Draco volans
![]() |
| Draco volans |
Semua foto karya : Mung Pujanarko
Lokasi : kebun rumah kec kemang bogor
Sangat berkesan pelatihan bagi anggota PPWI di Markas Grup 3 Kopassus Cijantung
Pelatihan bagi angota PPWI ini dilakukan di Markas Grup 3 Kopassus guna membentuk karakter, disiplin, dan integritas kepribadan
Peserta diklat bela negara PPWI selalu kompak dalam setiap kesempatan, baik di barak, di lapangan dan arena pelatihan lainnya di dalam markas Grup 3 Sandi Yudha Kopassus
Draco volans
![]() |
| Draco volans |
Semua foto karya : Mung Pujanarko
Lokasi : kebun rumah kec kemang bogor
Kumbang pemakan daun (Leaf-eating lady beetle)
Lari pagi 10 kilometer pada Hari Kamis (7/5/2026) mengikuti virtual run flungo dan virtual run human race.
Sekaligus tamat multiple run labour day 22km.
AI dan Ancamannya bagi Pekerja : Chatbot Mulai Gantikan Customer Service, Mahasiswa Diminta Siap Hadapi Perubahan
Techno - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin nyata dirasakan di berbagai sektor pekerjaan. Dalam sesi kuliah Multimedia Bisnis, pembicara Mung Pujanarko membahas bagaimana AI mulai mengambil alih pekerjaan entry level yang selama ini banyak dikerjakan manusia, khususnya pada bidang customer service.
Dalam pemaparannya, Mung Pujanarko menjelaskan bahwa chatbot menjadi salah satu bentuk implementasi AI yang paling cepat berkembang di dunia industri. Chatbot merupakan program berbasis AI yang dirancang untuk berinteraksi dengan manusia melalui teks maupun suara. Teknologi ini mampu menjawab pertanyaan pelanggan, memberikan panduan layanan, hingga menangani keluhan sederhana secara otomatis.
“Banyak perusahaan besar sekarang menggunakan chatbot untuk meningkatkan kecepatan layanan dan mengurangi biaya operasional,” jelas Mung di hadapan mahasiswa.
Menurutnya, kehadiran chatbot telah mengubah cara perusahaan melayani pelanggan. Jika sebelumnya customer service dilakukan sepenuhnya oleh manusia, kini sebagian besar pekerjaan dasar dapat diselesaikan secara otomatis oleh sistem AI. Bahkan, beberapa chatbot canggih sudah mampu menyelesaikan kebutuhan pelanggan secara mandiri tanpa bantuan agen manusia.
Namun, di balik kemudahan tersebut, Mung menyoroti ancaman yang mulai muncul bagi tenaga kerja, terutama pekerja pemula atau entry level.
“AI atau Artificial Intelligence itu apakah telah mulai mengambil peran entry level? Jadi apakah urusan baru semakin sulit mencari kerja?” ungkapnya dalam sesi diskusi.
Ia menegaskan bahwa pekerjaan yang bersifat repetitif menjadi target utama penggantian oleh AI. Salah satu contohnya adalah customer service. Menurutnya, pekerjaan customer service memiliki pola kerja yang berulang, seperti menjawab pertanyaan yang sama setiap hari, sehingga lebih mudah digantikan oleh chatbot.
“Pekerjaan customer service itu akan digantikan oleh AI. Dengan apa? Dengan chatbot. Karena pekerjaan customer service atau CS itu akan menjadi sangat repetitive,” jelasnya.
Fenomena ini, kata Mung, sebenarnya sudah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak perusahaan kini lebih memilih menggunakan chatbot karena dianggap lebih cepat, efisien, dan dapat bekerja selama 24 jam tanpa henti.
Menariknya, Mung juga membagikan pengalamannya beberapa tahun lalu saat menjadi juri dalam kompetisi customer service. Pada masa itu, profesi customer service masih dianggap sangat penting dan memiliki peluang besar. Namun kini, posisi tersebut mulai terancam oleh perkembangan teknologi AI yang semakin canggih.
“Padahal belum lama, beberapa tahun yang lalu saya menjadi juri di kompetisi customer service,” ujarnya.
Meski demikian, Mung menekankan bahwa AI bukan sepenuhnya ancaman jika manusia mampu beradaptasi. Ia mengajak mahasiswa untuk mulai meningkatkan kemampuan yang tidak mudah digantikan mesin, seperti kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah.
Kuliah ini menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. AI memang membuka peluang besar bagi dunia industri, tetapi di sisi lain juga menuntut manusia untuk terus belajar dan berkembang agar tetap relevan di dunia kerja masa depan.
( Tulisan reportase oleh : Matthew Richard Cyrus Mamoto, mahasiswa FASILKOM Jayabaya)
Jakarta, 6 Mei 2026 — Dosen Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Jayabaya, Mung Pujanarko, menegaskan bahwa lulusan baru sarjana di era digital saat ini harus memiliki kecakapan dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurut Mung Pujanarko, perkembangan teknologi yang sangat pesat telah mengubah cara kerja di berbagai sektor industri. Oleh karena itu, kemampuan menggunakan AI bukan lagi menjadi nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar bagi para lulusan perguruan tinggi.
“Mahasiswa yang baru lulus harus mampu beradaptasi dengan teknologi, terutama AI. Tidak hanya memahami, tetapi juga terampil dalam menggunakannya untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja,” ujarnya dalam sebuah kesempatan akademik.
Ia menjelaskan bahwa AI kini telah digunakan di berbagai bidang, mulai dari bisnis, pendidikan, kesehatan, hingga komunikasi. Lulusan yang tidak memiliki keterampilan tersebut berpotensi tertinggal dalam persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.
Selain itu, Mung Pujanarko juga menekankan pentingnya etika dalam penggunaan AI. Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus tetap memperhatikan aspek tanggung jawab, kejujuran, dan dampak sosial.
“AI adalah alat yang sangat kuat. Jika digunakan dengan bijak, bisa memberikan manfaat besar. Namun, jika disalahgunakan, juga bisa menimbulkan masalah,” tambahnya.
Ia berharap perguruan tinggi dapat terus menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan teknologi, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja di era digital.
Dengan meningkatnya peran AI dalam kehidupan sehari-hari, kecakapan teknologi menjadi kunci utama bagi lulusan sarjana untuk dapat bersaing dan berkontribusi secara optimal di masa depan.
Misal bagaimana analogi teknologi AI seperti teknologi baru jaman wildwest digambarkan dengan semiotik-narasi seperti yang digambarkan secara semiotik oleh mahasiswa FASILKOM Jayabaya bernama Komara Awaludin berikut ini :
Revolusi "Cyber-Sheriff": Bagaimana AI Mengubah Wajah Keadilan di Kota Wildstone
WILDSTONE— Di balik debu jalanan dan arsitektur klasik Saloon yang ikonik, sebuah revolusi teknologi sedang berlangsung secara senyap. Sheriff legendaris Wildstone (personifikasi gambaran seorang dosen), yang selama ini dikenal dengan ketegasan cara lamanya, kini telah bertransformasi menjadi simbol integrasi antara intuisi manusia dan kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini menandai babak baru dalam sejarah keamanan perbatasan, di mana teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan mitra strategis penegak hukum.
Sinergi Tradisi dan Teknologi Tinggi
Meskipun penampilan luar sang Sheriff tetap mempertahankan estetika koboi klasik—lengkap dengan topi lebar dan lencana bintang—peralatan yang ia gunakan kini telah berbasis data. Pengaruh AI dalam operasional harian di Wildstone terlihat pada beberapa aspek krusial:
Analisis Prediktif Kejahatan: Menggunakan algoritma canggih, tim keamanan kini mampu memetakan potensi gangguan di wilayah perbatasan sebelum "negara api menyerang" sebuah analogi bahwa cuek tidak bisa menemukan solusi.
Solusi adalah adaptasi terus-menerus.
Artikel ini adalah bukti eratnya pergaulan manusia dan AI, bahkan dengan narasi semiotika perumpamaan akan perubahan baru yang simultan, maka ke depannya lebih menyatu lagi.
Lalu apa yang bisa dilakukan : tetap belajar menggunakan teknologi AI, Mampu menciptakan tool digital dengan bantuan AI.
(Foto dan artikel narasi oleh : Komara Awaludin, mahasiswa FASILKOM Jayabaya)
Jakarta, Techno - Halo, salam sejahtera. Saya Mung Pujanarko dosen Fasilkom, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Jayabaya.
Di sini saya akan memberikan paparan bahwa AI atau Artificial Intelligence itu. telah mulai mengambil peran entry level job.
Jadi apakah lulusan baru itu semakin sulit cari kerja?
Berdasarkan informasi yang saya baca, ada beberapa pekerjaan yang beresiko diambil oleh AI, antaranya adalah pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya repetitif - rutin.
Contohnya repetitif itu seperti customer service. Pekerjaan customer service itu akan banyak digantikan oleh AI. Dengan apa? Dengan chatbot.
Karena pekerjaan customer service atau CS itu akan menjadi sangat repetitif. Dan kemudian sebagian besar akan digantikan oleh chatbot. Dan sekarang sudah mulai pekerjaan sebagai customer service ini digantikan oleh chatbot.
(Padahal belum lama saya menjadi juri di kompetisi customer service. Jadi saya pernah menjadi juri di lomba untuk customer service.)
Apa itu Chatbot dan Bagaimana Perannya di Customer Service?
Chatbot adalah program berbasis Al yang dirancang untuk berinteraksi dengan manusia melalui teks atau suara, memungkinkan otomatisasi dalam customer service. Chatbot berfungsi dengan cara merespons pertanyaan umum, memberikan panduan, atau bahkan menangani keluhan pelanggan sederhana.
Banyak perusahaan besar kini menggunakan chatbot untuk meningkatkan kecepatan layanan mereka dan mengurangi biaya operasional. ldebiz pun menghadirkan inovasi ini dalam layanan pelatihan bagi tim customer service.
Peran chatbot dalam customer service sangat bervariasi, tergantung pada kompleksitas program Al dan data yang tersedia. Beberapa chatbot canggih mampu menyelesaikan sebagian besar kebutuhan pelanggan secara mandiri, sementara yang lain hanya bertindak sebagai dukungan dasar dan meneruskan masalah lebih kompleks ke agen manusia.
(Tulisan reportase oleh : Muhamad Riski mahasiswa Fasilkom Jayabaya)
Peran Artificial Intelligence dalam Pekerjaan Entry-Level: Ancaman atau Transformasi?
Techno - Di era digital saat ini, perkembangan teknologi *Artificial Intelligence (AI)* semakin pesat dan mulai merambah berbagai sektor pekerjaan, termasuk pekerjaan entry-level. Dalam sebuah paparan Dosen Mung Pujanarko di Fakultas Ilmu Komputer Jayabaya, disampaikan bahwa AI telah menunjukkan tanda-tanda kuat dalam mengambil alih peran-peran pekerjaan tertentu, terutama yang bersifat repetitif.
# AI dan Pergeseran Dunia Kerja
Berdasarkan berbagai data dan literatur yang ada, sejumlah pekerjaan diprediksi akan mengalami transformasi signifikan akibat kehadiran AI. Pekerjaan yang bersifat berulang (repetitive) menjadi yang paling rentan tergantikan. Hal ini karena AI mampu bekerja secara konsisten, cepat, dan tanpa kelelahan dalam menjalankan tugas-tugas yang memiliki pola tetap.
Salah satu contoh paling nyata adalah pekerjaan di bidang **customer service**. Dahulu, peran ini sangat bergantung pada interaksi manusia. Bahkan, beberapa tahun lalu kompetisi dan pelatihan customer service masih menjadi fokus utama dalam peningkatan kualitas layanan perusahaan. Namun kini, peran tersebut mulai bergeser.
## Apa Itu Chatbot?
Chatbot adalah program berbasis AI yang dirancang untuk berinteraksi dengan manusia melalui teks maupun suara. Teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk mengotomatisasi layanan pelanggan, terutama dalam menjawab pertanyaan umum, memberikan informasi dasar, serta menangani permintaan sederhana.
Dengan memanfaatkan chatbot, perusahaan dapat:
* Meningkatkan kecepatan respon layanan
* Mengurangi biaya operasional
* Memberikan layanan 24/7 tanpa henti
Beberapa chatbot canggih bahkan mampu memahami konteks percakapan dan menyelesaikan masalah pelanggan secara mandiri. Sementara itu, untuk kasus yang lebih kompleks, chatbot tetap dapat mengarahkan pelanggan ke agen manusia.
## Dampak terhadap Pekerjaan Customer Service
Perubahan ini tentu menimbulkan pertanyaan: apakah pekerjaan customer service akan sepenuhnya hilang?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Meskipun sebagian tugas dasar telah diambil alih oleh chatbot, peran manusia tetap dibutuhkan, terutama dalam:
* Menangani kasus kompleks
* Memberikan empati dan pendekatan personal
* Mengambil keputusan yang membutuhkan pertimbangan kritis
Dengan kata lain, AI tidak sepenuhnya menggantikan manusia, tetapi lebih kepada **mengubah cara manusia bekerja**.
## Kesimpulan
Artificial Intelligence memang mulai mengambil alih sebagian pekerjaan entry-level, khususnya yang bersifat repetitif seperti customer service. Namun, alih-alih menjadi ancaman sepenuhnya, AI justru membuka peluang baru bagi manusia untuk meningkatkan keterampilan dan beralih ke peran yang lebih strategis.
Oleh karena itu, penting bagi tenaga kerja saat ini untuk terus beradaptasi, mengembangkan kemampuan baru, dan memahami bagaimana bekerja berdampingan dengan teknologi AI di masa depan.
(Tulisan reportase oleh : Rangga Saputra Mahasiswa Fasilkom Jayabaya)