cari kata

Kamis, 12 Januari 2012

Prinsip Citizen Journalism

   
 
Citizen Journalist atau Pewarta Warga adalah :" Warga Negara yang  melakukan kegiatan berkomunikasi secara verbal dan non verbal, secara tulisan, secara audio maupun secara visual guna menyalurkan aspirasinya, baik berupa berita (news). feature (artikel minat insani), foto, dan video yang berdasarkan fakta yang ada dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, serta bentuk opini  warga  yang menyangkut hajat hidup orang banyak yang ditampung  dan disalurkan  melalui media massa baik cetak dan elektronik."

  Karena kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat dijamin oleh UUD 1945 yang merupakan Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka semua warga negara tanpa ada diskriminasi SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) dapat  bebas tanpa rasa takut untuk mengeluarkan pendapatnya.
  Karena Citizen Journalism adalah sebuah konsep pemikiran ilmu, dengan etimologis kata berakhiran ‘isme’ atau ‘ism’ yang berarti merupakan sebuah cabang pemikiran atau aliran intelektual. Tentu saja warga yang berkiprah dalam Citizen Journalism (Jurnalisme Warga) haruslah terlebih dahulu memahami dengan baik dan benar konsep Citizen Journalism. Citizen Journalism merupakan bentuk ‘way’ bahkan ‘ high way’ atau jalan besar -yang seharusnya bebas hambatan- agar rakyat dapat menyalurkan semua bentuk komunikasi, baik lisan dan tulisan pada media massa baik, cetak dan elektronik agar tercapai Indonesia yang Demokratis. Intinya Citizen Journalism juga perlu ilmu jurnalistik, baik teori dan praktek.

   Sedangkan landasan Demokrasi mutlak  bagi syarat tumbuh dan berkembangnya Citizen Journalism (Jurnalisme Warga). Demokrasi sendiri dipahami sebagai  konsep hidup bangsa yang sadar bahwa aspirasi warga haruslah mendapat perhatian karena ada pepatah Vox Populi, Vox Dei  artinya suara publik adalah suara Tuhan (pengertian Demokrasi: Wikipedia:2010). Contohnya; apabila publik menuntut keadilan, maka Tuhan Yang Maha Esa telah terlebih dahulu berkehendak keadilan Universal di Alam Semesta ini. Jika publik mengecam korupsi, maka Tuhan telah terlebih dahulu melarang manusia untuk korupsi dan mencuri. Jadi suara rakyat banyak akan sebuah nilai-nilai yang mulia (divine virtue) yang datang dari Tuhan Yang Maha Esa. Jadi tetap prinsip citizen jurnalisme ini mengandung prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai Sila 1 Pancasila.

Adalah perlu dipahami, bahwa pengertian suara publik di sini benar- benar murni merupakan suara hati nurani publik, bukanlah rekayasa dan diatur oleh kehendak ambisi pribadi-pribadi yang mampu menggerakkan massa. Kalau sudah terjadi rekayasa, maka istilah Vox Populi Vox Dei menjadi buram dan  mudah diplesetkan. Contohnya jika penguasa yang memiliki ambisi pribadi menggerakkan massa rakyatnya agar bersuara, maka hal itu bukanlah kehendak masyarakat secara natural. Namun jika masyarakat menginginkan sesuatu yang bersifat natural serupa keadilan dan kemakmuran, maka jelas hal tersebut datang secara natural dari hati nurani masyarakat.

Bila dijabarkan lebih lanjut Kemanusiaan yang Adil dan Beradab pun bisa terwujud apabila masyarakat bebas bersuara. Apalagi Persatuan Indonesia, bisa utuh dan langgeng apabila aspirasi rakyat dapat tersalur dengan baik. Begitu pula Kerakyatan yang Dipimpn oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyarawaratan Perwakilan inipun menyiratkan adanya kebebasan rakyat yang bersuara lewat parlemen. Terakhir Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia ini berarti semua warga negara berhak untuk menyuarakan aspirasinya tanpa ada diskriminasi apapun juga.

Maka konsekuansi logis dari demokrasi adalah :
1.    Munculnya fenomena citizen journalism
2.    Munculnya kesadaran masyarakat untuk menyuarakan pendapatnya melalui berbagai media, baik lisan maupun tulisan apakah itu bersifat opini, berita dan feature (artikel). Juga audio visual
3.    Munculnya banyak situs berita dot com di internet yang kini siap menampung semua aspirasi warga dari  kegiatan citizen journalism.
4.    Munculnya kebiasaan menulis berita oleh warga dalam blog, dan situs jejaring social.

Eksistensi situs berita di internet juga diharapkan mengakomodasi  tulisan pewarta warga.  Terjadi  hubungan antara  aktivitas pewarta warga   (kegiatan citizen journalism) dengan eksistensi  situs berita dot com di internet, karena  dalam dinamika sosial di masyarakat  terjadi  minat untuk membuat tulisan yang bersifat informatif dan berguna bagi orang lain untuk diunggah melalui aneka situs  berita internet. Kecenderungan untuk mewartakan sesuatu yang dirasakannya secara batiniah (curhat), dirasakan oleh panca inderanya  kepada manusia lain ini sudah ada sejak manusia pertama ada di muka Bumi

  Sebenarnya kebebasan mengeluarkan pendapat ini tidak perlu dikhawatirkan akan terpasung dengan adanya UU ITE. Karena jika yang kita suarakan benar, apalagi dialami sendiri, maka masyarakat luas juga akan terbantu oleh informasi yang diberikan oleh pewarta warga (citizen journalist). (*)
Mung Pujanarko, alumnus Diklat PIP BPIP



Prinsip-prinsip Reportase Investigasi


Apa persamaan antara wartawan/ jurnalis /reporter dengan penambang?. Ternyata dalam urusan  gali-menggali (digging), wartawan dan penambang idealnya tidak puas dengan hasil yang ada dipermukaan. 


    Melvin Mencher dalam bukunya (Principles of Reporting, 2007) mengatakan :”Reporter atau wartawan itu adalah seperti penambang atau pencari  bahan tambang  (prospectors)”. Dalam arti, reporter yang baik selalu kurang  senang dengan bahan-bahan permukaan, untuk itu reporter/jurnalis yang baik kadang  menggali ke dalam, meski  kadang-kadang tak tertembus atau kurangnya waktu mengganggu pencarian, dan mungkin perlu untuk berhenti menggali dan untuk membuat hubungan (connections) dengan apa yang telah muncul.

   Jika memungkinkan, wartawan/reporter terus menggali sampai dia  mencapai ke bagian bawah hal, sampai -secara  jurnalistik- pada  lapisan kebenaran dari peristiwa ini digali selengkap-lengkapnya. Karena itu seorang jurnalis idealnya seperti  prospektor. Melvin Mencher mengatakan bahwa : “Sensitivitas hidung wartawan untuk berita-sangat membantu,”. Dalam arti, insting wartawan untuk selalu ingin menggali fakta memungkinkan kebenaran sejati  terungkap. Selain itu, wartawan juga dikenal memiliki akses ke beberapa sumber panduan  nyata. Pertama, wartawan itu tahu bahwa pengamatan (observasi) dirinya secara  umum lebih dapat diandalkan daripada pengamatan banyak sumber, yang belum pernah dilatih untuk melihat dan mendengar secara akurat.
Ketika dipaksa untuk bergantung pada beberapa satu pengamatan yang lain, para wartawan menggunakan berbagai tes untuk menentukan kehandalan sumber. Ketika wartawan harus menggunakan sumber dari tangan kedua atau ketiga atau bila ia meragukan pengamatan sendiri ia tahu di mana harus mencari bahan verifikasi. Sebagai seorang jurnalis  tugas reporter memang menggali informasi yang dipandu oleh pemahaman tentang sifat pelaporan.
        Sedangkan Pelaporan (reporting ) sendiri menurut Mencher adalah proses pengumpulan fakta-melalui observasi, penalaran dan verifikasi  agar dapat disajikan sebagai  berita pada  pembaca, pemirsa atau pendengar ide yang baik dari apa yang terjadi.
        Pekerjaan wartawan itu adalah dengan melihat di bawah permukaan untuk realitas yang mendasarinya. Lincoln Steffens, wartawan terkenal mengatakan : “Tugas wartawan adalah meringankan  dalam cahaya dan udara " artinya  wartawan melihat bahwa  dasar pekerjaan mereka pada keyakinan dan  tugas mereka adalah untuk melihat kebenaran yang relevan untuk orang-orang yang tidak dapat menyaksikan atau memahami hal yang mempengaruhi mereka.   Steffens sebagai anggota staf dari The Washington Post mendefinisikan reportase :”Ini adalah tugas mengungkapkan lapisan kebenaran yang ada di sekitar kita, lapisan pemahaman yang menantang kita.''
  Untuk itu Melvin Mencher dalam , mengatakan  bahwa dalam reporting  dikenal ada 3 layer atau lapisan, yakni :
1.    Lapisan yang pertama (layer 1) adalah informasi yang bersumber dari berbagai nara sumber yang resmi atau asli.
2.    Sementara layer 2 atau lapisan 2 adalah berita atau informasi yang diperoleh dari kejadian yang spontan. Termasuk lapisaan yang kedua adalah  kegiatan memverifikasi bahan- bahan latar belakang untuk tulisan, dan semua hasil pengamatan reporter (wartawan).
3.    Sementara lapisan ketiga (layer 3) adalah lapisan yang membutuhkan penggalian fakta secara mendalam. Karena dalam lapisan ini dibutuhkan penjelasan – penjelasan yang lebih mendalam dan pemahaman yang didasari fakta  dari seorang reporter, akan sebuah masalah yang  muncul. Jadi dalam layer (lapisan) ketiga ini  lebih dari sekedar melaporkan namun telah menginvestigasi berbagai macam fakta serta dapat meng-interpretasikan fakta- fakta itu.
         Layer 1 atau lapisan pertama  pelaporan adalah tujuan pelaporan secara transkripsi. Artinya, reporter secara hati-hati dan akurat mengutip  dari catatan, pidato,  atau konferensi pers. Inilah yang disebut pula  dalam Mencher (2007) yakni kekuatan dan keterbatasan dari  jurnalisme obyektif.
        Mencher (2007;Ch9) mengatakan, Layer 1 (lapisan 1) adalah sumber informasi yang paling faktual karena  data  yang digunakan adalah gabungan dari  berita dari konferensi pers, handout, pernyataan, pidato, pernyataan, perintah, keputusan, keputusan dan pendapat. Bahan ini berasal  dari dan dikendalikan oleh sumbernya.
          Mengumpulkan Fakta pada lapisan 1 adalah seperti wartawan yang menggali pada lahan penambangan terbuka. Banyak tugas wartawan dalam lapisan 1  adalah mengkonfirmasi,  kemudian  menyortir dan mengatur kembali fakta-fakta yang disampaikan, juga memferifikasi alamat dan tanggal serta  memeriksa ejaan nama. Pada beberapa media , tugas penanganan rilis ini dilakukan  oleh petugas re-writer karena pekerjaan verifikasi data pada layer 1 pada dasarnya adalah menulis ulang semua bahan, tidak melaporkan.
Namun  menurut Melvin Mencher (2007;Ch9) justru kini kebanyakan cerita yang muncul di koran dan di radio dan televisi didasarkan pada sumber bahan layer 1 yang berasal  dari konferesi pers dan pernyataan-pernyataan resmi pemerintah.

Layer 2 (lapisan 2)
Dalam lapisan ini banyak kejdian yang sifatnya spontan, meskipun kebanyakan reporter atau wartawan yang baik menurut Melvin jarang yang menginginkan kejadian yang spontan. Dalam layer ini reporter membutuhkan pemikiran tajam untuk lebih dari sekadar melaporkan kejadian yang spontan semata. Karena ternyata banyak hal yang terlihat spontan namun ternyata mengandung unsur pseudo event  (kejadian palsu).  Yakni kejadian yang terlhat spontan namun ternyata telah dibuat atau di-setting oleh pihak  tertentu agar terlihat spontan.
Melvin mencontohkan banyak pseudo event yang diatur oleh pihak politisi. Misalkan seorang politisi partai Republik  Amerika yang sengaja mengatur demonstrasi mendukung Presiden Nixon di  tahun 1972. Dikisahkan  para pendemo yang diliput luas oleh media massa terus berteriak agar Nixon dipilih 4 tahun lagi. Hal ini terlihat spontan, karena itu aksi ini mendapat sorotan media massa, namun sebenarnya telah diatur sedemikian rupa sehingga tercipta apa yang dinamakan pseudo events atau kejadian palsu.

Layer 3 (lapisan 3)
Dalam lapisan ketiga ini telah sampai dalam tahapan investigative reporting atau melaporkan secara investigasi mendalam. Menurut Melvin dalam lapisan ketiga ini reporter telah berhasil menemukan fakta- fakta yang signifikan dari hasil penggalian fakta dan data nara sumber,  kemudian repoter telah menemukan interpretasinya  atau pemahaman yang menyeluruh terhadap sebuah persoalan.
Dalam hal ini sebuah investigative reporting yang baik akan menghasilkan impact atau akibat yang luas  di mata publik, seprti pengungkapan ‘skandal water –gate’  yang melibatkan Presiden Nixon yang diungkapkan oleh wartawan The Washington Post. Serta adanya laporan mendalam diberbagai belahan Amerika Serikat dimana reporter telah berbulan- bulan mengumpulkan fakta sehingga terjadi laporan mendalam yang berakibat luas pada masyarakat Amerika Serikat.

Investigative Reporting (Pelaporan Investigasi)
Melvin Mencher  memberi ilustrasi bahwa   ada sebuah kisah tentang  seorang reporter bernama Judy Johnson dari Koran The Anniston Star yang memiliki daya reportase investigative yang tinggi. Satu saat Judy  mendengar bahwa sebagian masyakarat Alabama kesulitan dalam memperoleh kredit resmi di bank lokal. Karena tertarik dengan peristiwa Itu Judy lalu menghabiskan hampir sebulan waktunya di  Alabama untuk memverifikasi segala informasi tentang peristiwa itu.
Jadi dalam waktu sebulan itu Judy belum melakukan penulisan pelaporan namun hanya menginvestigasi dan memverifikasi semua fakta dan data. Kemudian dari berbagai wawancara yang didukung oleh  fakta dari berbagai nara-sumber itu. Judy menemukan fakta yang menarik bahwa ternyata ada kegiatan lintah darat besar yang mengakibatkan warga kesulitan memperoleh kredit di bank resmi.  Ada sebuah kegiatan rentenir yang teroganisir rapi sehingga menjerat beberapa penduduk Alabama.
Seperti kisah pasangan tua di Alabama yang tadinya hanya meminjam 4000 US Dollar pada lembaga rentenir di luar bank ini, lalu pinjamannya membengkak  menjadi 50.000 US Dollar dalam jangka waktu setahun, karena tingginya bunga oleh  kegiatan  rentenir illegal ini.  Judy juga menemukan fakta bahwa ternyata  pihak oknum pejabat pemerintah county  lokal juga terlibat dengan mendukung kegiatan rentenir ilegal yang dijalankan oleh oknum tertentu yang kuat di Alabama, sehingga menjerat penduduk lokal.
Atas laporan investigasinya ini Judy Johnson kemudian mendapatan  penghargaan jurnalistik. Judy Johnson mengatakan:   “Jangan menjadi hand out reporter atau wartawan hand out yang hanya pasrah menerima sumber dari hand out press conference saja, tapi sedialah untuk menggali lebih dalam,”.
     Sementara itu ada  tips yang berguna dari seorang wartawan investigasi   yakni Bob Greene dari Associated Press (AP),  Bob Greene menunjukkan tips bahwa reporter yang baik haruslah tetap melakukan 4 hal diantaranya :
a.    Mintalah sumber yang lebih lengkap dari sekedar hand out  yang diberikan secara resmi oleh nara sumber jadi jangan ragu untuk mencari sumber lainnya yang lebih lengkap.
b.    Selalu melakukan check dari komentar nara sumber sebelum kita menyiarkan atau mencetaknya.
c.    Secara hati-hati mengumpulkan berbagai fakta, dan harus yakin bahwa  fakta tersebut sesuai dengan konteks.
d.    Selalu mengantisipasi perkembangan peristiwa di lapangan.

Melvin Mencher menambahkan setidaknya ada guidelines to follow atau beberapa langkah panduan untuk diikuti olehs eorang reporter diantaranya adalah :
1.    Pasti ada story (kisah)  di balik  hampir semua kejadian. Melvin mengingatkan kita tentang skandal ‘watergate’ Presiden Amerika Nixon yang kemudian berujung pada pengunduran diri Presiden  Nixon.
2.    Selalu memeriksa nama dalam buku telepon, search engine internet, panduan dalam sebuah kota dan kamar mayat untuk memastikan penulisan nama adalah benar.
3.    Ikuti uangnya (follow the money). Dalam investigasi berita, reporter harus selalu mengikuti dan memahami lalu lintas mengalirnya uang, dari mana dan ke mana serta siapa yang menanganganinya. Misalnya dalam sebuah sumbangan kampanye politik atau kemana  perginya uang pajak, serta kasus yang melibatkan sejumlah besar uang lainnya.
4.    Jadilah pemberani. Kerjakanlah apa yang  tidak mau dikerjakan karena takut untuk berbuat penyelidikan. Kalau kita tidak berani maka kita tidak bisa menggali fakta secara mendalam. Dan kita akan terjebak dalam situasi yang tidak kita inginkan di masa depan.
5.    Pertanyakan semau asumsi.  Melvin Mencher mengatakan agar kita berani menanyakan semua asumsi yang umum dalam sebuah kisah.
6.    Pertanyakan kebijakan otoritas. Jadi seorang wartawan harus selalu bersikap dan berpikir kritis menanggapi semua kebijakan pihak yang berwenang, kritis dalam arti selalu menanyakan kepada pejabat pembuat kebijakan tentang kebijakan yang dikeluarkannya. (*)

Oleh Mung Pujanarko (mahasiswa magister jurnalistik IISIP Jakarta)

Minggu, 08 Januari 2012

Tanaman Srikaya di Pekarangan (2)

Buah Srikaya varietas lokal menemani pisang Raja Sereh


Tanaman Srikaya lokal tetap rajin berbuah biarpun di musim hujan



 

 

Saya memang penghoby tanaman Srikaya Annona squamosa L. Tanaman ini termasuk ke dalam famili Annonaceae,  biarpun pekarangan saya luasnya tidak seberapa, tapi ya tetap saja saya tanami aneka Pohon Buah terutama Srikaya. 


Mau musim el nino atau la nina insha Alloh srikaya selalu bertahan dan berbuah. Masya Alloh tabarakallah.


Srikaya atau atis, adalah tanaman yang tergolong ke dalam genus Annona yang berasal dari daerah tropis dan subtropis Buah srikaya berbentuk bulat dengan kulit bermata banyak. Daging buahnya berwarna putih. Termasuk semak semi-hijau abadi atau pohon yang meranggas mencapai 8 m tingginya.




 
Selama bertahun-tahun Srikaya dapat tumbuh hidup di pekarangan.
Hijau pohon Srikaya ini membuat segar pekarangan. Tiap musim berbuah.


Pafa musim panas seperti bulan Juli, Agustus, maka Srikaya lebih terlihat adaptasi dengan suhu panas Elnino
 

Pada musim panas justru Srikaya menunjukkan adaptasinya yang bagus.



Sesuai keterangan yang saya baca, Srikaya Australia dikenal juga dengan nama Srikaya Jumbo atau Srikaya New Varietas. Di halaman saya, biarpun musim hujan seperti sekarang ini Srikaya Australia yang saya tanam tetap rajin berbuah. Apalagi Srikaya Lokal yang bibitnya saya bawa dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, tetap saja rajin berbuah, dan tidak rontok meski curah hujan Bulan Januari ini amat tinggi di Bogor.

Srikaya Australia (new varietas) di halaman

Srikaya New Varietas berbuah susul menyusul, dengan bunga (tidak musiman)

  Perbedaan antara Srikaya lokal dan New Varietas, daging buah New Varietas lebih tebal., lebih harum , kemudian biji buah lokal lebih banyak yakni sekitar 40 biji dalam satu buah lokal, jika dalam buah new varietas cuma 15 biji saja.

Pohon Srikaya Lokal, buah lebat di musim hujan lebat
    
Kalau makan buah ini perut jadi lumayan adem 😄  dan membuat pencernaan menjadi lancar. Alhamdulillah tanaman di halaman ini rajin berbuah jadi biarpun di Bogor jarang yang jual buah Srikaya, saya masih tetap bisa menikmati  buah ini.
   Selain Srikaya sebenarnya saya juga menanam beberapa tanaman buah lain, seperti Durian, Delima Merah dan Delima Putih, kemudian ada beberapa varietas Pisang. Juga saya tanam Jambu Bol atau Jambu Dersono, tapi Jambu Bol-nya masih pentil bunga, mungkin nanti kalau sudah berbuah juga saya masukkan ke blog saya ini.

Srikaya  Australia/ New Varietas  biar kecil tapi mau berbuah

   Perawatan Srikaya selain pemangkasan cabang, terutama adalah pemupukan dengan pupuk kandang, kemudian NPK dan SP36 secara berimbang. Prinsip pemupukan yang saya anut adalah sedikit tapi gradual dan kontinyu.
 



Srikaya lokal awet tidak rewel dan bisa minim perawatan.


Sebenarnya Srikaya Annona squamosa L.  yang termasuk ke dalam famili Annonaceae ini tidak mengenal musim buah, tiap musim berbuah. Cara menanam Srikaya juga cukup mudah jika mau menanam dari biji tinggal ditaruh di poly bag disemai, sudah bisa tumbuh. Kalau ditanam dari biji setahun setengah sudah dapat berbunga dan berbuah. Kini saya tanam Srikaya (Annona squamosa) ini di sekeliling dalam halaman, dari hasil semaian biji, yang berasal dari tanaman induknya. (*)




Dari tahun ke tahun, musim ke musim alhamdulillah awet umur ini Srikaya Annona squamosa L. Tanaman ini termasuk ke dalam famili Annonaceae.
Tanaman ini solusi untuk kebutuhan buah yang tahan musim dan tahan cuaca. Mudah menanamnya di pekarangan. Berbuah sepanjang tahun. Hidup meski minim perawatan sekalipun.
Mari makan buah Srikaya
Makannya pakai sendok


Manis -lezat
Buah Srikaya



Srikaya yang awet umur ini menjadi andalan untuk tanaman pekarangan.




 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons