tidak” saat perlu.

Masalah biasanya muncul ketika ego menjadi berlebihan sehingga merusak hubungan, komunikasi, atau kemampuan belajar dari orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons