This is featured post 2 title
Sangat berkesan pelatihan bagi anggota PPWI di Markas Grup 3 Kopassus Cijantung
This is featured post 3 title
Pelatihan bagi angota PPWI ini dilakukan di Markas Grup 3 Kopassus guna membentuk karakter, disiplin, dan integritas kepribadan
This is featured post 4 title
Peserta diklat bela negara PPWI selalu kompak dalam setiap kesempatan, baik di barak, di lapangan dan arena pelatihan lainnya di dalam markas Grup 3 Sandi Yudha Kopassus
Jumat, 08 Mei 2026
Deretan Karya Tugas Poster Mahasiswa Fasilkom Jayabaya tahun 2026
![]() |
| Karya : Williams Kislew Mangaraja ( FASILKOM JAYABAYA) |
![]() |
| Karya : Preskoko Rumapea ( FASILKOM Jayabaya) |
![]() |
| Karya : Ridho Mu'izzudin ( FASILKOM JAYABAYA) |
![]() |
| Karya : Alham Rahmatullah ( FASILKOM JAYABAYA) |
![]() |
| Karya : Muhammad Aditya Saputra mahasiswa Fasilkom Jayabaya |
![]() |
| Karya : Pinki _ FASILKOM JAYABAYA |
![]() |
| Karya Gabriella (Gaby) _ FASILKOM JAYABAYA |
Kamis, 07 Mei 2026
Kepik Epilachna spp
Kumbang pemakan daun (Leaf-eating lady beetle)
Latihan lari 10 kilometer
Lati 10 kilometer pada Hari Kamis (7/5/2026) mengikuti virtual run flungo dan virtual run human race.
Sekaligus tamat multiple run labour day 22km.
Rabu, 06 Mei 2026
AI dan Ancamannya bagi Pekerja : Chatbot Mulai Gantikan Customer Service, Mahasiswa Diminta Siap Hadapi Perubahan
AI dan Ancamannya bagi Pekerja : Chatbot Mulai Gantikan Customer Service, Mahasiswa Diminta Siap Hadapi Perubahan
Techno - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin nyata dirasakan di berbagai sektor pekerjaan. Dalam sesi kuliah Multimedia Bisnis, pembicara Mung Pujanarko membahas bagaimana AI mulai mengambil alih pekerjaan entry level yang selama ini banyak dikerjakan manusia, khususnya pada bidang customer service.
Dalam pemaparannya, Mung menjelaskan bahwa chatbot menjadi salah satu bentuk implementasi AI yang paling cepat berkembang di dunia industri. Chatbot merupakan program berbasis AI yang dirancang untuk berinteraksi dengan manusia melalui teks maupun suara. Teknologi ini mampu menjawab pertanyaan pelanggan, memberikan panduan layanan, hingga menangani keluhan sederhana secara otomatis.
“Banyak perusahaan besar sekarang menggunakan chatbot untuk meningkatkan kecepatan layanan dan mengurangi biaya operasional,” jelas Mung di hadapan mahasiswa.
Menurutnya, kehadiran chatbot telah mengubah cara perusahaan melayani pelanggan. Jika sebelumnya customer service dilakukan sepenuhnya oleh manusia, kini sebagian besar pekerjaan dasar dapat diselesaikan secara otomatis oleh sistem AI. Bahkan, beberapa chatbot canggih sudah mampu menyelesaikan kebutuhan pelanggan secara mandiri tanpa bantuan agen manusia.
Namun, di balik kemudahan tersebut, Mung menyoroti ancaman yang mulai muncul bagi tenaga kerja, terutama pekerja pemula atau entry level.
“AI atau Artificial Intelligence itu apakah telah mulai mengambil peran entry level? Jadi apakah urusan baru semakin sulit mencari kerja?” ungkapnya dalam sesi diskusi.
Ia menegaskan bahwa pekerjaan yang bersifat repetitif menjadi target utama penggantian oleh AI. Salah satu contohnya adalah customer service. Menurutnya, pekerjaan customer service memiliki pola kerja yang berulang, seperti menjawab pertanyaan yang sama setiap hari, sehingga lebih mudah digantikan oleh chatbot.
“Pekerjaan customer service itu akan digantikan oleh AI. Dengan apa? Dengan chatbot. Karena pekerjaan customer service atau CS itu akan menjadi sangat repetitive,” jelasnya.
Fenomena ini, kata Mung, sebenarnya sudah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak perusahaan kini lebih memilih menggunakan chatbot karena dianggap lebih cepat, efisien, dan dapat bekerja selama 24 jam tanpa henti.
Menariknya, Mung juga membagikan pengalamannya beberapa tahun lalu saat menjadi juri dalam kompetisi customer service. Pada masa itu, profesi customer service masih dianggap sangat penting dan memiliki peluang besar. Namun kini, posisi tersebut mulai terancam oleh perkembangan teknologi AI yang semakin canggih.
“Padahal belum lama, beberapa tahun yang lalu saya menjadi juri di kompetisi customer service,” ujarnya.
Meski demikian, Mung menekankan bahwa AI bukan sepenuhnya ancaman jika manusia mampu beradaptasi. Ia mengajak mahasiswa untuk mulai meningkatkan kemampuan yang tidak mudah digantikan mesin, seperti kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah.
Kuliah ini menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. AI memang membuka peluang besar bagi dunia industri, tetapi di sisi lain juga menuntut manusia untuk terus belajar dan berkembang agar tetap relevan di dunia kerja masa depan. ( Tulisan oleh : Matthew Richard Cyrus Mamoto, mahasiswa FASILKOM Jayabaya)
Dosen Fasilkom Tekankan Pentingnya Kecakapan AI bagi Lulusan Baru Sarjana
Jakarta, 6 Mei 2026 — Dosen Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Jayabaya, Mung Pujanarko, menegaskan bahwa lulusan baru sarjana di era digital saat ini harus memiliki kecakapan dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurut Mung Pujanarko, perkembangan teknologi yang sangat pesat telah mengubah cara kerja di berbagai sektor industri. Oleh karena itu, kemampuan menggunakan AI bukan lagi menjadi nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar bagi para lulusan perguruan tinggi.
“Mahasiswa yang baru lulus harus mampu beradaptasi dengan teknologi, terutama AI. Tidak hanya memahami, tetapi juga terampil dalam menggunakannya untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja,” ujarnya dalam sebuah kesempatan akademik.
Ia menjelaskan bahwa AI kini telah digunakan di berbagai bidang, mulai dari bisnis, pendidikan, kesehatan, hingga komunikasi. Lulusan yang tidak memiliki keterampilan tersebut berpotensi tertinggal dalam persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.
Selain itu, Mung Pujanarko juga menekankan pentingnya etika dalam penggunaan AI. Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus tetap memperhatikan aspek tanggung jawab, kejujuran, dan dampak sosial.
“AI adalah alat yang sangat kuat. Jika digunakan dengan bijak, bisa memberikan manfaat besar. Namun, jika disalahgunakan, juga bisa menimbulkan masalah,” tambahnya.
Ia berharap perguruan tinggi dapat terus menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja di era digital.
Dengan meningkatnya peran AI dalam kehidupan sehari-hari, kecakapan teknologi menjadi kunci utama bagi lulusan sarjana untuk dapat bersaing dan berkontribusi secara optimal di masa depan.
Misal bagaimana analogi teknologi AI seperti teknologi baru jaman wildwest digambarkan dengan semiotika narasi seperti yang digambarkan secara semiotik oleh mahasiswa FASILKOM Jayabaya bernama Komara Awaludin berikut ini :
Revolusi "Cyber-Sheriff": Bagaimana AI Mengubah Wajah Keadilan di Kota Wildstone
WILDSTONE— Di balik debu jalanan dan arsitektur klasik Saloon yang ikonik, sebuah revolusi teknologi sedang berlangsung secara senyap. Sheriff legendaris Wildstone (personifikasi gambaran seorang dosen), yang selama ini dikenal dengan ketegasan cara lamanya, kini telah bertransformasi menjadi simbol integrasi antara intuisi manusia dan kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini menandai babak baru dalam sejarah keamanan perbatasan, di mana teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan mitra strategis penegak hukum.
Sinergi Tradisi dan Teknologi Tinggi
Meskipun penampilan luar sang Sheriff tetap mempertahankan estetika koboi klasik—lengkap dengan topi lebar dan lencana bintang—peralatan yang ia gunakan kini telah berbasis data. Pengaruh AI dalam operasional harian di Wildstone terlihat pada beberapa aspek krusial:
Analisis Prediktif Kejahatan: Menggunakan algoritma canggih, tim keamanan kini mampu memetakan potensi gangguan di wilayah perbatasan sebelum konfl
(Foto dan artikel Oleh : Komara Awaludin, mahasiswa FASILKOM Jayabaya)
Artikel ini adalah bukti eratnya pergaulan manusia dan AI
Ke depannya lebih menyatu lagi.
2:24 PM
mung pujanarko






















































