cari kata

Rabu, 06 Mei 2026

Seminar Nasional XXVI FK-DKISIP 2026 "Politik Dinasti dan Dinasti Politik dalam Sistem Demokrasi" digelar di Universitas Jayabaya

(klik foto untuk memperbesar tampilan di website)






Jakarta, IMC - Seminar Nasional XXVI FK-DKISIP 2026 bertema : "Politik Dinasti dan Dinasti Politik dalam Sistem Demokrasi :  Suatu Keniscayaan Versus Pemasungan Hak Demokrasi Rakyat untuk Dipilih Sebagai Pejabat Publik", sukses digelar di Universitas Jayabaya, pada Hari Rabu, 6 Mei 2026 mulai pukul 08.00 WIB hingga 12.25 WIB.


(klik foto untuk memperbesar tampilan di website)

Seminar Nasional yang diprakarsai oleh Forum Komunikasi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FK-DKISIP) Indonesia ini menghadirkan para narasumber penting di bidangnya.


Diawali dengan Laporan Ketua Panitia Pelaksana Seminar Nasional XXVI FK-DKISIP 2026, yaitu Dekan FISIP Universitas Jayabaya, Drs. Denny Ramdhany, M,Si.

Kemudian Sambutan Rektor Universitas Jayabaya, Prof. Dr. H. Fauzie Yusuf Hasibuan, S.H.,M.Hum., yang disampaikan oleh Wakil Rektor I Universitas Jayabaya Prof. Ir. Herliati, M.T., PhD., yang pada intinya mendukung Seminar Nasional XXVI FK-DKISIP 2026 yang dilaksanakan di Universitas Jayabaya, "Universitas Jayabaya sebagai institusi memiliki komitmen kuat untuk terus mendorong mengembangkan kepentingan pengetahuan khususnya di bidang kemasyarakatan, sosial, dan politik  serta memperkuat jejaring di tingkat nasional maupun internasional dalam rangka meningkatkan kualitas akademik dan kontribusi nyata bagi masyarakat, serta mengimplementasikan visi dan misi Universitas Jayabaya sebagai teaching university.  Hari ini saya berbahagia, saya berharap melalui Seminar Nasional ini akan lahir pemikiran-pemikiran yang konstruktif yang dapat memberikan kontribusi  terhadap kebijakan dan tata kelola pemerintah yang berbasis meritokrasi, khususnya terkait mengelilingi praktik politik dan institusi melalui pengawasan dari masyarakat sipil. Demikian sambutan saya, semoga acara ini berjalan lancar, lincir, dan luncur," papar Rektor Universitas Jayabaya, Prof. Dr. H. Fauzie Yusuf Hasibuan, S.H.,M.Hum., yang disampaikan oleh Wakil Rektor I Universitas Jayabaya Prof. Ir. Herliati, M.T., PhD.

Selanjutnya Sambutan Ketua Umum Pengurus Pusat FKDKISIP, Prof. Dr. Samugyo Ibnu Redjo, MA., yang diwakili oleh Sekjen FK-DKISIP Dr. Tatang Sudrajat, Drs.,SIP., M.Si.,, dilanjutkan dengan pembukaan Seminar Nasional XXVI FK-DKISIP 2026 bertema : "Poltik Dinasti dan Dinasti Politik dalam Sistem Demokrasi : Suatu keniscayaan Versus Pemasungan Hak Demokrasi Rakyat untuk Dipilih Sebagai Pejabat Publik".





Penyerahan piagam penghargaan oleh Ketua Umum FK-DKISIP kepada Ketua Yayasan Jayabaya, Rektor Universitas Jayabaya dan Dekan FISIP Universitas Jayabaya.

Selanjutnya Seminar Nasional masuk pada sesi presentasi keynote speaker, oleh  Prof. Dr. Abdul Latif, S.H., M.Hum., Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Jayabaya), yang menyoroti tentang hukum ketatanegaraan,  "Tentu hukum tata negara dalam konteks sebagai suatu hukum-hukum, dalam hubungan dengan ilmu politik, ini tidak dapat dilepaskan satu sama lain. Oleh karena apa, baik hukum tata negara maupun ilmu politik, itu objeknya sama, yaitu Negara. Negara yang berdasarkan konstitusi, " ujar Prof. Dr. Abdul Latif, S.H., M.Hum., selaku Ketua Program Doktor Ilmu Hukum, Universitas Jayabaya.

Selanjutnya adalah keynote speaker  Prof. Dr. Phil. Ridho Al Hamdi, S.Fil.,M.A. (Dekan FISIPOL Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), melalui saluran daring zoom yang disimak oleh para peserta seminar nasional dari seluruh daerah yang mengikuti secara zoom online.

Sesi berikutnya adalah penyerahan piagam penghargaan kepada keynote speaker oleh Ketua Umum FK-DKISIP, Prof. Dr. Samugyo Ibnu Redja, MA.

Kemudian tibalah sesi presentasi oleh enam orang narasumber, masingmasing selama 15 menit, dipandu oleh Moderator, Dr. Dra. Ambarwati, M.Si (Dosen FISIP Universitas Jayabaya).



Para narasumber dalam Seminar Nasional XXVI FK-DKISIP 2026 bertema : "Politik Dinasti dan Dinasti Politik dalam Sistem Demokrasi : Suatu keniscayaan Versus Pemasungan Hak Demokrasi Rakyat untuk Dipilih Sebagai Pejabat Publik", adalah :

a. Telly Nency Silooy, Dra., M.Si. (Kepala LPM Universitas Ilmiah YAPIS, Wamena Papua Pegunungan)

b. Dr. Yulinda Uang, S.IP., M.Si. (Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Halmahera, Maluku Utara)

c. Dr. .Abdul Rofik, SP.,MP. (Dekan FISIP Universitas Widyahama Mahakam, Samarinda Kalimantan Timur, 2021-2025)

d. Dr. Ngudi Astuti, Dra., M.Si. (Wakil Dekan III FISIP Universitas Jayabaya Jakarta)

e. Agus Hitopa, S.H., M.I.Kom. (Dekan FISIP Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro 1957 Jakarta)

f. Masayu Adiah, S.Sos., M.Si. (Dekan FISIP Universitas Tamansiswa Palembang)

Kemudian disusul dengan diskusi/tanya jawab dengan narasumber, dipandu oleh moderator.






















Selanjutnya Penyerahan Piagam Penghargaan kepada narasumber dan moderator oleh Ketua Umum FK-DKISIP Prof. Dr. Samugyo Ibnu Redjo, MA., yang diwakili oleh Sekjen FK-DKISIP Dr. Tatang Sudrajat, Drs.,SIP., M.Si.,

Penutupan seminar nasional oleh MC Laila Indriyanti Fitria, M.Si. (Kaprodi Hubungan Internasional FISIP UJ) dilanjut dengan ramah tamah/makan siang.

Acara Seminar Nasional di Universitas Jayabaya ini berlangsung secara aman tertib lancar dan kondusif serta dihadiri oleh ratusan peserta dari mahasiswa, dosen dan  civitas akademika dari berbagai universitas yang hadir baik secara langsung di Ruang Auditorium Prof. Dr. H. Moeslim Taher Lantai V Gedung Seminar 1 Universitas Jayabaya Jakarta, maupun secara zoom online. (Red)


Senin, 04 Mei 2026

Berlari 10kilometer

 Berlari 10kilometer hari Senin (4/5/2026).




Rute Lari Situ Kemang Kab. Bogor 16310



Semangat Lari 10 Kilometer di Rute Situ Kemang, Awali Pekan dengan Energi Positif

Kabupaten Bogor — Mengawali hari Senin (4/5/2026) dengan penuh semangat, saya menuntaskan lari sejauh 10 kilometer di kawasan Situ Kemang. Rute yang dikenal dengan suasana asri dan udara segar ini menjadi pilihan tepat untuk memulai pekan dengan energi positif sekaligus menjaga kebugaran tubuh.

Sejak pagi hari, suasana di sekitar Situ Kemang terasa begitu mendukung aktivitas olahraga. Pepohonan rindang yang mengelilingi area dan udara yang relatif sejuk memberikan kenyamanan selama berlari. Jalur yang cukup variatif, mulai dari jalanan datar hingga sedikit tanjakan, menambah tantangan sekaligus menjaga ritme lari tetap stabil.

Dalam jarak 10 kilometer tersebut, saya berusaha menjaga konsistensi pace agar tetap nyaman hingga garis akhir. Selain melatih fisik, kegiatan ini juga menjadi momen refleksi diri, melepas penat, serta meningkatkan fokus untuk menghadapi aktivitas sepanjang pekan.

Rute Situ Kemang sendiri memang kerap menjadi favorit para pelari di Kabupaten Bogor. Selain aksesnya yang mudah, lingkungan sekitar yang masih alami menjadikan pengalaman berlari terasa lebih menyenangkan dan tidak monoton.
Kegiatan lari ini bukan hanya soal mencapai target jarak, tetapi juga tentang membangun disiplin dan komitmen terhadap gaya hidup sehat. 

Dengan menyelesaikan 10 kilometer di awal pekan, diharapkan semangat dan konsistensi ini dapat terus terjaga dalam aktivitas sehari-hari.

Lari pagi di Situ Kemang pada Senin pagi ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan bisa dimulai dari langkah sederhana—meluangkan waktu untuk bergerak dan menikmati prosesnya.

Suasana Situ Kemang di pagi hari.


Rute Situ Kemang kab Bogor.

10 kilometer pace santai 9.


Lumut dan Ganggang

 


Saya menggambarkan aquarium atau kolam, lumut, dan ganggang.

Ganggang bisa mengapung terkena sinar matahari dan florish. Lumut tidak bisa mengapung, dan tetap menempel di pinggir dan dasar aquarium atau kolam.

Masyarakat dalam nation ada yang bisa berhasil mengapung ke atas dengan social mobilitas, atau memang dari keluarga turun temurun yang sudah ada di atas permukaan.

Sisanya mengendap seperti lumut di dalam kolam atau aquarium.

Segala ekonom, politisi, pemikir membicarakan ihsg, inflasi, deflasi, stagfasi, kurs valuta, defisit dan mikro dan makro, plus politik, policy, dan aspek legal, ekopolsosbud dlsb. Hanya ganggang saja yang paham dan mengikuti itu semua. Lumut boro-boro paham, tercerahkan sinar penerangan saja tidak. Bagi lumut dibawah yang tidak paham, maka berpikir seperti ganggang itu melelahkan, membuang energi dan waktu lumut.

Ini sudah ribuan tahun masyarakat dunia ya begini ini, lumut dan ganggang.

Benar bahwa lumut di bawah selama ratusan tahun ini ya tidak peduli kurs valas. Tidak sampai boro-boro nyampai pokok bahasan dollar.

Sejak itu maka benar ujaran : "rakyat desa tidak pakai dollar". Benar dalam arti benar dikatakan untuk meng -address rakyat desa lumut karena memang ora gadhuk leh do mikir.

Karena yang mikirnya dollar hanya ganggang. Polemik atas ujaran tersebut ya bahkan tidak digagas blas oleh rakyat. Oleh para lumut di bawah permukaaan. Jauh di bawah, tanpa ada penerangan. Ada yang lumut sengaaja sembunyi di bawah batu karena muak dan emoh akan penerangan.

Penerangan itu biasanya oleh orang pintar,  nah biasanya orang pintar itu biasanya minteri. ( bahasa jawa belajar apa itu arti minteri) cari kamus jawa belajar apa itu arti minteri.

Banyak bicara equal minteri kata lumut  maka no good to trust. Trust issue.

Di desa lumut orang banyak bicara malah dicurigai sebagai berusaha minteri.

 Praktis ilmu dollar hanya digagas dan dinalar saja oleh para ganggang di atas. Ribut antar ganggang yang jumlah populasinya tidak seberapa di lapisan atas. Saling Ribut sok iyes saling bahas saling komen sok paham saling mikir.

Eco chamber ganggang

Saya kerap-saking kerap- sering menyimak ulasan2 pakar2 ekopolsosbud dlsb

Ulasan2 pintar itu hanya eco chamber di kalangan ganggang, sama sekali tidak menggerakkan mind lumut blas.

Lumut udah terlanjur mengendap mengerak di bawah secara sistemik turun temurun. Bahkan ada para lumut yang sudah sembunyi di balik batu.

Lumut kaga pengaruh blas, bro. Boro-boro mikir apa valas -ekonomi- mikro -makro, hedeuuh.

Nanti pun pemilu ya yang penting ada sembako udah gitu ajalah.

Giniloh lumut di bawah yang mengerak mengendap ratusan tahun ribuan tahun ini terbukti survive dengan kondisi apapun, mau itu jaman malaise kelaparan, jaman tanam paksa jaman dulu, mau itu lewat jaman penjajahan susah berbagai sistem penjajahan => jaman kelaparan apapun penjajahannya tetap banyak mayoritas lumut yang survive. Sudah terbukti tahan malang-> ketahan malangan, tahan banting dan tahan sakit krisis model apapun juga.

Mau jaman se-malaise apapun juga lumut terbukti bertahan mengerak di bawah kolam.

Jadi mau itu kaum ganggang seminar diskusi ndakik di menara-menara gading  tentang ekopoleksosbud dlsb. Ya tetap yang resah gelisah adalah yang kaum berpikir saja. Makin mikir makin ruwet resahnya- spiralling.

Kaum ganggang yang melek (wake/woke) kemudian Demo di menara-menara gading. Bawa spanduk keresahan. Teriak-teriak kasar antar mereka sendiri di menara-menara gading. Lumut tetap adem ayem menghayati kondisi apapun juga yang menghimpit. Lumut tidak pengaruh blas. Lumut hanya diam tak paham.

Bagi lumut mikir itu beban pikiran. Ngapain mikir. Mikir itu bahasa istilah populernya : "menjadi beban pikiran". Jadi bagi para lumut mikir itu beban bos. lebih baik menjauhi beban pikiran atau joget senang gembira saja jauhi beban pikiran yang rumit mikir dollar- inflasi -deflasi  - stagflasi dan aneka flasi -flasi yang flash hanya berkilau gemerlap di pikiran. Bawah sadar lumut tidak mikir yang berat. Bisa karena ada pameo takut stress karena banyak mikir atau memang ada sugesti turun temurun kalau mikir itu bikin stres dan ngleng-leng.

Wakakakak.

Ini bukan AI 

AI ga senalar se satire gini amat.

Wkwkwk

AI juga ga pakai wkwkwkw



1 usd = 17840, 45 rupiah

Kalau 17845 kita Indonesia merdeka 🇲🇨🇮🇩

Sy screen shoot dulu krn ini bagian dari sejarah.

Kita sudah tahu semua rara-rata IQ di Indonesia kan bisa googling.

Data mengenai kebiasaan membaca di Indonesia sangat bervariasi tergantung metriknya. Survei BPS mencatat hanya sekitar 10% penduduk yang rajin membaca buku. Berikut rincian kebiasaan membaca di Indonesia:1 dari 1.000: Menurut data World's Most Literate Nations dari CCSU, indeks minat baca Indonesia berada di angka 0,001%, yang berarti hanya 1 dari 1.000 orang yang rajin membaca buku.

Ok itu data orang yg suka baca berarti suka pengetahuan. Sisanya tak terlalu suka mikir pengetahuan. Sisanya hidup jalan terus tanpa beban pikiran.

Bagi orang kita pikiran atau mikir adalah beban. Oleh sebab itu orang ga milih orang pinter. Tapi milih orang yang bisa ngayomi memberi rasa aman. Orang rakyat lihat orang mikir dan pintar itu mencemaskan, tidak menenangkan, dan mau minteri rakyat.

Silent majority itu silent karena tidak banyak mikir ekopoleksosbud etc. Lumut adem ayem gelap di bawah. Ganggang karena banyak penerangan jadi pada ribut sendiri masalah ekopoleksosbud etc.

Aksi aksi demo oleh para ganggang ditanggapi adem oleh para lumut. Sejak berabad-abad lumut tidak pernah menganggap demo sebagai sebuah jalan solusi atau bisa memperbaiki keadaan. Demo oleh para ganggang yang kadang anarkis justru dianggap makin menyusahkan keadaan bagi para lumut yang berabad-abad mengerak di bawah kolam. Tidak ada ripple effect demo ganggang di atas kolam dengan kondisi gelap lumut di bawah.

Lumut tidak pakai dollar. Lumut juga sudah menghayati penderitaan dari jaman ke jaman sampai ke tulang. Sifat tahan menderita lumut di bawah ini oleh para elite ganggang di paling atas diketahui benar. Sekacau ekopol apapun pasti lumut tahan menderita. Mau buat kebijakan policy apapun, lumut sudah pasti tahan menderita dan diam karena tak paham. Hanya ganggang yang mikir di lapisan tengah yang gelisah. Sudah terbukti mau jaman se -malaise apapun juga di kolam pertiwi ini, lumut tetap tahan derita. Jadi ya tetap ditekan kondisi model susah kayak apa sudah terbukti ketahan malangan para lumut.


Tadinya tahun 2018 kelas ganggang menengah sempat pada  22,5 %

Tahun 2024 banyak ganggang tenggelam menjadi lumut. Jumlah ganggang tinggal 17,3%. Sisanya tenggelam jadi lumut. Lumut di bawah makin miskin makin mengerak.

Era sekarang ini enak. Enak bagi penguasa ganggang elite. Meski para pimpinan ganggang ngoceh apapun - berperilaku apapun, statemen apapun jua tetap tidak ada pengaruh apapun buat kaum lumut di bawah. Besar gap sudah, jauh gap sudah gini rasio sudah ultimate lebar.

Ganggang elite mau ngoceh sengawur-ngawurnya pun tidak akan ada pengaruh bagi lumut yang sudah mengerak di bawah.

Pucuk elite ganggang mau bilang orang desa ga pakai dollar lah, mau bilang londo ireng lah, mau bilang ndasmu lah, mau bilang penggilingan padi untung dua triliun -lah mau bilang buruh harian pengupas bawang mendapatkan upah sebesar Rp 700.000 per kilogram- lah.... , atau mau bilang "pakar saking pinternya jadi goblok" lah, aduh  ya Alloh mau bilang apapun jua sak ngawur-ngaconya, apapun jua lah di podium manapun, mau bilang statement apapun juga - sengaco apapun jua demi Alloh hal ngacau itu semua tidak bakal mengusik kekhusukan lumut yang sudah terlanjur 90% mengerak di bawah kolam. Apatis blues sudah baby...

Lumut2 di bawah ini banyak yang nama bupati atau walikotanya siapa mereka lumut juga ga tahu. Ini mereka ditanya nama bupatinya siapa aja kaga tahu bro.

Berarti sudah lumut keong. Sudah tidak ngamper pada keterangan penerangan penyuluhan ipolekssobudhankam etc.

Lumut udah tidak ngamper apapun jua kecuali bantuan langsung.

Udah ga pengaruh apapun bagi para lumut yang mengerak 90% di bawah kolam.

Yang terusik cuma middle ganggang saja yang lapisan tipis rapuh banget di tengah kolam.

 Toh juga nanti makin banyak ganggang yang jatuh ke bawah jadi lumut. Ganggang nanggung melayang ditengah ini jangankan mengapung justru malah tenggelam jadi lumut.

(Pov pikiran saya saja ini)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons