cari kata

Selasa, 22 November 2016

Pelepasan Wisudawan FIKOM Jayabaya 2016






Workshop Travelling Photography di FIKOM Jayabaya 2016


Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Jayabaya, Jakarta bekerja sama dengan Ezy Travel menggelar Workshop Fotografi.

tema Workshop ini adalah "Travelling Photography".
Tampil sebagai pembicara dalam Workshop ini adalah Roderick, seorang fotografer di kompas.com.

Berikut poster untuk event Workshop Fotografi di Universitas Jayabaya yang telah dilaksanakan pada hari Jumat, 11 November 2016 pukul 13.00 - 16.00 WIB.




Dalam ulasannya, Roderick mengajarkan agar para mahasiswa jangan ragu-ragu untuk membuat banyak foto saat travelling.
"Karena moment saat travelling adalah moment yang berharga," ujar Roderick.



Mewakili pihak FIKOM Jayabaya, Wakil Dekan III bidang kemahasiswaan Mung Pujanarko, S.Sos, M.I.Kom juga memberi motivasi kepada para mahasiswa FIKOM agar memiliki karya fotografi yang bisa ditampilkan dalam media massa, baik media massa online maupun media massa offline.


Peserta Workshop fotografi ini juga berhak untuk mengikuti lomba foto yang diadakan oleh pihak Ezy Travel. (*)

Jumat, 18 November 2016

200 siswa Pesantren Ma’had Rahmaniyah belajar Jurnalistik Quick News



Sebanyak 200 siswa pesantren Ma'had Rahmaniyah mengikuti workshop jurnalistik Quick News.

Workshop ini dilaksanakan di lokasi Ma’had Rahmaniyah di kawasan, Cilodong, Cibinong, Bogor.

Acara ini berlangsung selama kurang lebih 2 jam pada hari Jumat (18/11).


Dalam pelatihan atau workhsop ini siswa Ma'had Rahmaniyah diajarkan untuk jangan ragu menulis berita tentang apa saja, terutama tentang prestasi sekolah.

Menurut seorang guru di Ma'had Rahmaniyah yakni Fikri Azhari (30) menyatakan bahwa dengan workshop ini dimaksudkan agar, anak-anak siswa setingkat SMP sudah mengenal ilmu jurnalistik.



Sedangkan ilmu jurnalistik sebenarnya memang baru akan ditekuni ketika duduk di bangku kuliah atau di bangku sekolah menengah atas.

Salah seorang peserta yakni bernama Rachmatia (14) mengatakan bahwa dirinya nantinya ingin menjadi seorang sutradara, maka itu siswi SMP yang bernama Rachmatia ini ingin terus belajar menulis.

“Karena saya sudah sering menulis cerita,” papar Rachmatia dengan penuh semangat.


Menurut coach atau pelatih yakni Mung Pujanarko menyatakan bahwa belajar ilmu jurnalistik, yang penting harus niat dan semangat. (*)

Sabtu, 12 November 2016

Perjalanan ke Timika

Hari senin 7/11 saya berangkat ke Timika, Papua.




Perjalanan via pesawat Garuda terbang malam hari pukul 21:00 tiba di bandara internasional Mozes Kilangin Timika hari Selasa 8/11 pukul 6 pagi waktu setempat.



Saya memutuskan menginap di Grand tembaga Hotel Timika.


Selanjutnya saya menuju ke pelabuhan Amamapare.

Di pelabuhan ini saya sempat melihat aktivitas pelabuhan kecil ini yang menjadi pelabuhan operasional perusahaan tambang.

Saya juga sempat diajak oleh petugas KPLP atau kesatuan penjaga laut dan pantai untuk menyusuri muara sepanjang hutan bakau dengan naik speed boat milik KPLP.

Hutan bakau yang indah sejauh mata memandang.

Hari rabu saya pergi melihat pelabuhanPomako di Timika.
Pebuhan Pomako ini meski kecil namun sangat sibuk dengan aktivitas bongkar muat barang dan juga kapal penumpag yang hendak ke Agats dan pula ada tujuan ke Yahukimo.

Sempat melihat penduduk asli Suku Kamaro yang juga tinggal di sekitar pelabunan.
Hari kamis sebelum balik ke Jakarta saya sempat membeli beberpa cendera mata di Timika

Pada kamis siang pukul 14:20 saya pulang balik ke jakarta via Garuda, tiba di cengkareng pukul 18:30. dan lanjut naik taksi ke Bogor.



Jumat, 28 Oktober 2016

Lintasan-lintasan lagi




Melihat gambar data di atas, dengan total penduduk hampir 260 juta jiwa, pengguna internet diperkirakan antara 40- 80 juta jiwa, perkiraan kasarnya. timbul lintasan pemikiran saya, yang segera saya tangkap dan langsung tulis, biar tidak lupa ingatan.

Karena jika ada yang mengklaim bahwa pengguna internet 80 juta jiwa, selalu saya asumsikan 50%nya yang benar-benar aktif. 

Karena saya tak tahu maksud data di atas diunggah untuk apa. 


Dunia teknologi informasi akan sangat berkembang, dan hal ini mendukung bisnis eknomomi kreatif untuk berkembang memanfaatkan teknologi informasi.


Dunia kreatif, jelas membutuhkan orang yang rajin.

Rajin menulis dalam ranah ilmu jurnalistik dapat membantu seseorang yang menekuni dunia jurnalistik untuk selalu mengunggah informasi terutama di ranah new media dan media online.

Saya berpesan pada para mahasiswa ilmu jurnalistik bahwa yang membedakan pelakon ilmu jurnalistik dengan ilmu lainnya adalah jika praktisi ilmu jurnalistik ini mau tak mau diharapkan  lebih rajin menulis dan mengunggah informasi baik teks, audio atau video  lebh dari mereka yang tidak belajar jurnalistik.

Jurnalis Online biasa mengunggah sekitar 8 artikel perhari, jika 10 artikel per hari, maka dia sudah luar biasa.

Dalam ilmu jurnallstik, sering saya berikan tips menulis dengan cepat untuk melawan rasa malas menulis.

Pada akhirnya orang yang banyak menulis, bahkan hingga 20 tulisan per hari, adalah orang yang luar biasa menurut saya, karena saya hingga sekarang belum bisa mencapai angka tulisan 20 tulisan per-harinya.

Menulis dalam media online memiliki sejumlah kelebihan, diantaranya adalah informasi kita akan mudah diakses orang, lebih banyak dan sering dari jika kita hanya menulis di media cetak saja.


Untuk itu bila Anda mampu menulis hingga 20 artikel perhari, untuk generasi muda apalagi, maka saya anggap sebagai hal yang bagus dan luar biasa.

Karena stamina anda sebagai jurnalis yang mampu mengunggah artikel di  media online dengan jumlah yang cukup banyak seperti halnya anda menebar kail yang banyak atau jala yang lebar.

Teman saya ada yang mengatakan : "Mas kalau kita sebagai jurnalis cetak, kita gak  mau dipatok kuantitatf jumlah tulisan, karena yang kita pentingkan adalah kedalaman fakta dan data, jadi kalau jurnalis cetak itu satu tulisan per bulan atau perminggu kalau itu mendalam dan news in depth, maka itu lebih kami cari mas..." tukasnya.

Iyalah, terserah jika Anda di media cetak  karena kapasitas daya tampung media cetak meski harian amat terbatas pada lembaran koran yang hari itu diterbitkan, juga majalah kertas, jadi in depth itu penting.

In depth di mana-mana penting.

 Namun perhatikan dalam ranah media online, yang berkaitan dengan lintasan informasi, maka semakin banyak  konten artikel yang dinaikkan  atau diunggah-terbitkan oleh sebuah media online maka lebih baik bagi meda online itu, karena demi  mengejar traffic dan hit stattstic atau jumlah viewer.

Bila In depth, tapi....bila cuma sekadar dalam, namun di mata masyararakat banyak tak penting, dan tak menarik, ya ibarat danau angker... dalam, tapi massa khalayak ramai enggan berkunjung ke situ.

Mungkin ada juga yang tertarik yang biasanya tingkat intelektualnya lebih tinggi dari rata-rata untuk mencerna in depth report tadi.

 Namun secara hukum alam yang tingkat intelektualnya tinggi selalu lebih sedikit dalam jenjang piramida sosial.

Lain halnya bila bukan danau dalam yang angker, tapi bila itu kolam-kolam renang yang murah meriah dan meriah benar di dalamnya maka dimungkinkan khalayak banyak bisa suka mengunjunginya.

Pengunjung media online di Indonesia rata-rata masih belajar untuk menyukai media online, karena mungkin baru saja punya smartphone selama 2-3 tahun belakangan. 

Juga mereka mungkin tak akan membuang kuota pulsa dan waktunya untuk sebuah in depth reportase yang bahasanya membuat kening berkerut,... mikir negara-mikir negara lagi, mikir politik lagi, aduh ini kasus korupsi yang sudah ngoyo ditulis indepth, ujung-ujungnya hanya pengadilan saja yang memutuskan,...biasanya juga koruptor hukuman 4 tahun, potong masa tahanan, potong remisi 17-an, remisi idul fitri, 2 tahun kurang sudah jalan-jalan ke mall lagi.

 Sudah kasus korupsinya ditulis indepth -inipun jarang, karena jurnalisnya kadang gamang juga-, kecuali liputan in depth di beberapa majalah, -yang harga majalahnya juga amat mahal untuk ukuran masyarakat banyak, - ya mereka memang  jualan in depth news.

Kadang saya lihat kalau di online hanya iklan potongan tulisan in depth ini  saja, maunya masyarakat jangan baca di online secara gratis tapi beli majalahnya.

Terus masyarakat bertanya, kalau nggak baca liputan in depth di majalah itu gimana?  ya ga apa-apa kan ? ya lihat televisi saja yang gratis, di mana kadang ada juga mata acara yang cukup in depth yang tayang, dengan banyak iklannya.

Jadi angka 88 juta pengguna internet di atas memang membuka peluang besar bagi praktisi ilmu jurnalistik, mau nulis in depth atau mau nulis ikut selera pasar saja, ya itu kan hukum penawaran dan permintaan saja.

Ngotot mau nulis in depth aja deh, ya kalau in depth kan sebulan mungkin satu tulisan, karena harus mengikuti people trail dan menyusuri paper trail, investigasi mendalam, selama berhari-hari baru jadi  tulisan indepth sepanjang 5000 kata.

Lha terus kasus yang ditulis itu sudah disidangkana atau belum ? Kalau belum masuk ranah hukum, ya resiko bagi sang jurnalis itu sendiri.

Kalau sudah masuk ranah hukum, ya masyarakat pastinya sudah lihat televisi pula....  juga sudah punya keyakinan bahwa koruptor itu paling hukumannya tipis, rata-rata 4 tahun diskon ini-itu, dengan fasilitas penjara yang bukan napi biasa.

Kan begitu ?



















LKMM Fikom Jayabaya 2016


Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) FIKOM Jayabaya digelar selama 3 hari mulai tanggal 13, 14 dan 15 Oktober 2016.


LKMM ini bertempat di Villa Pondok Kartini, Cisarua, Puncak Jawa Barat.

Tujuan  LKMM ini untuk melatih sikap mental dan tanggung jawab peserta mahasiswa baru yang telah menjadi civitas akademika FIKOM  Jayabaya.


Sebanyak 13 orang Mahasiswa Baru FIKOM Jayabaya mengikuti LKMM ini.




Dalam LKMM ini para alumni dan senior mahasiswa FIKOM Jayabaya hadir untuk membimbing para mahasiswa baru dengan memberikan mareri-materi yang disimak secara serius oleh para mahasiswa baru.



Project Officer atau pelaksana kegiatan LKMM 2016 ini, Fadhil menyatakan bersyukur karena LKMM yang digelar 2 malam 3 hari telah sukses dilaksanakan.

Selama LKMM para Maba juga belajar menjalin soliditas dan solidaritas angkatan, dan kekompakan tim angkatan. 

Karena dengan begitu kohesifitas kelompok bisa dibangun.


Hasilnya, para Maba yang tadinya belum kompak, setelah mengikuti LKMM ini memiliki rasa persaudaraan antar angkatan yang lebih kental lagi.

Maba 2016 Berfoto bersama  Mung Pujanarko, S.Sos, M.I.Kom, Pudek III FIKOM Jayabaya


"Semua atas kerjasama segenap panitia, juga jajaran BPM Senat Mahasiswa FIKOM Jayabaya, juga peran serta para Maba atau mahasiswa Baru FIKOM Jayabaya," tutur Fadhil.

Dekan FIKOM Jayabaya, Dra. Dewi Setyarini, MS dalam pidatonya, saat pemberangkatan para Maba mengikuti LKMM, menyatakan bahwa para Mahasiswa Baru harus senantiasa menjaga kekompakan, keselamatan dan kedisiplinan.

"Selamat ber LKMM, dan terus jaga nama baik FIKOM Jayabaya," tutur  Dekan FIKOM Jayabaya. (*)

Kamis, 06 Oktober 2016

Kata Kunci sebagai Kunci




Tulisan ini sekedar lintasan pemikiran saya saja, yang cepat saya tangkap dan langsung tuangkan dalam tulisan.

Mengapa ?

Agar tulisan ini menjadi alat bantu bagi saya untuk mengingat kembali dan melakukan kontemplasi atas pemikiran saya sendiri.

Saya pernah menulis untuk diri ini dengan judul SEOuntuk saya sendiri.
Jadi tulisan ini sebenarnya masih menyambung dengan tulisan curahan rasa saya masih tentang seputar Jurnalisme Online.

Tulisan ini juga bukan menyambung sebuah judul buku, mengomentari buku tentang jurnalisme online, bukan, sangat jauh dari hal itu.

Tulisan ini adalah pemahaman saya untuk saya sendiri, jadi benar-salahnya biarlah saya sendiri nanti yang me-research-nya.

Dalam dialog sebuah film  dikatakan kurang lebih yang saya ingat adalah  

“Siapa itu blogger?”

“Oh blogger itu seperti seseorang yang tinggal di basement dan menulis tentang kucingnya sendiri”

Dialog ini muncul di sebuah film hollywood, yang mungkin mewakili sebagian pandangan umum atau olok-olok umum tentang apa dan siapa itu blogger.

Paling gampang definisinya blogger adalah “kaum nerd” dan kaum kutu buku.

Hanya saja dalam dunia blogger dan jurnalisme online yang mempraktekkan menulis dalam media online, sebuah kata kunci bisa menjadi kunci.




Kunci untuk apa?

Kunci untuk menolong orang lain membuka sebuah informasi.

Kunci untuk menunjukkan sebuah informasi bagi orang lain yang ingin mengetahuinya.

Kata kunci yang diketikkan oleh seorang jurnalis online atau blogger menjadi penting.

Beda dengan jurnalisme cetak yang tidak terlalu mementingkan kata kunci.

Kata Kunci adalah hal pertama yang diketikkan oleh seorang jurnalis online bila memang dia memiliki tujuan agar kata kunci itu diketahui oleh orang lain.

Artinya, dengan sengaja penulis online atau jurnalis online itu mengetikkan kata kunci agar orang lain atau pembaca/ khalayak dapat mengakses informasinya jika mengetukkan kata kunci yang memang telah disiapkan oleh jurnalis itu.

Kembali pada adagium bahwa blogger adalah “seseorang yang berada di basement dan menulis  tentang kucingnya”.

Bila blogger itu cukup mahir serta memiliki tujuan tertentu agar sebuah informasi yang memiliki kata kunci itu diketahui oleh orang lain misal : “cara alami menghilangkan kutu pada kucing”

Maka kata kunci  : “cara alami menhilangkan kutu pada kucing itu”, bisa menjadi kata kunci yang solid.

Blogger yang menulis tentang kucignya itu akan mengunggah informasi yang berguna, sebuah cara alamiah untuk benar-benar menghilangkan kutu pada kucing.

Karena kutu pada kucing itu juga bisa menggigit manusia dan menyebabkan gatal alergi serta bekas luka permanen pada kulit manusia.

Maka blogger yang telah berpengalaman akan mengetukkan kata kunci “cara alami menghilangkan kutu pada kucing” di bagian judul.

Karena judul ini yang menjadi tolok ukur pertama bagi mesin pencari untuk mencari kata kunci.

Kemudian kata kunci  “ cara alami menghilangkan kutu pada kucing” ini akan ditekankan dan ditekankan ulang pada teks artikel tentang cara alami menghilangkan kutu pada kucing.

Bila tersedia kolom meta data, maka kata kunci itu akan disertakan pula dalam meta data pula. Pula pada tag line.

Penekanan kata kunci pada teks ini sangat krusial karena mesin pencari akan mencari sinkronisasi yang solid antara judul dan isi atau konten teks.

  Namun ada pula blogger yang tidak memiliki tujuan spesifik untuk mengunggah kata kunci seperti pada tulisan saya ini saya tidak memiliki tujuan spesifik tertentu agar tulisan saya ini dengan kata kunci tertentu akan muncul di mesin pencari, apalagi halaman 1.

Tidak ada tujuan tersebut sama sekali.

Karena adagium yang menyatakan dalam dialog sebuah film tadi bahwa “ blogger adalah seseorang di basement yang menulis tentang kucingnya sendiri”, memang mungkin sang blogger itu memiliki waktu luang dan ingin mengenang tentang kucingnya, sama seperti saat seseorang yang bukan blogger menulis buku diary.

Intinya, diary itu kalau kelak dibaca lagi akan bisa menjadi sarana peningkatan kondisi psikologis yang bagus, karena mampu menyelami lagi pemikiran yang telah lampau, yang kadang terasa aneh atau bahkan unik jika dibaca kembali.

Inilah indahnya kompleksivitas dan kerumitan otak manusia yang bisa diuangkan dalam informasi tertulis.

Juga bisa menimbulkan inspirasi untuk memikirkan serta memperoleh kembali ide dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai Satu-satunya  Sang Pemilik Ilmu.

Ilmu yang dikuasai manusia atau muncul dalam benak manusia adalah berasal dari Tuhan yang Maha Esa.

Jika diberi alzhemeir atau demensia atau kepikunan seketika, maka pikiran orang paling pintar pun akan hilang, apalagi jika dia belum sempat untuk menuliskan Ilmu yang diilhamkan Tuhan yang maha Esa.

Apalagi jika dia pelit membagi ide ilham itu kepada manusia lain. 
Rugi Sekali Hidupnya.

Ilmu yang datangnya dari Tuhan itu dan bisa berguna jika dibagikan bagi orang lain, dibawa mati.

Maka kadang adagium dialog  dalam film yang mengolok blogger sebagai “ Blogger adalah orang di basement yang menulis tentang kucingnya”

Setidaknya Blogger itu berbagi informasi tentang kucing.

Setidaknya sejarah tentang kucingnya dan mungkin foto akan kucingnya itu akan berguna, mungkin berguna bagi orang lain  atau keturunannya di masa mendatang.

Apalagi jika blogger yang menulis tentang kucingnya itu telah paham teknik SEO dan sengaja menekankan kata kunci agar informasi dari dirinya akan terlacak dengan mudah oleh algoritma mesin pencari, dan bahkan bisa muncul di halaman pertama mesin pencari.


Ada lagi dialog bagus dalam film berjudul “ex machina” yang dimana tokoh bernama Nathan  menyatakan pada Caleb bahwa sebenarnya mesin pencari itu adalah mewakili/mencerminkan bagaimana cara orang berpikir. (*)   

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons