cari kata

Rabu, 07 Desember 2011

Gaya Hidup


   Di era kita hidup di tengah kondisi bangsa dan negara saat ini sungguhlah aneh di mata saya, karena ; yang pertama tidak seorangpun mengakui kalau Indonesia adalah negara sosialis. Dan tidak pula ada pejabat yang mengatakan bahwa sesungguhnya Indonesia adalah negara kapitalis sejati.  

Jadi kalau ditanya ; apakah Indonesia negara sosialis ? Pasti orang-orang termasuk kaum terpelajar akan menjawab “oh bukan, Indonesia adalah negara Pancasila.” Juga kalau ditanya; Apakah Indonesia adalah negara kapitalis?, maka orang akan terdiam sejenak dan memilih jawaban aman apalagi kalau yang ditanya adalah pejabat publik yang berwenang dan ditanya oleh wartawan maka secara otomatis dia akan menjawab 'Indonesia merupakan negara agraris menganut prinsip gotong royong, musyawarah dst... yang berasaskan Pancasila dan UUD 45', aman. Pokoknya memilih jawaban yang aman-aman saja.
   
Tapi sesungguhnya kalau kita melihat Indonesia secara lebih jelas lagi,  gaya hidup masyarakat kita terutama yang  tinggal di kota besar, kita melihat gaya hidup yang tidak ada bau sosialisnya, nyaris kemanusiaan yang adil dan beradab ini hilang, yang ada hanya kemanusiaan yang adil untuk kaum berada.

Karena yang terlihat secara kasat mata memang kalau ada uang di tangan maka anda hidup, jika tak ada uang di tangan, maka anda bisa mati. Dan mati pula harga diri anda bila anda tak pegang uang. Kalau hidup berlandaskan uang maka ini adalah negara kapitalis.

 Kapitalis murni adalah ketika warga negara hanya bisa hidup dan survive kalau pegang uang saja. Kalau tak ada uang, maka tak ada akses ke kesehatan dan pendidikan yang memadai  Jadi kita ini sama saja  seperti kehidupan  Romawi jaman sebelum masehi.      

 Kapitalis  di Romawi jaman dulu  memicu adab barbaric, adab barbaric adalah ketika warga suku-suku yang ada di luar City of Rome, seperti gothic dan gaelic terpapar kehidupan kapitalisme, dan karena didesak terus oleh kapitalisme, maka suku-suku ini menjadi barbaric dan malah meluluh-lantakkan Romawi.

 Karena itu orang sekarang makin nekat, lebih baik terjun menjadi kriminal dari pada mati miskin. Kata 50 Cent, rapper di Amerika  “get rich or die tryin’ “.  Gaya hidup semacam ini memacu pikiran semua orang setiap hari hanya berpikiran mencari uang saja. Apalagi didukung oleh komersialisasi di segala bidang. Dan terpaan iklan konsumerisme yang semakin deras menyuntik otak seperti teori komunikasi jarum hypodermis. Maka korupsi yang merupakan pencurian tingkat atas, dan pencopetan sebagai pencurian tingkat bawah menjadi makin intens.
   
Gaya hidup masyarakat sepert ini tak lagi menjadi dominasi warga metropolitan namun menjadi gaya hidup warga desa pula. Desa dan kota sekarang ini sudah tak dapat lagi dibedakan. Kalau  30 tahun yang lalu masih ada perbedaan gaya hidup, sekarang ini sudah tak ada lagi.

Gaya Hidup bagi kaum hedonis adalah Hidup yang Gaya. Ketimpangan Sosial Makin Tajam.

 Karena itu dekadensi moral juga melanda pedesaan, pencurian, perkosaan dan penganiayaan menjadi bagian dari kehidupan warga desa sehari-hari. Ini mirip sekali ketika suku-suku di luar Romawi yang tadinya hidup damai dalam harmonisasi alam seperti gothic dan gaelic kemudian menjadi barbaric karena ditekan oleh kapitalisme dan imperialisasi Roma. Saking beratnya kehidupan ketika kapitalisme menjadi pemicu ketimpangan, maka kaum pinggiran ini kemudian ngamuk dan menyerbu Romawi dengan membawa segala rasa penasaran, chaos, kerusuhan, di benak barbaric ini mengapa mereka terpinggirkan hanya karena mereka tak punya akses ke kesejahteraan yang berbasis kapital.

Jadi adab barbaric bukan hanya milik ancient people atau masa kuno saja, namun juga menjadi warisan di masa kini.
  
 Sebenarnya pemerintah harus imbang antara mendidik masyarakat menjadi berwatak kasih sosial, juga mendidik masyarakat untuk berusaha dan berniaga secara jujur. Bukannya justru lingkaran dalam kekuasaan memberi contoh korupsi dan  memberi  contoh  dekadensi moral. (*)

Jumat, 28 Oktober 2011

Ballada Kelas Pekerja (dari lagu Bon Jovi)


Bon Jovi Lyrics to
"Livin' On a Prayer" :

Once upon a time
Not so long ago
Tommy used to work on the docks
Union's been on strike
He's down on his luck...it's tough, so tough
Gina works the diner all day
Working for her man, she brings home her pay
For love - for love

She says: We've got to hold on to what we've got
'Cause it doesn't make a difference
If we make it or not
We've got each other and that's a lot
For love - we'll give it a shot

We're half way there
Livin' on a prayer
Take my hand and we'll make it - I swear
Livin' on a prayer

Tommy got his six string in hock
Now he's holding in what he used
To make it talk - so tough, it's tough
Gina dreams of running away
When she cries in the night
Tommy whispers: Baby it's okay, someday

We've got to hold on to what we've got
'Cause it doesn't make a difference
If we make it or not
We've got each other and that's a lot
For love - we'll give it a shot

We're half way there
Livin' on a prayer
Take my hand and we'll make it - I swear
Livin' on a prayer

We've got to hold on ready or not
You live for the fight when it's all that you've got

We're half way there
Livin' on a prayer
Take my hand and we'll make it - I swear
Livin' on a prayer...

'Ballada Kelas Pekerja"





Bila kita simak benar, lirik lagu Bon Jovi di atas yang berjudul Livin' On a Prayer, terasa benar nuansa balada kehidupan rakyat Amerika. Lagu ini mengisahkan tentang perjuangan hidup yang keras dari kelas pekerja (working class) di Amerika. Dikisahkan tentang pasangan Tommy dan Gina.  Tommy biasa bekerja di pelabuhan dan Gina bekerja di restoran demi membantu ekonomi keluarga, Gina membawa gajinya pulang demi cinta pada keluarga dan kelangsungan hidup keluarga kelas pekerja ini.
Namun sayangnya Tommy sedang tidak bekerja karena Union sedang melakukan pemogokan. Strike atau pemogokan biasa digelar di Amerika oleh Union atau serikat buruh, karena serikat Buruh pengaruh dan solidaritasnya amat kuat di Amerika, pemogokan ini untuk melawan pemodal atau kapitalis. Pemogokan di Amerika  biasanya bertujuan untuk menaikkan upah atau penyesuaian jam kerja yang layak bagi para buruh.
  Bedanya di Indonesia, yang pertama ; serikat buruh di Indonesia lemah, dan kedua; tidak ada jaminan sosial bagi kelas pekerja.
Memang ada satu persamaan dengan di Amerika, yakni di Indonesia kapitalis adalah impian semua orang, bahkan kelas pekerja ingin secepatnya menjadi kapitalis. Hanya saja di Amerika dimana kapitalis telah menjadi sistem selama hampir 2,5 abad, orang telah menikmati adanya jaminan sosial, ini sedikit meredam kekecewaan bila ada orang yang gagal menjadi kapitalis besar.
   Di Indonesia satu generasi pengejaran kapitalis sudah hampir usai, dan muncul lagi seterusnya generasi- generasi baru pengejar kesempatan untuk menjadi kapitalis.
Di Amerika belum lama ini, aksi di wall street menunjukkan bawa kaum sosialis Amerika sedang berusaha menyeimbangkan suara di samping kaum kapitalis. Ini semua tentang keseimbangan.
Karena secara hakekat, sebenarnya di dalam tubuh manusia ada dua sifat abadi yakni individu dan sosial.
Di dalam Islam sudah disebut- bahwa manusia adalah makhluk individu yakni “Bekerjalah mencari rezeki seolah-olah engkau hidup selamanya”, dan di dalam manusia pula terdapat sifat sosialis, “Dan danakan (sumbangkan) kembali hartamu seolah- olah engkau mati esok pagi”. Indah sekali dalam Islam diterangkan bahwa sebenarnya manusia adalah makhluk individu (kapitalis) dan sekaligus makhluk sosial.
 Karena itu, bagi yang mencibir sinisme pada sosialisme, maka dia tentu saja tidak imbang dalam hidupnya, juga bagi yang anti kapitalisme saja, dia juga tidak seimbang dalam hidupnya.
Di Indonesia kisah seperti Tommy dan Gina seperti yang digambarkan oleh Bon Jovi dalam lagu di atas, jamak terjadi.  Sayangnya  di Indonesia tidak ada serikat buruh yang dominan seperti Union di Amerika Serikat. Serikat Buruh di Indonesia terfraksi, terpecah dengan amat parah, bahkan ada serikat buruh yang hanya mengikuti politik aliran. Ini membuat kaum kapitalis menjadi sangat besar dan sangat  kuat di Indonesia, baik asing maupun joint ventura, kelas elite ini menjadi raja diraja dengan kaum buruh sebagai hamba sahayanya.
Di Indonesia kelas pekerja berjuang hidup sehari-hari  dengan satu hukum besi  ‘take it or leave it” atau terima upah anda atau tinggalkan. Satu-dua pemogokan akan berujung pada PHK yang mudah, dan kapitalis akan mencari lagi tenaga kerja manusia yang memang tersedia secara melimpah secara mudah. Ini terjadi di banyak perusahaan pemogokan tidak membuat buruh meningkat daya tawarnya. Bahkan hanya membuat konflik horizontal antar kaum pekerja yang terfraksi antara pribumi dan pendatang.
Karena itu di Indonesia semua profesi pada akhirnya ingin menjadi kapitalis sejati, namun ada hukum  piramida sosial yang  keras, yakni : yang berhasil naik di atas puncak piramida adalah segelintir  saja, menurut hukum piramida sosial ini,pucuk piramida adalah para kapitalis yang berhasil, sedang di bawahnya adalah orang –orang yang masih memiliki resiko jatuh.
Hukum piramida sosial ini berlaku sepanjang jaman. Ballada kaum pekerja  sangat apik digambarkan  dalam lagu Bon Jovi ini, dan saya ingin agar pembaca juga kapan-kapan mendengarnya. Saya sangat senang mendengar lagu ini, yang menyanyikan kisah sejati kaum pekerja, kaum buruh yang murni bekerja dari tenaga fisiknya sahaja. (*)

Selasa, 25 Oktober 2011

13 MANUSIA LINTAH ENERGI (THE THIRTEEN HUMAN ENERGY LEECH ( KATA KUNCI : 13 LINTAH ENERGI)


Dalam sebuah film berjudul ‘The Way Back’ yang dibintangi Collin Farrel, ada sebuah adegan yang saya ingat benar ketika seorang tahanan di pembuangan Siberia selalu mengumbar omongan bahwa dia mempunyai jalan keluar dari penjara neraka salju Siberia itu. Akhirnya, banyak tahanan baru, dan bahkan  tahanan lama yang percaya dengannya.  Namun setelah tiba hari  untuk meloloskan diri dari Siberia, orang ini ternyata takut menempuh resiko menyeberangi salju Siberia menuju kebebasan. Karena itu tahanan lain menyebut si omong besar itu sebagai  Si lintah energi. Si lintah energi (energy leech) itu menghimpun energi positif harapan dari tahanan lainnya agar ditunjukkan jalan keluar dari  camp kerja paksa di Siberia itu, dan energi itu dia gunakan untuk bertahan hidup di pembuangan Siberia.

Dari adegan  ini saya tertarik untuk mendalami apa yang dinamakan lintah energi itu. Setelah saya observasi, dan dari beberapa bahan bacaan saya menemukan bahwa  manusia lintah energi hanyalah manusia yang ingin menyedot energi positif orang lain untuk memenuhi kehausan dirinya sendiri akan energi positif dari orang lain. Orang ini saya sebut sakit. Karena menurut hemat saya, energi positif sebaiknya kita harap dari satu sumber saja yakni : Tuhan Yang Maha Esa.

Kadangkala di lingkungan sekitar kita, ada banyak orang yang bisa menyedot energi emosi positif kita. Dan menyisakan pada kita energi negatif saja. Bahkan orang-orang itu bisa jadi adalah teman seiring, teman kerja, sahabat, famili, dan orang-orang yang  kita berinteraksi dengannya setiap hari. Saya mendefinisikan manusia-manusia jenis ini sebagai Lintah Energi.

Kelakuan orang-orang ini yang wajib kita waspadai  adalah mirip seperti Lintah yang gemar menyedot darah (darah adalah elan vital kehidupan). Mereka menyedot energi emosi dan perasaan positif kita, secara mental. Akibatnya secara mental kita menjadi kesal, capek, malas, dan menanggung beban emosional.

Saya mendefinisikan ada 13 jenis Manusia Lintah Energi, kita harus paham bahwa mereka menjadi manusia Lintah karena sebenarnya ada soul emptyness atau “kekosongan jiwa” dalam diri mereka. Mereka sebenarnya “haus” perhatian, rasa berharga, kasih sayang, dan kedamaian, sehingga mereka berusaha menyedot dari orang lain di sekitarnya. Masalahnya, orang-orang ini bagaikan mesin penyedot energi positif yang tidak pernah puas dengan energi postif orang lain yang mereka sedot, sehingga selama ia belum bisa menyelesaikan problem emosionalnya sendiri, ia tidak akan pernah berhenti menyedot orang-orang di sekelilingnya.

Sekarang, marilah kita kenali 13 jenis MANUSIA LINTAH ENERGI ini:

1. Lintah Hope Giver, atau lintah pemberi harapan. Lintah ini amat berbahaya karena dia selalu memberi harapan angin surga berupa janji-janji atau serangkaian janji untuk memberikan bantuan materi kepada orang-orang  lain yang membutuhkannya, sehingga orang lain itu terus-menerus siang dan malam berharap kepadanya.
Orang ini menguras energi positif bagai mesin sedot daun yang  menyedot daun-daun di sebuah pohon Akasia.

Lintah Hope Giver ini menjanjikan kepada orang lain dan sekelompok orang lain yang ia janjikan bantuan baik berupa materi dan harapan lainnya. Tujuan orang ini tidak ada selain hanya ingin menyedot energi positif kehidupan manusia yang paling berharga yakni ‘harapan’. Energi harapan adalah energi yang seharusnya hanya kita harapkan kepada Tuhan saja. Dan kita seharusnya sandarkan energi berharap ini kepada Tuhan saja. Waspada terhadap Lintah hope giver but nonsense yang satu ini.

Beberapa contoh case; saya mengenal ciri khas pada seorang kawan yang lebih senior, yang kerap menjanjikan sesuatu yang muluk kepada orang-orang yang selama ini dia butuhkan kehadirannya. Untuk supaya orang itu mau berhubungan dengan dia, dia selalu menjanjikan hal yang dia tahu adalah keinginan si orang-orang yang dia manfaatkan itu.

Contoh case lainnya : Ayah saya sempat termakan janji seorang penerbit muda yang katanya ingin menerbitkan naskah novel saku yang ada di blog Ayah saya, siang malam Ayah saya berharap agar naskahnya bisa diterbitkan, namun ternyata itu hanyalah omongan kosong doang agar Ayah saya senantiasa bergantung harapan pada penerbit muda nan gombal itu.

Contoh case berikutnya : saya memiliki kawan-kawan yang mengalami kesulitan modal dalam membesarkan media massa milik mereka. Akhirnya pada suatu ketika mereka berkenalan dengan seorang yang mirip paranormal yang menjanjikan kepada kawan-kawan saya ini omong besar berupa uang 2 miliar untuk membesarkan media yang bangkrut punya kawan-kawan saya itu. Kawan-kawan saya, karena dijanjikan  suntikan modal hingga ‘eM-eM’ -an tentu saja sangat bergairah dan bersemangat serta memiliki harapan yang tinggi. Bahkan mereka telah berangan-angan membeli ini-itu untuk kantor nanti. Apalagi mereka memang tengah dalam kesulitan ekonomi yang serius. Namun beberapa kali janji pencairan dana investor ini batal melulu, dan tanggal pencairan dana selalu diulur-ulur terus, maka saya melihat adanya guratan kelelahan yang amat sangat dari wajah kawan-kawan saya, saya pun baru sadar bahwa kawan-kawan saya sudah menjadi korban seorang lintah energi yang sangat lihai dalam menyedot energi positif dari kawan- kawan saya. Yang tersisa pun hanya perasaan yang terkuras mentalnya.
  
Lintah energi tahu bahwa harapan adalah bentuk energi yang dia bisa manipulasi agar orang yang dia beri janji, prospek, perkatataan yang mendorong adanya harapan itu berharap padanya dan senantiasa mendekat pada dia.

Dari kejadian-kejadian ini untuk terhindar dari hisapan sang lintah energi, maka seharusnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sajalah manusia berharap.

Karena  dengan lihaynya seorang lintah energi membelokkan harapan itu, sehigga manusia tidak lagi berharap pada Tuhan namun berharap hanya pada dirinya. Naudzubillah Min Dzalik. Anehnya Orang-orang lintah energi ini biasanya malah diantri dan acapkali dicari oleh banyak orang-orang yang ingin meminjam uang atau dijanjikan uang hingga ‘eM-eM’-an.  Adapun mereka para lintah energi ini, ada yang berkedok mampu menjualkan pusaka-pusaka bertuah berharga selangit, lipat ganda uang (uang orang lain) dengan cara musykil, bahkan permainan tokek ajaib miliaran yang musykil, yang membuat banyak orang tak rasional dan memburu tokek mustahil ini, semua ini adalah akalan para Lintah Energi.

2. Lintah “hati gunung es”. Manusia jenis ini adalah orang yang hatinya terbuat dari es balok. Selain dingin, hatinya juga keras. Dalam kata lain, orang-orang ini adalah orang-orang yang tidak berperasaan dan kehilangan empati. Ia bisa mengucapkan kata-kata yang menyayat hati dengan santai. Saya percaya Anda tentu pernah berjumpa dengan orang-orang yang entah kenapa mulutnya selalu mengeluarkan kata-kata yang pedas dan menyakitkan, entah secara langsung maupun berupa sindiran-sindiran yang menyakitkan hati. Saya sbut pula lintah ini memiliki prbadi yang abbrasive. Jika anda cerdas pasti memahami apa itu pribadi yang abbrasive atau suka menggerus mental lawan bicaranya

Bentuk perilaku lain dari Lintah “hati es balok” adalah tega mengorbankan orang lain demi keuntungan diri-sendiri. Ia bahkan tidak segan-segan menghancurkan orang lain agar dirinya tetap selamat. Baginya, orang lain tidak perlu diperhatikan.

Tujuan dari Lintah “hati es balok” adalah untuk menunjukkan dominasinya agar orang lain tidak berani macam-macam kepadanya, tetapi sebenarnya hal itu merupakan perwujudan dari ketakutannya terhadap rasa sakit. Umumnya orang ini pernah terluka dan disakiti, sehingga akhirnya ia bersikap sangat agresif untuk melindungi diri. Prinsipnya adalah daripada disakiti mending menyakiti.

3. Lintah “pengemis”/beggar leech. Jenis yang kali ini adalah lintah pengemis. Lintah “pengemis” adalah orang yang menuntut perhatian kita dengan cara memelas dan mengasihani diri-sendiri. Setiap bertemu orang ini, ia akan selalu menceritakan penderitaan dan kemalangan-kemalangannya. Berkomunikasi dengan orang ini tidak jauh-jauh dari seputar masalah hidupnya yang bertubi-tubi dan sepertinya tidak pernah habis. Bagaimana jika Anda bertemu dengan orang yang setiap saat selalu menceritakan masalah dalam hidupnya? Tentu lama-kelamaan Anda akan kelelahan juga bukan?

Tujuan sebenarnya dari Lintah “pengemis” adalah meminta perhatian dan pertolongan Anda. Dengan cara menjadikan dirinya sebagai “korban” ia berharap kita menjadi iba dan akhirnya memberi dia perhatian dan bantuan. Celakanya, semakin kita memperhatikan dan membantu, maka ia akan semakin menjadi-jadi dan semakin membuat dirinya tampak lebih menderita. Perhatian adalah bentuk energi mental positif, dan ada orang-orang yang selalu ingin perhatian dari orang lain, artinya dia kekurangan energi positif.

4. Lintah “kepala batu”. Lintah manusia ini adalah manusia keras kepala yang anti masukan dan tidak mau dinasihati. Ia selalu merasa dirinya benar dan sulit percaya dengan orang lain. Manusia ini akan sangat merepotkan jika kita terlibat dalam sebuah pekerjaan bersama karena pada saat itulah ia akan menjadi halangan untuk kita semakin berkembang.

Bahkan pada kasus-kasus yang ekstrim, manusia “kepala batu” ini bisa berperilaku agresif demi mempertahankan apa yang ia yakini. Ia tidak segan-segan mengorbankan orang lain dan bahkan melukai orang lain hanya agar keyakinannya terwujud. Manusia jenis ini digerakkan oleh ketidakpercayaan dan rasa aman yang hilang. Ia hanya percaya pada dirinya sendiri dan tidak mau mengambil resiko untuk mempercayai orang lain.

5. Lintah “tukang obral”. Manusia “tukang obral” hampir sama dengan lintah hope giver but nonsense, mereka ini adalah lintah yang bermulut besar dan suka mengobral janji. Kata-kata dan perilakunya tampak membela kita dan tampak sangat menghargai kita, tetapi itu hanyalah kata-kata. Pada saat gilirannya, ia tidak melakukan semua yang ia katakan alias OMDO! Awal-awalnya orang jenis “tukang obral” bisa menarik simpati banyak orang, namun akhirnya semua akan kecewa dan meninggalkan dia. Ketika ia ditinggalkan, ia akan melakukan “obral” kepada korban-korban lain, dan begitulah seterusnya.

Manusia “tukang obral” digerakkan oleh ketakutannya untuk ditolak dan kebutuhannya untuk diterima, sehingga ia akan mengatakan dan melakukan apapun untuk memberikan kesan baik kepada semua orang. Namun, karena terlalu banyak “mengobral” akhirnya ia sendiri kesulitan untuk menepatinya dan saat itulah ia justru mengecewakan orang lain.

6. Lintah “misterius yang sok cool’. Jenis yang ketujuh adalah Lintah “misterius”. Yaitu jenis orang yang sok tertutup dan sok “cool”. Ia dengan sengaja menutup diri tetapi sedikit membuka celah agar orang penasaran dan kemudian berusaha mengorek informasi dari dia. Kepuasannya adalah ketika ada orang yang penasaran dengan dia dan kemudian mendekatinya untuk bertanya-tanya. Saat ia ditanyai itulah, ia merasa mendapat perhatian dan merasa bak artis-selebritis yang sedang diwawancarai.

Orang jenis ini tidak pernah memulai inisiatif namun ia sengaja memberi sinyal-sinyal tak langsung agar orang terpancing untuk mendekati. Istilah sederhananya, orang jenis ini selalu bersikap sok jual mahal dan sok penting. Tentunya akan sangat melelahkan berhubungan dengan orang ini bukan? Kita harus setiap saat memperhatikan dan memulai inisiatif lebih dahulu.

7. Lintah “INGIN TAHU AJA”. Orang jenis ini adalah jenis orang yang selalu ingin tahu segala hal. Pernahkah Anda direpotkan oleh orang-orang seperti ini? Selalu ingin tahu apa yang kita lakukan, darimana barang-barang kita, dimana membelinya, berapa harganya, sama siapa kita belinya, berapa banyak kita belinya, dan berbagai pertanyaan nggak penting lainnya.

Malahan, orang-orang ini kadangkala tanpa sungkan-sungkan menanyakan hal-hal yang pribadi dengan santainya. Mata orang ini selalu jeli menangkap dan memperhatikan gerak-gerik kita untuk mencari bahan baru yang bisa ditanyai dan diurusi. Dia adalah manudia yang “Want To Know” aja, pokoknya semua hal tentang kita dia mau tahu aja, meskipun tidak ada hubungannya dengan dia dan bahkan sebenarnya tidak ada gunanya buat dia.

Di saat-saat kita sedang lelah, sibuk, dan fokus, kehadiran orang-orang ini benar-benar akan menyedot energi emosi kita, karena kita akan dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan nggak penting yang mengacaukan konsentrasi kita.

Apakah tujuan orang-orang ini? Ia ingin tahu segala hal agar ia merasa menjadi orang yang tahu segalanya dan tidak dianggap ketinggalan. Ia takut ditolak dan dianggap tidak tahu, itu sebabnya ia berusaha mengumpulkan informasi mengenai apapun. Selain itu, ia juga takut dianggap orang bodoh, sehingga dengan mengumpulkan semua informasi, ia bisa siap kapan saja jika ada pertanyaan dan diskusi.

8. Lintah “gila hormat” dan Gila status sosial/ gila pangkat derajat. Kebalikan dengan manusia “Want To Know” kalau manusia “Gila Hormat” berusaha memberitahu dan menunjukkan semua pengetahuan dan prestasinya kepada siapa saja. Setiap ada kesempatan apapun, ia selalu berusaha mempublikasikan semua yang sudah dia lakukan.

Goal hidupnya adalah untuk mendapatkan pujian dan mendapatkan ekspresi kagum dari sebanyak mungkin orang. Bahkan, orang ini akan menceritakan mengenai orang-orang terkenal yang ada dalam daftar friend Facebooknya, orang-orang terkenal yang dia tahu, orang-orang terkenal yang berhasil dia temui (meski cuma sekali), berbagai prestasi (entah besar entah kecil_ yang pernah dia lakukan, tempat-tempat yang pernah ia kunjungi, dan semua hal yang bisa dibanggakan. Dalam cerita-ceritanya, ia akan selalu berusaha membuat semua orang terkesan, jika perlu ia akan sedikit melebih-lebihkan ceritanya. Tidaklah heran kadangkala orang ini mendapat predikat sebagai “si belagu” atau “si gila derajat”.

Dan yang paling melelahkan dari orang ini adalah ketika ia selalu mengarahkan topik pembicaraan pada dirinya. Apapun topik pembicaraan, ia akan selalu berusaha menyusupkan kata “saya sudah…”, “saya kenal…”, “saya tahu…”, “saya bisa…”, “saya pernah…” dan berbagai “saya-saya” lainnya.

Yang paling mengerikan adalah ketika seseorang memiliki 2 karakter Lintah sekaligus, yaitu Lintah “Want to know” dan Lintah “Gila hormat”! Ia akan merepotkan kita dengan berbagai pertanyaan dan kemudian ia akan menggunakan pengetahuan yang ia peroleh untuk ia bangga-banggakan kepada orang lain. Dua kali sedotan energinya, menyisakan hanya energi negatif buat kita.
   
9. Yang kesembilan adalah Lintah Pengecut  atau saya sebut lintah energi pengecut.  Berteman dengan seorang pengecut sangatlah menguras energi kita karena kita harus sibuk melindungi orang itu dan membelanya/ mendorongnya. Sebaiknya memang tidak kita jadikan teman karena akan menyedot enegi kita dua kali lebih parah dari jenis manusia lintah energi yang  lain.

10. Lintah energi pelit namun sok pamer.Lintah energi pelit namun sok pamer materi ini juga menyedot habis-habisan perhatian kita karena barang-barang yang dia punyai untuk dia pamerkan, namun pada dasarnya dia enggan memberikan pertolongan. Celakalah orang yang demikian ini karena dia hanya menyedot simpati orang-orang bodoh yang tertarik dengan penampilan  luar saja namuan pada dasarnya  si pamer serta pelit ini tidak akan pernah melakukan apapun bagi orang-orang di sekitarnya. Termasuk pula lintah pamer tapi pelit ini adalah orang pintar ilmu yang memiliki suatu ilmu keahlian, namun hanya dia pamerkan saja tanpa dia sudi bahkan terpikir untuk membagi ilmunya bahkan dengan sahabatnya sekalipun. Padahal menurut saya pribadi, ilmu yang dibagi bukannya habis namun makin bertambah karena kita juga berinteraksi dalam mengembangkan ilmu yang berguna tersebut dengan orang lain.  Harta yang dikeluarkan mungkin habis.Ilmu tidak. Harta kalau dibagi di jalan Alloh juga akan makin bertambah tidak hanya di Dunia tapi juga di Akhirat kelak.

11. Jenis lintah yang kesebelas adalah jenis Lintah Racun Tikus Brodifakum. Jenis lintah racun tikus  brodifakum adalah racun ini bekerja lama, sehingga tikus tidak sadar bahwa dia telah mengalami internal bleeding dan dehidrasi sehingga ahirnya mati. Jenis lintah racun tikus brodifakum adalah manusia yang senantiasa mengeret (kerat) korbannya dengan rayuan mautnya, daya tarik fisik yang berujung kobannya mau memberikan uang, materi dan apapun  barang yang berharga yang dimilikinya hanya sekedar bisa berdekatan dengan manusia lintah racun tikus brodifakum ini.

12. Jenis manusia lintah sok berjasa. Orang  sok berjasa juga menguras energi positif kita karena lintah sok berjasa ini akan selalu membuat orang yang pernah ditolongnya segan dengan mengungkit-ungkit pemberian orang tersebut. Jadi orang yang sudah ditolong akan terus merasa berhutang budi kalau sudah berhutang budi maka lintah sok berjasa akan menguras perhatian, daan minta perlakuan dari orang yang pernah ditolongnya dengan aneka permintaan, baik masuk akal dan tidak. Tipe jenis lintah ini sangat dihindari dalam filosofi China , “Hindari perasaan melepas budi dan membalas budi’, melainkan jika kita ditolong orang lain maka cepatlah balas dengan kebaikan. Lao Tze berkata : "Jika menerima budi, pahatlah di dinding karang, jika melepas budi tulislah di pasir pantai".

13. Jenis  lintah ketiga belas adalah jenis manusia lintah sok bodoh. Atau pura-pura bodoh hanya untuk mengawasi gerak-gerik kita dan belajar dari kesalahan-kesalahan kita. Manusia sok bodoh amat berbahaya dalam sebuah organisasi.  Dia membawa energi negatif yang hebat karena dia pura-pura bodoh, dan membiarkan kawan yang lain tersesat dalam kebodohan.  Menurut saya orang ini saya sebut sebagai silent liar atau pembohong yang diam.  Karena dalam diamnya sebenarnya dia sudah berbohong karena dia pura-pura bodoh, masa bodoh dan pura-pura tidak tahu terhadap solusi masalah sebuah organisasi. Manusia pura-pura bodoh ini sebaiknya segera disingkirkan sebelum melemahkan organisasi. Lebih baik  memelihara orang jujur apa adanya, suka bilang suka, tidak suka katakan tidak suka, dari pada pura-pura baik dan pura pura bodoh hanya untuk menyelamatkan diri, atau hanya ingin puas melihat sebuah kebodohan berjalan di depan matanya.

   Baik begitu saja ulasan saya  tentang 13 (celaka tiga belas) manusia lintah energi 13. Semoga kita bisa memetik pelajaran, yang pertama jangan sampai kita menjadi diantara 13 manusia lintah energi dan jangan sampai kita tersedot energi positif kita oleh jenis 13 manusia lintah energi itu. Wa billahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

(13  Lintah Energi oleh : Mung Pujanarko)

Sabtu, 08 Oktober 2011

Sukses dan Gagal


Saya pecinta Ilmu Dialektika Materialisme dan aksioma - aksioma yang ada di dalamnya, sungguh. Saya bersyukur kepada  Alloh SWT yang  menciptakan alam semesta ini dengan prinsip keseimbangan. Keseimbangan adalah alamiah. Namun  Alloh juga menciptakan manusia dengan membekali manusia dengan sifat kesabaran dan ketergesan-gesaan, dengan sifat ketenangan dan kegelisahan. Dengan sifat kebijaksanaan dan ketidak-matangan.
Seorang kawanku ikut berbagai macam pelatihan untuk mencapai satu tujuan : berhasil dalam hidupnya. Ia tak mau gagal. Dia kejar terus yang namanya kesuksesan. Dan ketika keberhasilan itu datang maka dia mensyukurinya. Dan satu ketika kegagalan menghampiri, kemudian dia ikut pelatihan-pelatihan lagi.
Kebanyakan pelatihan yang diikutinya adalah pelatihan psikologi, program-program motivasi dan semua pelatihan mental yang memberikan obat penawar mujarab berupa : kebangkitan, kesuksesan  dan keberuntungan serta jauh dari berbagai macam kemalangan.  Saya pernah bertanya  kepadanya,“Kenapa anda  gemar sekali ikut pelatihan bergenre motivasi, psikologi, bahasa syaraf, hypno-sugestif dll, yang merupakan program ilmu psiko-mental? Dan bukannya ikut pelatihan program ilmu-ilmu keterampilan untuk  meningkatkan ketrampilan, secara skill misalnya, pertanian, penulisan,  aneka teknik  dan ketrampilan lainnya yang bisa meningkatkan ketrampilan metode skill ?”
Tapi dia mengatakan lebih suka mengisi hidupnya denga pelatihan pelatihan mental (satu, dua sesi pelatihan psiko-mental, motivasi, ini ada yang dipatok sampai 10 juta rupiah sampai mahir). Luarbiasanya banyak peminatnya.
Memang kegagalan yang menerpa membuat manusia sesaat kehilangan keseimbangannya, maka dia membutuhkan untuk mengisi ruang kosong di sisi yang berlawanan untuk memburu kesuksesan lagi.
Padahal perasaan sukses pun pada hakekatnya adalah ketidak-seimbangan. Seseorang yang merasa dirinya sukses berada dalam posisi  ketidak-seimbangan yang sama dengan orang yang merasa dirinya gagal.
Gagal=pahit, sukses=manis.  
Semua orang ingin manis, tapi kebanyakan manis bisa sakit gula juga. Perasaan seseorang yang merasa  cukup pada hakekatnya sama  posisinya ketika perasaanya mengatakan dia sedang kekurangan.
Tuhan Yang Maha Esa telah mengatakan dalam Al Qur’an bahwa Dia akan mencoba manusia dengan sedikit kekurangan dan susah payah. Dan Dia menekankan kata :sedikit. Jadi, Tuhan Yang Maha Esa juga pada hakekatnya telah memberi KhalifahNya kemampuan manajerial yang baik untuk mengelola Bumi ini. Untuk mengelola Bumi ini, Tuhan tidak hanya memberi perasaan sukses dan puas diri tapi dia juga menyuruh untuk membagi kesuksesan dan membagi buah dari hasil jerih payah selama hidup di Dunia.
Bahkan Dia juga berpesan dalam Al Qur’an bahwa  : "Memberilah kamu selagi sempit maupun lapang". Karena  kemampuan memberi pada saat lapang dan sempit itu  pada hakekatnya adalah latihan mental yang baik untuk  tidak terjebak dalam perasaan puas karena sukes, dan kecewa karena gagal.  Memberi tidak hanya materi, bahkan memberi pertolongan pun merupakan pemberian. Memberikan senyuman di saat kita pahit adalah termasuk luar biasa karena mampu memberi di saat sempit. Menolong orang di saat kita kecewa berat merupakan pemberian yang paling sulit dilakukan.
Dengan memberi di saat sempit memberikan perasaan bahwa kita pun sebenarnya masih diberi kemudahan dalam kesulitan. Dan Tuhan memang selalu memberi kemudahan dalam kesulitan, dan hanya kepada Alloh-lah, berharaplah. Amin.
(mung-mung p_blog ini untuk membedah dialektika materialisme secara simple atau prinsip KISS: Keep it simple and stupid...)

Kamis, 29 September 2011

Being Dumped ?



Masih soal hubungan antar personal, atau dalam ilmu komunikasi disebut hubungan interpersonal atau lengkapnya  : Komunikasi interpersonal menunjuk kepada komunikasi dengan orang lain. Komunikasi jenis ini dibagi lagi menjadi komunikasi diadik, komunikasi publik, dan komunikasi kelompok-kecil. Ok.
Menurut anak muda jaman sekarang yang rajin menyimak tayangan Western, well, Western punya istilah being dumped atau diputusin pacar.
Sebenarnya istilah dumped dalam bahasa Indonesia cukup kasar yakni :dicampakkan. Kalau bangsa Timur biasanya diputusin identik dengan sinonim: ditinggalin, putus. Tidak pernah diterjemahkan dengan dicampakkan, karena tidak lazim terjemahan dari asli budaya West ini untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Dalam segi psikologis, diputusin pacar bagi anak muda impactnya cukup menyedihkan. Ada yang menangis, bingung ada pula yang tenang aja.
Yang bagus yang tenang saja. Karena sebenarnya ditinggalan kekasih hati, atau bahkan ditalak cerai bagi pasangan pasutri, adalah sebuah fenomena dialektika materialisme. Jadi ini peristiwa kuantita menjadi kualita. Kuantita masalah menjadi hasil kualita ditinggalkan oleh pasangan, baik resmi atau tidak.
Bagi para penghayat ilmu dialektika materialisme, Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasangan, dan tidak ada yang kekal abadi kecuali Tuhan itu Sendiri.
Ditinggalkan pasangan atau diputus pasangan merupakan awal dari sebuah keseimbangan baru dalam kehidupan manusia. Marah dan sedih adalah reaksi alamiah dalam sebuah hubungan interpersonal yang tidak berhasil.
Namun banyak orang yang berhasil mengatasi masalah ditinggalkan pasangan hidup ini. Yang tidak normal adalah ketika ditinggalin pacar kemudian bunuh diri. Jadi kesannya sedikit-sedikit bunuh diri.
Manusia dikaruniai Tuhan kemampuan hebat untuk self healing tidak hanya fisik tapi psikis.
Akhirnya, jika ingin komunikasi interpersonal berhasil, terlebih dahulu komunikasi intrapersonal harus berjalan dengan baik terlebih dahulu. (*)

Patah Hati?


Patah hati, kebalikan dari jatuh cinta. Kebetulan saya penggemar berat ilmu dialektika materialisme. Alam ini telah diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan amat balance. seimbang. Ada siang ada malam, ada lelaki ada perempuan, ada sedih ada juga senang.
Ada jatuh cinta dan ada pula patah hati, alamiah sekali. Bagi yang lagi patah hati,rasa jatuh cinta yang pada awalnya timbul jadi tak terasa lagi. Yang terasa hanyalah perasan sakit di hatinya.
Kalau sedang patah hati maka rasakan saja rasa sakit itu, karena menurut ilmu psikologi apapun yang dirasakan seseorang, entah sedih atau senang itu adalah semacam  pulse, ada kaki gelombang, naik menuju puncak gelombang dan turun lagi, seperti surfing. Pulse itu memerlukan waktu ada yang dalam hitungan hari, ada pula yang tahunan.
Yang tidak normal adalah patah hati lalu bunh diri. Ini madness. kegilaan.
Yang tidak normal adalah patah hati lalu balas dendam. Ini juga madness.Kegilaan.
Yang normal adalah membiarkan rasa sakit itu mengalir, dan menunggu sampai reda.
Kemudian surfing lagi, dengan pengalaman yang telah bertambah yakni bisa mengatasi gelombang patah hati.
Kalau anda bisa melakukan ini, anda sehat.
Pada dasarnya saya sedih jika membaca berita ada anak muda yang patah hati lalu bunuh diri. Setiap bulan pasti ada berita semacam ini.
Jika ditarik dari ilmu jiwa, patah hati menimbulkan rasa rendah diri, dan tak percaya diri. Tapi balik lagi pada semua perasaan yang ada dalam pikiran manusia sejatinya adalah pulse , gelombang yang naik turun dengan indahnya.
Patah hati, akibat perpisahan dengan pasangan hidup yang dicintai, adalah terenggutnya 5 (lima) kebutuhan Maslow (teori Maslow). Yakni terenggutnya Physiological need, Safety needs, Love and belonging, Esteem, Self-actualization Self-transcendence atau kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta, dan eksistensi diri juga kebutuhan ingin diakui. Semua hilang, yang ada berganti negasinya yakni tak aman, dan tak berarti.
Gelombang negasi ini tidak bisa dipungkiri, amat menyita energi. Pelampiasan individu adalah secepat mungkin mencari pelampiasan dan hiburan. Pelampiasan ini dalam Zen,adalah ibarat memotong aliran pulse, ibarat surfer yang terjun dari papan surf-nya dan ingin cepat kembali ke pantai. Dia tak ingin mengikuti aliran wave, aliran pulse sampai  secara natural pulse ini  turun sendiri.
Menempuh short cut ini, memotong energi chi  anda sendiri. Tak memperkuat jiwa, justru melemahkannya. yang bagus dilakukan adalah dengan berani melakukan surfing menaiki gelombangnya, hingga turun lagi, kecepatannya tergantung tingkat kepasarahan anda pada The Only One Source, pada Tuhan Yang Maha Esa.(*)
(oleh Mung Pujanarko,  umur 36tahun )

Jumat, 22 Juli 2011

Membangun Kinerja Humas yang Efektif


 
    Perencanaan Proses Kerja Kehumasan

Humas dewasa ini memliiki beberapa bagian yakni :

    Bagian Ceremony/ Acara/ Juru bicara
    Bagian Dokumentasi/ foto/ film
    Bagian Writing dan Editing
    Bagian Data dan Perpustakaan
    Bagian pelaksana CSR (Corporate Social Responsibility)
    Khusus Menangani Marketing Communication.
    Khusus menangani Client Relationship (Perbankan dll)

Selian itu profesi kehumasan juga memiliki ciri khas lain yang tidak dimiliki oleh bagian lain dalam sebuah organisasi. Kekhususan itu adalah fungsi Humas yang harus mampu menampung input selengkap-lengkapnya, bahkan Humas membutuhkan semua output dari seluruh bagian organisasi, misalnya dari bagian keuangan, bagian penjualan dan bagian customer service dari perusahaanya yang kemudian diolahnya menjadi sebuah output Humas yang berguna, baik bagi pimpinan, karyawan secara umum, serta juga kepada publik untuk mengkomunikasikan dan mensosialisasikan visi-misi sekaligus citra perusahaan tempatnya bekerja. Dalam proses perencanaan Humas harus melibatkan 6 unsur utama yang dikenal dengan metode HURRIER (Hearing, Understanding, Remembering, Interpreting, Evaluating and Responding)

1. Hearing. Dalam proses hearing petugas Humas memperoleh semua info dari briefing pimpinan, dalam hal ini level direksi serta komisaris tentang apa saja yang menjadi goal atau aim perusahan yang ingin di publikasikan atau agar diketahui oleh publik. Dan apa aja input yang berguna sebagai informasi yang patut diketahui oleh karyawan. Dalam proses hearing, petugas humas harus mampu membuat kesimpulan, menyusun bagan kerja (alur kerja), serta menyederhanakan persoalan yang kompleks di mata pimpinan. Jika klien Humas itu personal atau perseorangan, maka proses hearing bagi Humas adalah mengetahui dan mendengar langsung dari klien tentang apa saja visi dan misinya, dan bagaimana dirinya ingin memperoleh citra tertentu dari opini public yang mengarah pada tujuan pribadinya.

2. Understanding (pemahaman). Tahap berikutnya setelah hearing adalah understanding, dalam tahap perencanaan kerja seorang Humas juga diharapkan paham apa saja tupoksi atau tugas pokok dan fungsinya. Serta sejauh mana dirinya selaku humas dapat melangkah pada wilayah-wilayah kerja pimpinan, klien, ataupun bagian-bagian lain yang diperlukan inputnya oleh humas, demi tujuan membentuk citra dan opini publik .

3.Remembering (mengingat). Setelah memahami maka Humas wajib mengingat secara detail, point-point apa saja yang menjadi selling point dalam publikasi.

Angle atau sudut mana saja yang bisa dijadikan pijakan untuk membuat start yang bagus bagi pencapaian citra positif yang diinginkan oleh pimpinan atau kliennya. Kemudian yang tak kalah pentingnya bagi petugas Humas adalah secara detail mengingat pesan (message) yang akan dikirim kepada publik, sesuai dengan adagium “Katakan yang sebenarnya namun tidak semua yang benar dikatakan”.

4.Interpreting (penafsiran). Tingkat interpretasi dari masing-masing individu tidaklah sama. Namun seorang Humas harus mampu menginterpretasikan kemauan organisasi dengan prinsip “company interest come first”, atau kepentingan perusahaan paling utama. Untuk itu, dalam tahap planning, tingkat interpretasi terhadap proses planning itu sendiri untuk harus disamakan oleh setiap anggota tim Humas, dengan sikap yang positif.

5. Evaluating. Ada pepatah yang menyatakan “Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan”. Tidak bisa dibiarkan rencana yang kurang matang dikerjakan, melainkan rencana tersebut juga harsu dievaluasi yang membutuhkan waktu dan tenaga tersendiri. Evaluasi terhadap planning bisa dengan teknik SWOT (Strength, weakness, opportunity dan Threat).

6. Responding. Dalam perancanaan pihak Humas harus mampu merespon dan memberi umpan balik kepada pimpinan terkait saran- saran apa saja yang cocok dpakai dalam sebuah program publikasi.

Setelah aspek HURRIER Model diterapkan dalam planning, maka semua anggiota tim humas, baik itu bagian dokumentasi, bagian master ceremony, bagian data menjadi lebih siap menjalankan tugasnya masing masing.

B. Program Kerja Humas

    Mengadakan survey atas opini public yang berkembang menyangkut image tentang organisasi, produk. Dalam tahap survey, Humas dapat bekerja sama dengan lembaga survey yang berkompeten. Atau melakukan survey sendiri.

    Mempelajari opini public yang berkembang. Setelah mengadakan survey maka opni public yang berkembang dibahas secara lengkap, diteliti aspek- aspek apa saja yang melatar belakangi perkembangan opini tersebut, serta menysun program kongkrit guna mengarahkan opini public demi kepentingan perusahaan,/ orgaisasi tempatnya bekerja.

    Mengadakan kontak dengan mitra kerja, baik itu event organizer, rekan wartawan, dan public figure guna dilibatkan dalam program publikasi, baik itu press conference, pameran, seminar ./(MICE).

    Mengirimkan pres release atau uraian singkat tentang acara yang akan digelar kepada, wartawan, sponsosr, mitra kerja stake holder, dan public figure yang akan dilibatkan dalam program publikasi tersebut.
    Memilih media yang akan digunakan. Dalam tugasnya untuk mempublikasikan sebuah event, Humas juga harus memilah dan memilih media mana saja yang akan diundang meliput. Menyangkut media elektronik mana saja, mencakup stasiun televisi dan radio, serta menentukan media cetak dari kelas pembaca mana yang akan diundang untuk meliput acara teesebut.

C. House Journal dan PR Writing

Membuat sebuah House Journal atau media jurnal sendiri adalah wajib bagi seorang Humas. Berikut jenis- jenis House and Public Journal bagi Humas :

    Brosur
    Leaflet
    Bulletin/ News Letter perusahaan & organisasi
    Press release
    Majalah
    Siaran audio visual

Sedangkan berdasar sifat terbitnya, Jacob Oetama selaku pakar media membagi jurnal media menjadi 4 empat sifat :

1.Jurnal Harian, (daily)

2. Jurnal Mingguan (weekly)

3. Jurnal Dwi Mingguan (biweekly)

4. Jurnal Bulanan (monthly journal)

Sedangkan untuk jurnal tiga mingguan dan jurnal tahunan (annual), belum termasuk kategori media yang efektif, baik itu bagi jurnalis maupun bagi Humas dalam membuat House and Public Journal.

Seddangkan sebagai skill wajib, membuat tulisan juga ada tekniknya. Tulisan pada umumnya juga dibagi menjadi 2 jenis yakni news dan feature.

Feature

Feature tunduk dan dibangun atas kaidah jurnalistik sastrawi atau gaya jurnalistik bertutur cerita. Itulah yang membedakan antara berita dan features, di mana berita lebih tunduk kepada kaidah jurnalistik hard news atau berita berat, yang cenderung singkat dan padat. Namun dengan kaidah jurnalistik sastra, feature bisa bercerita lebih panjang dan bertutur dengan gaya yang lebih akrab dan menarik untuk terus diikuti seakan kita bukan membaca sebuah berita namun membaca sebuah cerita true story.

Tom Wolfe sebagai pelopor jurnalisme sastrawi menekankan pentingnya unsur penceritaan dalam pelaporan berita. Dengan teknik penceritaan apa pun fakta yang dilaporkan akan dapat disimak oleh khalayak secara informasi dan imajinatif. Informatif berarti laporan berita itu sarat dengan informasi yang dibutuhkan. Imajinatif, berarti khalayak dapat melakukan rekonstruksi atau merangkaikan fakta atau peristiwa sesuai dengan daya imajinasi dan fantasinya. Khalayak tidak sekadar dilapori. Khalayak seolah-olah terlibat langsung dalam peristiwa yang dilaporkan itu. Maka dari itu dirangkum dalam disiplin ilmu jurnalistik ada 4 (empat) ciri utama Feature, yakni :

    Penyusun Adegan

Laporan disusun dengan menggunakan teknik bercerita adegan demi adegan, atau suasana demi suasana. Maka dari itu untuk melaporkan suatu peristiwa secara lengkap, kerja jurnalis lebih dari sekedar melaporkan fakta-fakta dan menyusunnya secara kronologis. Mereka harus melakukan pengamatan yang melebihi kerja reporter biasa. Mereka harus bisa, mencari fakta-fakta di balik rangkaian adegan dan peristiwa berita. Otomatis kerja para penulis feature lebih berat, karena lebih banyak diperlukan wawancara dari berbagai nara sumber, lebih banyak melakukan investigasi berdasarkan segi ilmiah dan logika. Kemudian menyusunnya ke dalam feature secara kronologis dari adegan per adegan.

    Dialog

Ciri yang kedua dalam penulisan sebuah feature adalah jurnalis harus mampu mencatat semua dialog secara utuh. Artinya dari sekian jumlah nara sumber yang diwawancara pasti menyampaikan sesuatu yang penting, untuk itu dialog yang bernilai news biasanya akan ditampilkan secara utuh demi kepentingan para pembaca. Melaui dialog, jurnalis bertujuan untuk memancing rasa keingin-tahuan pembaca.

    Sudut Pandang Orang Ketiga

Melalui sudut pandang orang ketiga ini jurnalis tidak hanya menjadi si pelapor ia bahkan kerap menjadi tokoh berita. Ia bisa berperan menjadi pelapor yang tahu jalannya peristiwa. Pembaca dilibatkan, diajak berada di tiap keinginan, pikiran, dan pengalaman yang terjadi. Piranti sudut pandang orang ketiga ini mempresentasikan setiap suasana peristiwa, melalui pandangan mata seorang tokoh yang sengaja dimunculkan. Dengan begitu pembaca diberitahu tentang perasaan nara sumber dan pengalaman emosionalnya yang terjadi saat itu.

    Mencatat Detail

Semua hal dapat dicatat secara detail, yaitu, perilaku, adat istiadat, kebiasaan, gaya hidup, pakaian, dekorasi rumah, dan meskipun itu aneka pandangan - pandangan lain yang bersifat sekilas. Berbagai tanda sosial itu menurut Tom Wolfe me- representasikan dasar pikiran dari perilaku, ekspresi, sampai harapan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan sosialnya. Perekam detail- detail amatan jurnalis itu akan memberi kekuatan dalam pembuatan feature. Setiap detail laporan yang baik melambangkan setting komunitas sosial teretntu. Menyangkut, status dan prestise, meliputi pola perilaku dan ekspresi di berbagia posisi, juga pemikiran dan harapan sosial mereka.

Unsur-unsur Pokok Cerita Feature

Sebagai sebuah cerita, feature dibangun dengan berpijak kepada beberapa unsur pokok. Unsur-unsur pokok ini sebenarnya diadaptasi dari bentuk jusrnalisme sastrawi yang lebih condong kepada cara penulisan sebiuh story atau kisah. Berikut ketujuh unsur pokok tersebut

    Tema : tema adalah ide sebuah cerita. Pengarang dalam menulis cerita bukan sekedara mau cerita, melainkan mau menyampaikan sebuah ide kepada para pembacanya. Dalam feature ide sering mucul dari berbagai peristiwa berita yang sifatnya aktual dan faktual. Ide tidak didapat melalui imajinasi, namun diperoleh melalui informasi. Wartawan sebagai penulis cerita feature hanya berhak melakukan rekonstruksi dan visualisasi atas apa yang dilakukan oleh tokoh cerita sesuai dengan setting peristiwa yang terjadi.
    Sudut pandang : Point of Views atau sudut pandang pada dasarnya adalah visi seorang penulis untuk melihat kejadian cerita. Penulis yang pandai akan menentukan pilihan siapa tokoh yang harus bercerita, sehingga ia mencapai efek pada ide yang hendak diceritakannya. Ada 4 (empat) sudut pandang yang asasi atau biasa ada dalam cerita feature yakni (a) Omniscent point of view (sudut pandang yang berkuasa), (b) Objective point of view (sudut pandang yang obyektif), (c) Point of view orang pertama dan (d) point of view peninjau)
    Plot : Plot bukan jalan cerita. Jalan cerita hanya manifestasi atau bentuk wadag dari plot. Plot adalah yang merekam cerita, plot seperti roh cerita itu. Plot itu sendiri terdiri dari lima situasi yakni, elemen, pengenalan, timbulnya konflik, konflik menuncak, klimaks, dan solusinya.
    Karakater :Sebagai cerita, feature harus memiliki karakter atau watak. Penulis yang berhasil menghidupkan tokoh- tokoh dalam features akan dengan sendirinya meyakinkan keberadaan cerita tersebuit. Kita bisa mengenali karakter dalam sebuah cerita melalui : (a) apa yang diperbuat, tindakan-tindakannya, (b) melalui ucapan- ucapannya, (c) melalui penggambaran fisik tokoh seperti bentuk tubuh, wajah, dan cara berpakaian. (d) melalaui pikiran- pikirannya, (e) melalui penerangan langsung.
     Gaya : gaya adalah cara khas pengungkapan seseorang penulis. Cara bagaimana seorang penulis memilih tema, persoalan, meninjau persoalan dan menceritakannya dalam sebuah features, itulah gaya seorang pengarang.
     Suasana : Tiap feature ditulis dengan maksud tertentu. Suasana dalam features membantu menegaskan maksud. Di samping itu suasana juga merupakan pesona sebuah cerita
    Setting /lokasi : Setting dalam dunia cerita features bukan hanya back ground. Melainkan dari setting wilayah tertentu harus bisa dihaslikan perwatakan yang bagus untuk menarik minat pembaca. Setting amat menentukan jalannya cerita misalnya bencana alam, tragedi kemanusiaan kelaparan dan lain sebagainya.

Dasar-dasar Penulisan Berita

Setelah  memahami kaidah- kaidah dalam features, berikut panduan dalam menulis berita atau jurnal yang disebut ilmu jurnalistik. Yang pertama, Istilah jurnalistik sendiri berasal dari kata ‘journalistiek’ dalam bahasa Belanda atau ‘journalism’ dalam bahasa Inggris. Keduanya berasal dari bahasa latin ‘diurnal’ yang berarti harian atau setiap hari. Sementara News atau Berita berarti menyatakan adanya informasi atas sesuatu yang baru atau new. Jika digabung maka dalam setiap hari sebuah berita harus menyajikan informasi sesuatu yang baru dan menarik.

 Informasi atau News yang berisi Fakta ini pada mulanya adalah tersembunyi dari pengetahuan publik, dan baru bisa digali oleh wartawan dengan menerapkan ilmu jurnalistik setelah melakukan investigasi dan wawancara terhadap narasumber.

Pedoman umum dalam menulis berita adalah :

1. Tidak boleh melakukan opini pribadi. Berita yang disajikan hanyalah fakta yang mengandung kebenaran.

 2. Unsur 5 W 1 H atau yang disebut juga Teori Harold Laswell mutlak diperlukan yakni:

    

       Who

       What

 Where

 When

 Why

 How

    Penulisan berita harus tepat, ringkas, jelas, sederhana, dan dapat dipercaya.

4. Naskah berita harus lugas dan mengandung daya gerak.

Berita atau News ditulis berdasarkan teori piramida terbalik ataupun piramida tumpuk terbalik

 Berita straight news atau berita langsung biasanya ditulis dengan gaya piramida terbalik, dimana semua yang dianggap paling penting diletakkan dalam lead atau intro. Piramida terbalik diperlukan agar khalayak yang biasanya sibuk tetap bisa mengetahui peristiwa penting terjadi dengan gerak baca yang relatif cepat. Gaya piramida terbalik juga memudahlan para redaktur, editor atau produser (dalam media elektronik) untuk memotong bagian yang kurang penting yang terletak dalam bagian bawah berita, hal ini berlaku terutama pada media cetak seperti majalah dan surat kabar.

 Namun dalam prakteknya, gaya piramida terbalik dan ketentuan untuk memasukkan unsur 5W 1H tidaklah selalu ditaati. Karena bila semua berita ditulis dengan gaya pramida terbalik maka akan menjadi kurang variatif. Lagi pula pula unsur 5W 1H bila dimasukkan semua pada lead maka akan lead akan memuat 20 kata. Sedangkan lead yang ideal hanya memerlukan antara 10 sampai 15 kata. Menurut Sudirman Tebba kepala Litbang ANTV dalam bukunya “Jurnalistik Baru”, 2007, mengatakan ada beberapa contoh lead antara lain lead kata seru (lead excalamation), lead bertanya, lead kontras (contrast lead) dan lead kutipan atau quotation lead.

Kemudian adanya berita (news) berdasarkan struktur piramida bertumpuk terbailik atau ada pula yang menyebut teknik penulisan dengan bergelombang. Yang dimaksud dengan teknik penulisan berita secara piramida tumpuk terbalik yaitu tidak semua unsur penting dalam berita disatukan dan ditempatlkan dalam bagian lead. Tapi disebar dalam semua bagian berita. Jadi dalam setiap paragraf atau alinea ada unsur penting, sehingga pembaca tertarik mengikuti seluruh isi berita tersebut.

 Misalnya :

Ribuan mahasiswa dari berbagai perguran tinggi se-Jabotabek menggelar aksi unjuk rasa di gedung MPR/ DPR RI Senayan Jakarta hari Jumat pagi (8/9) kemarin. Unjuk rasa mahasiswa ini merupakan unjuk rasa yang terbesar dalam tahuan ini.

       Unjuk rasa itu dilakukan untuk menentang keputusan pemerintah untuk mengadakan impor beras, yang telah disetujui oleh DPR. Mahasiswa menilai impor beras menambah penderitaan bagi para petani yang mulai merasakan harga gabahnya turun tajam.

       Dalam aksi ini para mahasiswa juga melakukan aksi teatrikal untuk menggambarkan nasib para petani yang kian terjepit, selain oleh kenaikan harga barang juga turunnya harga gabah, akibat beras impor. (*)

Pada berita itu unsur- unsur yang penting diseber dalam setiap alinea yaitu unsur What (unjuk rasa), Who (mahasiswa), Where (di depan gedung MPR/DPR RI Senayan Jakarta),When (Jumat (8/9) pagi) ditempatkan dalam bagian lead. Sedangkan unsur Why (menentang keputusan impor beras) diletakkan di alinea kedua dan How (juga diisi dengan aksi teatrikal) ditulis di alinea terakhir. Kalau mengikuti struktur piramida terbailik yang konvensional maka berita itu bisa ditulis :

 Ribuan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi se- Jabotabek melakukan aksi unjuk rasa secara besar- besaran di depan gedung DPR/ MPR RI Senayan Jakarta, hari Jumat (8/9) pagi kemarin untuk menentang keputusan pemerintah yang akan mengimpor beras. Unjuk rasa juga diselingi oleh aksi teatrikal.

 Beda antara straight news dan features.

Straight news dilakukan oleh jurnalis dengan melakukan laporan berdasarkan kejadian yang berlangsung pada hari itu/saat itu saja. Sementara running news yang nerupakan kelanjutan dari straight news dilakukan apabila berita itu cukup menarik kemudian ditulis dengan pengembangan fakta terbaru di hari berikutnya, ini bila dalam media cetak.

Sedangkan Features ditulis apabila jurnalis menemukan sebuah fenomena kejadian, atau kondisi yang memiliki nilai berita human interest yang tinggi. Menurut Mc Kinney dari Denver Post, features ialah sebuah tulisan yang berada di luar tulisan yang bersifat secara langsung di mana pegangan 5 W 1 H dapat dilakukan secara fleksibel. Features dapat ditulis dengan gaya piramida atau kronologis. (*)

Oleh : Mung Pujanarko ; www.suararakyatindonesia.com, www.pewarta-indonesia.com


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons