cari kata

Minggu, 26 Oktober 2014

Mahasiswa Kelas Karyawan IBM ASMI dalami Kuliah Bahasa Indonesia


Keterangan Foto : para mahasiswa IBM ASMI kelas karyawan sedang tekun ikuti mata kuliah Bahasa Indonesia, Minggu (26/10) Foto by : Zainal Abidin-mahasiswa kelas Karyawan


Jakarta- Sebanyak 41orang mahasiswa kelas karyawan kampus IBM- ASMI Jakarta sedang tekun mengikuti perkuliahan Bahasa Indonesia. Perkuliahan ini diadakan di ruang 501 lantai 5 Kampus IBM-ASMI di kawasan Pulo Mas Jakarta.

Meski perkuliahan dihelat di hari Minggu namun para mahasiswa tampak antusias dalam mengikuti perkuliahan. Hal ini dikarenakan mata kuliah Bahasa Indonesia adalah mata Kuliah wajib untuk mahasiswa semester II.

“Saya secara pribadi ingin mendapatkan ilmu pengetahuan, dan terutama ingin mendapat gelar sarjana,” ujar Zainal (25) selaku mahasiswa kelas karyawan yang juga bekerja di PT. Madiccah Jaya di kawasan Tanjung Priok ini.

Dirinya menyatakan ingin meningkatkan kualitas bahasa, dan ingin belajar bahasa dengan lebih baku.
”Saya ingin belajar Bahasa Indonesia dengan lebih baik agar bahasa Indonesia saya lebih baku dan sesuai dengan EYD (Ejaan yang Disempurnakan-red),” tutur Zainal ketika ditemui di kelas 501 hari Minggu (26/10).

Sementara itu menurut Dosen Bahasa Indonesia Mung Pujanarko, S.Sos, M.I.Kom menjelaskan bahwa mahasiswa jaman sekarang wajib menggunakan Bahasa Indonesia secara baku.” Karena terkadang mahasiswa sering terbiasa dengan gaya bahasa medsos  atau media sosial yang banyak mengumbar kata-kata singkatan dan akronim yang tidak baku,” pungkas Mung Pujanarko, atau akrab disapa pak Imung ini. (*)

"Selfie Low Key”

Foto selfie low key



Foto selfie low key 

Foto  by : Ade Sulaiman, mahasiswa kelas fotografi FIKOM Jayabaya

Selfie (self portrait) makin digemari oleh masyarakat pengguna gadget. Selfie bisa memakai kamera jenis apa saja. Hobby ini bagus juga untuk menumbuhkan kesadaran ber-dokumentasi. Dokumentasi kehidupan kita nantinya amat berguna baik bagi kita maupun keluarga kita.

Apalagi gadget smartphone rata-rata telah dilengkapi dengan fitur kamera yang canggih. Tips dan trik selfie pun makin beragam, contohnya dengan teknik ‘selfie low key’ yang memanfaatkan cahaya seminimal mungkin. Karena cahaya makin minim maka hanya kamera beresolusi tinggi yang dapat dipakai untuk foto selfie low key.

Contoh-contoh foto di atas diambil di lokasi studio FIKOM (Fakultas Ilmu Komunikasi)  Universitas Jayabaya, PuloMas Jakarta, dengan menggunakan teknik dim light (lampu temaram).
Dosen fotografi FIKOM Jayabaya, Mung Pujanarko, S.Sos, M.I.Kom menjelaskan bahwa ada beberapa teknik pencahayaan yang dapat dipraktekkan oleh mahasiswa yang mengikuti kelas fotografi. (*)



LKMM FIKOM Jayabaya di Coolibah-Cipanas

Mung Pujanarko memberikan penyuluhan kepada para Maba FIKOM 2014

Menanamkan materi pembentukan karakter bagi Maba FIKOM 2014




Mahasiswa FIKOM (Fakultas Ilmu Komunikasi) Universitas Jayabaya mengadakan LKMM (Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa)  di kawasan Coolibah, Cipanas, Jawa Barat pada tanggal 10-12 Oktober 2014. Latihan ini bertujuan untuk membina jiwa korsa, kekompakan dan kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan, bangsa juga negara.

Menurut Ketua Panitia, Tria Sianipar (20) diadakannya LKMM ini agar para mahasiswa baru semakin sadar bahwa mereka memiliki tanggung jawab yang cukup besar dengan menjadi mahasiswa, “Mahasiswa baru ini kan kebanyakan fresh gaduate dari SMU, nah LKMM ini melatih jiwa manajemen dan tanggung jawab mahasiswa baik tanggung jawab pada diri sendiri dan lingkungan,” papar Tria Hal ini dianggap perlu mengingat sistem dan metode belajar dan penggunaan fasilitas kampus untuk mahasiswa berbeda dengan sewaktu masih sekolah di SMU.
Jumlah mahasiswa baru FIKOM Jayabaya  yang mengikuti LKMM ini sebanyak 52 orang, ditambah dari panitia angkatan 2012, dan angkatan 2011 dan yang menyertai para mahasiswa baru pada event LKMM ini.

Dalam LKMM ini diajarkan materi tentang tentang pentingnya melatih kepedulian terhadap sesama. Mahasiswa diharapkan tidak terjebak menjadi narsistik atau mengagumi diri sendiri, dan selalu mengingat bahwa masyarakat ada pula yang masih hidup serba terbatas dan memerlukan uluran tangan.

Pembantu Dekan III FIKOM  Universitas Jayabaya  Mung Pujanarko S.Sos, M.I.Kom yang juga mengawasi para mahasiswa saat LKMM  menyatakan bahwa sebaiknya mahasiswa seimbang dalam mengejar bidang akademis dan juga berkegiatan sosial kemasyarakatan. "Menjadi mahasiswa aktif, bukan hanya aktif kuliah saja, namun juga perlu aktif dan peduli terhadap kegiatan sosial, baik yang diadakan kampus maupun ormawa (organisasi mahasiswa) dan lingkungan mahasiswa," jelas Mung. (*)

Senin, 15 September 2014

19 Peserta Pelatihan Jurnalisme Belajar Membuat Quick News



Mung Pujanarko sedang memberikan paparan materi senin (15/9)

Jakarta- Sebanyak 19 orang  peserta pelatihan jurnalistik belajar cara membuat quick news.  Pelatihan ini digelar oleh PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) yang bertugas untuk memberikan materi.
Dalam pelatihan yang digelar di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan ini berlangsung selama 4 hari yakni dari tanggal 15- 18 September 2014.

Para peserta tampak sangat antusias, karena dalam peatihan ini  nantinya peserta akan langsung praktek membuat quick news.
Menurut Wilson Lalengke dari PPWI menyatakan bahwa pelatihan ini berguna untuk menghasilkan karya reportase yang cepat dan akurat. Karena barang siapa menguasai informasi maka dia menguasai dunia, “ Memang di jaman informasi teknologi ini barang siapa yang menguasai informasi maka dia menguasai dunia,” tukas Wilson lelangke.
Sedangkan menurut pembicara selanjutnya yakni Mung Pujanarko menyatakan bawa semua orang pada dasarnya bisa membuat quick news, “hanya saja harus rajin berlatih dan menumbuhkan kepekaan terhadap situasi yang dihadapi” tukas Mung
Salah seorang peserta yakni Joko (39) menyatakan ingin memperdalam teknik quick news dan mengembangkan media online seperti blog. Maka pada hari itu pula semua peserta diajarkan cara membuat dan mengembangkan blog sebagai media efektif.
Link peserta diklat yang hari itu juga membuat blog adalah

http://fotopersadanusantara.blogspot.com/

http://www.batara99.blogspot.com/

http://penaburrasa.blogspot.com/ 
(*)

Senin, 08 September 2014

Unjuk Gelar Pencak Silat di Kampus Jayabaya



Para peserta kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Pencak Silat melakukan Unjuk Gelar di hadapan para mahasiswa baru di Kampus Jayabaya pada sore hari Senin (8/9) bertempat di kampus Jayabaya Jl. Pulo Mas Kav 23 Jakarta Timur.

Dalam gelar unjuk gelar ini para anggota UKM Pencak Silat melakukan demo jurus, atraksi permainan senjata dan unjuk kebolehan ketrampilan bela diri pencak silat khas Indonesia.

Menurut Djonie WA selaku pelatih menyatakan bahwa pencak silat di Jayabaya sudah pernah meraih gelar juara nasional, juga anggota UKM Pencak Silat pernah mewakili DKI Jakarta pada PON 2012 yang lalu.


“ UKM pencak Silat melatih kedisiplinan, mental dan yang paling melestarikan budaya asli Indonesia berupa seni bela diri pencak silat, untuk itu para mahasiswa baru  Jayabaya kita harapkan untuk tertarik dan mengikuti seni bela diri ini” ujar Djonie ketika ditemui di kampus Jayabaya (8/9).

Sedangkan buat Ade Lutfi (20) selaku fotografer yang juga turut mengabadikan atraksi pencak silat ini menyatakan bahwa secara momen, atraksi pencak silat adalah objek yang menarik untuk difoto, “Pencak silat ini bagus buat melatih gerak dan kelenturan, saya juga sempat mengabadikan beberapa moment dalam foto hasil jepretan saya yang menampilkan atraski pencak silat di Jayabaya” tutur Ade Lutfi (20) yang juga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jayabaya (*)

Pelantikan Mahasiswa Baru Universitas Jayabaya

Sebanyak 508 mahasiswa baru Universitas, Sekolah Tinggi dan Akademi-akademi  Jayabaya, mengikuti pelantikan (8/9) Foto by : Ade Lutfi

Sejumlah  508 orang orang calon mahasiswa baru dilantik menjadi mahasiswa Universitas, Sekolah Tinggi dan Akademi-akademi  Jayabaya, Jakarta pada hari Senin  (8/9) di Kampus A Jayabaya Jl. PuloMas Kav 23 Jakarta Timur. Hadir dalam pelantikan ini pihak Yayasan Jayabaya dan jajaran Rektorat Universitas Jayabaya.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Jayabaya Prof. Dr. Hj. Yuyun Moeslim Taher,SH menyatakan bahwa menjadi mahasiswa baru adalah sebuah awal dari meraih cita-cita di masa depan, “Anda diharapkan mampu menjadi sosok yang berguna di masyarakat, dan anda semua adalah orang-orang yang beruntung, karena mampu melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi,” tutur Prof. Dr. Hj. Yuyun Moeslim Taher,SH.

Sementara  Pembantu Rektor III Universitas Jayabaya  Drs. Mansyur Kardi , M.Si berpesan bahwa mahasiswa baru sebaiknya mempertimbangkan baik-baik langkah pertama menjadi mahasiswa baru agar dapat sukses dan berhasil dalam studinya,”Langkah pertama anda adalah semester 1, upayakan langkah pertama anda ini adalah langkah anda yang terbaik, Indeks Prestasi anda harus baik, karena langkah pertama menentukan tahapan studi anda di kampus Jayabaya, jangan anda lengah dan tidak serius dalam berkuliah,” pesan  Drs. Mansyur Kardi, M.Si

Mahasiswa Baru FIKOM Jayabaya

Dari sebanyak 508 mahasiswa baru,  52 orang diantaranya adalah mahasiswa baru pada FIKOM (Fakultas Ilmu Komunikasi) Jayabaya. Maka  hari pada hari Selasa 9-9-2014 FIKOM Jayabaya memberikan pembekalan akademik yang dilaksanakan di ruang C43, Fakultas Ilmu Komunikasi Jayabaya. Dalam pembekalan akademik ini mahasiswa baru diajarkan cara mengisi Kartu Rencana Studi, dan dijelaskan semua prosedur perkuliahan dan tata cara administrasi di FIKOM Jayabaya.

Sebanyak 52 mahasiswa baru FIKOM Jayabaya mengikuti Pembekalan Akademik di Fakultas Ilmu Komunikasi Jayabaya Hari Selasa (9/9)

Hadir memberikan pembekalan akademik Dekan FIKOM Dra.Hj.Dewi Setyorini MS (kanan), Pudek II FIKOM Ika Yuliasari St,S.IP, M.Si (duduk pegang laptop), Pudek III FIKOM Mung Pujanarko, S.Sos, M.I.Kom (berdiri), Pudek I FIKOM Euis Komalawati, S.Sos, M.Si, selasa (9/9)

Pada pelantikan mahasiswa baru angkatan tahun akademik 2014/2015 ini, tercatat sebanyak 52 orang mahasiswa baru terdaftar menjadi mahasiswa FIKOM Jayabaya.  Mahasiswa FIKOM Jayabaya dibagi menjadi dua konsentrasi studi yakni ilmu Jurnalistik dan Ilmu Humas.

Pada pembekalan akademik ini Dekan FIKOM Jayabaya Dra.Hj.Dewi Setyorini MS berpesan agar mahasiswa dapat cermat dalam mengisi kartu rencana studi, dan disiplin dalam perkuliahan. (*)

Sabtu, 09 Agustus 2014

Blogger sebagai Solo Journalist

Mung Pujanarko (40) bersama anaknya yang kedua Kayla Putri Maharani, siswi kelas 2 smp



Era komunikasi modern semakin membuka peluang bagi para blogger untuk bekerja mandiri sebagai seorang Solo Journalist. Jika bukan kini atau belum saat ini, tapi pasti nanti akan menuju kepada kemungkinan bahwa seorang blogger mampu menjadi solo journalist yang mengisi celah niche dalam pasar informasi.

Solo journalist sejatinya adalah mengasah kemampuan jurnalistik  yang tidak perlu secara muluk-muluk mumpuni, karena menjadi mumpuni adalah proses panjang, namun yang dapat diterima oleh publik sebagai fakta dan data yang nyata. Karyanya bisa dibaca oleh publik sebagai karya yang informatif dan kreatif.

Jika mengikuti tegangan para pakar old journalism yang mungkin kini telah mapan duduk dalam sistem jurnalisme mainstream yang dibayar oleh perusahaan media tempatnya bernaung, maka tentu pemahamannya sedikit berbeda. Saya menyebutnya sebagai ‘tegangan’ pendapat. Karena setiap kali saya berdiskusi dengan para pakar jurnalistik di Indonesia yang kini telah mapan duduk di struktrur perusahaan media, mereka ini selalu tegang dan berintonasi tinggi saat ‘membela’ dan beradu argument dalam memihak sistem jurnalistik yang bersistem : ‘digaji untuk memberitakan’ atau disebut pula jurnalis profesional.

Pemahaman saya, seorang Solo Journalist adalah seorang jurnalis yang bisa dan sangat mungkin untuk memproduksi karya jurnalistiknya secara gradual non regular. Yang saya maksud dengan gradual non reuler itu adalah seorang Solo Journalist dapat kapan saja mengunggah karya jurnalistiknya tanpa mengikuti mentah-mentah aturan old journalism.
Aturan old journalism adalah gradual terstrukur seperti report by minute or by hour (laporan dalam hitungan per berapa menit dan per berapa jam/ pada news dot com) report by daily (harian), weekly (mingguan), biweekly (dua mingguan), monthly (bulanan), dan annually (tahunan).

Sistem pemberitaan jurnalisme ini mengacu pada umumnya sistem kerja wartawan yang digaji. Jadi harus senantiasa berkarya secara reguler untuk memperoleh gajinya. Wartawan yang bekerja di kanal news dotcom tentu harus mengunggah berita dalam hitungan menit atau jam yang telah ditentukan oleh perusahaan, dan berita yang diunggahnya adalah bukti dirinya bekerja dan berhak mendapatkan gaji. Wartawan yang bekerja di koran harian seperti yang penah saya alami dahulu adalah membuat beritanya perhari, sekian berita per-hari, dan berita itulah sebagai absensi kita, membuktikan jika sang wartawan layak memperoleh gaji dan tunjangan prestasi utuk julah berita yang ditulisnya dan dimuat.

Di televisi yang lebih rigid, jurnalis juga diwajibkan untuk bekerja dengan disiplin jurnalistik dalam waktu yang telah dipilih oleh kantornya untuk dilakukan oleh sang wartawan.

Sementara gradual non regular itu adalah Jurnalis memiliki kebebasan waktu untuk mengungah karya jurnalistiknya, kapan saja dia mau mengunggahnya dan memilih persitiwa yang hendak diunggahnya secara mandiri. Blogger sangat memungkinkan untuk memiilki kebebasan ini, blogger dapat dengan bebas dan kapan saja sesuai waktu yang dimilikinya menulis artikel atau berita laporannya di dalam blog-nya dan menjadi Solo Journalist bagi media blognya sendiri.

www.mung-pujanarko.blogspot.com sebagai salah satu media blog/dotcom yang diundang dalam salah satu acara

Blogger sebagai solo journalist kelak adalah konsekuensi masa depan era Technology Information. Seperti halnya Citizen Journalist adalah konsekuansi logis dari demokrasi yang semakin berkembang dan era kebebasan berekspresi melalui saluran informasi.

Saya kerap mendengar para pakar berteriak bahwa kebebasan berekspresi  melalui kebebasan bermedia harus dibatasi.
Saya sepakat dengan pembatasan asalkan pembatasan berinformasi ini sesuai pembatasan dalam segala jenis Undang-undang yang telah berlaku. Misalnya untuk yang bernuansa pemecah belah dan penghasutan atas SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) kemudian informasi bertendensi kriminal seperti pencemaran nama dan fitnah dan pornografi seperti yang telah diatur dalam segala UU mulai UU ITE, UU KUHP, atau UU no 40 th 1999.

Namun saya tidak sependapat jika kebebasan berekspresi melalui saluran jurnalistik dibatasi hanya milik media yang besar secara ekopol (ekonomi politik) media. Kemudian mendorong kesombongan tidak logis dari jurnalis yang digaji oleh media besar, dan jurnalis yang digaji oleh media besar ini biasanya dengan congkak mengusir jurnalis yang lebih independen, jurnalis yang berasal dari media belum ternama.

Atas fenomena ini saya sedikit paham, karena saya pernah bekerja di sebuah harian ternama di Surabaya dan Jawa Timur dan kemudian bekerja sebagai jurnalis di biro Jakarta yang memungkinkan saya bertemu dengan berbagai jurnalis dari berbagai media.

Jurnalis dari media besar kemudian biasanya menjadi congkak dan di beberapa kesempatan berani mengusir jurnalis dari media yang tak terkenal. Pengusiran ini kerap terjadi  jika ada kepentingan tertentu menyangkut ala kadarnya yang diberikan. Namun jika liputan biasa saja tanpa ada embel-embel imbalan, maka pengusiran tidak terjadi. Intinya bisa jadi sebatas primal insting rebutan resorces.

Atas aktifitas jurnalistik yang pernah saya lakukan, saya kerap ditanyai oleh rekan sesama jurmnalis, "Mas dari media mana?" saya jawab "Saya dari www.mung-pujanarko.blogspot.com, media milik saya sendiri".

Rekan wartawan tadi menatap bingung dan curiga, "Media apa ? Kok bisa diundang? kok boleh meliput ?" Yah terpaksalah saya menjelaskan tentang pasal 28 F UUD 1945, tentang prinsip elemen journalism, tentang citizen journalist di negara maju dan kini tengah berkembang di Indonesia, tentang solo journalist, akhirnya beberapa rekan wartawan mendengarkan penjelasan saya, seperti halnya kuliah dadakan dengan durasi 2 sks.

Saya tidak menjelaskan jika saya adalah magister jurnalistik lulusan IISIP Jakarta dan juga dosen jurnalistik di sejumlah universitas, dimana para alumni mahasiswa saya juga telah menjadi jurnalis di berbagai media, juga editor dan kolumnis di www.pewarta-indonesia.com milik PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) sebuah organisasi citizen journalist/ pewarta warga yang diakui oleh NKRI. Buat apa saya menjelaskan hal yang justru membuat para  rekan wartawan makin bengong?

 Saya hanya memaparkan bahwa kegiatan jurnalistik mungkin dilakukan oleh orang yang telah paham ilmu jurnalistik, kegiatan jurnalistik secara solo juga mungkin dilakukan oleh seorang blogger sesuai dengan UU dan konstitusi yang berlaku. 

Karena setuju atau tidak, pada hakekatnya kebebasan berekspresi adalah juga milik rakyat yang tengah belajar jurnalistik meski proses belajarnya panjang, pula milik para blogger yang semangat menulis.

Kebebasan ini memang bisa dibendung, namun bendungan itu akhirnya nantinya toh jebol juga karena air dari kebebasan indvidu ini semakin deras. Sebuah negara totaliter dapat membendung  kebebasan indvidu untuk berpendapat, namun negara itu menjadi tempat yang tidak enak untuk ditinggali bagi para kreator informasi yang kreatif. (*)




 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons