cari kata

Sabtu, 27 Juli 2013

Definisi Korupsi yang Patut Diketahui Bersama

Inspirasi  tulisan saya adalah, ketika saya suatu malam sedang di depan personal computer, dan sekilas tatapan mata saya tertumbuk pada satu kartu NPWP saya atau nomor pokok waib pajak yang bernomor : 98.264.210.0-403.000 yang tergeletak di meja. Saya sadar bahwa saya adalah salah satu pembayar pajak, kemudian juga membayar pajak PBB (bumi dan bangunan) dan juga membayar PPN (pajak pertambahan nilai) setiap kali berbelanja, belum lagi membayar pajak STNK kendaraan bermotor dan pajak yang include atas segala transportasi umum. Saya sama seperti para pembaca semua : Kita semua adalah pembayar pajak (tax payer). Kita semua membayar pajak untuk negara tercinta.
Kemudian saya berpikir soal korupsi, pekerjaan saya sebagai dosen, membuat saya harus banyak bekerja otak, berpikir dan membaca (iqra). Kebetulan saya bekerja sebagai pengajar, dan istri juga mengajar.
Dalam kesempatan perkuliahan, saya juga sempatkan berpesan pada para mahasiswa bahwa korupsi itu ada 2 jenis :
1.Karena butuh.
2.Karena serakah.
 Dua-duanya melanggar hukum. Korupsi karena butuh untuk menambal gaji/ pendapatan adalah melanggar hukum, dan korupsi karena hobby dan sudah habit (kelakuan mendarah daging) sebagai akibat keserakahan, maka itu juga melanggar hukum. KPK menangani kasus korupsi diatas 1 milyar, sementara kepolisian dan kejaksaan menangani kasus korupsi yang lebih umum, jumlah bukan patokan. Saya mengatakan pada para mahasiswa bahwa korupsi adalah melanggar hukum.  
Hanya itu yang saya katakan, karena biarlah nanti kehidupan saat mereka sudah bekerja yang mengajari para mahasiswa itu tentang kehidupan di masyarakat yang sebenarnya. Korupsi adalah pilihan masing-masing individu, jika dia menyeberang garis pelanggaran hukum (cross the line) menuju perbuatan kriminal korupsi, maka dia telah crossing the line. Ini adalah detik ketika kita sebagai orang waras menentukan apakah kita akan menyeberang garis pelanggaran hukum atau tidak (cross the line or keep the faith).

Selama ini orang sering kali membicarakan tentang korupsi dan menyaksikan di berita maraknya kasus korupsi. Hal ini tidak mengherankan, karena menurut data Transparency International melalui penerbitan Coruption Perception Index (CPI) tahun 2012.  Indonesia menempati peringkat 118 bersama empat negara lain di dunia dalam urusan korupsi. 
 Rangking 118 dunia ini tentu saja merupakan 'prestasi' Indonesia yang bila diketahui jumlah total negara di dunia yang diakui PBB adalah 192 negara. Kita bisa saja dengan enteng berkelit kan masih ada negara yang lebih korup ?. Yeah... tentu saja, maka mungkin ini bisa sedikit menghibur kita, bahwa ternyata semua negara  di dunia tentu ada korupsinya, hanya saja yang membedakan adalah tingkat keparahannya. Angka 118 dunia berarti masih ada 74 negara lain yang peringkat korupsinya lebih parah dari kita. Entah kita akan bersyukur atau tertegun dengan kenyataan ini.

Data CPI itu menunjukkan Indonesia mendapat skor yang sama dengan negara Madagaskar, Mesir, Ekuador, dan Republik Dominika. Rangking 118 dunia itu berarti kita naik peringkat menuju negara dengan tingkat korupsi yang lebih parah, karena  itu pada 2011 lalu, posisi Indonesia masih berada di peringkat 100 dunia bersama dengan Tanzania, Suriname, Sao Tome & Principe, Mexico, Malawi, Madagascar, Gabon, Djibouti, Burkina Faso, Benin, dan Argentina. 
Ini berarti Indonesia masih termasuk negara terkorup papan atas Dunia.  Bila tidak percaya, "ah masak sih kita sudah separah itu?" Maka cek saja data peringkat atau ranking Korupsi Indonesia pada tingkat dunia di berbagai sumber valid. Bila diibaratkan dunia adalah kelas dan negara adalah muridnya, maka dari 192 murid, kita ada di ranking 118. Ranking 1 adalah lebih sedikit tingkat korupsinya dan seterusnya. Mungkin kita malah heran, kok bisa ya ada negara yang korupsinya sedikit ? Orangnya seperti apa ? Apa emoh duit ? Keterangan itu bisa pembaca cari sendiri.
Contohnya data dari   http://www.worldaudit.org/corruption.html, dimana Indonesia juga ada dalam peringkat bawah soal korupsi.


Country
Corruption Rank 2012
Democracy Rank 2012
1
6
1
2
1
1
4
2
5
71
6
5
7
4
7
9
9
7
9
8
11
11
12
9
13
13
13
29
15
12
16
17
16
20
18
16
19
15
19
13
21
75
22
20
22
38
24
17
25
17
25
72
27
30
27
22
29
31
30
24
31
32
32
33
33
34
34
23
34
25
36
101
37
73
38
26
38
81
38
55
38
39
42
82
42
41
42
121
45
93
46
27
46
36
48
35
48
54
50
80
50
117
50
48
53
44
53
58
53
50
56
28
56
77
58
78
58
46
58
84
61
124
61
47
61
107
61
42
65
53
65
55
65
36
65
40
65
75
70
89
70
103
70
89
70
89
74
45
74
84
74
50
74
49
74
63
74
66
74
50
81
61
81
111
81
60
84
125
84
69
84
98
84
59
84
43
84
103
84
57
91
63
91
97
91
126
91
83
95
62
95
103
95
94
95
68
95
67
100
129
100
79
100
63
100
138
100
87
105
115
105
87
107
86
107
98
107
118
110
129
110
110
110
142
110
128
114
112
114
89
114
129
114
98
114
94
119
96
119
140
119
120
119
109
119
112
119
101
125
145
125
70
125
74
125
107
129
122
129
114
131
136
132
134
132
118
132
122
135
140
135
138
135
115
138
136
139
133
139
134
139
129
139
103
143
127
144
149
144
148
146
146
147
144
148
142
148
147
148
150
 





































































































































































































Sebenarnya apa definisi yang jelas mengenai tindak korupsi ? Berdasarkan Undang-undang Nomor : 31 Tahun 1999, yang dimaksud dengan tindak pidana korupsi adalah:
1) pasal 2 ayat (1) : “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.”

2) pasal 3 : “Setiap orang yang dengan sengaja menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.”

Mengacu kepada definisi dari masing-masing pasal maka dapat diuraikan unsur-unsur dari Tindak Pidana Korupsi, yaitu:      
-Setiap orang termasuk pegawai negeri, orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah; orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah, orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat. Selain pengertian sebagaimana tersebut di atas termasuk setiap orang adalah orang perorangan atau termasuk korporasi.
- Secara melawan hukum adalah melawan hukum atau tidak, sesuai dengan ketentuan-ketentuan baik secara formal maupun material, meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan-peraturan maupun perundang-undangan. Selain dari itu juga termasuk tindakan-tindakan yang melawan prosedur dan ketentuan dalam sebuah instansi, perusahaan yang telah ditetapkan oleh yang berkompeten dalam organisasi tersebut.
-Melakukan perbuatan adalah sebagaimana yang diatur dalam pasal 15 Undang-undang No. 31 tahun 1999, yaitu berupa upaya percobaan, pembantuan, atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi. Jadi walaupun belum terbukti telah melakukan suatu tindakan pidana korupsi, namun jika dapat dibuktikan telah ada upaya percobaan, maka juga telah memenuhi unsur dari melakukan perbuatan.
-Memperkaya diri, atau orang lain atau suatu korporasi adalah memberikan manfaat kepada pelaku tindak pidana korupsi, baik berupa pribadi, atau orang lain atau suatu korporasi. Bentuk manfaat yang diperoleh karena meperkaya diri adalah, terutama berupa uang atau bentuk-bentuk harta lainnya seperti surat-surat berharga atau bentuk-bentuk asset berharga lainnya, termasuk di dalamnya memberikan keuntungan kepada suatu korporasi yang diperoleh dengan cara melawan hukum. Dalam hal yang berkaitan dengan korporasi, juga termasuk memperkaya diri dari pengurus-pengurus atau orang-orang yang memiliki hubungan kerja atau hubungan-hubungan lainnya.
-Dapat merugikan keuangan negara adalah sesuai dengan peletakan kata dapat sebelum kata-kata merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan merupakan delik formil, yaitu adanya tindak pidana korupsi adalah cukup dengan adanya unsur-unsur perbuatan yang telah dirumuskan bukan dengan timbulnya akibat dari sebuah perbuatan, dalam hal ini adalah kerugian negara.

Kerugian Negara yang dihitung oleh auditor investigasi yang berwenang adalah kerugian yang didasarkan kepada perhitungan dengan menggunakan prinsip-prinsip akuntansi. Berdasarkan berbagai putusan hakim terhadap ada atau tidaknya suatu kerugian negara dapat secara sederhana dirumuskan pengertian kerugian negara, yaitu:
a.   Berkurangnya asset dari suatu entitas Pemerintahan.
b.  Bertambahnya pengeluaran Keuangan Negara atas prestasi yang tidak diperoleh suatu entitas Pemerintah.
Maka dari itu tindakan pemeriksaan terhadap sebuah lembaga dan kedudukan atau audit investigasi hendaknya memfokuskan pada : kejanggalan, ketidakberesan akuntansi, dan pola tindakan bukan hanya pada kesalahan biasa dan kelalaian biasa. Sedangkan dorongan dan motivasi koruptor melakukan korupsi meliputi :
a.      Indikasi korupsi cenderung mengarah pada struktur teori sekitar motivasi, kesempatan dan keuntungan. Sehingga sering kali korupsi dilakukan untuk alasan ekonomi, yakni keserakahan dan penumpukan harta untuk diri sendiri sebagai kompensasi jaminan bila sudah tidak menduduki jabatan ’basah’.
b.   Dorongan berikutnya adalah mental egoisme yang tumbuh subur di dalam kalangan individu dan kelompok pelaku.
c.     Dan dorongan yang ketiga selain pengaruh lingkungan, juga adanya  dorongan penyakit kejiwaan yang membuat seseorang merasa senantiasa kekurangan harta benda, tak pernah merasa cukup akan jumlah uang yang dimilikinya dari hasil ’sabetan’ jabatan. Serta ada dorongan untuk melakukan korupsi mirip perilaku maniak. Perilaku maniak adalah sebuah perilaku yang dilakukan secara terus menerus tanpa menemukan kepuasan yang cukup. Sebagaimana misal perilaku maniak seks, maka perilaku maniak korupsi juga akan melakukan tindakan korupsinya sesering mungkin seperti ”kapal keruk”, dan sulit untuk berhenti. Maka jika sudah demikian kadang kala pelaku korupsi mengajukan pembelaan di persidangan bahwa dirinya mengalami gangguan kejiwaan, yakni ; maniak korupsi. Yang biasanya pembelaan semacam ini akan disusul oleh derai tawa hadirin di persidangan dan cemohan hakim.
d.   Karena koruptor juga melengkapi ketrampilannya memanipulasi angka dan data dengan penguasaan teknologi, maka indikasi korupsi dalam lingkungan yang menggunakan komputer dapat terjadi pada setiap tahap sistem, yaikni : masukan, pengolahan dan keluaran.
Tragisnya lagi persoalan korupsi di Indonesia agaknya sudah mengarah pada problem psikotik sosial. Korupsi yang melibatkan uang dalam jumlah milyaran rupiah biasanya sudah bukan lagi atas dorongan untuk memenuhi kebutuhan perut. Melainkan sudah ada sinyal ketidak beresan dalam kebutuhan jiwa spiritual seseorang. Pelaku korupsi bisa dibilang tidak lagi percaya adanya Tuhan Yang Menguasai Hidup. 
Kalau Tuhan bilang : Jangan kau korup, maka koruptor tak percaya, "ah masak sih ?, Tuhan kan maha pengampun gitu looh ? Lagian konsep korupsi juga tidak dijelaskan oleh Tuhan secara jelas", mungkin begitu batin si Koruptor, maka justifikasi ini membuat perilaku korupsi senantiasa berulang. 
Disamping itu, karena pelaku itu juga merasa bahwa dengan uang sekarung yang telah dikorupnya maka dia akan hidup enak bergelimang syahwat, dan percaya bahwa hanya harta dan uangnyalah yang akan menyelamatkan jiwanya. Gejala psikotik bahwa hanya harta akan membuat hidup (money make life) ini agaknya mirip dengan apa yang dialami oleh Qarun seorang hartawan kaum Nabi Musa yang memiliki kekayaan besar di jamannya. Qarun percaya yang membuatnya hidup adalah harta yang berlimpah. Kepercayaan ini, mendapat komentar dari orang-orang pada jamannya, "ah seandainya aku seperti Qarun, lalu kawannya berkata, hai celakalah kamu, karena kamu tak tahu kehidupan ini". 
Adalah sebuah kenyataan pahit bahwa negara - negara Dunia Ketiga yang korup biasanya mempunyai ciri :

-    Banyak menerima hutang Luar Negeri namun hampir-hampir tak mampu mencicil bunganya saja. Akibatnya terkenal sebagai negara miskin dengan jumlah besar penduduk miskin yang pendapatannya kurang dari 1 USD per-hari.
 -   Demokrasi yang lemah dan sistem pemerintahan dikuasai oleh elite politik dan elite partai politik, elite birokrasi, dan elite militer.
  -  Terkenal sebagai negara perusak lingkungan hidup terparah di Dunia. Akibatnya negara itu sendiri seringkali dilanda bencana alam seperti banjir, terutama banjir di Ibu Kotanya bahkan sudah tepat sampai di hidung Istana Kepresidenan, kemudian ada tanah longsor akibat kerusakan lingkungan dan penyakit penyertanya.
 - Memiliki kekayaan alam yang melimpah - ruah namun lebih dimonopoli eksploitasinya oleh korporasi multinasional, serta korporasi transnasional.
-   Diatur dan bergantung sepenuhnya terhadap hutang luar negeri dan arahan negara donor yang lebih maju. Di mana negara donor yang lebih maju itu banyak membutuhkan bahan mentah untuk kemajuan ekonomi mereka sendiri.

  Maka yang patut kita sebagai masyarakat luas menggaris bawahi dan waspada terhadap bahaya latent korupsi adalah ; Korupsi lebih disebabkan ketiadaan pengendalian dan pengendalian yang lemah. Dengan demikian pencegahan indikasi korupsi adalah masalah pengendalian yang memadai dan suatu lingkungan kerja yang menetapkan penghargaan yang tinggi atas kejujuran pribadi dan perlakuan yang adil. Kalau kita masih menganggap ini adalah sebuah omongan muluk, karena gak bisa korup,  "Ah itu yang omong anti korupsi adalah orang-orang yang tak bisa korup, maka ngelantur, sakit ati, dengki, coba kalau mereka dikasih jabatan, pasti ya korup juga," begitu biasanya orang bilang.

Maaf, jika kita tetap yakin bahwa semua kita adalah koruptor potensial, seperti skeptis diatas, maka dalam hati kita kecil kita seolah meyakini bahwa siapa saja jika ada kesempatan akan korup, karena saking sekeptiknya menduga-duga apakah korupsi adalah gerak refleks dan dambaan bawah sadar kita.

Oke, kalau itu dead wish kita bersama dan keyakinan kita bersama ya.. kita akan segera mencapai angka 120 dunia, kemudian 130 dunia, karena kita abai dan tetap mendamba bisa lebih korup lagi dan bukan tak mungkin akhirnya kita ada di kisaran ranking 170 negara terkorup dunia, dimana hanya ada sisa 20 negara lagi yang korupsinya diatas kita. he he he.. asik bukan ? (*)

Selasa, 23 Juli 2013

Etika Komunikasi di Internet


Komunikasi yang dilakukan menggunakan internet sebagai saluran, bisa dengan verbal dan non verbal. Saat menggunakan bahasa di ranah internet, maka memang tidak ada aturan yang mewajibkan harus menggunakan Bahasa Indonesia yang baku. Kalaupun dalam forum chat ada aturan bahasa, maka biasanya tidak wajib pakai EYD dan hal tersebut tergantung pada aturan main Sang Admin dari forum tersebut.
Apalagi pada sosial media, faktor anonimity masih sangat tinggi, juga tulisan yang diketikkan kadang dengan se-santai mungkin, jadi bahasa yang digunakan juga tidak dapat terlalu diharapkan menggunakan EYD- ejaan yang disempurnakan dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Style komunikasi yang ada dalam internet adalah mengikuti idiom-idiom yang trend atau disebut gaul.
Trend istilah ini timbul dan tenggelam, jadi istlah idiom kata yang digunakan juga kerap berganti-ganti, misal sekarang menggunakan kata 'Gan' atau 'Agan' yang berarti juragan, kemudian di masa datang mungkin marak menggunakan kata 'Sob' yang berarti sobat, ini semuanya hanya mengikuti trend saja yang diciptakan oleh para pelaku komunikasi di internet atau netter. Belum lagi dengan ribuan singkatan yang hanya diri sendiri yang tahu, misalkan.
Yang menarik adalah faktor intelektualitas seseorang ketika menggunakan saluran forum di internet untuk menjalin komunikasi. Komunikasi menunjukkan siapa anda, artinya bahasa tidak hanya menunjukkan bangsa namun, -oleh para profiler-, bahasa yang digunakan, kata yang digunakan dapat menjadi referensi yang valid untuk mengkategorikan diri individu secara intelektual, emosional, dan faktor psikis lainnya.
Para profiler yang membaca postingan-postingan individu di internet dapat segera menentukan seberapa intelektual individu secara empiris, ketika individu mulai mengunggah bahasa di sebuah forum atau sosial media.
Rata-rata pengguna internet memiliki kecerdasan nalar yang cukup untuk memahami bahasa, dan memiliki kecerdasan yang cukup untuk menggunakan gadget teknologi untuk berkomunikasi, artinya : kecerdasan nalar mayoritas netter bukan di bawah rata-rata.
 Hal ini pernah saya survey menggunakan metode kuesioner pada 30 responden secara acak, dalam populasi di lokasi terbatas, dengan tingkat pendidikan minimal SMP dan maksimal sarjana.
Dari tingkat pendidikan responden yang saya bagikan quesioner sederhana secara faktual, adalah lulus SMP. Ini pertanda memilki kecerdasan yang cukup, artinya mampu berkomunikasi secara normal dan memahami baca tulis hitung (calistung)
Hasilnya adalah
 Dengan hasil bahwa sekitar 90% responden mampu memilih saluran komunikasi dalam internet, apakah itu memakai forum chat, email, social media dan media cakap langsung.
Survey ini selain berisi data klasifikasi pribadi, pertanyaan pokoknya antara lain adalah apakah anda sering berkomunikasi menggunakan internet ?, baik itu forum, chat, email jejaring sosial atau media lain sebutkan ?.
Dan pertanyaan penting lainnya adalah : apakah anda mengerti Netiket atau etika komunikasi di internet ?.

Dari survey simpel itu, 87% responden belum sepenuhnya paham apa itu Netiket.

Secara sederhana dan common sense, etika dalam berkomunikasi secara verbal (tulisan) di internet adalah dalam taraf praksis mengikuti etika penulisan, dan karakter huruf (font). Misal, secara etika penulisan jurnalistik, tidak lazim menggunakan huruf besar semua sama, (all capital letter) karena sama dengan berteriak terus menerus pada pembaca. Penggunaan huruf dalam tulisan ini saya yakin sudah diajari para guru SD kita dahulu. Misal :

1. Penggunaan huruf kapital semua = berteriak, tidak sopan, dst
2. Penggunaan huruf kecil semua = santai, datar, equal, dst
3. Penggunaan kaidah awal huruf besar untuk penulisan, nama, tempat, gelar = resmi
4.Penggunaan emoticon dan symbol emosi = akrab

Sedangkan secara teoritis umum berkomunikasi di internet ada dua (2)
1. Komunikasi formal
2. Komunikasi informal
Teori ini juga umum sekali, banyak mahasiswa sudah paham pula.

Ketika saluran komunikasi di internet sedang panas-panasnya atau hangat hangatnya muncul booming jejaring sosial, booming saluran komunikasi yang dapat mengunggah gambar dan tulisan, mendadak banyak penggunanya maka intensitasnya juga tinggi. Namun seperti trend yang lain, trend ini perlahan juga surut. Seperti penggunaan popular social media yang mulai dalam gelombang turunnya. Dan diganti dengan generasi baru jenis sosial media lainnya. Satu jenis sosial media yang pernah populer surut, lain jenis sosial media di ranah internet naik.
Juga, karena puncak kebutuhan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri, menulis di media sosial tentang diri pun ada batasannya. Jika semua sudah dipamerkan (dikemukakan) kepada sanak rekan dan handai tolan, baik itu sebagai teman, pengikut atau jaringan, dan sudah mendapat respon, ya masak sih ya mau pamer terus, yang baca pameran status juga bosen, yang bikin pameran tentang aktualisasi dirinya sendiri lama-kelamaan juga pasti bosan.
Aktualisasi diripun sampai pada tahap tertentu juga ada batasannya.

Pada sisi lain, pada tataran intelektualitas yang lebih tinggi, orang akan lebih kerap berkomunikasi dengan dirinya sendiri secara intra personal, meski orang awam menganggap aneh, karena banyak diamnya, karena untuk berkomunikasi dengan orang lain hanya dalam tahapan yang esensial dan pada hal penting saja. Anomali ini sungguh boring (membosankan) bagi khalayak ramai.
Paradigmanya :
-    Average people talk about another people (banyak ngrasani, dan aneka perkataan yang sia-sia)
-    Middle people talk about thing, (misal : tentang benda-benda, aneka topik obrolan tentang berbagai benda yang update dan latest)
-    Shadow people talk about idea, disebut shadow, karena dari 6 milyar orang, hanya sedikit (only few) jumlahnya
-    Very shadow people (pemikir, perenung, banyak diam kadang menyepi untuk merefleksikan diri) talk with universe inside and out side - Ini terus terang agak bahaya... karena bila tak sampai, bukan tidak mungkin pikirannya bisa ‘off side’ bukan out side, he he he...

Jadi itulah sebabnya etika berkomunikasi di internet (Netiket) atau harus begini – harus begitunya, hanya dapat dirumuskan berdasar (tergantung) pada daya kemampuan intelektual dan kecerdasan emosional seseorang, intelektualitas netter- per netter atau intelektual individu per individu. Sedangkan untuk kaidah hukum maka sudah jelas ada UU (Undang-undang) yang mengaturnya. (*)

Jumat, 10 Mei 2013

Kekerasan terhadap Wartawan/ Jurnalis Indonesia

Prolog

Pertama-tama saya mengucapkan bela sungkawa untuk jurnalis yang telah tewas dalam bertugas, semoga segala amal perbuatan baik mendapat rahmat di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Sedangkan, untuk istilah sebutan profesi bagi saya sama saja dan tak menimbulkan perdebatan, apakah itu disebut : jurnalis atau wartawan, karena artinya secara etimologi kedua kata tersebut adalah sama : journalist. Baik Jurnalis atau Wartawan hanya beda kata saja, sedangkan artinya adalah : Orang Pers, orang yang bekerja sebagai reporter di media massa. Jadi saya tidak ikut-ikutan bingung dalam kelompok yang getol memperdebatkan istilah jurnalis dan wartawan, yang perdebatannya sendiri amatlah kontraproduktif dan membuang waktu.

Kekerasan pada Jurnalis

Kekerasan yang dialami oleh jurnalis sudah seringkali kita membaca di media, dan kekerasan ini masih saja terjadi.  Contohnya, pada hari ini saya membuat tulisan artikel ini, seorang jurnalis diberitakan mendapat penganiayaan dari  orang tak dikenal. Pada hari Kamis tanggal 9 Mei 2013 dinihari, Muhammad Ardiansyah jurnalis Trans TV di Makassar luka parah akibat ditikam (ditusuk) orang tak dikenal setelah meliput  keributan di jalan AP. Pettarani, Makassar. Pelaku penikaman diduga adalah anggota geng motor yang kerap melakukan balapan liar dan keributan di jalan raya (detiknews.com).

Padahal baru saja tanggal 3 Mei 2013 kita memperingati Hari Pers Internasional, yang bertema  Global : “Hari Kebebasan Pers Sedunia 2013 “Aman untuk Berbicara : Memastikan Kebebasan Berpendapat di Semua Media"

Berdasarkan data yang telah dirilis oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI)  kekerasan terhadap Jurnalis/Wartawan Indonesia tergolong sadis, bahkan sampai membunuh wartawan.

Berikut data wartawan/jurnalis Indonesia yang yang tewas dibunuh terkait dengan pemberitaan, di Indonesia  sepanjang tahun 1996 -2010 :


  • Pada tahun 1996 silam, seorang wartawan bernama Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin (32), wartawan  Harian Bernas Yogyakarta meninggal pada tanggal 16 Agustus 1996. Tiga hari sebelumnya Udin diketahui diserang dan dianiaya oleh orang tak dikenal di rumahnya di Bantul. Sebelum dianiaya dan akhirnya tewas dibunuh,  Udin memberitakan pemberian uang Rp1 miliar pada Yayasan Dharmais oleh Sri Roso Sudarmo, Bupati Bantul kala itu.


  • Setahun kemudian pada tahun 1997, pembunuhan juga dialami Muhammad Sayuti Bochari, jurnalis Pos Makassar. Sayuti ditemukan tergeletak tak sadarkan diri pada 9 Juni 1997 di sebuah jalan di desa Luwu, sekira 480 kilometer di utara Makassar. Anggota keluarga dan teman-teman Sayuti mengatakan bahwa luka-luka Sayuti menunjukkan dia telah dipukuli. Sayuti tewas dua hari kemudian di rumah sakit. Pembunuhan Sayuti diduga kuat terjadi karena beritanya tentang korupsi di tingkat lokal. Dia juga melaporkan pencurian kayu yang melibatkan kepala desa. Pemimpin Redaksi Pos Makassar, Andi Tonra Mahie, mengatakan bahwa kematian Sayuti adalah hasil dari laporannya mengenai korupsi lokal, namun polisi setempat mengatakan penyebabnya karena kecelakaan lalu lintas.
  • Masih pada tahun 1997 silam, kematian tragis nan mengenaskan dialami  oleh almarhum Naimullah, jurnalis Sinar Pagi. Pada 25 Juli 1997, tubuhnya ditemukan tewas termutilasi di jok belakang mobilnya yang terparkir di Pantai Penibungan, sekira 90 kilometer di utara kota Pontianak. Kematian almarhum diduga terkait tulisan Naimullah tentang jaringan pembalakan liar di Kalimantan. Sejauh ini, kasus kematian tragis wartawan ini tak pernah terselesaikan
  • Kemudian tahun 1999 lalu,  Agus Mulayawan (26), koresponden  Indonesia untuk Asia Press (Jepang), tewas di tengah meliput konflik bersenjata di Timor Timur di dekat Los Palos.25 September. Jenazah ditemukan di dasar Sungai Verukoco, Apikuru, Kabupaten Lautem, 26 September.
  • Pada tahun 2003 Muhammad Jamaluddin juru kamera TVRI Aceh ditemukan tewas pada 17 Juni 2003 dengan berbagai dugaan. Ada yang mengatakan ia dibunuh kelompok GAM, ada pula yang menuduh pada oknum aparat di Aceh yang menculiknya karena motif tertentu.
  • Masih pada tahun 2003 Sori Ersa Siregar (52), wartawan RCTI, tewas ditengah meliput konflik bersenjata di Aceh. Almarhum tewas pada 29 Desember 2003, saat tengah terjadi baku tembak yang sengit antara  pasukan TNI dengan GAM di Kuala Maniham, Simpang Ulim
  • Kemudian pada tahun 2005, Elyudin Telambanua wartawan Berita Sore, koresponden Pulau Nias Sumatera Utara diculik dan tak pernah kembali dalam keadaan hidup. Para saksi dan keluarga mengatakan Elyudin diculik sekelompok orang tak dikenal di Teluk Dalam, 24 Agustus 2005, setelah memberitakan kecurangan pilkada di Kabupaten Nias Selatan. Semenjak diculik, Elyudin sang wartawan hilang, dan keluarga tak pernah melihatnya lagi. Berdasarkan penuturan saksi yang diceritakan kembali oleh keluarga Elyuddin, sang wartawan dibawa oleh sejumlah OTK (Orang tak Dikenal)  ke Desa Bawoganowo. Di sana Elyuddin dianiaya sekelompok orang hingga sekarat dan disaksikan oleh penduduk desa, kemudian Elyuddin diseret ke belakang sebuah rumah yang berada di pinggir laut. Setelah itu, tak seorangpun mengetahui keberadaan Elyuddin baik hidup atau meninggal.


  • Tahun 2006 Herliyarto, wartawan ‘Jember News’ dan kontributor lepas  Radar Surabaya di Probolinggo, Herliyanto ditemukan tewas pada 29 April 2006 di tengah hutan jati Probolinggo-Jawa Timur. Polisi memastikan kematian Herliyanto akibat bacokan senjata tajam. Almarhum Herliyanto dibunuh oleh sekelompok penyerang saat mengendarai sepeda motornya di jalanan berhutan yang menghubungkan desa Tulupari dan Tarokan di daerah Banyuanyar, provinsi Jawa Timur. Herliyanto mengalami luka tikam di perut, leher, dan kepala. Pembunuhan Herliyanto diduga kuat karena beritanya yang mengungkap korupsi proyek pembangunan jembatan di desa Reijing. Berita Herliyanto mengungkap bahwa dana infrastruktur lokal senilai Rp 120 juta rupiah telah dikorupsi. Polisi kemudian berhasil menangkap tersangka pembunuhnya. Namun Pengadilan Negeri Sidoarjo membebaskan dua pelaku sebab tak cukup bukti dan satu tersangka dianggap gila.


  • Yang paling tragis dan sadis adalah peristiwa pembantaian Anak Agung Narendra Prabangsa, wartawan Radar Bali, pada tahun 2009. Anak Agung Narendra Prabangsa, wartawan Radar Bali itu tewas di Pelabuhan Padang Bai, 16 Februari 2009. Aparat Polda Bali berhasil menangkap 10 tersangka terkait pemberitaan kasus korupsi dana pendidikan yang melibatkan adik Bupati Bangli. Para pelaku menghabisi nyawa korban dengan amat sadistik, dipukul menggunakan balok, para pelaku akhirnya divonis penjara seumur hidup oleh PN Denpasar dengan hukuman maksimum.


  • Pada Tahun 2010 Muhammad Syaiullah (43), kepala Biro Kompas Kalimantan Timur, meninggal di rumahnya di Balikpapan, 26 Juli. Pihak penyidik mengatakan, ia meninggal karena sakit. Namun sempat muncul adanya kecurigaan almarhum meninggal diracun oleh mereka yang tak menyukai beritanya di harian Kompas tentang rusaknya hutan di Kalimantan oleh pembalakan liar.


  • Masih pada tahun 2010, Ardiansyah Matrais, wartawan Tabloid Jubi  juga wartawan Merauke TV, tewas pada 29 Juli di Gudang Arang, Sungai Maro, Merauke, Papua dengan penuh luka. Pembunuhan Matrais diduga karena beritanya. Namun Polres Merauke yakin Ardi tewas tenggelam. Tak ada penyelidikan lebih lanjut soal ini.


  • Juga pada tahun 2010, wartawan bernama Alfrets Mirulewan tewas di Pelabuhan Pulau Kisar, Maluku Tenggara Barat 18 Agustus 2010.  Alfrets, Pemred Tabloid Pelangi, bersama Leksi Kikilay tengah menginvestigasi kelangkaan BBM di Kisar yang diduga melibatkan oknum aparat. Polisi menyatakan Alfrets dibunuh, tetapi semua tersangka mencabut BAP (Berita Acara Pemeriksaan).


  • Masih pula di tahun  2010, Ridwan Salamun, kontributor ‘Sun TV’ di Tual, Maluku Tenggara tewas dikeroyok  sekelompok warga saat meliput bentrokan warga kornpleks Banda Eli melawan warga Dusun Mangun, Desa Fiditan, Kota Tual, 20 Agustus. Hakim PN Tual membebaskan para tersangka karena tekanan massa. Saodah, istri almarhum, kini menunggu keputusan kasasi MA.


Begitulah data yang telah dirilis oleh lembaga AJI (Aliansi Jurnalis Independen), juga oleh CPJ (Comittee to Protect Journalist) atas kematian wartawan-wartawan Indonesia yang tewas dibunuh, dan tewas secara misterius terkait dengan profesinya dan produk jurnalistiknya, baik berita ataupun tayangan. Tentu saja dibantainya para wartawan ini adalah peristiwa sangat barbarik dan biadab (non-adab). Sangat barbar di tengah semangat kebebasan informasi yang berguna bagi masyarakat, terutama kebebasan informasi untuk melawan korupsi dan kriminalitas yang meresahkan dan merugikan kehidupan masyarakat luas. (*)


Rabu, 20 Maret 2013

Kiat Sederhana Untuk Sukses Berkomunikasi

Artikel  ini ditulis pertama pada Wednesday, November 14, 2007 9:21 PM

Komunikasi berasal dari pengertian dasar commune, communis, community, atau ‘komuni’ yang berarti masyarakat. Masyarakat saling berhubungan antara individu dengan cara verbal (bahasa) maupun non verbal (symbol dan tulisan), sehingga terbentuk istilah communication (komunikasi) atau proses hubungan. Pengertian dasar tersebut sangat sederhana. Namun yang kemudian acap menjadi sebuah kerumitan tatkala dalam proses komunikasi tersebut pesan yang disampaikan mendapat tanggapan keliru atau reaksi dan persepsi negatif dari si penerima pesan sehingga timbullah berbagai macam ketegangan.
 Komunikasi yang direkayasa negatif seringkali dibungkus dengan bahasa yang indah-indah untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
 Apalagi jika sang komunikan (sang penyampai pesan) sengaja mengunakan introduksi atau bahasa pembuka yang berbunga bunga, puitis dan halus untuk mempesona penerima pesan, agar maksudnya tercapai. Ini dinamakan pseudo communication atau komunikasi semu. Semu artinya tidak jelas dan tidak lugas bahkan tidak jujur, minimal jujur terhadap diri sang pemberi pesan sendiri. Untuk itu, agar kita semua meskipun mungkin anda bukanlah seorang pemerhati ilmu komunikasi, dapat memahami proses komunikasi dengan mudah, terdapat sebuah kunci sukses berkomunikasi yang mudah dipraktekkan sehari-hari.
 Yang pertama dalam berkomunikasi baik verbal mapun non verbal gunakanlah tiga tahap sebagai berikut, yang pertama yakni intro. Intro dalam bahasa pergaulan alamiah seringkali diisi dengan salam pembuka, seperti “Apa kabar?”, pujian, doa, atau kalimat pembuka pemancing percakapan. Dalam proses komunikasi non verbal ( surat, e-mail, sms, symbol) intro sebaiknya menjadi paragraf awal yang isinya adalah salam serta introduksi atau perkenalan awal. Gunakan intro untuk mengukur kedalaman minat orang yang diajak berkomunikasi. Intro amatlah penting karena dengan intro yang benar tidaklah sulit memasuki tahapan berikiutnya yakni content atau isi
Pada tahap berikutnya yakni Content (konten) atau isi adalah maksud pokok yang akan dikomunikasikan sehingga tercapai tujuan awal berkomunikasi, yakni saling memahami. Acap kali orang yang memulai proses komunikasi merupakan orang yang mempunyai kebutuhan kepada orang yang diajak berkomunikasi. Untuk itu biasakan dalam menyampaikan konten memakai 6 kaidah dalam ragam Bahasa Indonesia Jurnalistik (BIJ) seperti tertulis dalam kamus besar Bahasa Indonesia yakni Singkat, Padat, Sederhana, Lugas, Menarik, dan Jelas (SPSLMJ).
 Bila sudah dicapai satu kondisi saling memahami antar individu yang melakukan komunikasi maka suasana yang lebih rileks dapat dicapai tanpa menggunakan sarana lain seperti tempat pertemuan yang disetting, maupun tanpa suguhan yang bisa dianggap oleh sebagian orang terutama kalangan barat bisa “melemaskan lidah”  semisal minuman beralkohol, wine, dan rokok.
  Kemudian tahapan yang ketiga yakni closing (penutup). Closing amatlah penting dalam proses komunikasi verbal maupun non verbal. Closing yang bagus akan menghantarkan pada proses komunikasi pada kesempatan yang lebih erat lagi. Untuk itu selalu pahami bahwa sebelum memulai proses komunikasi inter-personal atau antara individu sebaiknya dalam diri anda terlebih dahulu terbangun proses komunikasi intra-persona atau komunikasi dengan diri sendiri yang baik, serta ada pemahaman yang positif terhadap kelebihan dan kekurangan diri yang proporsional serta berimbang, sehingga tercapai rasa jujur pada diri sendiri. Hal ini bisa mewujudkan rasa percaya diri yang bagus.
Inilah seklumit tulisan tentang kiat berkomunikasi yang sangat sederhana yang bisa dipakai oleh siapa saja. Karena sekarang ini seiring dengan gaya hidup individualistis yang makin berkembang dalam masyarakat kita, sedikit demi sedikit mulai terbangun jurang komunikasi yang lebar, baik antar tetangga, kerabat, maupun antara individu itu sendiri. Penyebabnya bisa macam macam mulai dari tekanan hidup yang kian berat, sampai pengejaran terhadap materi yang menghallakan segala cara, dan mengorbankan sikap kejujuran. (*)

Gaya Komunikasi Jalanan

Artikel 
Ditulis pertama pada Wednesday, November 14, 2007 9:23 PM

Saat ini kita sering melihat, mendengar dan merasakan cara masyarakat berkomunikasi yang bisa dibilang didominasi oleh gaya “komunikasi jalanan" atau street gang communications style. Gaya komunikasi jalanan ini makin tumbuh subur seiring tayangan hiburan di televisi dan media massa tertentu terutama acara-acara humor di televisi yang sering menggunakan makian dan istilah olok-olok. Mengapa disebut gaya komunikasi jalanan ?, karena gaya komunikasi ini cenderung kasar, sering mengetengahkan bahasa-bahasa yang mengandung unsur kekerasan, makian, penghinaan pada harkat manusia, sarkastik dan bahkan sadistik yang kerap muncul dari para penggunanya. Bila komunikasi jalanan ini awalnya hanya digunakan oleh kelompok dalam masyarakat tertentu sepreti : preman, anak jalanan, dan komunitas terminal yang memang sering bergelut dan berinteraksi dengan gaya komunikasi jalanan ini. Maka kini gaya komunikasi ini kini mulai merambah pada gaya pergaulan semua kalangan terutama kalangan menengah yang secara sosiologis cukup cendekia dan educated di dalam srtuktur masyarakat kita.
     Ungkapan-ungkapan bernada kekerasan, sarkasatik, bahkan sadis pun menjadi “wajib” dalam percakapan- percakapan sehari hari kita, baik itu di kantor, di mall, maupun di tempat-tempat masyarakat kelas menengah -yakni pelajar, mahasiwa dan profesional -biasa berkumpul. Akrab di telinga kita tiba- tiba mereka yang berpenampilan necis, dandy dan modis tiba- tiba terceletuk dari mulutnya ucapan semacam :“Santai aje bos, ntar juga kelaar kerjaannya, kalau nggak dia akan saya habisin deh”, atau, tiba- tiba sosok wanita berbusana sopan dan berpenampilan bak peragawati tiba tiba berucap dengan gaya ‘premanwati’ : “(kata Makian...), siapa die? gile juga, dasar perek, ngakunya sekretaris tapi boss juga diembat.” atau sekelompok mahasiswa yang setiap hari bergulat dengan ilmu-ilmu luhur tiba-tiba bak preman baru menjelma saling mengumpat,“Bangs…t, anj.... kita hajar aja, kalau berani macam- macam, sudah stress nih..”. 

Masya Allah ungkapan-ungkapan bernuansa kasar, slang, dan sakastik yang biasanya hanya memenuhi ruang publik marjinal seperti terminal, pasar, sudut- sudut lampu merah, kini mulai mendapat ‘tempat yang layak” di kampus, kantor baik negri dan swasta, bahkan rumah sakit.
Seolah nilai yang berlaku di era reformasi ini adalah nilai semi premanisme bahkan pure premanisme yang menggejala di segala bidang. Boleh jadi berlaku dalam benak masyarakat, sebuah adagium dengan berbahasa semakin kasar, keras, dan bergaya sadis maka akan semakin dihormati dan disegani orang tesebut dalam lingkup sosialitasnya.
 Bila dibiarkan gejala semacam ini merebak di kalangan masyarakat kelas menengah kita yang nota bene agent of change, maka dikhawatirkan change of cultural behaviour yang kurang santunlah yang akan diwariskan pada generasi berikut. Budaya komunikasi ini mencerminkan kepribadian kita sebagai sebuah bangsa yang mulai kehilangan jati dirinya, terutama akibat budaya barat impor. Generasi baru bangsa mengalami degradasi kemampuan berkomunikasi antar masyarakat secara patut.
 Relasi antara manusia dibangun melalui komunikasi, melalui komunikasi pula kita dapat mengenal pribadi orang, dan sebaliknya kita juga dikenal oleh orang lain. Cara memilih kata -kata yang digunakan merupakan cerminan perumusan pemikiran orang tersebut, (Mulder, Niels : Individual dan Society, Interpretation of Social Change, Illinois 1982). Dari sinilah arti penting komunikasi yang sehat dapat dibangun. Komunikasi yang sehat berarti menggunakan gaya bahasa yang jernih dan didasari dari pesan yang berasal dari hati nurani. Dengan demikian masing-masing individu dapat memberikan rasa respek dan penghargaannya pada individu lainnya -dalam proses komunikasi itu- secara wajar, tanpa di dasari oleh status sosial.
Di sini penulis ingin mengulas bagaimana awalnya masyarakat kita, terutama yang nota bene kaum intelektual dan kelas menengah mulai mengadaptasi budaya komunikasi jalanan atau gaya premanisme tersebut. Awalnya, dalam sejarah perkembangan kebudayaan Indonesia , kelas masyarakat yang terpelajar mendapat sebutan khusus diantaranya, kalangan pegawai, priyayi dan gedongan, (Koentjaraningrat, 1980). Pada jaman Belanda orang tepelajar jaman dahulu masih memperhatikan etikanya sebagai sebuah etika kepatutatn dalam berkomunikasi karena menunjukkan’kelas kepriyayian’. Namun seiring dengan pergeseran nilai moral dan etika pergaulan dari jaman ke- jaman, etika dalam berkomunikasi pun makin kabur dan tak memiliki standar kepatutannya lagi. Dewasa ini dalam pergaulan, cara berkomunikasi yang sesuai dengan etika kepriyayian jaman dulu cepat dianggap sebagai sebuah bentuk kelemahan. Karena jaman kapitalis yang serba keras dan kompetitif ini menilai alur berkomunikasi secara halus dianggap sebagai bentuk komunikasi yang feminin. Dan dianggap tidak mewakili bahasa maskulin yang sarat dengan saling mengirim pesan yang bertujuan saling mengukur kekuatan baik itu kekuatan financial serta kekuatan kekuasaan. Sebenarnya bentuk komunikasi ini secara tidak langsung didapatkan oleh berbagai kalangan dari gaya dialog film yang sering dilihat dan didengar oleh masyarakat. Umpatan, makian, dan sumpah serapah dalam film tersebut tertanam dalam benak anak muda dan dianggap cool.

 Di wilayah negara Barat sendiri menyumpah disebut dengan swear  atau curse , yang berarti kutukan dalam bahasa Indonesia. Soal sumpah serapah ada sedikit perbedaan antara Indonesia dan Barat. Kalau di Barat yang dikatakan menyumpah serapah itu adalah jenis kata- kata makian semisal “son of a….”. namun menyumpahi dalam budaya timur berarti mendoakan buruk atau mengutuk pada lawan bicara. Derasnya gaya bahasa ala barat yang diserap oleh publik kita ini sejatinya merupakan cross culture communication atau komunikasi lintas budaya, karena ada perbedaan cultural yang mendasar. Kebudayaan komunikasi ala Hollywood didasari pada gaya bahasa awal mula terbentuknya koloni-koloninya, yakni masyarakat miskin imigran dari Eropa sebagai penduduk awal, berkembang menjadi gaya bahasa cowboy, yang menekankan sumpah serapah agar terkesan macho.
Sementara itu sebagai bangsa yang berbudaya timur, gaya komunikasi masyarakat kita dari berbagai suku bangsa diadaptasi dari kelas menengah yang terpelajar yang dekat dengan sumber kebudayaan baik itu istana raja, keraton, kesultanan, kemudian nilai etika itu mengalir pada kelas di bawahnya. Seperti gaya bahasa yang dipakai oleh para bangasawan, pujangga, semacam syair-syair bernuansa religius, yang mementingkan unsur estetika dalam berkomunikasi. Namun sayangnya pada kenyataan yang sedang berlangsung, kemampuan menyusun unsur estetika dalam berkomunikasi ini mulai meluntur dalam masyarakat kita di semua kelas pergaulan, seiring dengan menguatnya nilai-nilai premanisme di segala bidang. (*)

Senin, 04 Maret 2013

Diklat Jurnalistik FKW oleh PPWI Penyegaran bagi Wartawan



FKW (Forum Komunikasi Wartawan) Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan bekerja sama dengan PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) mengadakan Diklat Jurnalistik untuk memberikan wawasan dan pembelajaran bagi para anggotanya terutama di bidang Jurnalistik.

Diklat ini berlangsung di Hotel New Idola, Jl Pramuka Raya, Jakarta pada tanggal 4-6 Maret 2013.  Tujuan diadakan pelatihan ini yang pertama adalah untuk menjalin tali silaturhami antar anggota FKW dan PPWI dan kedua adalah untuk menimba pengetahuan terbaru di bidang jurnalistik.

Dalam pelatihan ini dititikberatkan bahwa para anggota FKW harus mampu mengadapatasi cara jurnalistik terbaru yakni Quick News dan  etika jurnalsitik.

Tampil sebagai pembicara adalah ketua umum PPWI  yakni Wilson Lalengke, dan juga pembicara pengajar jurnalistik yakni Mung Pujanarko.  Dalam diklat ini menurut para peserta sangat membantu  dalam  menimba  ilmu jurnalistik. “Dalam diklat ini saya merasakan adanya penyegaran dalam bidang kewartawanan, dan banyak hal yang kita dapatkan di sini” ujar Gusti, Pimred tabloid  X-Kasus, Tanah Bumbu.

Sedangkan bagi peserta lain yakni Muaz selain silaturahmi adalah kebanggaan bagi daerah, karena wartawan yang memiliki banyak karakter bisa berkumpul dan belajar bersama,”papar Muaz selaku wartawan harian media kalimantan.

Nanang Rusmani Ketua FKW Tanah Bumbu (kiri-pakai baju bergaris), Mung Pujanarko (kanan-baju biru)

 Ketua FKW (Forum Komunikasi Wartawan) Tanah Bumbu- Kalimantan Selatan, Nanang Rusmani menyatakan bahwa pihaknya mendukung penuh agar para wartawan dan insan pers di Tanah Bumbu Kalimantan Selatan agar mau masuk dalam organisasi profesi.
 Pada kesempatan Diklat Jurnalistik yang digagas oleh FKW Tanah Bumbu di Hotel New Idola, Jakarta Timur, pada hari senin (4/3) Nanang Rusmani menyatakan bahwa wartawan adalah profesi strategis bagi perkembangan daerah dan bagi otonomi daerah. “Untuk itu saya pribadi mendukung  agar wartawan di Tanah Bumbu yang belum ada perkumpulan organisasi untuk nantinya masuk ke dalam organisasi profesi yang resmi misal FKW, PPWI atau PWI, untuk mendukung keberadaan wartawan itu sendiri,” papar Nanang Rusmani.
Dirinya juga mengatakan bahwa di Tanah Bumbu, keberadaan wartawan juga dibutuhkan untuk mengangkat potensi daerah Tanah Bumbu. “Kami dari FKW, bukan merupakan corong Bupati, namun sebagai warga Tanah Bumbu, kami juga memiliki kewajiban untuk mengangkat kebaikan dan potensi Tanah Bumbu,” lanjutnya.
Dengan begitu, menurutnya, tingkat independensi wartawan Tanah Bumbu bisa terjaga dan tidak diintervensi oleh pihak manapun. “Contohnya dengan pelaksanaan Diklat Jurnalistik FKW bekerja sama dengan PPWI pusat, maka inipun sebagai kerja keras untuk melaksanakan independensi wartawan Tanah Bumbu, saya pribadi berterimakasih  kepada PPWI yang telah memberikan motivasi, dan penambahan wawasan serta silaturahmi yang baik kepada FKW Tanah Bumbu,” urai Nanang Rusmani.  (*)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons