cari kata

Jumat, 10 Agustus 2012

Menulis untuk Mengisi Ruang Bathin

Menulis itu pada hakekatnya adalah untuk mengisi ruang bathin pribadi penulis dan pembaca. Ruang bathin manusia pada hakekatnya ‘minta’ diisi terus-menerus secara alamiah. Ada orang yang senang mengisi ruang bathinnya dengan melihat film, menonton acara-acara hiburan, dan ada yang suka mengisi ruang bathinnya dengan bekerja (istirahat aktif), berkesenian, bermain olah raga, dan menulis serta membaca.  Saya memperoleh informasi dari beberapa penulis, terutama dari Ir. Subagyo M.Sc yang punya blog di http://idesubagyo.blogspot.com, beliau mengatakan bahwa di Indonesia ini kebanyakan orang tidak suka membaca. Lebih suka menonton.
Ternyata benar, saya pikir-pikir memang  pada dasarnya manusia itu kurang suka membaca dan lebih suka menonton. Menonton hiburan adalah sarana pengisi ruang bathin no 1 bagi manusia, terutama pada masyarakat Indonesia. Kemudian pada lapisan-lapisan masyarakat tertentu ada yang suka mengisi ruang batinnya dengan menulis atau membaca, tapi jumlahnya tidak sebanyak khalayak aktif penikmat tontonan segala macam hiburan. Televisi menjadi barang wajib yang harus dipunyai oleh semua rumah tangga, atau mereka yang belum berumah tangga sekalipun. Televisi adalah barang yang keramat, tempatnya pun terhormat di dalam sebuah rumah, yakni : di dalam ruang keluarga,  di mana  quality time atau waktu yang berkualitas bagi keluarga dihabiskan sambil menonton televisi bersama.
Tapi, inilah kadang yang menjadi sebuah problem klasik bagi sebuah keluarga, karena setiap anggota keluarga memiliki acara favoritnya sendiri-sendiri. Sang anak lebih suka nonton film kartun atau nonton FTV, ibunya nonton infotaintmen dan sang ayah lebih memilih menonton berita dan olah raga. Ini sudah sangat umum sepertinya. Akhrnya quality time yang diharapkan ada di ruang keluarga ditemani sang televisi menjadi ajang perebutan channel televisi. Apalagi kalau keluarga itu berlangganan TV kabel, kemungkinan besar tak ada acara nonton bersama, yang ada adalah sama-sama nonton TV kabel, tapi  dengan decoder tambahan untuk masing-masing anggota keluarga yang menonton channel favoritnya di kamar dan ruang waktunya masing-masing. Ahirnya, tidaklah sinkron jika dikatakan bahwa quality time keluarga adalah nonton TV bareng.
Sementara seorang kawan saya mengatakan  quality time bagi diri dan keluarganya diperoleh saat makan malam atau waktu sarapan. Di kedua waktu itulah sebuah keluarga membicarakan hal-hal untuk mempererat hubungan keluarga. Namun karena desakan pekerjaan dan studi dari setiap anggota keluarga, maka  makan malam pun kadang tidak sama waktunya. Dan makan pagi juga tidak sama waktunya. Akhirnya quality time didapat keluarga hanya saat hari minggu, itupun jika punya uang pergi wisata bareng, dan jika sedang tidak punya uang, ya di rumah lagi nonton televisi bareng lagi- secara sendiri-sendiri.
Kalau sudah begini maka membaca dan menulis menjadi sebuah sarana tersendiri bagi sebagian orang  guna mengisi ruang bathin. 
Menurut Ir. Subagyo, M.Sc  yang blognya saya ikuti di http://idesubagyo.blogspot.com, beliau mengatakan  bahwa dengan menulis artikel, beliau telah menyalurkan ‘banjir’ ide di kepalanya. Pak Bagyo demikian panggilan akabnya yang sekarang berumur 74 tahun ini adalah seorang pelahap berbagai macam buku, baik berbahasa Russia, Inggris, bahasa Belanda, dan Indonesia. Karena itu blognya dipenuhi dengan artikel-artikel dari hasil bacaannya dan pengamatannya.
Waktu saya wawancarai, Pak Bagyo banyak bercerita bahwa saat mudanya dulu dia suka sekali membaca buku tentang apa saja. Dia menceritakan saat berburu buku dan memperoleh buku pengetahuan yang menarik, maka dia baca dengan senang hati sampai tamat. Jadi saat masa remajanya sekitar umur 11-16 tahun Pak Bagyo punya jadwal tetap, pagi hari bekerja membantu ibunya, kemudian berangkat sekolah, pulang istirahat (ishoma) membaca dan malam belajar. Tak heran setelah lulus SMAN 2 di Surabaya tahun 1956, Subagyo muda kemudian  diterima di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, kemudian saat tahun 1959 ada kesempatan test untuk memperoleh bea siswa di Russia, Subagyo muda dinyatakan lulus dan berangkatlah dia belajar pertanian di Russia.
Nyaris tak ada waktu santai apalagi dugem bagi Subagyo muda, di Russia belajar secara spartan. Dan banyak mahasiswa asal Indonesia yang dipulangkan karena gagal studi terutama gagal mempelajari bahasa Russia selama 3 bulan saja. 
Setelah lulus, kemudian pulang ke Indonesia pada tahun 1966, ternyata bukannya tenaganya dipakai oleh pemerintah, malah semua mahasiswa lulusan Russia atau lulusan negara Blok Timur,  dikejar-kejar aparat untuk mengisi ruang penjara dan mengisi kuota Pulau Buru sebagai kamp konsentrasi.  Subagyo muda tabah, dan memilih menyingkir dari dunia ramai untuk bekerja di kebun kopi terpencil di ujung timur Pulau Jawa. “Yang mencari lulusan Russia untuk ditangkapi itu banyak pihak, dulu itu seperti bounty hunter party bagi setiap pihak untuk mencari kami lulusan Russia, kami dikejar-kejar bukan untuk disanjung bak lulusan Amerika, tapi ya untuk dimasukkan kamp konsentrasi di Pulau Buru,”ujar Subagyo seraya tersenyum penuh ketabahan.
Padahal menurut Pak Bagyo, ide pemuda jaman dulu yang sepaham dengan Bung Karno itu ya sederhana saja : berdikari-berdiri di atas kaki sendiri, sedapat mungkin mengurangi/menghindari hutang luar negeri yang ujungnya agar bangsa Indonesia bisa menikmati kekayaan alam Indonesia, bukan dimonopoli asing. Tapi hal itu rupanya mustahil, karena hampir tidak mungkin menghindar dari polarisasi dua kutub besar saat itu. Ide Negara Non Blok yang ingin mandiri gagal total di Dunia ini. 
Pada akhirnya, kegiatan menulis memang mengasyikkan bagi sebagian orang, dan jika tulisannya enak dibaca dan penting bagi pengisi bathin khalayak pembaca maka ada saja respon yang masuk, baik ingin menanggapi, mengkritik atau menyukai (like). Itu semua karena ada orang-orang yang tidak terlampau menyukai menonton hiburan, namun lebih suka menghadap layar komputernya yang sedang blank (putih semua) dan memulai mengetikkan huruf demi huruf memulai menuliskan idenya. 
(Mung Pujanarko, bergabung di PPWI, lihat situs www.pewarta-indonesia.com)

Jumat, 03 Agustus 2012

Komunikasi dengan Pengguna Baru Narkoba


Narkoba adalah zat yang dirasa menyenangkan bagi pemakainya, yakni para drug abuser atau penyalah guna narkoba. Sebenarnya Narkoba bisa digunakan untuk tujuan medis yakni menyelamatkan nyawa manusia dengan pemakaian yang sah/legal dan terukur secara medik. Tapi bila disalahgunakan, maka narkoba menjadi ‘permen’ untuk memuaskan nafsu bersenang-senang para penyalah gunanya.
Cara ber-Komunikasi dengan pengguna narkoba baru atau early drug abuser ditujukan bagi para orang tua, guru, dan pihak mana saja yang ingin menjalin komunikasi dengan early drug abuser atau penyalah guna baru narkoba yang telah diketahui mulai mencicipi narkoba sebagai sarana untuk bersenang-senang.
Cara berkomunikasi dengan pengguna baru narkoba dapat dilakukan dengan penerapan Teori Sikap atau Stand Point Theory (Nancy Hartsock, 1997 dalam West and Turner, 2010). Dalam teori sikap (Stand Point Theory) komunikator harus telah terlebih dahulu memahami keadaan sosial ekonomi yang melatar belakangi komunikan, karena dalam Teori Sikap diteliti setiap individu pada dasarnya adalah bagian sebuah kelompok (group), dan ketika kehidupan material distrukturkan dalam kelompok yang berbeda latar belakang ekonominya, terlihat bahwa masing-masing individu selalu berada dalam sebuah kelompok kelas masyarakat yang terpisah berdasarkan lingkungan pergaulannya.
Dalam asumsi Teori Sikap atau Stand Point Theory, Hartsock mengemukakan pemikiran bahwa lokasi individu dalam struktur kelas membentuk dan membatasi pemahaman mereka akan hubungan sosial (Hartsock dalam West and Turner 2010). Jadi bila asumsi ini dilekatkan pada pengguna baru narkotika, maka setiap inividu pengguna pada dasarnya mengerti bahwa hubungan sosial mereka (early drug abuser) terbatas pada satu kelas sosial saja dan sulit untuk bergaul lintas kelas sosial. Dalam alur pergaulan dalam satu persamaan kelas sosial, maka pembentukan group atau peer group menjadi lebih mudah terjadi. Bahkan bila di Amerika misalnya, pembentukan sebuah kelompok dalam persamaan status sosial dan lokasi dapat berkembang menjadi terbentuknya sebuah Gang (kelompok).
Saya hanya ingin mengemukakan bahwa dengan memahami teori komunikasi yakni yakni Teori Sikap (Stand Point Theory) seorang pelajar ilmu komunikasi dapat terlebih dahulu mengidentifikasi masalah terikatnya individu pada sebuah kelompok atau peer group.
Terikatnya seorang anak remaja atau individu ke dalam sebuah peer group akan menimbulkan efek loyalitas pada peer group dan keterikatan khusus pada peer groupnya. Grup atau kelompok sebaya ini menjadi identitas sosial seorang individu.
Yang patut diwaspadai jika dalam peer group ini muncul kecenderungan untuk hanya berkumpul untuk bersenang-senang, bersama tanpa melakukan hal- hal yang positif seperti belajar, berolah raga, berkesenian, ber-religius bersama dan hal- hal yang konstruktif lainnya, maka sebuah group akan mudah terintroduksi oleh kesenangan memakai narkoba. Karena efek senang (fun) dengan narkoba sepanjang pengamatan saya adalah bersifat speed (cepat) dan sudden/ seketika, juga inter-dimensional (lepas dari alam nyata).
Bagi early drug abuser, perasaan terlindung dalam sebuah peer group dalam satu lingkungan kelas sosial yang sama, membuatnya aman berbuat apa saja asalkan bersenang-senang bersama. Ini-lah yang orang tua, guru dan siapa saja yang peduli, bisa mendeteksi apakah anak-anaknya mulai mengenal narkoba atau tidak dari peer groupnya. Kata orang banyak biasanya adalah : karena pergaulan.
Kata- kata “karena pergaulan “ inilah yang diselidiki lebih jauh dengan Stand Point Theory atau Teori Sikap. Bagimana sikap individu dan kecenderungan-kecenderungannya bila berada dalam sebuah ikatan kelompok sosial yang sama.
Jika dirunut akar teori ini, bahkan Hegel sebelum Hartsock telah mendefinisikan alur Teori Sikap ini dengan menggunakan asumsi bahwa individu pada dasarnya terbagi dalam kelas-kelas sosial yang memiliki sikap yang berbeda dalam memandang kehidupan ini berdasarkan sikap dan cara pandang kelas sosial dimana individu itu berada.
Memang ada yang bilang, : “lho kan individu itu bisa bergaul dalam lintas kelas sosial yang berbeda?”
Jawab : “Kenyataannya memang bisa, tapi apakah mayoritas individu bergaul dengan kelas sosial yang berbeda?” Coba pikirkan dulu jawabannnya. Dan lihat saja anak-anak remja kita, apakah mayoritas kawannya adalah teman-teman dalam lingkup kelas sosial yang sama ataukah mayoritas bergaul dengan kelas sosial yang timpang ?
Stand Point Theory dalam ilmu komunikasi hanya membantu menjelaskan bahwa jika kita akan melakukan komunikasi maka pahami dulu beberapa asumsi Teori Sikap. Untuk membaca kecenderungan sikap Individu dalam kelompok sosial yang tersedia untuk individu teresebut.
Early drug abuser -tak terbantahkan- bahwa mereka biasanya mendapatkan pasokan narkoba dari mulai dikenalkan oleh kawan. Ingat, dikenalkan oleh kawan, oleh pergaulan. Maka sebaiknya kita teliti sejauh mana anak-anak remaja kita terikat dengan peer groupnya ? kalau peer group positif tak perlu dibahas, tapi jika peer group terpolusi oleh beberapa anasir pengembang kegiatan ‘teler bersama’ ini yang repot. Apalagi jika peergroup negatif tadi solid, maka kalau bisa sebaiknya ditarik saja individu itu dari peer groupnya.
Pada dasarnya sikap setiap individu adalah ingin mendapatkan respek dari sesama anggota kelompok pergaulannya. Respek yang keliru adalah jika dianggap ‘berani’ jika mencoba rokok, miras dan narkoba, awalnya untuk memperoleh impresi dari kelompok sebaya. Harus ditanamkan bahwa respek itu jangan asal ingin mendapat respek dari kelompok sebaya saja, namun respek bisa diperoleh dari hal yang sederhana misalnya, sadar bahwa masa depannya bukanlah tergantung peer groupnya semata, tapi tergantung pada sikap individu/ remaja itu sendiri untuk berani menjalani safe life atau hidup secara aman bagi jiwa dan tubuhnya sendiri. (Oleh : Mung Pujanarko)

Selasa, 03 Juli 2012

Pewarta Warga ‘Imbangi’ Berita Tendensius



Menulis berita, artikel, opini atau mengunggah video bagi pewarta warga adalah hal yang bisa dan biasa dilakukan oleh sang pewarta warga (citizen journalist). Upaya ini adalah untuk mengetengahkan fakta yang disaksikannya/dialami di lapangan ke dalam berbagai saluran media, terutama new media (situs website dan bentuk konvergensi media) agar dapat diketahui oleh masyarakat untuk kebaikan masyarakat. Informasi dari pewarta warga umumnya bersifat informasi yang langsung apa adanya dan sejajar, dalam arti sejajar adalah warga yang melaporkan dalam karya jurnalistik baik tulisan dan gambar juga auvi adalah warga biasa yang kedudukannya adalah sama dengan masyarakat  yang mengalami/ menyaksikan sebuah peristiwa.
Jika mungkin di sebuah tempat ada masyarakat yang ‘alergi’ terhadap wartawan, namun  bagi pewarta warga, dia tak memiliki sekat dengan masyarakat karena dia adalah warga biasa yang melakukan kegiatan pewarta warga, jadi sikap alergi terhadap wartawan ini tak bisa dialamatkan bagi Sang CJ atau pewarta warga.
Kini warta berita dari pewarta warga bisa ‘mengimbangi’ sebuah berita yang tendensius yang diusung oleh media besar.  Saya beri tanda kutip ada kata ‘mengimbangi’, karena dalam skala kuantitas dan kualitas mungkin saja warta dari pewarta warga ini tertinggal dari media besar, namun dari segi upaya untuk menyeimbangkan atau check and balances tehadap berita yang diusung oleh media besar, sudah cukup signifikan atas upaya pewarta warga ini.
Contohnya, ketika media Israel yang memiliki akses lebih luas, fasilitas lebih lengkap memberitakan secara tendensius dan parsial tentang ‘kesalahan’ bangsa Palestina yang nota bene adalah musuh Israel. Maka di sisi lain, pewarta warga Palestina dapat ‘mengimbangi’ berita dari media-media besar Israel yang  hampir selalu menyudutkan pihak Palestina.

Contohnya, video  yang dibuat oleh seorang guru bernama Ibrahim Makhlouf. Dalam rekaman itu, seorang tentara Israel menembaki warga desa Aseera al-Qibliya, wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel. Peristiwa itu mengakibatkan salah seorang pemuda desa terkena tembakan tentara Israel.

"Kami ingin seluruh dunia melihat apa yang Israel lakukan. Mereka mencuri dan menyerang kami, dan dunia berkata kamilah  teroris dan kriminal," katanya seperti dikutip alarabiya.net, Kamis (24/5/2012).
Tak lama setelah diunggah, Departemen Pertahanan Israel yang melihat video itu segera memerintahkan penyelidikan. Seperti sikap Israel sebelumnya, mereka selalu saja berdalih bahwa ada hal yang dilebihkan warga Palestina terhadap Israel guna menarik simpati masyarakat internasional. "Tampaknya video tersebut tidak mencerminkan kejadian secara menyeluruh," dalih juru bicara Departemen Pertahanan Israel.

Juru bicara pemukim Yahudi mengatakan, bentrokan itu dimulai ketika warga Palestina mulai melemparkan batu. Melihat tindakan itu, tentara Israel segera meresponnya dengan meletuskan tempakan ke arah kerumunan warga Palestina. "Mereka yang memulai," kata dia.

Memang Palestina selama ini bisa dibilang ‘kalah segalanya’ dari Israel yang lebih kaya, kuat dan modern, namun perjuangan pewarta warga di Palestina ini  dapat membuktikan bahwa  potensi pewarta warga Palestina membuat Israel tidak lagi bisa menutup-nutupi tindakan biadab tentara dan warganya terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Sebab, warga Palestina mulai mengeliatkan "jurnalisme warga". (Mung Pujanarko, anggota PPWI)

Senin, 18 Juni 2012

Rumpun Pisang Varigata


Saya menyukai jenis Pisang Varigata (Musa varigata). Karena yang pertama rasa buah pisang ini manis. Yang kedua, karena warna daun pisang varigata ini unik. Saya mulai menanam tahun 2012.  Bisa dilihat, warna Hijau pada daunnya bergradasi, mulai dari  hijau tua,  belang hijau muda dan belang putih. Bahkan ada yang putih polos dalam sehelai daunnya.
Di pekarangan, saya cuma menanam satu rumpun saja. Mulanya hanya satu pohon, kemudian beranak jadi satu rumpun.

gradasi warna rumpun pisang varigata, memberi corak tersendiri di pekarangan


satu rumpun pisang varigata, ada yang warnanya putih polos (lihat kanan)

warna gradasi hijau daun pisang varigata

buahnya belum bisa difoto

yang sudah berbuah, rasa buahnya manis

kalau lihat warna daun yang putih polos (kanan), berarti klorofilnya amat sedikit, hampir tak ada, foto tahun 2012

Buah varigata belang sesuai warna daun, foto diambil tgl 19/3/2014


Buah varigata difoto tgl 19-03-2014

 Ketiga foto buah di atas saya upload tanggal 19/03/2014, karena baru berbuah. Memang sempat berbuah sekali, pada tahun 2012, kemudian hampir berbuah tahun 2013 tapi rubuh  karena terpaan angin kencang. Jadi pohon ini memang punya kelemahan, tak tahan angin, dan jarang berbuah, bayangkan setelah 2 tahun tanaman di pekarangan ini, baru berbuah lagi. Lama sekali menunggunya. Tapi apa mau dikata karena anakan generasi sebelumnya rubuh terkena angin kencang yang biasa melanda Bogor.

Anakan pisang ini pun semakin jarang, karena juga rentan penyakit cendawan. Maka untuk rekan blogger yang meminta bibitnya, saya minta maaf belum dapat memberikan anakannya, karena anakannnya juga semakin jarang.



Begitulah, ada beberapa jenis tanaman yang saya sukai yang sengaja saya tanam di pekarangan rumah. Mulai dari aneka Srikaya,  Jambu bol dan biji, juga di sebelah pisang saya tanam Kumis Kucing.
Sedangkan untuk rambutan,ada anakan Rambutan Pulasan. Insya Allah, akan saya naikkan ke blog saya ini juga.

Tulisan ini selain untuk kenangan arsip saya pribadi, juga tulisan ini adalah untuk semua warga yang gemar menanam di pekarangan, tak peduli luasnya. Yang penting ada pekarangan ya tanam apa saja yang kita sukai. Bila tak ada pekarangan, apartemen, ya tanam saja hidroponik kembang atau kaktus, ini bikin kita senang. Saya tak tahu persis kenapa tanaman bikin bahagia, tapi menanam tanaman membuat senang hati. Itu saja.

tekstur warna daun

white leaf, april 2014

white leaf, april 2014

tekstur buah april 2014

white leaf, april 2014

white leaf, april 2014, tekstur


Menanam tanaman buah di pekarangan sejatinya adalah upaya rakyat kecil untuk bisa menikmati buah yang telah diberikan Tuhan YME di bumi Nusantara ini. Jutaan orang di Indonesia baik di Kota dan di Desa juga menanam tanaman buah dan tanaman yang mereka pilih untuk memberikan manfaat dan untuk disyukuri sebagai  kemurahan Tuhan YME (*)

Update posting Bulan Februari 2020






Alhamdulillah pisang varigata di halaman survive dari musim kering th 2019 yg panjang di Bogor.

Bulan februari 2020 berbuah.





Rabu, 13 Juni 2012

Party




Party-party kerap digelar sebagai in house party di diskotik, club malam, cafe dan lain-lain tempat hiburan malam. Kemudian party juga banyak digelar sebagai rave party. Rave party biasanya mengambil tempat di pantai atau di tempat terbuka, bisa di suasana pegunungan maupun di villa-villa di berbagai kawasan wisata.
Di Indonesia sebagai negara dunia ketiga, party kerap menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Ini mirip negara Kuba dan Amerika latin seperti Brazil di mana orang kaya dan wisatawan Amerika kerap mengunjungi negara yang lebih miskin di Amerika Selatan untuk wisata dan party, karena lebih murah dan bergelimang kenikmatan.
Party pada dasarnya adalah menghibur diri. Saya jadi agak tidak connect, mengapa orang yang mapan kok masih menghibur diri, apa dirinya dalam kondisi yang sedih ?
Ada wanita muda bertubuh tambun pulang party kemudian mabuk dalam mengemudi avanza hitam dan menabrak 9 orang sampai tewas di Jakarta beberapa waktu lalu, edannya lagi wanita muda tambun-lajang itu masih mencoba melarikan diri, namun gagal karena menabrak halte bus. Dan banyak juga orang usai party dalam kondisi mabuk berat dan masih mengemudi. 

Ada lagi,  seorang  model cantik majalah dewasa pria juga mengemudi sambil mabuk  dan menabrak tujuh orang di kawasan Tamansari Jakarta Barat dengan menggunakan mobil Honda Jazz merah dengan nomor polisi B 1864 POP Kamis (11/10) sekitar pukul 17.30 WIB, lalu. Model yang memang pekerjaannya adalah me-model-kan wajah dan tubuhnya, -(pakaian dan apa yang dipakai saat berpose jadi model majalah pria dewasa tentu tidak begitu penting)-, itu dalam keadaan mabuk berat saat mengemudi. Dua dari 7 (tujuh) orang korban diantaranya anggota polisi Polsek Tamansari  Jakarta Barat.

Pada dasarnya orang berhak party, tapi tak boleh bunuh orang seusai party hanya karena mabuk mengemudi.

Party menjadi adat kebiasaan sebagian kaum mapan di Indonesia. Oh yeah, prinsip 'enjoy aja' dan 'enak gila' memang menjadi buruan dan sasaran pengejaran kenikmatan hidup bagi kaum mapan. Dalam piramida sosial kaum mapan menempati pucuk piramida sosial, dan kaum menengah serta bawah menempati urutan strata sosial di bawahnya. Strata sosial dibangun atas konstruksi piramida sosial.

Di Indonesia kini tidak mengenal adanya pertentangan kelas, karena kelas bawahpun dicekoki mimpi untuk suatu saat naik ke atas. Tapi piramida sosial secara dialektis bukanlah piramida terbalik, Namun piramida yang curam dan makin ke atas semakin (amat) sempit. Walhasil karena party dianggap sebagai sarana untuk naik kelas, maka kelas menengah yang telah yakin kelak -entah kapan- naik ke atas pun sebagian juga ingin terlibat dalam party agar disebut kelas atas.

Dalam suasana party  yang umum adalah suasana :
1.    Gelap dan cahaya yang menyambar-nyambar sekilas. Gelap, untuk menyembunyikan kondisi diri, menenggelamkan identitas personal, mengaburkan self being,  agar cepat larut masuk dalam suasana party
2.    Musik house, music party yang berirama seperti music voodo Afrika dengan ketukan irama ¼ yang bertalu-talu, menimbulkan efek euforia dan musik house dengan irama tribal, dan ritme yang menghentak merangsang otak untuk bergerak ke arah trance (kebalikan dari musik meditatif), trance adalah satu suasana yang melupakan diri. Volume musik lebih dari 80 desibel, artinya lebih dari volume suara normal yang bisa normal didengar manusia. Volume suara di atas 80 desibel membuat jiwa menjadi terpacu adrenalinenya, jantung berdegup lebih cepat dari normal hanya dengan mendengar musik party ini saja.
3.    Gerakan badan : dalam party badan bergerak tak berirama. Sebenarnya ada baiknya untuk membakar lemak. Tapi waktu party yang tengah malam hingga dini hari justru membuat kondisi fisik dehydrated dan tidak seimbang. Olah raga membakar lemak sebaiknya justru pagi setelah bangun tidur.
4.    Mass hysteria, dalam party dikategorikan sukses jika bisa memancing masa hysteria crowd atau pengunjung yang memenuhi floor atau lokasi party. Massa hysteris dalam party dilakukan secara berjamaah dengan crowd yang bergerak bersama-sama mengikuti irama musik yang mengentak. Dalam tradisi kesukuan (tribal) tarian tribal dance dengan bunyi genderang bertalu dan asupan konsumsi zat halusinogenik bisa memancing kondisi trance. Kondisi  trance bisa diperparah saat pelaku party menggunakan zat psikoaktif adiktif maka efek 'on' akan menjadi lebih kental terasa dan bisa membuat pelaku party serasa melihat alam roh, alam gaib. Ini pula yang menimbulkan efek paranoid.
5.    Party menjadi semakin ‘sik-asyik’ bila beredar narkoba diantara pengunjung yang dapat dibeli secara bebas. Efek narkoba dalam party akan membuat stamina meningkat dan derajat euforia bertambah tajam. Pill party kini sesuai perkembangan teknologi kimia dikenal berbagai macam jenisnya. Karena itu banyak orang bilang party tanpa pill party bagaikan sayur tanpa garam. Maka kompletlah sudah perjalanan 'party goer' menuju alam nirwana dunia.

   Party amatlah lekat dengan sejarah kehidupan manusia.  Kita bisa membaca sejarah pada jaman Kerajaan Singhasari yang didirikan oleh tokoh 'ancient preman' bernama Ken Arok pada tahun 1222.  Kerajaan ini sangat makmur, kemudian pada tahun 1268 Kertanegara naik tahta. Nah saat Kertanegara naik tahta inilah tercatat banyak 'ancient wild party' yang dilakukan oleh raja ini.
  Pada abad ke 12 jaman kerajaan Singhasari, sebuah party gila-gilaan pernah tercatat dalam sejarah Saat itu Singhasari dipimpin oleh Raja Kertanegara yang menganut sekte Bhairawa. Sekte Bhairawa ini melakukan pemujaan terhadap 12 hawa nafsu jasmaniah untuk mencapai nirwana.  

  Keduabelas hawa nafsu jasmaniah yang dimaksimalkan itu adalah : melihat tontonan erotis, menyedot narkotika, menari telanjang bersama, memakan semua jenis makanan, termasuk makan bangkai dan minum darah, mendengar musik dalam suasana trance (mirip diskotik abad ke 12), secara bersamaan melakukan seks secara bebas secara berganti-ganti, melakukan orgy atau pesta seks secara beramai-ramai, melakukan pesta seks AC-DC secara simultan berganti-ganti antar lain jenis kelamin, melaksanakan berbagai fantasy seksual, bahkan yang paling liar di benak peserta sekte Bhairawa, ini semua dengan melakukan seks tantra terbalik, yakni menguras semua energi chakra seksual agar menjadi lemas karena habisnya energi tantric peserta sekte, dilanjut melakukan pesta seks yang paling liar dengan mencampur kondisi halusinogenik dengan minum tuak, nyedot candu, dan secara bebas berperilaku seks (maituna) ditingkah tarian dan nyanyian, semuanya berada dalam tempat yang dipenuhi crowd yang mengalami 'kegilaan' musik trance. Kompletlah sudah keduabelas cara sekte Bhairawa abad ke 12 untuk mencapai nirvana dunia (bukan nirvana akhirat).

  Tampaknya kini cara-cara itu juga kerap dilakukan untuk mencapai derajat kenikmatan puncak duniawi (ultimate satisfaction), terbukti adanya tempat 'one stop entertaintment' yang menjamur, yang secara modern menyediakan pelampiasan untuk 'menghabiskan energi positif' dan memuja semua kenikmatan yang ada di Dunia tanpa tersisa. Foya-foya sekte ini segera mengembalikan manusia ke derajat hewani. Saat manusia kembali lagi ke derajat hewani, tepat sebelum Adam dan Eva beranjak menjadi derajat manusia yang mulia, ada tawa puas dari pihak kegelapan yang telah bersumpah untuk mengembalikan anak-cucu Adam kembali ke derajat hewani.

Demikian sejarah Singhasari  abad ke 12 di Nusantara berulang pada abad ke 21 ini saat cara-cara sekte Bhirawa ini masih terus digunakan semua demi mencapai ‘nirwana’ duniawi.  (*)


Penerapan teori Komunikasi SET dalam Hubungan antar Pasangan

Dalam ilmu Komunikasi, dikenal adanya Social Exchange Theory atau SET. Teori Pertukaran Social (Social Exchange Theory) ini diperkenalkan oleh John Thibaut dan Harold Kelley (2008). Sebenarnya secara tanpa sadar antar kekasih maupun pasutri menerapkan teori SET dalam hubungan antar pribadi mereka.
    Teori  Pertukaran Sosial atau Social Exchange Theory (SET) dari John Thibaut dan Harold Kelley ini menganggap bahwa bentuk dasar dari hubungan sosial adalah sebagai suatu transaksi dagang, atau sebagai bentuk metafora ekonomi (Thibaut & Kelley dalam West & Turner, 2008). Di mana orang berhubungan dengan orang lain pada hakekatnya karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam teori pertukaran sosial  juga dijelaskan bagaimana kekuatan hubungan antar pribadi mampu membentuk suatu hubungan interaksi dan menghasilkan suatu usaha, untuk mencapai keseimbangan dalam hubungan tersebut.
   Thibaut dan Kelley dalam West dan Turner (2008) menyatakan sebenarnya manusia selalu menghitung antara pengorbanan (cost) yang mereka lakukan dan hasil (reward) yang akan mereka dapatkan dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam hal ini Thibaut dan Kelley  menjelaskan  ada 5 (lima) unsur yang berperan dalam SET (Social Exchange Theory) yakni :
1. Pengorbanan  (cost), dijelaskan pada hakekatnya setiap individu selalu memperhitungkan pengorbanan dalam sebuah hubunngan antar pribadi. Thibaut dan Kelly menjelaskan bahwa unsur pengorbanan  termasuk elemen negatif dalam hubungan antar individu
2. Penghargaan (reward), penghargaan yang dimaksud  adalah sebuah keuntungan dalam hubungan. Reward bisa berupa apa saja mulai dari keuntungan fisik dan non fisik. Fisik bisa berarti materi yang diperoleh dan non fisik bisa berupa dukungan, waktu dan penerimaan sosial. Thibaut dan Kelley memandang reward sebagai elemen positif.
3. Hasil akhir atau Outcome. Hasil akhir di sini adalah value (nilai) dari semua pengorbanan dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh.  Dijelaskan bahwa setalah individu memperoleh outcome dari sebuah hubungan, maka bisa dipertimbangkan apakah hubungan ini diteruskan atau ditinggalkan.
4. Level Perbandingan (Comparison Level) menunjukkan adanya proses berpikir seseorang dalam memperbandingkan antara semua cost dan reward yang dia terima dalam menilai hubungan antara individu.
5. Level Perbandingan Alternatif (Comparison Level for Alternative). Disingkat (CLalt) adalah bagaimana seorang individu mengevaluasi sebuah hubungan setelah dibandingkan dengan alternative realistis dari hubungan tersebut.
   Selain itu, dalam SET dijelaskan pula oleh Thibaut dan Kelley bahwa ada 2 jenis  kekuasaan yang berlaku dalam hubungan antara individu yakni :
1. Pengendalian Nasib (Fate Control), adalah kemampuan individu untuk mengambil keputusan apakah hubungan antara individu sebaiknya diteruskan atau diputuskan.
2. Pengendalian Perilaku (Behavioral Control) yakni sebuah kekuatan untuk mengubah perilaku orang lain dan perilaku diri sendiri. Saya mencontohkan bahwa dalam setiap hubungan asmara misalnya, dari dua individu sepasang kekasih, pasti ada pihak yang merasa bisa merubah perilaku pasangannya, dan juga ada pasti adalah salah satu pihak yang ingin merubah perilakunya sendiri.
 Karena itu maka bukan hanya reward dan sacrifice saja yang terbentuk dalam sebuah hubungan asmara. Namun lebih jauh lagi sebenarnya dalam hubungan intepersonal pasangan, guna meneguhkan posisi masing-masing, terdapat elemen-elemen dalam SET yani reward, cost, outcome, comparison level dan comparison level alternative di atas.
Jalannya sebuah hubungan pasangan sejatinya adalah sebuah proses alamiah.
   Hubungan akan menjadi rumit jika masing-masing pasangan memiliki comparison level alternative yang tinggi. Adalah bisa dipastikan dalam SET bahwa jika skor masing-masing pasangan memiliki comparison level alternative yang tinggi, maka hubungan tidak akan langgeng. Bentuk tak langsung dari comparison level alternative ini adalah satunya jika salah seorang pasangan banyak menemukan substitutes, pelampiasan dan kompensasi dalam diri orang ketiga. Mudahnya menemukan pihak ketiga yang dapat dijadikan sebagai pelarian dan kompensasi, menjadikan ikatan dalam sebuah hubungan perkawinan amatlah rapuh.

 Bentuk hubungan yang dikaji dalam SET dalam sebuah hubungan pernikahan bisa menyentuh pada fenomena paranoia asmara. Paranoia asmara ini terjadi pada salah satu pasangan yang telah mengalami berulang kali kegagalan dalam membina hubungan asmara.
Traumatis asmara ini menyebabkan pengalaman mental yang menimbulkan bayangan mental negatif dalam menjalani sebuah hubungan. Ini lebih kompleks dari permukaannya. Kondisi ini jelas memerlukan perawatan ahli jiwa.
 Nilai trust yang rendah antara pasangan akan menyebabkan pasangan itu mudah bubar di tengah jalan.
Dalam tata masyarakat individualistis, adanya fenomena media sosial juga menambah adanya saluran untuk saling berkomunikasi dan menerapkan SET antar individu.
  Jejaring sosial menyalurkan need of self actualization atau kebutuhan untuk menyalurkan aktualisasi diri masing-masing sehingga social media akan mendukung pula ego individualisme seseorang. Individualisme yang dipupuk hebat dapat menghasilkan pribadi egomania.
Rendahnya self esteem pada diri salah seorang pasangan memicu berkembangnya pola SET dalam sebuah hubungan. Jika yang satu lebih bergantung pada yang lain maka jelas pihak yang lebih berkuasa akan mampu menetapkan fate control atau kontrol akan nasib pasangan.
Jangan salah, self esteem yang tinggi bukan berarti narsistik, bahkan bisa sebaliknnya jika seorang narsistik bisa menandakan bahwa dia low self esteem, artinya narsis tidak berarti pede (percaya diri) dan pede juga berarti narsis. Orang narsis bisa jadi bahkan percaya dirinya rendah, terutama dalam sebuah pola hubungan asmara. Orang yang memiliki self esteem lebih rendah akan merasakan banyak makan hati dalam sebuah hubungan asmara, lebih banyak cemburunya, lebih banyak takut ditinggalin dan lain sebagainya.
Sedangkan pihak yang self esteemnya tingggi dia akan mengendalikan hubungan, bahkan mengendalikan nasib pasangannya (fate control). “Take me or leave me” yang berarti “ambil (bertahan) dengan aku atau tinggalkan aku”, merupakan pesan dari seorang yang lebih mapan dan dominan dalam sebuah hubungan. SET terutama mengkaji bahwa dalam satu titik tertentu orang akan memiilki pilihan : akan bertahan dengan pasangan atau meninggalkannya. Jika lebih banyak cost-nya maka hubungan pasti akan berakhir tapi bila ada reward yang di dapat secara simbiosa mutualis, maka hubungan akan berlanjut.
   Untuk itu biasanya orang-orang awam menilai dari siklus 5 tahunan usia sebuah pernikahan. Karena dimungkinkan dalam lima tahun pertama terjadi penerapan SET, dan pasangan akan mulai beradaptasi dan memikirkan antara cost dan reward, serta elemen-elemen dalam SET dalam hubungan asmara mereka. (*)
 (Oleh : Mung Pujanarko)

Selasa, 12 Juni 2012

Facebook Sebagai Seni Komunikasi Kontemporer

Facebook.com merupakan salah satu media massa non struktur redaksional. Karena di dalam channel situs  media Facebook.com tidak tercantum secara jelas, struktur hierarkis redaksional seperti : Pimred, Redpel, Wartawan dan Reporter seperti halnya struktur hierarkis media massa redaksional. Facebook.com tetaplah disebut sebagai media massa saja karena fungsinya sebagai media (channel) yang menghubungkan antar massa sebagai partisipan dan khalayak.
Jadi, karena bukan media massa redaksional, di mana tak ada Pimred sebagai penanggung jawab redaksi, maka para pengguna Facebook sendirilah yang merupakan penanggung jawab dari apa yang ditulisnya. Jadi penanggung jawab content bukan pada pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, melainkan pada para pengguna Facebook itu sendiri. Orang bisa dipidanakan  jika menulis fitnah di Facebook. Jadi, media massa Facebook bukan media massa konvensional, di mana awak redaksi bisa dipidanakan jika menulis fitnah atau libel.

Facebook lebih cocok diklasifikasikan sebagai media massa kontemporer, karena muncul sesuai tuntutan jaman di era informasi global sebagai genre new media. Sedangkan media massa klasik kita mengenal beberapa jenis, diantaranya media masa cetak yakni surat kabar, majalah,koran serta media massa elektronik yakni radio televisi.
Sedangkan pengertian ‘kontemporer’ itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Kata “kontemporer” yang berasal dari kata “co” (bersama) dan “tempo” (waktu).
Karena situs Facebook.com memuat pesan yang disampaikan oleh massa atau publik, maka layak Facebook juga dikategorikan sebagai media massa seperti halnya situs kaskus.com dan situs-situs blog di internet yang pada hakekatnya adalah media (channel) massa.
Saya juga menyebut media massa Facebook sebagai seni komunikasi kontemporer, karena menyangkut beberapa aspek. Pertama dalam pengertiannya, seni kontemporer merupakan salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi. Jadi, seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang.

Seni kontemporer juga berarti :
1.    Tiadanya sekat antara berbagai disiplin seni, alias meleburnya batas-batas antara seni lukis, patung, grafis, kriya, teater, tari, musik, anarki, omong kosong, hingga aksi politik.
2.    Punya gairah dan nafsu “moralistik” yang berkaitan dengan matra sosial dan politik sebagai tesis.
3.    Seni yang cenderung diminati media massa untuk dijadikan komoditas pewacanaan, sebagai aktualitas berita yang fashionable. (sumber pengertian seni kontemporer : wikipedia)
Seseorang yang menggeluti seni memerlukan apresiasi. Inilah yang unik dalam Facebook, karena setiap status dan komentar bahkan tombol like  yang ditulis dalam wall atau dinding pribadi seseorang, para Facebooker (orang yang menggeluti atau tergabung dalam Facebook), bisa memancing apresiasi atau dengan kata lain dapat diapresiasi berupa komentar  oleh pengguna lainnya.  Komentar di dalam Facebook merupakan bentuk apresiasi. Apresiasi merupakan dorongan utama untuk memunculkan eksistensi diri seseorang, yang dapat terpenuhi sebagian ketika bergabung dalam situs facebook.
Untuk itu. motivasi orang yang menulis dalam Facebook umumnya masih dikaitkan dengan 5 teori kebutuhan Maslow.
    Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.
   Kebutuhan Maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
   Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :
1. Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
3. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4. Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
 Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.

Dari lima kebutuhan tersebut, para Facebooker atau mereka yang bergabung dalam situs Facebook.com telah berusaha memenuhi 3 kebutuhan melalui komunikasi dalam situs Facebook.com. Diantaranya yakni: kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri.
1. Kebutuhan Sosial : Dengan jejaring Facebook dapat diperoleh jejaring sosial baru maupun lama yang bisa terus di up-date sesuai keinginan masing-masing Facebooker.
2. Kebutuhan penghargaan juga didapat oleh para Facebooker melalui respon apresiasi dari Facebooker lainnya, dengan kata lain eksistensi atau keberadaan diri telah terwakili melalui adanya saling berinteraksi dan ber-apresiasi yang bisa saling menunjang eksistensi diri. Ini mendorong alibi berupa reason for being dalam diri psikologis manusia
3. Eksistensi Diri erat kaitannya dengan kebutuhan aktualisasi diri dari para pengguna Facebooker itu sendiri.
Komunikasi dalam Facebook juga tergolong dalam sebuah seni, karena memerlukan adanya unsur apresiasi. Apresiasi di sini, disadari atau tidak tetap menjadi motivasi utama seseorang untuk bergabung dalam situs Facebook.
Sementara kebutuhan manusia untuk terus berkomunikasi pun pada hakekatnya masih terkait dengan 5 kebutuhan Maslow, terutama karena dengan komunikasi orang mampu mendapat rasa aman, memperoleh kegiatan bersosialisasi, memperoleh penghargaan, dan aktulisasi diri.
Jadi kalau kita berbicara tentang komunikasi, pada dasarnya motivasi orang berkomunikasi adalah untuk mencukupi kebutuhan dasar dalam hidupnya di mana telah digambarkan oleh Abaraham Maslow. Apresiasi dalam Facebook menjadi unsur penunjang utama untuk didapatkannya 3 kebutuhan dasar di atas yakni ; sosial, penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri.
Karena itu saya menyebut komunikasi dalam Facebook merupakan jenis seni komunikasi kontemporer modern. Disebut seni karena memerlukan apresiasi dari orang  lain berupa komentar maupun kiriman-kiriman bentuk simbol komunikasi lain bisa berupa foto, gambar, ataupun simbol- simbol bahasa. Dan bisa dibayangkan alangkah sedih dan nelangsanya jika seorang Facebooker tidak pernah dikomentari atau berkomentar dalam dindingnya maupun pada dinding orang lain.
Disebut komunikasi, karena jelas merupakan alur pertukaran pesan (message) dari person to person atau group to group melalui channel serta adanya  feed back atau respon. Bedanya komunikasi dalam Facebook, saya katakan sebagai komunikasi kontemporer untuk era sekarang ini, karena sesuai dengan perkembangan jaman, seperti pengertian kontemporer di atas. Namun tetap mengacu pada kebutuhan primer manusia yang digambarkan oleh Abraham Maslow. Jadi, selamat ber-Facebook ria.

(Oleh : Mung Pujanarko, kini Pudek III FIKOM Jayabaya-Jakarta, Kepala Lab di FISIKOM UNIDA- Bogor.  Dahulu penah bekerja sebagai : wartawan SURYA Surabaya,  Redaktur Duta Masyarakat, anggota penyusunan Pedoman Pandemi Preparedness Komnas FBPI bagian Komunikasi Resiko, Wakil Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia –PPWI periode 2007-2012)
 


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons