Blog jurnal
pribadi ini sifatnya adalah menangkap lintasan-lintasan pikiran saya sendiri.
Bukan untuk woro-woro atau pula bukan untuk menceramahi orang lain.
Saya ingat
nasihat orang bijak yang sempat saya baca sekilas hanya judulnya saja di sebuah
guntingan koran yang dipajang di sebuah rumah makan, yang berbunyi “ jangan
kesetanan melawan setan”.
Orang pasti
senyum-senyum, kok aneh nasihat orang dalam potongan guntingan kliping koran
itu. Jangan kesetanan melawan setan. Kalimat itu terus saya renungkan.
Kemudian hari
ini pagi ini saya berpikir pula, jangan mengundang setan pula dan jangan
menggoda setan untuk tertarik menggoda kita dengan perbuatan-perbuatan kita yang sifatnya ‘
menggoda setan’, untuk tertarik terundang menggoda kita. Perbuatan –perbuatan itu
adalah perbuatan sendiri yang memicu memantik dan membangkitkan gairah nafsu-nafsu rendah-hewaniah, hawa nafsu
darah-daging membara yang ada tersisa dalam diri seiring sisa proses evolusi menjadi manusia.
Perbuatan seperti memikirkan,
melihat, dan membayangkan perbuatan-perbuatan pemuasan hawa nafsu sesat-sesaat yang
dilarang Tuhan YME. Kategorinya banyak, mulai dari hawa nafsu rendah-hewaniah nafsu syahwat yang di luar hukum, hingga sampai pada sifat serakah, loba dan boros. Melihat tayangan di aneka situs
tentang pameran kekayaan, pameran barang mewah yang mungkin orang banyak belum
tentu bisa mendapati. Pikiran akan keinginan ingin memiliki itu meraja dalam
pikiran sedemikian dalam sehingga sinyalnya memancing setan untuk menggoda dengan
mengambil jalan korupsi umpamanya (untuk instan memperoleh kemewahan barang yang didamba). Ini kan umpamanya ya.
Hawa nafsu keinginan yang berlebihan terkadang menggoda setan untuk menggoda.
Setan lagi kok yang disalahin ya ☺
Mungkin kata setan "salah elu sendiri yang menggoda saya untuk menggoda anda".☺
Atau Gadgdet
yang senantiasa digenggam yang instan menawarkan semua pemandangan arousal yang
justru memancing dan menggoda setan untuk masuk menggoda manusia dengan
membisikkan-memasukkan ide-ide gila absurd pemuasan hawa nafsu rendah nan
hewaniah.
Misal, ini misal lho, seorang bujang nestapa yang asyik menonton film biru, ini sama saja melakukan perbuatan menggoda setan. Setan jelas tergoda untuk masuk menggoda sang bujang nestapa.
Atau si orang lemah mental yang tiap hari melihat iming-iming gadget barang mewah mahal. Jelas ini sih menggoda untuk berhutang alias pay later😂
Lama-lama berutang untuk lifestyle dari kecil hingga menggunung miliaran, bahkan konon gaji 60 juta pun tak cukup karena berutang miliaran dan setan pun bisiki untuk merampok bank 😅
Ini
berbahaya.
Saya kembali
lagi teringat akan nasihat orang bijak yang saya baca di guntingan kertas koran
: "jangan kesetanan melawan setan".
Jangan kesetanan
emosi terburu tak terkendali ketika emosi
amarah memuncak ke ubun-ubun. Duduk, tarik nafas dan redakan tensi. Sabar lebih baik. Meski sabar itu memindahkan gunung berapi emosi panas ke padang salju yang dingin Banyak orang emosi main hakim sendiri justru
berujung perkara. Ya, pasti lain halnya ketika orang itu dibegal, dia melawan untuk
melindungi jiwa dari ancaman marabahaya dibegal. Ini melindungi diri, ini lain
lagi perkaranya. Membela diri ketika disabet sajam oleh pembegal, pasti nilainya
adalah nilai luhur membela jiwa diri dari ancaman kejahatan.
Intinya saya
masih merenungkan benar nasihat orang bijak yang saya baca di guntingan koran :
jangan kesetanan melawan setan.
Terimakasih atas
nasihat yang baik, dan terimakasih pada wartawan yang menuliskan nasihat itu
dan menerbitkannya di korannya. (*)
Nb self reminder soal Ego
Dalam psikologi, “ego” bisa punya beberapa makna. Yang paling umum berasal dari teori Sigmund Freud. Menurut Freud, kepribadian manusia terdiri dari:
Id → dorongan naluriah dan keinginan instan.
Ego → bagian yang berpikir realistis dan menengahi.
Superego → suara moral, nilai, dan hati nurani.
Jadi sebenarnya ego tidak selalu buruk. Ego membantu seseorang:
mengambil keputusan,
menyesuaikan diri dengan kenyataan,
mengendalikan emosi dan dorongan.
Namun dalam percakapan sehari-hari, “ego” sering dipakai untuk menggambarkan sifat yang terlalu mementingkan diri sendiri atau gengsi. Contohnya:
merasa paling benar,
sulit meminta maaf,
gengsi mengakui kesalahan,
ingin selalu dipuji,
mudah tersinggung saat dikritik,
meremehkan orang lain,
ingin menang sendiri,
haus pengakuan atau status,
tidak mau kalah dalam debat,
memaksakan pendapat.
Ego juga bisa muncul secara halus, misalnya:
diam karena gengsi,
enggan meminta bantuan,
sulit menerima saran,
terlalu menjaga citra diri.
Tetapi memiliki ego dalam kadar sehat juga penting, misalnya:
punya harga diri,
percaya diri,
menjaga martabat,
mampu berkata “tidak” saat perlu.
Masalah biasanya muncul ketika ego menjadi berlebihan sehingga merusak hubungan, komunikasi, atau kemampuan belajar dari orang lain.