cari kata

Jumat, 28 Juli 2017

Pelatihan Menulis Berita Cepat (quick news) untuk Warga Cijantung




Bertempat di sebuah ruang kelas di dekat kawasan Mall Cijantung, Jakarta Timur hadir sekitar 19 orang peserta yang berminat untuk mengikuti pelatihan penulisan berita cepat (quick news).

Pelatihan penulisan berita cepat ini digelar pada hari Jumat (28/7).

Dalam pelatihan ini peserta antusias untuk ingin segera bisa menulis berita secara cepat, tepat dan akurat.

Salah seorang peserta bernama Monang (24) menyatakan bahwa dirinya ingin cepat bisa menulis berita secara quick news.

“Saya ingin memahami materi penulisan berita cepat ini, agar saya bisa menulis berita secara cepat dan tepat,” ujar Monang, di Mall Cijantung, Jumat, (27/8).

Sementara rekan lainnya bernama Iwan (25) memaparkan pula bahwa dirinya ingin juga memperoleh ilmu menulis secara mudah dan cepat.

“Saya juga ingin bisa menulis secara cepat ,” imbuh Iwan, sungguh-sungguh.

Sedangkan seorang peserta bernama Soni yang pernah mengikuti pelatihan ini berkata, dirinya ingin lebih memantapkan skill (keahlian) menulis.

Nara sumber dalam pelatihan yang berlangsung lancar dan semarak ini yakni Mung Pujanarko (43) yang menyatakan bahwa yang penting adalah peserta bisa mulai menulis tanpa rasa takut salah, ragu-ragu atau juga hambatan dalam diri yang lain.

“Peserta harus mantap dalam menulis,jangan takut salah...yang penting mulai saja dulu,” ujar Mung Pujanarko selaku nara sumber. (*)

Minggu, 23 Juli 2017

Pengurus DPD PPWI Jabar Rapat Persiapan Seminar

Sembilan orang anggota pengurus DPD PPWI Jawa Barat melakukan rapat persiapan Seminar Jurnalistik.

Rapat ini dilakukan di resto Warung Teko, Mall Summarecon, Bekasi Barat, hari Minggu 23/7.

Sugiatmico selaku ketua DPD PPWI Jabar menyatakan bahwa rapat ini bertujuan untuk koordinasi mempersiapkan kegiatan seminar dan workshop jurnalistik tingkat pelajar.

"Kami ingin mengadakan seminar dan workshop jurnalistik untuk para remaja terutama awalnya pelajar di Bekasi, dalam materi yang hendak kami sampaikan adalah bertema cara cerdas menangkal ujaran kebencian, dan menangkal berita hoax," terang Sugiatmico selaku ketua DPD PPWI Jabar, Minggu (24/7).

Sedangkan menurut Andriani selaku peserta rapat sekaligus Wakil Ketua DPD PPWI Jabar menyatakan bahwa dengan program pelatihan ini nantinya remaja diharapkan mampu berbahasa verbal yang baik, tidak mudah melakukan kekerasan verbal, dan membully dengan kata-kata.

Karena akan dilatih membuat informasi news yang baik. Mengaplikasikan bahasa tutur menjadi bahasa tulis yang baik dan benar.

"Serta dapat mengetahui, memilah berita itu hoax atau bukan, dan pada akhirnya mampu menyampaikan berita secara baik," ungkap Andriani dalam rapat tersebut.

Hadir dalam rapat ini Mung Pujanarko selaku narasumber untuk
melatih bagaimana cara membuat quick news atau berita cepat.

Karena dalam kesempatan rapat ini juga diberikan materi teknis pelatihan membuat berita cepat-tepat, untuk semua pengurus DPD PPWI Jabar.(*)



Minggu, 25 Juni 2017

Media Online Ciri Demokrasi



Kalau orang melek demokrasi, pasti dia sadar bahwa tumbuh berkembangnya media online di tengah masyarakat sebuah wilayah negara adalah merupakan salah satu ciri demokrasi yang sehat di dalam rakyatnya.

Jika sebaliknya, maka kita bisa melihat contoh nasib warga Korea Utara yang warga rakyatnya tidak bebas menggunakan media internet, tidak bebas bersuara di media online dan bahkan tidak bebas ber-medsos, karena media online di Korea Utara dikendalikan oleh rezim negara itu.

Buktinya apa mas ? ya ketik saja kata kunci 'north korean media censorship' di google dan silahkan dibaca sendiri.

Lha wong seorang mahasiswa Amerika bernama Otto W. yang jadi turis di Korea Utara yang iseng mengambil leaflet propaganda, saja ditangkap, -ditahan lama, hingga menderita koma saat dipulangkan-, kemudian meninggal kok

Jika ada orang yang ingin agar kebebasan bermedia online kembali dikontrol mirip ketika rezim orde baru mengontrol media, maka orang itu mungkin belum pernah ke Amerika Serikat dan negara maju lainnya untuk melihat demokrasi yang berjalan baik, dan menjamin kemerdekaan hak berserikat dan mengeluarkan pendapat.

Terus ada sebagian dari diri saya yang bilang, mencerca dengan penasaran :"Tapi mas rakyat kita yang kebanyakan masih dunia ketiga --(saya tidak menyebut dengan miskin dan bodoh) ini belum siap demokrasi bebas ala Amerika apalagi ala negara maju, ingat mas kita ini dunia ketiga, ulangi : Dunia Ketiga (Third World Country), sebuah kenyataan yang harus dihayati, disadari, ditelan, dan diterima secara bersama-sama..."

"yaaa...dipikir sendiri dulu gimana baiknya toh kebebasan bersuara dan berpendapat sudah diatur dalam UU yang berlaku" jawab saya sendiri, lagi ☺

Jawaban pol yang paling mantep yang bisa saya pikirkan sekarang adalah : "Kita kembalikan saja pada Ideologi Pancasila Yang Sakti, beres kan.. jawab saya lagi dengan tenang pada diri sendiri juga, bukan pada orang lain ☺

Media Online yang saya Ibaratkan

Media online dotcom atau berbasis internet membuat masyarakat makin mudah mengakses aneka informasi di  dunia ini.

Tak heran, media online berlomba-lomba untuk meraih ranking tinggi di dunia persaingan media di dunia internet.

Ranking media online bisa dilihat melalui alexa.com, tinggal ketik nama media onlinenya dan lihat rankingnya baik secara nasional atau global.

Ibaratnya, -ini sebuah perumpamaan yang saya bayangkan- : Media online ini ibarat pohon-pohon yang menyajikan aneka buah segar yang siap disantap, sementara para pengguna media online internet ibaratnya adalah burung-burung  yang terbang di angkasa dan melihat-lihat buah ranum yang tersedia di pohon-pohon yang banyak jumlahnya.

Jumlah pengguna internet di Indonesia juga disebut-sebut di kisaran antara 63 juta jiwa menurut situs kominfo di sini  

Ø  Jumlah Pengguna Internet sebanyak itu adalah potensial orang yang bisa melihat aneka iklan dan informasi yang disajikan media online pada umumnya.

Karena itu untuk mempertahankan rankingnya yang tinggi,  maka media media online besar dan ternama ibaratnya makin memperbanyak buah ranum segar di pohonnya agar burung-burung mau ‘memakan’ buah itu.

-Saya Ibaratkan bahwa media Online yang besar adalah mirip pohon besar yang buah informasinya banyak sekali, dan berbuah lebat tiap hari.

-Saya Ibaratkan para peselancar di internet adalah burung-burung yang hendak mencari buah informasi.

-Saya ibaratkan pula bahwa burung-buring ini ada yang langsung mendatangi pohon besar yang buahnya banyak dan lebat karena dengan sebuah pohon saja dia bisa menikmati aneka  buah informasi.

-Saya ibaratkan, ada burung-burung yang mencari buah informasi ini tidak langsung menuju ke sebuah pohon inforamsi, namun terlebih dahulu dipandu atau di-guide oleh mesin pencari atau search engine.

-Saya ibaratkan mesin pencari sperti google adalah  sebuah stasiun angkasa tempat burung-burung biasa menuju terlebih dahulu untuk mencari buah tertentu yang dibutuhkannya.

Untuk itu maka pohon-pohon media online ini seringkali menggunakan teknik SEO (Search Engine Optimalization) agar 'buah informasinya' mudah dikenali oleh sebuah 'stasiun  mesin pencari' yang membantu burung-burung mencari buah yang spesifik.

Tidak Hanya Pohon Besar saja yang Dihinggapi Burung.

Hal ini tentu disambut baik dalam dunia jurnalistik, karena dengan begitu maka makin banyak jurnalis memperoleh kesempatan untuk mengasah ketrampilan jurnalistiknya dengan bekerja di media online yang  ada.

Sedangkan media online menengah dan kecil juga mungkin untuk rankingnya naik merambat ke atas, dengan syarat-syarat umum yakni kreatif dan inovatif.

Di dunia internet ini tidak hanya pohon besar yang buahnya banyak saja yang sering dihinggapi burung.

Namun juga ada pohon-pohon sedang dan kecil yang buahnya manis, serta mungkin buah infonya sangat spesifik, dan mungkin juga buah infonya tidak senada dalam menggiring opini  publik - apalagi buahnya sudah tercemar untuk kepentingan politik sang konglomerat pemilik pohon media besar itu.

Maka pohon independen yang tak besar itu juga akan 'dihinggapi’ oleh 'para burung' pengakses informasi di internet.

Hanya saja hindari berita hoax atau berita bohong yang tak didukung fakta dan data yang jelas.

Karena 'burung-burung' pun juga akan curiga dan enggan hinggap lagi jika buahnya ternyata plastik dan bohongan bukan buah beneran.

Salam jurnalistik, teruslah menulis dan menuangkan fakta, data serta opini dan pikiran kita semua, karena sebenarnya jika kita membagi pengetahuan maka, akan makin bertambah pengetahuan kita secara alamiah. 

Alangkah ruginya orang yang menyembunyikan ide pengetahuannya, kalau hanya ide pengetahuan itu dibawa masuk ke liang kubur, untuk apa?

Karena pengertahuan itu bukan milik kita sebagai manusia biasa. (*)

Selasa, 06 Juni 2017

Majalah 'Hai' Berhenti terbit Cetak

Bulan Juni 2017 adalah bulan terakhir majalah 'Hai' cetak terbit. 

Mulai 1 Juni 2017 majalah cetak ini memutuskan tidak lagi naik cetak. Namun beralih ke platform online digital dengan laman hai.grid.id.

Saya pribadi ingin nostalgia sedikit bahwa saya pernah berlangganan majalah 'hai' ini saat masa pra remaja dan remaja sejak saat masih SD saya suka baca komik yang ada di dalam majalah hai antara lain :

- Trigan dengan tokohnya :Jano, Trigo, Bragg dalam Komik lukisan Don Lawrence

-Storm dan Si Rambut Merah

-Arad dan Maya


-Roel Dijkstra

-Rahan

-Prajurit Rogue, komik strip asyik tentang Prajurit benama Rogue yang punya micro chip di tubuhnya, ada pula temannya Bagman.

Saya ingat cerita Lupus-nya Hilman Hariwijaya  juga di Hai.

Juga epik balada bersambung 'Balada Si Roy' yang  karya Gola Gong. Khusus 'Balada Si Roy' ini sangat inspiratif, membuat saya juga terdorong menulis liputan travelling saya di blog ini sebisa saya saja, bukan fiksi.

Juga cerita "kiki dan komplotannya" karya Arswendo Atmowiloto.

Kemudian cerbung 'Imung Detektif Cilik' karya Arswendo Atmowiloto... lucu juga karena nama Imung ini mirip nama panggilan saya dari kecil hingga kini he he he :-)

... dan banyak lagi, hanya saja waktu SD itu sudah agak terlupa. Namun saya ingat ada beberapa komik strip dalam Hai yang saya ingat, semuanya bagus, seperti komik strip 'Coki si Pelukis Cepat'.

Saya juga ingat banyak kisah pejuang 45 dalam bentuk komik strip yang sangat heroik di majalah 'hai'. 

Menginjak usia  SMP sekira tahun 1986-1989, kalau majalah 'hai' sudah datang diantar loper koran ke rumah, saya selalu siapkan snack buatan sendiri dulu - kentang goreng-, caranya gampang cuci kentang, kupas kentangnya, iris peresegi panjang -goreng, makan pakai sambel 'selera', sambil baca 'hai' he he he... 

....saat SMA tiba di th 1989- 1992 saya juga setia terus baca 'hai' terutama liputan musik luar negerinya yang 'leading' tanpa ada pesaing yang mengulas jagad musik baik nasional maupun musisi mancanegara.

Ulasan musik dalam Majalah 'Hai' adalah serius dan terdepan di jaman dulu itu, dan menjadi acuan untuk anak muda dalam mengembangkan bakat bermusik mereka.




Ya itulah sebatas kenangan jadul alias jaman dulu...

 Kini Hai cetak mulai  Bulan Juni 2017  majalah Hai telah memutuskan untuk tutup.

Sebenarnya beberapa majalah seperti 'kawanku' juga sudah tutup yang menandakan  makin lesunya bisnis media cetak.

Sementara bisnis media online juga tidak semudah cetak dalam menangguk iklan.

Hilangnya majalah cetak Hai yang sudah terbit sejak tahun 1977 menandakan bahwa majalah cetak tidak lagi efisien dalam segi bisnis.

Untuk membuat media cetak jelas membutuhkan modal yang sangat besar, untuk running percetakannya, beli bahan baku kertas, tinta, pra cetak dan biaya panjang untuk sirkulasi terbit dan tagih majalah.

Konten dalam media cetak juga tidak bisa menyaingi konten platform digital yang makin multi platform dari satu laman bisa memuat radio streaming, tv/ video streaming dan  lebih banyak gambar foto dan tulisan yang tak terbatas kuota halaman.

Belakangan ini memang terindikasi semakin banyak media cetak di Indonesia yang tutup tau pindah menjadi media online. Pada tahun 2016 lalu misalnya, majalah terkenal untuk pria 'FHM' memutuskan tutup.

Di negara seperti Amerika Serikat, media cetak pun sudah cukup banyak yang tutup. Ketik saja kata kunci di google : 'defunct newspaper', maka akan disajikan ratusan daftar media cetak yang sudah tutup di Amerika. (*)

Kamis, 18 Mei 2017

Fikom Days 2017 FIKOM Jayabaya

Event FIKOM Days yang didakan oleh para mahasiswa Fikom Jayabaya digelar mulai hari Kamis 17/5s.d hari Jumat 28/5.

Event tahunan mahasiswa Fikom universitas Jayabaya ini, pada tahun ini bertema " Suara Bangsaku".

Hari kamis 17/5 dihelat seminar bertempat di gedung Universitas Jayabaya.
Mung Pujanarko

Sebagai pembicara adalah Budi Dwi Haryanto (Hary), pendiri kampung batik palbatu, Jakarta

Moderator Mung Pujanarko, S.Sos, MI.Kom.

Dalam seminar ini Hary menjelaskan hal-ikhwal Batik kepada para mahasiswa.
"Agar generasi muda mencintai Batik, dan paham mengenai pakem pembuatan batik, juga bisa membedakan antara Kain Batik Tulis dan Kain Motif Batik" jelasnya.

Karena menurut Harry jika disebut Batik tulis syaratnya adalah adanya canting, malam atau cap. (*)

Rabu, 17 Mei 2017

Fiska Clarisa Berikan Materi Video Jurnalistik di Diklat Kehumasan POLRI

 
Tribratanews.polri.go.id-Polda Papua Barat, Dalamrangka meningkatkan kemampuan kehumasan bagi anggota Humas Polri jajaran se-Indonesia, Divisi Humas Polri menggelar Pelatihan Kehumasan mengenai jurnalistik media sosial yang berlangsung tanggal 15-21 Mei 2017 yang berlangsung di Hotel Falatehan Jakarta.
Dihari kedua ini (17/5) Pelatihan diisi oleh narasumber Fiska Clarisa dari Reporter Kompas TV. Pada kesempatan tersebut Fiska memberikan materi Video Jurnalistik tepatnya cara menjadi presenter yang baik dan benar. Berbagai teori jurnalistik juga diberikan oleh Fiska kepada 34 personil Humas Polri yang mengikuti pelatihan tersebut. Usai pemberian materi dilaksanakan sesi praktek yang harus diikuti oleh peserta pelatihan. Para peserta diberikan sebuah tema oleh Fiska yang nantinya harus dipraktekan oleh peserta yang akan mengikuti praktek di kegiatan pelatihan ini. Peserta yang tampil pertama dari Polda Sumatera Selatan Bripka Yulius. Bripka Yulius melaporkan peristiwa banjir dari daerah Sumatera Selatan yang terjadi baru saja berlangsung. Walaupun tidak lancar, ini merupakan sebuah proses karna bila ingin sukses tidaklah mudah dan harus dengan berbagai latihan. Setelah Yulius peserta yang tampil dilanjutklan oleh peserta lain namun tidak semuanya karena waktu yang terbatas, namun pada umumnya para peserta mengiktui kegiatan ini dengan penuh semanagat dan keceriaan karena mendapatkan pengalaman baru dari seorang Jurnalis profesional. Usai

34 Orang Anggota Humas POLRI ikuti Diklat Jurnalistik

Jakarta- Sebanyak 34 orang anggota Humas POLRI terlihat sedang tekun mengikuti diklat Jurnalistik.
Diklat ini diadakan di Hotel Faletehan, di  bilangan Blok M, Jakarta Selatan, mulai hari Senin (15/5)  sampai dengan hari Minggu (21/5).



Dalam pelatihan ini aneka ketrampilan di bidang jurnalistik diajarkan kepada para anggota Humas POLRI.

Diantaranya adalah membuat quick news.

Menurut salah seorang peserta, yakni Aiptu Ruslan (42) dari Polda Papua, menyatakan bahwa dirinya mengikuti diklat ini untuk menambah kemampuan dan pengetahuan ilmu jurnalistik.

“Saya ingin mengetahui dan menambah pengalaman di bidang ilmu jurnalistik,” ujar Ruslan di Hotel Faletehan (17/5).

Sedangkan menurut Aipda Bayu (35)  dari Polda Bengkulu menyatakan hal yang sama.
 Namun untuk peserta yang bernama Brigadir Irma (27), lain lagi, dia menyatakan bahwa dirinya ingin menambah ilmu dan wawasan jurnalistik untuk menangkal hoax (berita bohong).


Nara sumber Mung Pujanarko menyatakan bahwa mengikuti diklat ini menjelaskan bahwa penulisan quick news memang bisa ampuh melawan hoax.



“Quick news sejatinya ampuh untuk melawan hoax atau berita bohong karena ditulis dengan tepat cepat dan akurat” pungkasnya. (*)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons