cari kata

Rabu, 20 Maret 2013

Gaya Komunikasi Jalanan

Artikel 
Ditulis pertama pada Wednesday, November 14, 2007 9:23 PM

Saat ini kita sering melihat, mendengar dan merasakan cara masyarakat berkomunikasi yang bisa dibilang didominasi oleh gaya “komunikasi jalanan" atau street gang communications style. Gaya komunikasi jalanan ini makin tumbuh subur seiring tayangan hiburan di televisi dan media massa tertentu terutama acara-acara humor di televisi yang sering menggunakan makian dan istilah olok-olok. Mengapa disebut gaya komunikasi jalanan ?, karena gaya komunikasi ini cenderung kasar, sering mengetengahkan bahasa-bahasa yang mengandung unsur kekerasan, makian, penghinaan pada harkat manusia, sarkastik dan bahkan sadistik yang kerap muncul dari para penggunanya. Bila komunikasi jalanan ini awalnya hanya digunakan oleh kelompok dalam masyarakat tertentu sepreti : preman, anak jalanan, dan komunitas terminal yang memang sering bergelut dan berinteraksi dengan gaya komunikasi jalanan ini. Maka kini gaya komunikasi ini kini mulai merambah pada gaya pergaulan semua kalangan terutama kalangan menengah yang secara sosiologis cukup cendekia dan educated di dalam srtuktur masyarakat kita.
     Ungkapan-ungkapan bernada kekerasan, sarkasatik, bahkan sadis pun menjadi “wajib” dalam percakapan- percakapan sehari hari kita, baik itu di kantor, di mall, maupun di tempat-tempat masyarakat kelas menengah -yakni pelajar, mahasiwa dan profesional -biasa berkumpul. Akrab di telinga kita tiba- tiba mereka yang berpenampilan necis, dandy dan modis tiba- tiba terceletuk dari mulutnya ucapan semacam :“Santai aje bos, ntar juga kelaar kerjaannya, kalau nggak dia akan saya habisin deh”, atau, tiba- tiba sosok wanita berbusana sopan dan berpenampilan bak peragawati tiba tiba berucap dengan gaya ‘premanwati’ : “(kata Makian...), siapa die? gile juga, dasar perek, ngakunya sekretaris tapi boss juga diembat.” atau sekelompok mahasiswa yang setiap hari bergulat dengan ilmu-ilmu luhur tiba-tiba bak preman baru menjelma saling mengumpat,“Bangs…t, anj.... kita hajar aja, kalau berani macam- macam, sudah stress nih..”. 

Masya Allah ungkapan-ungkapan bernuansa kasar, slang, dan sakastik yang biasanya hanya memenuhi ruang publik marjinal seperti terminal, pasar, sudut- sudut lampu merah, kini mulai mendapat ‘tempat yang layak” di kampus, kantor baik negri dan swasta, bahkan rumah sakit.
Seolah nilai yang berlaku di era reformasi ini adalah nilai semi premanisme bahkan pure premanisme yang menggejala di segala bidang. Boleh jadi berlaku dalam benak masyarakat, sebuah adagium dengan berbahasa semakin kasar, keras, dan bergaya sadis maka akan semakin dihormati dan disegani orang tesebut dalam lingkup sosialitasnya.
 Bila dibiarkan gejala semacam ini merebak di kalangan masyarakat kelas menengah kita yang nota bene agent of change, maka dikhawatirkan change of cultural behaviour yang kurang santunlah yang akan diwariskan pada generasi berikut. Budaya komunikasi ini mencerminkan kepribadian kita sebagai sebuah bangsa yang mulai kehilangan jati dirinya, terutama akibat budaya barat impor. Generasi baru bangsa mengalami degradasi kemampuan berkomunikasi antar masyarakat secara patut.
 Relasi antara manusia dibangun melalui komunikasi, melalui komunikasi pula kita dapat mengenal pribadi orang, dan sebaliknya kita juga dikenal oleh orang lain. Cara memilih kata -kata yang digunakan merupakan cerminan perumusan pemikiran orang tersebut, (Mulder, Niels : Individual dan Society, Interpretation of Social Change, Illinois 1982). Dari sinilah arti penting komunikasi yang sehat dapat dibangun. Komunikasi yang sehat berarti menggunakan gaya bahasa yang jernih dan didasari dari pesan yang berasal dari hati nurani. Dengan demikian masing-masing individu dapat memberikan rasa respek dan penghargaannya pada individu lainnya -dalam proses komunikasi itu- secara wajar, tanpa di dasari oleh status sosial.
Di sini penulis ingin mengulas bagaimana awalnya masyarakat kita, terutama yang nota bene kaum intelektual dan kelas menengah mulai mengadaptasi budaya komunikasi jalanan atau gaya premanisme tersebut. Awalnya, dalam sejarah perkembangan kebudayaan Indonesia , kelas masyarakat yang terpelajar mendapat sebutan khusus diantaranya, kalangan pegawai, priyayi dan gedongan, (Koentjaraningrat, 1980). Pada jaman Belanda orang tepelajar jaman dahulu masih memperhatikan etikanya sebagai sebuah etika kepatutatn dalam berkomunikasi karena menunjukkan’kelas kepriyayian’. Namun seiring dengan pergeseran nilai moral dan etika pergaulan dari jaman ke- jaman, etika dalam berkomunikasi pun makin kabur dan tak memiliki standar kepatutannya lagi. Dewasa ini dalam pergaulan, cara berkomunikasi yang sesuai dengan etika kepriyayian jaman dulu cepat dianggap sebagai sebuah bentuk kelemahan. Karena jaman kapitalis yang serba keras dan kompetitif ini menilai alur berkomunikasi secara halus dianggap sebagai bentuk komunikasi yang feminin. Dan dianggap tidak mewakili bahasa maskulin yang sarat dengan saling mengirim pesan yang bertujuan saling mengukur kekuatan baik itu kekuatan financial serta kekuatan kekuasaan. Sebenarnya bentuk komunikasi ini secara tidak langsung didapatkan oleh berbagai kalangan dari gaya dialog film yang sering dilihat dan didengar oleh masyarakat. Umpatan, makian, dan sumpah serapah dalam film tersebut tertanam dalam benak anak muda dan dianggap cool.

 Di wilayah negara Barat sendiri menyumpah disebut dengan swear  atau curse , yang berarti kutukan dalam bahasa Indonesia. Soal sumpah serapah ada sedikit perbedaan antara Indonesia dan Barat. Kalau di Barat yang dikatakan menyumpah serapah itu adalah jenis kata- kata makian semisal “son of a….”. namun menyumpahi dalam budaya timur berarti mendoakan buruk atau mengutuk pada lawan bicara. Derasnya gaya bahasa ala barat yang diserap oleh publik kita ini sejatinya merupakan cross culture communication atau komunikasi lintas budaya, karena ada perbedaan cultural yang mendasar. Kebudayaan komunikasi ala Hollywood didasari pada gaya bahasa awal mula terbentuknya koloni-koloninya, yakni masyarakat miskin imigran dari Eropa sebagai penduduk awal, berkembang menjadi gaya bahasa cowboy, yang menekankan sumpah serapah agar terkesan macho.
Sementara itu sebagai bangsa yang berbudaya timur, gaya komunikasi masyarakat kita dari berbagai suku bangsa diadaptasi dari kelas menengah yang terpelajar yang dekat dengan sumber kebudayaan baik itu istana raja, keraton, kesultanan, kemudian nilai etika itu mengalir pada kelas di bawahnya. Seperti gaya bahasa yang dipakai oleh para bangasawan, pujangga, semacam syair-syair bernuansa religius, yang mementingkan unsur estetika dalam berkomunikasi. Namun sayangnya pada kenyataan yang sedang berlangsung, kemampuan menyusun unsur estetika dalam berkomunikasi ini mulai meluntur dalam masyarakat kita di semua kelas pergaulan, seiring dengan menguatnya nilai-nilai premanisme di segala bidang. (*)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons